De’Ranch, Lembang

27 07 2016

20160728-073010.jpg

Saya dan krucil saya kalau dirumah suka menonton acara-acara petualangan atau traveling dan juga membaca buku atau majalah yang membahas tentang tempat-tempat wisata (tempat-tempat indah). Suatu ketika kami pernah membaca tentang wisata yang ada di Bandung, salah satu yang paling diingat krucil adalah bermain cowboy-cowboyan di De’Ranch.

Itu sebabnya ketika kami ke Bandung, krucil meminta agar ke “tempat cowboy-cowboy-an”…haha. Setelah silaturahmi ke keluarga, kami pun mengarah ke Lembang…lagi-lagi pemilihan waktu kurang tepat, menjelang weekend jalan ke Lembang sudah mulai padat walau belum macet…baru saat pulangnya kami terjebak macet.

Sayangnya karena sudah kesiangan, ketika kami sampai Lembang hujan mulai turun. Susah payah membujuk krucil agar tidak usah aja ke De’Ranch, next time aja karena hujan turun, takut sakit. Negosiasi lama dengan krucil, akhirnya kami bikin perjanjian, krucil hanya boleh bermain sebentar disini karena hujan. Kalau sakit, gak usah merengek-rengek pusing dan tidak akan ada acara jalan-jalan lagi…mereka deal. Baiklah…yuk masuk…

Tiket masuk murah meriah, 10rb/orang (kalau gak salah, terlalu banyak tempat yang dikunjungi jadi lupa harga-harga tiket masuk). Tiket masuk ini nanti ditukar dengan satu cup susu segar dengan berbagai pilihan rasa sebagai welcome drink. Tempatnya asik sih…ala-ala ranch cowboy, tapi karena hujan dan dingin jadi kurang bisa dinikmati. Rupanya tiket masuk itu hanya untuk masuk doang, di setiap wahana permainan harus bayar tiket lagi.

Disini krucil kami bermain Gold Hunter, tiketnya 20rb/anak. Lalu ketika hujan agak reda, mereka menunggang kuda, tiketnya 25rb/orang. Menunggang kuda disini seru deh, penunggang kuda disediakan jaket dan topi ala cowboy dan tempat untuk selfi-selfi yang ala-ala cowboy. Krucil menunggan kuda mengelilingi lapangan besar, yang dari cerita mereka sih melalui kandang kambing juga…wuiihh seru.

Sebenarnya ada banyak wahana permainan lain, seperti memerah sapi (sudah tutup karena sore), memanah , melukis gerabah, dsb…namun karena hujan, kami mengajak krucil balik ke Bandung yang menyebabkan krucil menangis, walau bolang bagaimanapun mereka masih anak-anak…haha. Don’t worry anak-anak, masih banyak tempat menarik lainnya kok. Dan this is it, keluar De’Ranch mobil basah…selain karena hujan juga karena gerimisnya krucil…hahaha

Advertisements




Taman Pintar, Jogjakarta

27 07 2016

20160728-045002.jpg

Di Jogja enaknya kemana ya? Ada banyak wisata menarik di Jogja yang belum krucil kunjungi, namun karena pertimbangan jauh dan waktu kami yang terbatas di Jogja, pada akhirnya kami memutuskan mengunjungi yang tidak terlalu jauh dari hotel kami di Malioboro. Apaan tuh yang dekat dan asik buat anak tapi juga penuh manfaat edukasi? Salah satunya ya Taman Pintar.

Sejak turun kereta dari Malang, krucil saya minta ke Taman Pintar. Baru hari kedua kami di Jogja, kami mengajak krucil ke Taman Pintar lagi (ya.. ini kunjungan kedua krucil ke Taman Pintar). Taman Pintar ini letaknya di samping Fort Vredenburg, bisa jalan kaki dari hotel kami. Tiket masuknya tidak menguras kantong yaitu 18rb/dewasa, 10rb/anak. Ditambah karena krucil pengen membatik dan melukis kaos, membatik 13rb/anak, lukis kaos 35rb/anak dan 5rb/sekali main perahu di wahana bahari.

Seperti biasa, krucil saya antusias banget disini…membatik, melukis kaos yang hasilnya dibawa pulang dan langsung minta dipakai sesampai di hotel. Sedang di gedung oval dan kotak sendiri, mereka antusias memperhatikan dan mempelajari science yang ada disediakan berbagai alat peraganya. Krucil juga sempat bermain peran sebagai pembaca berita Tepi TV , dengan membayar 15rb, kami mendapat CD rekaman krucil ketika membaca berita. Kami seharian disini, dari pagi sampai sore…waktu gak kerasa berlalu karena menemani krucil bermain sambil belajar dengan cara yang menyenangkan.





Borobudur, Magelang

27 07 2016

20160728-035844.jpg

Ini kali kedua krucil ke Borobudur. Waktu pertama kali ke Borobudur, bungsu saya yang takut ketinggian, takut naik Borobudur. Ketika itu bungsu saya menangis-nangis tidak mau naik karena takut jatuh, sedang sulung penasaran banget pengen ke atas…namun karena adeknya ketakutan terpaksa mengalah. Jadilah kunjungan pertama ke Borobudur masih nanggung karena krucil saya hanya melihat Borobudur dari bawah saja.

Nah, kali ini sengaja ayah dan bundanya mengajak mereka kesini lagi agar bungsu saya tahu bahwa tidak apa-apa naik sampai atas (Borobudur). Kami tiba di Borobudur sekitar jam 15.00, sudah terlalu sore. Datang sore ternyata ada nilai lebihnya, matahari sudah tidak terlalu menyengat lagi dan pengunjung sudah mulai berkurang sehingga krucil lebih bisa menikmati daripada ketika kunjungan pertama.

Tiket masuk saya lupa lagi, dan ternyata ada beberapa perubahan yang baik di Borobudur. Pertama, dari tempat tiket pengunjung jalan tidak terlalu jauh. Kedua, ketika menaiki anak tangga naik ke Borobudur sudah dibedakan antara jalur naik dan jalur turun. Dulu jalur naik dan turun jadi satu sehingga tangga penuh sesak dengan pengunjung, hal ini pula menjadi salah satu penyebab bungsu saya dulu ketakutan untuk naik. Sekarang karena tangga naik sudah tidak sepenuh dulu oleh pengunjung, ditambah ada ayah yang menemani dan memeluk erat dirinya…walau masih tampak takut, bungsu saya akhirnya berhasil sampai di paling atas Borobudur…yeaayy…adek berhasil!

Kami bertemu turis Thailand yang ketika melihat kami ribet dengan kamera menawarkan diri untuk membantu kami berfoto ria…kapunkap. Oh ya, sekarang juga ada aturan tidak boleh memanjat stupa dan memegang patung budha yang berada didalamnya loh…aturan bagus agar menjaga Borobudur tidak cepat rusak. Agak lama juga kami disini, melepas lelah karena seharian berkelana kesono kemari. Baru sekitar jam 17.00 (waktu tutup Borobudur), kami memutuskan turun.

Mencari pintu keluar ke arah parkiran mobil kembali itu melelahkan dan menyebalkan. Pintu exit menuju parkiran dibuat melalui pasar souvenir yang diputar-putar jalurnya agar pengunjung melalui setiap blok pasar…arrgghhh. Padahal harusnya lurus saja bisa tapi sengaja dibikin berbelok-belok dan mutar-mutar yang selain ngesalin juga bikin capek krucil. Ketika akhirnya melihat parkiran kembali itu rasanya sesuatu…hahaha. Kecapekan setelah diputar-putar itu bikin perut keroncongan, sekarang saatnya kuliner…nyamm…





Museum Malang Tempo Doeloe & Museum Inggil

27 07 2016

20160727-125552.jpg

Museum ini letaknya tidak begitu jauh dari balaikota dan stasiun kereta. Kami berjalan kaki saja dari balaikota ketika hendak menuju museum ini. Tiket masuk 15rb/orang, tidak banyak yang bisa diceritakan tentang museum ini karena museum ini termasuk kecil untuk ukuran sebuah museum

Isinya ada diorama tentang archeology, diorama penjara, Malang jaman dulu, sepeda jadul, kamera jadul, foto-foto, patung Soekarno, dsb. Awalnya krucil takut disini…kata mereka seram , mungkin karena ketika masuk kami hanya berempat, sepi dan tempatnya agak kecil, awalnya krucil takut disini. Setelah berkeliling dan bertemu pengunjung lain, krucil baru mulai bisa menikmati isi museum dan seperti biasa sibuk tanya ini itu.

Tepat di samping museum ini, ada museum lainnya yang dijadikan restoran bernama Inggil Museum Resto. Setelah dari Museum Malang Tempo Doeloe, kami sebenarnya berniat istirahat makan siang…eh begitu masuk malah disuguhi pemandangan layaknya museum. Jadilah kami istirahat, makan dan belajar sejarah sekaligus. Sekali dayung tiga manfaat di dapat…yihaa…hehe.





Alun-Alun Kota Batu

27 07 2016

20160727-112624.jpg

Menjelang maghrib kami menuju alun-alun Batu, begitu tiba…cari parkiran susah banget, penuh semua untungnya setelah muter-muter akhirnya ketemu juga parkiran yang masih kosong walau harus jalan kaki sedikit menuju alun-alunnya. Alun-alun Batu ini kecil, tapi dikelilingi oleh berbagai macam kuliner…hmm, nyamm

Ketika berjalan kaki dari parkiran menuju alun-alun, kami melihat warung yang menjual susu murni. Karena kami penggemar susu, tentu saja kami mampir untuk istirahat sekalian minum susu. Ada berbagai rasa susu, ada yogurt juga. Puas minum susu kami kemudian menuju alun-alun.

Ternyata alun-alunnya ramai banget, penuh dengan orang. Isinya sih mirip lampion garden dengan berbagai lampion berbentuk hewan dan bunga. Selain itu terdapat bianglala juga. Tiket naik bianglala ini murah meriah (kalau gak salah) 3 rb / orang, cuma antriannya mengular tangga panjangnya. Waktu krucil liat ada antrian tiket bianglala, mereka gak mau kalah pengen naik bianglala juga lalu mengantrilah ayah untuk beli tiket. Sementara nungguin ayah dapat tiket, saya dan krucil keliling alun-alun, foto-foto, belanja souvenir gantungan kunci kemudian kembali mendatangi ayah, ayahnya masih mengantri belum dapat tiket…bukannya berkurang, antriannya malah tambah panjang…haha yo weslah, kalau begini caranya gak usah ajalah naik bianglalanya.

Tidak jadi naik bianglala bukan berarti mengurangi keseruan di alun-alun, krucil happy liat lampu di bianglala yang berubah-ubah warna dan bentuk hingga malah mirip kembang api tahun baru. Mereka cukup senang melihat lampion-lampion, melihat segala aktifitas di alun-alun (ada yang berdandan ala pocong juga loh…hiii), dan yang paling penting bisa belanja souvenir gantungan kunci 🙂