Bromo, Jawa Timur

25 07 2016

20160725-112042.jpg

Waktu masih muda dan masih kuliah, si ayah pendaki gunung. Bersama sahabat-sahabatnya beberapa gunung telah ditaklukkannya. Saya walau pecinta alam tapi gak pernah kepikiran untuk mendaki gunung, saya tipekal yang lebih suka menjelajah lembah daripada menghabiskan waktu berhari-hari mendaki gunung…pikiran standard emak-emak. Itulah sebabnya kalau suami saya merencanakan mengajak krucil ke gunung, saya pura-pura gak dengar…hahaha.

Sudah dari dulu suami saya berniat mengajak krucil ke gunung, mulai dari yang gampang dulu Bromo. Waktu kami bertualang hanya bertiga 2013 dulu (ke Jogja, Solo, Semarang dan Malang), si ayah hampir tiap saat telp menyuruh saya mengajak krucil ke Bromo tapi ya gitu deh… ngebayangin harus bangun malam untuk jalan ke gunung aja sudah malas belum lagi ngebayangin betapa ribetnya bawa dua anak masih kecil-kecil, kalau sudah gitu saya tidak menemukan dimana letak asiknya. Jadi ya saya bilang ke ayah…”kalau ke Bromo sama ayah aja”.

Baiklah intronya sudah, saya mulai masuk cerita petualangan ke Bromo kami tahun ini. Suatu saat, ketika saya dan krucil sedang asik berkumpul di ruang tengah…ayah yang baru pulang kerja ikutan ngumpul, lalu tiba-tiba ayah bilang “ayah sudah ambil cuti loh tanggal 14 ini (bulan Juli maksudnya), mau kemana kita?” Dan bumi gonjang ganjing, agak kaget karena cuti ayah sudah diambil awal tahun. Iya, ayah dapat jatah tambahan cuti…baiklah kalau begitu. Lalu, “mau kemana kita? cari-carilah tiket”, tambah ayah lagi. Kemudian saya lupa…beberapa hari kemudian, ayah nanya lagi ke saya “sudah cari tiketnya bund?” laa saya lupa , kemudian cari-carilah tiket secara dadakan…ternyata libur lebaran + libur sekolah bikin harga tiket melambung. Beberapa destinasi liburan hendak dipilih tapi tiket ke beberapa destinasi incaran mahal, jadilah destinasi disesuaikan dengan harga tiket…cari tiket termurah, destinasi disesuaikan belakangan…hehe maklum backpacker

Singkat cerita, dapatlah tiket ke Surabaya. Setelah tiket dibeli, ayah lalu bilang “ayah mau mengajak kalian ke Bromo” dan urusan selanjutnya saya serahkan ke ayah. Hari H tanggal 14 Juli, berangkatlah kami menuju Surabaya. Sesampai Surabaya istirahat sebentar makan di bandara, lalu lanjut ke Malang. Di Malang istirahat sebentar 1-2 jam di hotel, ayah sibuk telp sana sini lalu berkata, habis maghrib kita nginap dirumah teman ayah di Tumpang biar gampang ke Bromo.

Habis maghrib jalan lagilah kami menggunakan taxi menuju Tumpang. Di Tumpang saya tepar banget. Seharian di jalan untuk emak-emak yang cukup berumur itu menguras energy, di rumah teman ayah di Tumpang saya langsung tidur..ngrok ngrok. Eh belum puas tidur, sekitar jam 01.00 dibangunin, mobil jeep nya sudah datang menjemput. Ngantuk dan capek bercampur jadi satu…arrghh liburan macam apa ini?! *jambak-jambak rambut, jedotin kepala* hehe…

Naik jeep tengah malam melalui jalan antah berantah itulah petualangan bermula. Jalan yang dilalui itu sempit, berkelok-kelok, kanan kiri jurang…kalau gak ingat supir jeep warga setempat yang sudah mengenal medan, pengen rasanya mutar arah kembali ke hotel, tidur nyenyak aja. Jalan yang cukup mengerikan membuat mata saya yang awalnya 1 watt langsung naik level jadi 100 watt, waspada. Si ayah dan sulung yang duduk di belakang, tidak memperhatikan jalan malah asik meneruskan tidur. Tiket masuk totalnya 85 ribu, rincian 25rb /orang dan krucil dihitung satu orang saja + kendaraan 10rb, gak mahal sih tapi membuat saya was-was lalu bertanya pada petugasnya : “aman pak?”, petugas :”aman bu”…singkat padat jelas.

Orang tua saya sebelum kami berangkat sudah mewanti-wanti agar kami jangan ke Bromo, bahaya..sedang erupsi. Awalnya saya juga ragu, tapi belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya apa yang media sebarkan itu kadang tidak sesuai kenyataan. Di petualangan kali ini pun terbukti bahwa jangan percaya media 100% dan jangan takut terhadap apapun sebelum melihat dan mengalaminya sendiri…buktinya Bromo aman-aman aja, walau erupsi tapi aman kok untuk wisatawan. Lalu perjalanan dilanjutkan lagi melalui padang savana, pasir dan kabut yang tebal. Suhu dingin mulai menyergap…brrr.

Sekitar jam 03.30 subuh kami lalu sampai di Pananjakan…yippie. Belum keliatan sih apa istimewanya tempat ini, karena yang terlihat di malam hari hanyalah warung-warung dan jeep-jeep saja. Istirahatlah kami di sebuah warung, nyari yang hangat-hangat karena begitu keluar jeep kami menggigil kedinginan….bbbrrrr. Pemilik warung menyarankan agar kami santai aja dulu, jangan buru-buru ke atas karena di atas suhunya jauh lebih dingin. Awalnya saya gak ngeh, ke atas apaan? Rupanya dari tempat parkir jeep itu masih harus mendaki sedikit lagi untuk menuju puncak. Ayah cerita ke krucil, ayah kapok waktu dulu masih muda, ayah ke Bromo cuma pakai celana pendek sama kaos oblong..haha, salah sendiri ke gunung cuma pakai celana pendek.

Krucil saya sudah gak sabaran tuh istirahat di warung, mulai merengek-rengek agar kami segera ke atas. Di bilang di atas lebih dingin gak percaya, gak apa-apa abang tahan kok , kan sudah pakai jaket double katanya pede. Keluar warung, ketemu supir jeep yang langsung mewanti-wanti agar nanti aja jam 5-an saja ke atasnya karena di atas lebih dingin lagi, kalau naik sekarang kelamaan nunggunya karena sunrise sekitar 05.15 .

Bukan krucil namanya kalau gak penasaran, dikasih tahu gitu tambah penasaran…jadilah jam 04.00 kami mulai naik ke atas. Sesampai diatas cari spot untuk ngetem, ternyata sudah penuh…wuiiihhh. Begitu dapat tempat, angin dingin mulai terasa membekukan badan. Baru nunggu setengah jam, bungsu saya langsung minta gendong ayahnya untuk turun kembali. Sebenarnya sulung saya mengajak turun juga…”ayo bunda, abang kedinginan”, kata sulung saya. Saya lalu bilang ke sulung saya ” bang, perjuangan kita kesini tuh panjang banget, belum lagi biaya yang keluar. Bunda juga kedinginan tapi kita jangan menyerah, kalau kita nyerah sekarang…sia-sia perjuangan kita. Ayo semangat, kita pasti bisa”. Sulung saya akhirnya masih bisa bertahan sampai sunrise, tapi saat hendak foto-foto tangan saya dan sulung mati rasa karena kedinginan… kami pun tertawa berdua untuk menyemangati diri sendiri.

Begitu matahari mulai nyembul di ufuk, tuh wisatawan yang awalnya tertib jadi beringas…sikut sana sini. Wisatawannya banyak banget, domestik maupun mancanegara, bejubel layaknya pasar malam. Saya berdua sulung yang dapat spot paling depan, eh ditutupin sama wisatawan lain yang nyelinap keluar pagar. Jadilah kami ikut-ikutan manjat pagar supaya bisa ngeliat sunrise. Setelah foto sebentar, kami memutuskan untuk turun menyusul ayah dan bungsu yang sudah duluan turun. Sampai di warung, menghangatkan diri sambil minum dan makan yang panas-panas. Kemudian ketika wisatawan lainnya mulai turun, kami memutuskan naik lagi…rugi amat sudah jauh-jauh belum dapat foto keren.

Matahari sudah bersinar kala kami naik lagi, jadi krucil tidak begitu kedinginan seperti kala subuh. Foto-foto, lalu turun lagi ke jeep yang parkir. Pak supir Jeep kemudian membawa kami menuju spot-spot lainnya, ada banyak sih spot lainnya tapi karena kami semua tepar akhirnya kami hanya ke pasir berbisik dan bukit teletubbies saja, lalu balik ke Tumpang. Sampai di Tumpang sekitar jam 11.00 siang, bikin kaget teman ayah. Loh kalian gak ambil semua paketnya ya? tanyanya, kalau ambil semuanya biasanya sampai jam 4-5 sore katanya. OMG, kalau harus sampai 4 sore, saya dengan senang hati mengibarkan bendera putih deh…nyerah. Kalau semua tujuan di datangi, ada kawah, bukit cinta, danau Ranu Pani, ada air terjun juga. Tapi kasihan krucil kecapekan..itu sebabnya kami meminta supir segera balik setelah dari bukit teletubbies.

Dan this is it…petualangan kami ke Bromo, akhirnya cita-cita ayah mengajak krucil ke Bromo kesampaian juga. Kata ayah, someday ayah akan mengajak kalian mendaki Semeru…*segera lambaikan tangan ke kamera* hehe. Dan yang paling penting, walau capek kami semua senang…bahkan bungsu saya bilang ke ayahnya, dia senang diajak ke Bromo. Bromo itu indah banget nget nget kebangetan. Saya sampai terharu ketika melihat Bromo, wow…amazing. Susah saya menggambarkan perasaan saya ketika itu, takjub, kagum, bangga karena Bromo itu ada di Indonesia dan segera teringat surah Ar-Rahman “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan”.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: