Bagan, Myanmar

15 03 2016

20160314-060215.jpg

Kami tiba di Bagan sekitar jam 4 subuh. Belum booking hotel sama sekali karena belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya kalau datang subuh atau pagi tidak bisa langsung masuk kamar, kami memang sengaja tidak booking hotel di website seperti biasanya. Akhirnya dari terminal bis Bagan, kami diantar taxi dengan biaya 10.000 Kyats mencari hotel. Hotel yang sebelumnya diincar di agoda ternyata penuh, setelah bolak balik, kami memutuskan menginap di Golden House Hotel. Eh ternyata karena kami datangnya subuh, kena charge setengah hari plus 1 hari, jadi kalau masuk subuh hitungannya 1,5 hari….hiks hiks sungguh terlalu.

Rupanya untuk masuk kota Bagan, pengunjung diharuskan membayar tiket masuk seharga 25.000 Kyats / orang karena Bagan ini termasuk dalam situs peninggalan dunia seperti Angkor Wat, berupa kompleks besar berisi ribuan pagoda. Jadi dari terminal, kami melalui semacam pos penjaga untuk membayar tiket masuk tersebut. Sebenarnya hanya anak dibawah 7 tahun yang gratis, tapi ketika kami kasih tahu supir taxi bahwa anak kami berumur 7 & 10 tahun, eh supir taxinya bilang gak perlu ngomong seperti itu. Begitu di pos penjaga itu supir ngomong pakai bahasa mereka kayaknya sih dia bohongin petugas soal umur krucil, soalnya kami cukup membayar 50.000 Kyats saja…haha, gak tahu harus senang atau gak soal ini. Oke in ajalah…

Tiba di hotel, istirahat dulu…santai-santai dulu seharian. Setiap ayah mengajak kami melihat-lihat kota, kami menolaknya…entah kenapa bawaannya malas aja kemana-mana. Si ayah sampai berkata, petualangan kali ini gak asik…kalian sekarang payah diajak berkelana. Pada akhirnya ayah sering ngacir sendirian, gak betah dia di hotel aja…haha…

Menjelang sore, sekitar jam 15.00 baru kami semua berkelana. Kenapa saya memilih waktu sore? Pertama sih karena sudah pengalaman di Angkor Wat, kalau berkelana pagi atau siang, panasnya terik banget…yang ada kepanasan aja dibanding menikmati perjalanan. Kedua sih, karena ketika di Yangon sehari sebelumnya bungsu saya demam dan saya gak mau terulang lagi hanya karena diajak panas-panasan…jadi seharian saya biarkan krucil main-main sambil ngadem dalam kamar hotel, adaptasi dulu.

Sore itu ayah nanya, apa kami sewa sepeda (iya, ada banyak penyewaan sepeda juga seperti di Angkor Wat) atau rental sepeda listrik (itu tuh bentuknya seperti motor kecil dan jalannya kayak siput) ? Kedua pilihan saya tidak mau…entah kenapa, saya malas aja rasanya capek-capek dalam petualangan kali ini, mungkin bawaan PMS (pra menstruasi syndrom). Pengennya yang enak-enak, tapi juga gak mau taxi karena terlalu kekotaan…hehe. Setelah ayah cari-cari alternatif transportasi lain, eh nemu andong-andong. Kalau ini sih ok, saya setuju karena temanya cocok…kedesaan…hahaha🙂 Btw, andong-andong ini termasuk mahal loh dibanding transportasi lain, entah karena kami turis, entah karena kami yang gak jago nawar, atau memang karena biaya makan kuda yang mahal. Tarif naik andong memutari kompleks perpagodaan ini 20.0000 Kyats, atau setara dengan 250rb Rupiah.

Supir eh pengemudi andong eh apaan ya sebutannya, ya gitu deh…pengemudi andong ini bisa bahasa inggris walau logatnya agak susah dimengerti tapi ya bisa dimengertilah…nah kan jadi makin tidak mengerti haha. Dia berniat mengajak kami ke lima pagoda paling terkenal, begitu sih katanya dia…padahal mau terkenal kek, gak terkenal kek…tetap aja kami gak tahu…hehe. Jadi selama itu pula dia ngebut menuju lima pagoda tersebut sehingga banyak pagoda-pagoda sepanjang jalan yang terlewati tanpa kami sempat mengambil foto. Suatu ketika saya minta berhenti disebuah pagoda sepi…eh pengemudi andongnya bilang, nanti aja…nanti pulangnya kita lewat situ lagi. Eh pakde, thats ok lah berhenti disini sebentar, saya suka nih pagoda banyak bunga-bunga…akhirnya berhenti juga deh andongnya…hups, lumayan istirahatkan pantat karena naik andong tuh ternyata bikin pantat keropos juga….hehe.

Ngomong-ngomong tentang andong, andongnya ini tidak seperti di Indonesia yang ditengahnya ada tempat naruh kaki. Di Bagan, andongnya semua tertutup semacam kasur…susah kan duduknya. Kalau sendirian sih enak, tinggal baring-baring, leyeh-leyehan di kasur itu…laaa kalau berempat? Solusinya ya ada yang ngadap depan, kakinya dibelakang kuda, sisanya ngadap belakang deh kakinya juntai-juntai di belakang. Cara seperti kami ini malah jadi tontonan tersendiri bagi turis lain, beberapa kali kami dijepret kamera turis lain terlebih wajah dan kulit kami seperti orang Myanmar juga, ditambah si ayah pakai topi ala koboi dari jerami hasil berburu di local market. Kebayang kan di album foto mereka tertulis…local people Myanmar….haha.

Kembali ke kompleks pagoda….pagodanya banyak bingit, tersebar di area yang lumayan luas tapi tidak seluas Angkor Wat. Pagoda dalam berbagai ukuran, dari kecil, sedang, besar, ada yang sendiri ada juga yang bergerombol, serta berbagai warna, putih, coklat, bata, kekuningan seperti emas, dsb. Kami diajak pengemudi andong mampir ke beberapa pagoda, entah deh namanya apaan habisnya tulisannya kriwil-kriwil gitu. Ada yang katanya dalamnya ada stone budha, ada yang letaknya pinggir sungai, ada yang ini, ada yang itu…gak begitu nyimak juga sih soalnya sulung saya gak mau diajak masuk, akhirnya ya kami foto-foto dari luar aja.

Diakir pengelanaan, kami diajak ke Shwesandaw Pagoda…tempat untuk menikmati sunset. Begitu tiba disini sekitar jam 17.00 sudah penuh dengan turis yang menempati setiap sisi pagoda untuk menunggu sunset. Saya dan bungsu hanya sampai tingkat ketiga, capek banget tuh menaiki anak tangganya selain juga bungsu saya takut ketinggian, sedang ayah dan sulung sampai tingkat dua karena tingkat satu sudah penuh. Menunggu sunset ini seru juga melihat berbagai turis mancanegara dengan berbagai tingkah polahnya, dari yang santun, ada yang gak ingat-ingat orang yang duduk dibelakang dengan menghalangi pandangan, ada juga yang suka senyum sama semua orang. Mengambil foto dengan tablet hasilnya kurang mantap selain karena mataharinya juga ternyata tertutup awan, akhirnya saya dan bungsu cuma memperhatikan turis lain sembari nunggu ayah dan sulung turun. Jam 17.30an banyak yang akhirnya bubar karena matahari terhalang awan, kamipun ikutan bubar kembali ke tempat parkiran. Lets go, kita kembali ke hotel…besok pagi kami naik bis kembali ke Yangon.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: