Yangon, Myanmar

14 03 2016

20160314-033800.jpg

Hmmm…mau mulai cerita dari mana ya? Sebenarnya agak malas nulis cerita-cerita tentang petualangan kami tahun ini, banyak kejadian yang kami alami dari yang seru, sedih, menyebalkan, menyenangkan sampai mengharu biru. Tapi demi kenang-kenangan untuk krucil, SEMANGAT! Saya harus nulis petualangan kami kali ini supaya saat krucil dewasa kelak bisa mengingat-ingat memori-memori indah tentang petualangan-petualangan bersama ayah bundanya.

Tiap tahun, minimal setahun sekali kami usahakan mengajak krucil jalan-jalan. Harus satu paket, ayah bunda dan krucil. Tujuannya sih satu, merekatkan hubungan kami yang karena kesibukan ayah lebih sering berada di lokasi dibanding bersama anak istrinya. Dengan berpetualang jauh dari rumah, mau gak mau, suka gak suka, kami harus kompak melalui semua rintangan yang kadang kami temui selama di jalan selain juga untuk me-refresh (halah bahasanya.. apalah) semua kejemuan yang kadang dijumpai dalam melakukan rutinitas sehari-hari.

Nah, setelah mengulik-ngulik semua tujuan yang menarik minat kami, akhirnya pilihan jatuh ke Myanmar. Alasannya : 1) Gak jauh-jauh amat dari Indonesia, cuma 3 jam-an dari Kuala Lumpur dibanding 5 jam ke India. 2) Antimainstream. Tahu sendiri kan kami, kami gak begitu suka tujuan yang ramai…nah Myanmar nih salah satu destinasi yang jarang dilirik orang. 3) Ya pengen aja liat Myanmar, seperti apa sih negaranya, orangnya, budayanya.

Baiklah, pilihan sudah ditetapkan. Tiket sudah di beli, hotel sudah di booking dan berangkaaaat…..

Seperti biasa urusan perhotelan diserahkan krucil pada si bunda (saya) karena dianggap lebih keren milih hotelnya dibanding si ayah. Kata mereka ayah urusannya beli bis aja, lebih jago dibanding bunda…hehe, baiklah. Saya pilih 30th Corner Boutique Hostel, eh walau namanya hostel nih penginapan keren banget deh. Lokasinya ditengah-tengah kota banget, area downtownnya Yangon. Penampakan dari luar menipu, dalamnya dong…lumayan banget.

Setibanya di Yangon, di bandara kami membeli tiket bis ke Bagan untuk sore harinya seharga $22/ orang. Selesai urusan tiket bis, langsung naik taxi bandara seharga 10.000 Kyats ke downtown, letak hotel kami. Lama perjalanan dari bandara ke downtown ini sekitar 2 jam, maceeeettt parah banget deh, nambah tua dijalan. Padahal jalannya lebar-lebar loh, tapi macetnya ampun-ampunan. Gak cukup sampai situ penderitaannya, eh setiba di hotel begitu check in…resepsionis bilang waktu check in jam 14.00 sedangkan saat itu masih jam 11-an! Akhirnya si resepsionis nunjuk ke atas, kalau mau mandi silahkan ke atas katanya. Bangun subuh belum sempat mandi eh kena macet pula dijalan bikin kami dekil sempurna. Ya sudahlah, terima aja tawaran terbaik saat itu, mandi. Sambil lesehan di lorong hotel, satu anak mandi, anak yang lain makan chicken rice pesawat kesukaannya. Satu kata menggambarkan keadaan kami saat itu, KASIHAN deh loe…eh tiga kata ya…hehe😉

Kemudian saya punya ide cemerlang briliant dan menakjubkan, saya minta suami saya bilang ke resepsionis kalau kami tidak nginap disitu, kami hanya pengen istirahat sebelum berangkat lagi jam 17.00 nanti ke Bagan. Dan ternyata kata-kata ini secara menakjubkan berhasil meluluhlantahkan rasa iba resepsionis…mereka buru-buru menyiapkan satu kamar. Yess…we did it! Walau karena buru-buru jadinya kami dapat kamar yang lebih kecil tapi ya lumayanlah untuk meluruskan punggung.

Istirahat sebentar, krucil malah gak bisa diam…loncat sana, loncat sini. Akhirnya siang itu setelah gagal memaksa krucil tidur, kami mengajak mereka jalan ke Bogyoke Market. Bogyoke ini seperti pusat souvenir dan pasar grosir gitu deh. Letaknya gak jauh dari hotel, disini kami hanya sempat beli gantungan kunci dan gelang batu saja, sebelum si bungsu mendadak demam. Badannya panas tinggi, ayah langsung ngajak kami balik ke hotel tapi sulung saya menangis karena belum beli gantungan kunci untuk teman-temannya. Akhirnya ayah menggendong bungsu balik ke hotel, saya dan sulung jalan berdua mencari gantungan kunci untuk si sulung dan langsung balik hotel karena gak enak banget rasanya mikirin bungsu sakit tanpa bundanya (bungsu memang dekat banget dengan saya).

Sampai hotel, liat bungsu mulai turun demamnya karena sudah diminumin obat demam sama ayah. Kemudian gantian tugas lagi, kali ini ayah yang pergi mencari makanan di KFC tidak jauh dari hotel dan saya menjaga krucil di hotel. Eh setelah agak enakan badannya, bungsu mulai heboh-hebohan lagi dengan abangnya dikamar…loncat-loncat lagi *tepok jidat*.

Sore itu kami berembuk, terus ke Bagan atau tetap stay di Yangon dan tiket bis yang sudah dibeli dibiarkan hangus. Baiklah, kami putuskan liat kondisi menjelang pergi nanti…kalau bungsu masih demam kita stay, kalau sudah membaik…kita lanjutkan petualangan kita. Alhamdulillah menjelang berangkat bungsu saya membaik dan fine-fine aja. Bagan…here we come….


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: