Dago Pakar, Bandung

23 07 2015

20150723-095633.jpg

Nama tempat ini Tahura Ir.H.Djuanda tapi lebih dikenal sebagai Dago Pakar, letaknya di Dago atas. Hari kelima kami di Bandung baru akhirnya bisa ngajak krucils jalan-jalan. Hari pertama kejebak macet ditol berjam-jam dari Jakarta, baru jam 11 malam sampai di Bandung….mantap teparnya. Hari kedua, ke rumah saudara-saudara, sangat macet…mulai tampak gejala penuaan dini di jalan. Hari ketiga, dijemput sahabat ke rumah…alhamdulillah walau macet tapi lebih enak daripada naik angkot. Hari keempat…ikut ipar jalan, macet dimana-mana…badan pegel-pegel. Hari kelima, kapok kena macet…stay at home aja sepanjang hari sampai sobat yang mau ketemuan terpaksa dan dipaksa datang ke rumah aja deh.

Belum sempat ngajak krucils jalan kemana-mana, hari kelima sore krucils mulai rewel…maksa ngajak jalan. Ayah bunda pun berpikir keras, kemana ya ngajak krucils jalan yang murah meriah, tidak jauh dan tidak macet…tik tok tik tok tik tok…aha, di rumah aja…hehe. Maklum macet selain bikin capek juga bikin boros kalau terpaksa harus naik taxi. Akhirnya kasih usulan ke kebun binatang aja, gak begitu jauh (cukup satu kali angkot) selain murah ongkos transport juga gak kemalaman karena hari sudah teramat sore dan pastinya tiket masuk tidak mahal…hehehe *tertawa pelit ala emak-emak perhitungan*. Setelah diskusi yang sangat alot, akhirnya deal ke kebun binatang aja.

Naik becak, disambung naik angkot…depan Unpad sempat diskusi dulu, berhenti di mana yang dekat Ganesha…eh si ayah di tengah jalan malah kasih usulan kenapa gak ke Dago Pakar aja? Saya memang sering cerita ke krucils tentang petualangan-petualangan saya dan sahabat-sahabat saya ketika mahasiswa dulu, salah satu latar cerita tersebut ya di Dago Pakar ini. Mendengar usulan si ayah, krucils pun antusias…mau liat gua Jepang dan Belanda, dan pengen seperti bunda yang sempat nyasar masuk hutan waktu mau jalan nembus Dago Pakar ke Maribaya sampai kemalaman di Dago Pakar…biasa cerita si bunda ke krucils kan dibumbui biar ala-ala India Jones campur Charlie Chaplin😉

Dulu sih kalau berpetualang bersama sahabat, saya tinggal terima beres. Walau sama-sama naik angkot, pokoknya hanya tahu sampai aja di tempat tujuan…teuing eta naik angkot jurusan apa mah. Begitu krucils bilang mau ke Dago Pakar, langsung deh nanya sobat-sobat…naik angkot apa, berhenti dimana, biayanya berapa…ngandalin GPS hidup banget deh :p Berkat bantuan sobat-sobat nyampe juga deh akhirnya …walau sempat naik ojek ngebut ala motor GP.

Sampai di Dago Pakar, hari sudah sore…sobat sih sudah memperingatkan kalau sudah terlampau sore untuk berpetualang di hutan raya seperti itu. Namun spirit petualang krucils berkibar membara di dada akibat hasutan cerita-cerita petualangan bundanya. Tiket masuk 10rb/orang + seribu untuk asuransi. Total 44rb berempat. Jika dibandingkan suhu di Bandung dengan di Kalimantan aja sudah jauh beda, apalagi kalau dibandingkan di daerah ketinggian seperti Dago Pakar ini…tiris pisan euy (dingin banget). Bagaimanapun, petualangan harus berlanjut…ganbatte! (semangat!)

Berjalan menembus hutan raya dan tidak berapa lama sampailah di Gua Jepang. Di pintu masuk ini beberapa pemuda langsung menawarkan senter seharga 5rb/senter. Awalnya kami hanya ambil dua senter, eh ditambah sama masnya jadi tiga senter…di dalam eh dipaksa megang senter keempat, ditambah biaya guide seiklasnya total 30rb deh untuk gua ini. Sisi positif memakai guide adalah bisa mengetahui sejarah, posisi gua, digunakan untuk apa, dsb. Krucils terutama sulung saya antusias banget nih disini.

Tidak jauh dari Gua Jepang ada Gua Belanda yang pintu depannya berbentuk jeruji dan lorongnya lebih sempit namun menembus bukit. Gua Belanda ini lebih terang dibanding Gua Jepang sehingga kami memutuskan untuk tidak menyewa senter maupun guide. Pada akhirnya sulung saya mencak-mencak…gua ini gak seru, gak bisa keliling-keliling, gak tahu sejarahnya. Menembus gua kemudian kami berjalan ke arah Maribaya. Baru beberapa langkah, beberapa tukang ojek menawarkan ojeknya dengan rayuan Maribaya masih jauh…kasihan anak-anak. Baru setelah melihat jam saya sadar, walah sudah hampir maghrib. Krucils dan si ayah langsung saya ajak diskusi, gimana ini jalannya masih jauh sekitar 1-2jam lagi sementara sebentar lagi sudah malam. Sulung maksa tetap lanjut sedang bungsu malah ngajak balik, ayah ngikut suara terbanyak tapi condong ngikut ke sulung…lanjut terus,namanya juga berpetualang, kemalaman sih orapopo.

Akhirnya dengan kekuasaan tirani si bunda (hehe), sulung mau juga balik lagi sambil sepanjang jalan ngomel-ngomel, besok harus kesini lagi. Ketika jalan kembali ke arah pintu masuk, hari mulai gelap…eh pakai nyasar pula ditambah bunyi gemerisik rumput di dekat jalan setapak yang kami lalui plus serangga malam yang mulai menggigit, krucils terlihat panik. Tuuuhhh kan, bunda tuh tahu tipekal kalian…gayanya aja mau berpetualang seperti si bunda, yang sering kemalaman dan pernah nyasar di hutan, eh baru maghrib aja sudah pada takut minta gendong si ayah…hehe..

Ketika berhasil nemu pintu keluar masih belum bisa bernafas lega, ojeknya cuma ada satu…eh sudah gitu si ayah nyuruh kami pura-pura gak dengar tawaran si tukang ojek karena kata si ayah orangnya sedang mabuk. Terpaksa deh jalan kaki jauh untuk kembali keramaian lagi, kaki dan pinggang jadi sakit…hiks ternyata bunda sudah tua. Di pertigaan akhirnya nemu pangkalan ojek lagi …naik ojek sampai terminal, dari terminal naik angkot ke Dipati Ukur dan berhenti di warung sate Padang salah satu tempat makan favorite dahulu kala, petualangan pun diakhiri dengan makan banyak…haha, mirip petualangan bunda bersama sobat-sobat dahulu kala :p


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: