Kuala Lumpur – Chiang Mai – Chiang Rai – Luang Prabang – Vientiane – Bangkok

16 03 2015


Beberapa bulan sebelum keberangkatan kami masih bingung dengan tujuan petualangan kami tahun ini. Setiap kali bertanya, kemana liburan kita kali ini yah? Si ayah menjawab terserah, tapi kalau diajak ke India jawabnya nanti aja kalau anak-anak sudah agak besar. Terserah tapi diajak ke India kagak mau, piye toh? Rupanya si ayah mempertimbangkan faktor keamanan dan kebersihan, itu sebabnya walau beberapa kali dibujuk dia tetap pada pendiriannya…India nanti kalau anak-anak sudah agak besar, sudah bisa jaga diri, sudah bisa cium berbagai bau rempah yang tajam…hmmm, baiklah.

Jadi kemana dong? Si ayah memang didaulat sebagai Menteri Luar Negeri sama krucils, jadi kalau liburan ke negara lain ya harus sama sang ayah…mereka gak percaya sama kemampuan bundanya. Kalau bunda urusan dalam negeri aja deh, yang dekat-dekat aja. Selain itu si ayah juga tidak membolehkan kami jalan sendiri kalau ke negara lain, walau penampilan cuek gitu ternyata gitu-gitu dia mengkhawatirkan anak istrinya kalau jalan sendirian ke negara lain…co cweet kan? hehe *kedip kedip si ayah*

Setelah berembuk tujuh hari tujuh malam ditambah gelar wayang kulit tujuh hari tujuh malam plus mandi kembang tujuh rupa dengan air dari tujuh sumur, kami putuskan kami mulai yang gak begitu jauh saja, keliling ASEAN dulu. Selain dekat, ongkosnya gak mahal, juga gratis visa (nah ini penting banget karena visa kan mahal bingit, belum lagi ngurusnya harus ke Jakarta/Surabaya yang artinya tambahan biaya lagi). Maklum backpacker, budget terbatas dan pas-pasan.

Buka peta, langsung tertarik pada Luang Prabang (Laos) dan Hanoi (Vietnam). Cari-cari tiket murah, nemunya yang paling murah dari Kuala Lumpur (KL) adalah Chiang Mai (kota besar terdekat dari Luang Prabang). Googling-googling, baca-baca pengalaman traveler lain, nemu transportasi darat dari Chiang Mai ke Luang Prabang. Tanya ayah, sip ayah ngangguk setuju. Beli tiket ke Chiang Mai dan inilah rencana awal rute petualangan kami tahun ini : Chiang Mai – Chiang Rai – Tachiliek – Luang Prabang – Vientiane – Hanoi, tapi ternyata waktunya tidak cukup akhirnya diperjalanan kami rombak lagi hingga akhirnya jadi : Chiang Mai – Chiang Rai – Luang Prabang – Vientiane – Bangkok. Dan inilah cerita petualangan kami tahun ini…semoga bermanfaat untuk kalian-kalian yang mempunyai rencana yang sama🙂

# Menuju KLIA 2, Kuala Lumpur (Malaysia), 4 Maret 2015 #

20150316-070006.jpg

Beberapa hari sebelum berangkat si ayah ada job, tanya kira-kira berapa hari jobnya. Si ayah bilang ini sih biasanya cuma sehari selesai, paling ntar sore sudah pulang. Ok deh, selamat bekerja ayah. Sore belum ada kabar, malam baru kasih kabar…belum mulai, ombak besar..mungkin besok baru mulai kerja. Begitu terus sampai empat hari padahal waktu keberangkatan tinggal dua hari lagi. Akhirnya setelah deg-degan selama beberapa hari, malam hari sebelum cuti dimulai bisa pulang juga.

Selain job dadakan, yang juga bikin khawatir adalah kondisi kesehatan krucils. Bolak-balik demam, flu dan batuk. Satu sudah sembuh, satu lagi kena. Yang kena sembuh eh satu lagi kena lagi…hadeuh, bikin ketar ketir bundanya padahal kata krucils mereka sudah gak sabar pengen berpetualang tapi bolak balik demam. Alhamdulillah walau sempat ketar ketir, semua rencana tetap bisa dijalankan.

Rabu pagi, setelah sarapan kami pun telp Taxi ke bandara. Sesampainya di bandara bayar airport tax yang sungguh tidak berperikedompetan, kami nunggu di ruang tunggu keberangkatan. Sekitar jam 14.30 kami pun sudah mendarat di KLIA 2. Bandara baru ini bikin bingung awalnya, lebih megah dari sebelumnya, pokoknya semua berbeda dari tahun lalu (laa iyalah, tahun lalu masih di LCCT sekarang sudah KLIA 2). Kami sempat bingung nih, ke arah mana nih hotel kami. Tanya bagian informasi, dijawab dekat saja kok, lurus aja terus sampai dekat pintu keluar belok kiri naik lift ke lantai P4, keluar…pas diseberang, itulah hotel kami.

Kami sempat duduk-duduk santai makan dulu disalah satu resto bandara sebelum ke hotel, nyari nasi lemak sudah habis..hiks. Ternyata hotel kami ya memang dekat banget, dan lagi-lagi hotelnya juga berubah dari tahun lalu. Lebih bagus, lebih besar dan lebih nyaman. Saya suke…saya suke *suara ala upin ipin mode on*. Istirahat sebentar, malamnya kami balik lagi ke bandara (KLIA2) untuk nyari makan, mempelajari situasi mencari terminal keberangkatan untuk besok dan sekalian jalan-jalan…Loh kok jalan-jalan di bandara sih? Iya soalnya bandaranya berbentuk mall sih, banyak toko-toko jual ini itu, banyak resto-resto juga. Kemudian kembali ke hotel, saatnya istirahat sebelum petualangan sebenarnya dimulai.

# Menuju Chiang Mai (Thailand), 5 Maret 2015 #

20150316-070233.jpg

Subuh si ayah dan saya sudah bangun, kami segera berkemas-kemas karena kami menggunakan pesawat jam 06.55 ke Chiang Mai, artinya kami sudah harus ada dibandara minimal sejam sebelumnya untuk urusan imigrasi dan boarding yang biasanya lebih cepat sebelum waktu keberangkatan, belum lagi mempertimbangkan kami belum begitu mengenal bandara baru ini, dimana letak imigrasi, Depature Terminal, gate, dsb. Walau letak hotel kami dekat banget dengan bandara (jalan kaki 2-3 menit juga sudah sampai), kami tetap membangunkan krucils dan mulai ke bandara jam 5 subuh.

Untung saja kami mulai berangkat subuh karena letak gate keberangkatannya lumayan jauh masuk ke dalam. Tiba di ruang tunggu keberangkatan masih sepi banget hanya ada kami, seorang bule perempuan yang sedang tidur di lantai, di paling belakang ada bule cowok sedang bergelung dalam selimut juga sedang tidur di lantai yang memang berkarpet tebal. Akhirnya saya pun memilih masuk ke mushola untuk sholat subuh, di mushola saya bertemu seorang perempuan muda yang sedang asik dengan laptopnya. Selesai sholat, dia pun bertanya dengan bahasa melayu “nak kemana?”. Saya jawab ke Chiang Mai, sedang dia katanya mau ke Solo. Rupanya dia orang Thailand yang sedang kuliah di Solo…wow..dan hebatnya bahasa Indonesianya keren banget tanpa terdengar logat lainnya. Setelah ngobrol gitu baru saya tahu, bahwa saya kecepatan sholat subuhnya, belum waktunya. Harusnya jam 6-an waktu Kuala Lumpur sholat subuhnya…yah sudah terlanjur, pantesan sepi banget.

Sekitar jam 08.40 pagi waktu Chiang Mai (Chiang Mai dan Kuala Lumpur berbeda satu jam), kami akhirnya sampai di Chiang Mai. Bandaranya kecil tapi ramai. Diluar terlihat beberapa orang menunggu dengan membawa kertas bertuliskan Mr.anu atau Mrs.inu…kayaknya sih yang jemput orang-orang hotel. Wah lupa minta jemputan hotel juga ke bandara, hmm…gpp deh bisa cari sendiri. Kami menggunakan taxi bandara dengan tarif 75 Baht kalau tidak salah. Taxi ini mobilnya keren, kalau bukan Fortuner atau Pajero (maklum buta merk mobil). Nah supir taxi ini bernama Mr. Arun, dia ini yang menawari kami untuk carter mobilnya kalau mau keliling Chiang Mai seharga 1200Baht. Mahal memang, itu sebabnya kami tidak langsung mengiyakan.

Setelah istirahat sejenak di hotel, kami berkelana nyari makanan dan minuman di seputaran hotel. Saat sedang jalan-jalan itulah kami sampai di daerah night bazaar tidak jauh dari hotel, di daerah ini sementara krucils beli ini itu di seven eleven, si ayah beli sim card juga disitu, saya jalan-jalan sendiri. Di deretan situ banyak biro travel, melihat banyak bule mendekat ke sebuah pamflet, saya jadi ikut penasaran pamflet apaan itu. Rupanya itu pamflet tarif-tarif travel kesono kemari, misalnya saja driving elephant+long neck karren tarifnya 950Baht/person. Melihat itu, saya pun menunjukkan ke si ayah pamflet tersebut, aje gile yah…kalau ikut tour gitu bayarannya gak kira-kira sudah gitu hitungannya perorang lagi. Kayaknya lebih hemat kalau kita ambil tawaran Mr. Arun aja deh, 1200Baht untuk berempat sudah gitu terserah lagi mau kemana aja. Malam itu kami pun telp Mr. Arun untuk besok pagi menjemput kami.

Esoknya kami pun berkunjung ke Baan Tong Luang, Tiger Kingdom, dan sempat juga diantar ke Chiang Mai Zoo karena kami berempat ketiduran setelah dari Tiger Kingdom. Sebelumnya sempat nanya dimana museum lukisan 3 Dimensi, kata Mr. Arun sih di Chiang Mai Zoo. Lalu ayah dan saya diskusi…waduh kalau ke Zoo, krucils pasti minta paket sekalian masuk ke kebun binatangnya gak mungkin cuma masuk museumnya. Sedang biaya masuk kebun binatang ini 1000-an Baht juga perorang kalau gak salah, belum lagi tiket museumnya…sudahlah gak usah aja. Chiang Mai merupakan kota pertama dalam petualangan kami, kalau uangnya dihabiskan disini duluan, gimana nasib kami di kota-kota selanjutnya.

Akhirnya si ayah bilang gak jadi deh ke museum lukisan 3 D, kembali ke hotel saja…setelah itu saya ketiduran. Begitu bangun, liat krucils eh pada tidur juga. Liat jalan, macet parah. Liat ke depan, eh si ayah sedang tidur juga. Ya sudah saya pun menikmati pemandangan yang ada aja sambil dalam hati mikir (eh mikir kok dalam hati, mestinya dalam otak ya? hehe) kok jalannya beda dengan jalan saat berangkat ya. Eh tahu-tahu di depan saya sudah tertulis Chiang Mai Zoo. OMG, mungkin Mr. Arun gak dengar perkataan si ayah dan parahnya si ayah tidur juga, jadi aja miss communication…hahaha.

Di Chiang Mai kami dua hari, kami hanya berkelana ke Baan Tong Luang melihat suku Karen berleher panjang, bermain bersama Harimau di Tiger Kingdom, bermain bersama burung merpati di Tha Phae Gate dan jalan-jalan di night market. Petualangan kami di Chiang Mai bisa dilihat di postingan sebelumnya.

# Menuju Chiang Rai (Thailand), 7 Maret 2015 #

20150316-070415.jpg

Saat sedang jalan-jalan sore dan agak nyasar, kami melihat sebuah travel kecil yang letaknya nyempil tidak jauh dari night bazaar. Si ayah bilang disitu ada jual tiket bis ke Luang Prabang. Lalu masuklah kami ke dalam travel ini, dia menawarkan slow boat tapi kami pengen bis karena lebih cepat daripada slow boat. Dia menjelaskan bahwa dari Chiang Mai kami nanti akan naik minivan sampai ke perbatasan, minivan akan berhenti istirahat sebentar di White Temple (Chiang Rai) sebelum mengantar ke perbatasan, baru setelah masuk Laos disana akan ada bis tidur yang akan menunggu kami. Yah karena info tentang bis ke Laos ini minim banget di internet, jadi kami ok saja.

Info yang saya dapat dari internet hanya harga bis ini 1400Baht perorang, sedang travel ini menawarkan 1500 Baht. Tawar-tawaran akhirnya dapat harga 1450Baht/orang…yah anggap saja 50Baht tersebut adalah harga kenaikan tarif dari harga sebelumnya. Belakangan kami baru tahu bahwa harga tiket bis ini tidaklah semahal itu jika belinya langsung di biro travel depan stasiun kereta, kalau gak salah selisihnya sampai setengahnya. Satu pelajaran bisa dipetik, lain kali beli langsung dari tangan pertama lebih murah.

Jumat pagi, jam 9.30-an kami sudah nunggu minivan ini di lobby hotel karena menurut perjanjian kami akan dijemput jam 10-an di hotel. Ternyata yang jemput tuktuk berisi lima bule-bule. Tuktuk ini ngebut-ngebut gajebo (gak jelas banget bo’), kadang ngerem…ya ampyun gajebo banget deh sampai-sampai kami yang berada di dalam terpelanting sana-sini. Lebih gak jelas lagi kami dibawa ke stasin kereta, nah di stasiun ini semua bule disuruh turun untuk masuk ke dalam minivan yang sudah menunggu sedang kami disuruh tetap ikut tuktuk itu. Awalnya tuktuk ini jalan ke suatu arah, eh gak berapa lama muter balik ke arah stasiun kereta yang tadi…kami kira mungkin ada yang ketinggalan. Sesampainya di stasiun, eh muter lagi keluar stasiun…benar-benar gajebo. Nah di perempatan luar stasiun kami disuruh keluar dari tuktuk ini untuk naik ke sebuah minivan, saat hendak naik malah disuruh pindah ke tuktuk lain sementara tuktuk yang menjemput ke hotel sudah ngacir entah kemana padahal tiket yang berisi tulisan kami sudah bayar lunas ke Luang Prabang ini di supir tuktuk yang pertama.

Antara gondok dan was-was…kami akhirnya naik tuktuk kedua ini, plus tambahan sepasang bule yang diturunkan dari minivan yang nunggu diperempatan depan stasiun ini. Saat ngobrol dengan bule ini, kami sedikit lega karena tujuannya sama juga, Luang Prabang. Naik tuktuk kedua ini hanya satu menit, kemudian berhenti di sebuah biro travel yang letaknya persis di depan stasiun kereta. Disini kami semua disuruh turun untuk masukin nomor passport katanya. Turun, masuk…si mbak resepsionis minta tiket kami. Busyet, tiket kami kan dibawa sama supir tuktuk pertama…ketika kami sibuk menjelaskan gitu, terlihat oleh saya supir tuktuk pertama sedang duduk-duduk santai depan meja. Langsung saja saya samperin, where is my ticket.

Supir tuktuk ini menyerahkan tiket kami ke si mbak resepsionis ini, kemudian si mbak ini nanya apakah kami bayar tiket untuk 2 seat VIP Bus. Ya enggaklah, kami kan berempat ya tiketnya untuk berempatlah. Lalu sibuklah mereka diskusi antar mereka pakai bahasa mereka. Akhirnya kami dikasih empat buah tiket dan dikasih kertas untuk arrival di border nanti. Karena saya pikir santai, ya saya mau ngisi dong disitu mumpung ada pulpen…eh si mbaknya judes, diisinya nanti aja sekarang cepat masuk minivan…aje gile juga nih orang travel kok judes banget.

Laa karena kami gak tahu mana minivan yang dimaksudnya, kami nanya sama orang yang sedang berdiri di pintu depan sebuah minivan, kirain supir minivannya karena tampangnya Thailand banget, apakah ini minivan ke Luang Prabang…eh dia bingung, yang jawab justru bule setengah baya yang bertampang ramah, yep ini ke Luang Prabang. Fiuuuh…akhirnya setelah di ping pong sana sini, kami bisa bernapas sedikit lega. Setelah muatan lengkap, yang terdiri sepasang bule paruh baya berwajah ramah entah warga negara apa, sepasang bule charming yang pendiam berambut hitam yang berasal dari New Zealand, sepasang bule muda yang logatnya berat mungkin Inggris, seorang berwajah Asia yang awalnya kami kira supir minivan, serta kami berempat paling belakang.

Kami sempat dua kali beristirahat, pertama disebuah cafe yang punya kolam renang kecil untuk makan siang. Disini kami hanya pesan minuman dingin seharga 70 Baht, sedang makan siang kami bawa dari Chiang Mai hasil beli di daerah muslim, yaitu berupa beberapa potong ayam goreng, french fries dan rotee fruit (seperti roti chanai). Kali kedua minivan berhenti di White Temple, Chiang Rai untuk istirahat selama 20 menit. Di Chiang Rai ini kami melihat-lihat White Temple dan beli minuman dingin lagi.

# Menuju Luang Prabang (Laos), 7 Maret 2015 #

20150316-071040.jpg

Sekitar jam 4-an sore (kalau gak salah,lupa lagi), kami akhirnya sampai juga di perbatasan Chiang Kong. Minivan berhenti di sebuah bungalow asri dipinggiran sungai, kemudian supir minivan menyuruh turun orang-orang yang pakai slow boat. Ternyata hampir seluruhnya pakai slow boat karena hanya kami dan sepasang bule charming berambut hitam saja yang tidak turun. Setelah itu kami kembali di data di sini, kami meneruskan dengan VIP Bus, sedang sepasang bule tersebut hanya sampai perbatasan dan mereka akan melanjutkan perjalanan keesokan harinya.

Selesai didata, kami disuruh naik minivan lagi dan minivan menuju jembatan persahabatan (Friendship Bridge), nah disini kami diturunkan. Urus imigrasi keluar Thailand, dapat cap. Tidak jauh dari situ disuruh membayar 40 Baht /orang entah untuk apa, saya lupa lagi. Di pintu keluar disuruh beli tiket bis lagi untuk mengantar ke perbatasan Laos..nah loh, kami pun sempat bingung sambil menunjukkan stiker di baju kami yang di beri orang travel sebagai penanda pada orang di Laos bahwa kami ikut bis mereka. Ternyata bis diperbatasan ini adalah bis yang berbeda, bis ini khusus untuk melewati jembatan persahabatan. Biayanya saya lupa lagi, kalau tidak salah 30 Baht/orang.

Masuk imigrasi Laos, super duper sepi. Hanya beberapa orang traveler saja di sini. Baru kali ini kami menemukan imigrasi perbatasan negara yang sesepi perbatasan di Laos ini. Setelah dapat cap ijin masuk Laos, kami pun bertanya pada supir tuktuk sambil menunjukkan stiker yang terpasang di baju kami…mereka sih hanya menjawab dengan menunjuk kursi, menyuruh kami duduk-duduk disitu. Sementara bule teman seperjalanan kami sudah pergi bersama tuktuk menuju kota terdekat, hanya tersisa kami berempat disitu…mana hampir maghrib. Untungnya gak berapa lama muncul sepasang turis muda China yang sama-sama pakai stiker. Ngobrol-ngobrol, kami nunggu bareng eh ternyata yang menjemput minivan lagi. Kami menunggu hingga kurang lebih jam 18.00 waktu setempat di perbatasan ini karena masih harus menunggu seorang turis cewek muda China, dan dua orang bule Spanyol kayaknya dari bahasanya.

Setelah lengkap, kami bertujuh diantar ke terminal bis. Di terminal bis inilah baru keliatan ada turis-turis lainnya berbagai bangsa, juga beberapa warga lokal. Bis ini penampakannya gak meyakinkan sebagai sleeper bus, agak-agak jelek gitu. Sewaktu akan masuk bis, kami dikasih plastik dan disuruh lepas alas kaki, alas kaki tersebut kemudian dimasukkam dalam plastik tersebut dan di bawa ke dalam bis. Nah tempat duduk kami paling depan, bentuknya kayak kursi yang dibaringkan gitu. Cuma posisi kepalanya menjungkit keatas sedikit, jadinya malah nanggung untuk dipakai tiduran…leher dan kepala saya jadi sakit banget selama perjalanan ini. Di setiap kursi ditaruh selimut, selimut ini saya jadikan bantalan untuk mengganjal posisi kepala yang gak nyaman banget. Oh iya, posisi tempat duduknya atas dan bawah, kami di atas paling depan.

Posisi kepala yang tidak nyaman, membuat saya mensugestikan diri untuk tidur saja sepanjang perjalanan…akhirnya ya beneran tidur, gak sadar situasi sekitar, hanya sesekali terbangun karena sakit kepala yang menyerang. Saya tahu bungsu saya mabuk karena sepanjang perjalanan jalananannya meliuk-liuk melingkari sebuah bukit atau gunung, tapi hebatnya dia tidak sedikit pun rewel atau bahkan membangunkan saya. Kalaupun dia terbangun, dia bermain sendiri bersama boneka bebeknya (yang walau sudah dekil dan butut tapi sudah ikut berpetualang kemana-mana juga nemenin si bungsu) sambil menggenggam erat minyak kayu putih atau hand sanitizer wangi bunga yang kami belikan khusus untuknya (yang memang gak tahan mencium yang bau-bau) selama perjalanan…salut banget deh sama si kecil, muah muah *kiss dulu*. Sedang sulung tidur nyenyak sepanjang perjalanan demikian pula si ayah.

Sekitar jam 2-an tengah malam akhirnya bis berhenti istirahat di warung sederhana, karena memang sepanjang perjalanan ini hanya hutan melulu, jarang ada rumah mungkin inilah satu-satunya tempat makan yang ada selama di perjalanan tersebut. Laa wong kalau mau pipis aja bisnya berhenti di hutan, penumpang disuruh pipis di tengah hutan-hutan gitu di udara yang dingin, kebayang gak? Nah disini saya gak tahan lagi, pokoknya saya harus turun dan cari minuman atau makanan hangat. Saya minta uang Kip ke ayah, untung ayah sempat nukar Kip sedikit di Chiang Mai. Makanan yang di jual cuma keripik-keripik sama chicken sandwich gitu (Baidewei, sandwich model roti Prancis ternyata makanan sehari-hari warga Laos loh…hampir semua tempat bahkan pasar menjual sandwich model begini. Mungkin pengaruh penjajahan Prancis ya) cuma walau katanya ayam tapi saya gak berani ambil resiko. Begitu melihat ada mie dalam kemasan, saya nyari bahasa inggrisnya…gak ono, pakai bahasa Laos semua yang hurufnya bukan latin lagi. Di saat hampir putus asa nyari makan, nemu mie kemasan yang bergambar udang dan tulisannya Tom Yam…nah ini bolehlah. Dikasih air panas sama penjualnya, harganya kalau gak salah 15rb Kip. Setelah makan ini saya agak segaran, gak mual lagi walau tetap masih sakit kepala gara-gara salah posisi tidur.

Subuh tanggal 8 Maret sekitar jam 5-an subuh, saat masih gelap, kami akhirnya tiba di terminal bis Luang Prabang. Dari terminal ini kami naik tutuk seharga 20rb Kip/orang untuk diantar ke hotel masing-masing. Baru setelah sampai di hotel si ayah cerita bahwa malam itu di dalam bis, di sepanjang perjalanan banyak yang muntah…pantesan perasaan saya bis sering banget berhenti…untung saja saya tidur pulas, kalau enggak lihat orang muntah… saya bisa ikut-ikutan muntah juga😀 Oh iya satu lagi, di bis ini tersedia beberapa lusin botol air mineral yang saya yakin itu harusnya untuk penumpang tapi gak dibagiin, sampai suatu ketika ada orang Prancis yang kayaknya kehausan banget dan tidak bawa minum nanya, itu gratis gak? Baru deh tuh air minum dikasih ke penumpang, itupun dikasihnya ke yang minta aja. Untungnya karena posisi kami paling depan jadi keliatan, ya kami minta…yang kasian yang bagian belakang yang gak tahu.

Ketika sampai hotel, kami berniat check in (hotel sudah kami beli di internet) subuh-subuh, eh resepsionisnya yang baru terbangun dari tidur menyuruh kami menaruh barang saja di resepsionis. Katanya sih waktu check in kami jam 2 siang nanti, sungguh terlalu. Padahal ketika sampai pagi juga di Chiang Mai, pihak hotel membolehkan saja kami check in pagi-pagi…beda aturan…hiks.

Di Luang Prabang kami hanya sehari keliling kota, menikmati arsitektur tua peninggalan Prancis, melihat Morning Alms Giving Ceremony, ke Luang Prabang National Museum dan ke night market. Petualangan ini bisa dilihat di postingan sebelumnya. Malamnya kami melanjutkan pengelanaan kami ke kota selanjutnya.

# Menuju Vientiane (Laos), 8 Maret 2015 #

20150316-071700.jpg

Selama menunggu waktu check in hotel, kami berkelana kesono kemari saja dengan berjalan kaki di Luang Prabang. Bahkan sempat nyasar entah kemana, melewati jembatan tua gitu. Akhirnya cari makanan halal di salah satu resto vegetarian masakan india. Nah saat bolak balik makan di resto india ini, si pemilik mendekati kami sedikit ragu…dia bertanya apakah kami orang Prancis? Huapah katamu? Coba ulangi sekali lagi! Kami pernah di sangka orang Vietnam, orang Cambodia, orang Malaysia, bahkan orang China (tapi anehnya gak ada yang pernah nebak Indonesia), tapi baru kali ini disangka bule Prancis. Apa gak salah, tampang sedang dekil akibat perjalanan jauh Chiang Mai-Luang Prabang, belum mandi, item kumal…eh disangka bule Prancis.

Katanya sih dia dengar kami ngomong “dua” waktu sedang rembukan mesan makanan…nah menurut dia, bahasa Prancis untuk two adalah dua…itu sebabnya dia mengambil kesimpulan semena-mena gitu. “No, we are from Indonesia”, kata kami. Eh dia malah gak tahu dimana itu Indonesia…huahaha…*ketawa miris sambil ngucurin airmata*. Tapi asik juga makan disini, pertama makanannya enak, kedua ada free wifi…lumajen internetan sambil ngabisin waktu nungguin waktu check in hotel.

Nah setelah makan, kami ke post office. Krucils kami, terutama si sulung kami memproklamirkan diri bahwa mulai saat itu dia akan mengoleksi kartu pos plus stamp dari semua negara yang dikunjunginya. Saat melalui kantor pos inilah kami melihat travel besar yang menuliskan bahwa mereka menjual tiket bis tujuan Vientiane. Kami pesan VIP Bus lagi judulnya, sleeper bus lagi. Dia bilang tempat tidurnya benar-benar seperti tempat tidur, harganya 190.000 Kip / orang. Kami minta tempat duduk satu deret diatas, paling depan. Dia telp entah kemana, terus katanya ok tersedia seat yang kami minta. Tapi kami lupa tukar uang, sementara uang Kip yang kami dapat di Chiang Mai cuma seadanya, gak cukup untuk bayar tiket bis tersebut. Akhirnya kami tanya, bayar pakai dollar bisa? Dia terima, totalnya sekitar 76 USD dikembaliinnya dalam bentuk Kip sekitar 40rb Kip kalau gak salah.

Sulung saya menangis setelah tahu bahwa malam itu kami akan ke Vientiane. Dia meminta agar kami tetap di Luang Prabang, dia suka sekali Luang Prabang. Ketika kami tanya kenapa abang suka disini? Dia bilang enak, kan kotanya kecil seperti kata bunda. Kata bunda kota kecil itu bagus, jadi abang suka ditambah banyak bangunan bersejarah…abang kan belum lihat semuanya, jawabnya sambil bercucuran airmata. Duh duh sayang, waktu libur kita kan gak banyak, nanti kalau abang dan adek sudah besar, kalian backpackeranlah berdua keliling dunia. Kalau kalian suka disini, kalian kembalilah kesini nanti.

Siang itu ketika kami akhirnya bisa check in hotel, kami cerita sama resepsionis hotel malam itu kami akan check out untuk ke Vientiane. Dia kaget dan shock (serta saya yakin, dia merasa bersalah telah membiarkan kami terlunta-lunta sepanjang pagi di jalan), hah?! haha…baru juga check in jam 2 siang, jam 18.30an sudah mau check out. Dia nanya berapa kami beli tiket bis ke Vientiane, kami bilang 190rb Kip, dia bilang disini (di hotel tersebut) cuma 170rb Kip saja, kami kemahalan belinya katanya. Apa?! (giliran kami yang kaget dan shock..)

Malamnya kami dijemput tuktuk di hotel bersama beberapa bule, diantar ke terminal bis Bannaluang, yang ternyata letaknya gak jauh-jauh banget dari hotel. Setibanya di terminal bis, kami disuruh tukar tiket kami dengan tiket sebenarnya di counter tiket…eh disini baru ketahuan bahwa ternyata harga tiket sebenarnya di terminal ini hanya 150rb Kip…hahaha *nangis darah deh*. Sekali lagi sebuah pelajaran dipetik lagi untuk kedua kalinya, ingat-ingat beli tuh jangan dari tangan kedua tapi langsung tangan pertama, jauh lebih murah mas bro!

Kami nunggu sekitar sejam di terminal ini. Penampakan bisnya sih memperihatinkan juga, cuma kali ini dalamnya dong…keren. Ini bis double decker alias bis dua tingkat, berbeda dengan VIP Bus ke Luang Prabang yang sebenarnya bis biasa hanya dikasih tempat duduk dua tingkat, kalau bis VIP ke Vientiane ini benar-benar bis besar dua tingkat. Nah tempat duduknya berupa tempat tidur. Iya, benar-benar tempat tidur sepert di kamar, ada kasur, ada bantal, ada seprai, ada selimut dan ada sebotol air mineral. Dan senangnya lagi kali ini dalam bisnya ada toilet yang walaupun sempit tapi lumayan banget daripada disuruh buang air di hutan hehe. Lagi-lagi sebelum masuk bis kami dikasih kantong plastik untuk tempat menaruh alas kaki.

Yang lebih menyenangkan lagi karena kami minta tempat duduk atas dan paling depan…tempat tidurnya paling luas sendiri sama luasnya dengan yang paling belakang. Untuk kami yang berkeluarga sih asik banget, krucils langsung senang banget disini, heboh main-main, guling-gulingan. Ditambah kaca depan yang super besar mengelilingi kami, ketika lampu bis dimatikan suasananya malah jadi mirip sedang nonton bioskop 3 Dimensi dengan layar super besar, sedang nonton film petualangan di hutan Laos…hehe…seru. Saya sarankan sih naik bis ini tidak sendiri, lebih baik bersama keluarga atau teman. Untuk yang sedang berkelana sendiri nih yang jadi masalah, karena satu tempat tidur diisi oleh dua orang, jadi gak tahu deh teman tidurnya nanti sama siapa…iya kalau dapat teman yang asik, kalau yang gak asik …bakalan menderita kali hehe.

Di bis ke Vientiane ini kami benar-benar senang hati, tidur benar-benar nyaman serasa di kamar hotel, walau ac nya dingin banget waktu malam. Menjelang tengah malam bis istirahat makan di sebuah warung kecil, makan ini termasuk dalam service bis, gratis. Tapi ketika saya turun, tertarik liat ada makanan berkuah-kuah yang keliatannya nikmat banget disantap setelah kedinginan dalam bis, tapi ternyata ada daging-dagingnya gitu. Gak berani ah mencobanya, saya dan bungsu langsung balik ke bis saja ambil posisi meneruskan tidur lagi. Sementara ayah dan sulung lama banget dibawah, eh mereka makan. Kata ayah sih selain soup itu ada makanan lain yaitu nasi sama bebek rebus, nah mereka makan nasi dan bebek rebus ini…saya langsung menyesal, kok gak liat ya waktu turun…untung si ayah sempat bungkusin untuk kami.

Kami tiba di terminal bis Vientiane tanggal 9 Maret, sekitar jam 6 atau 7 pagi. Dari terminal ini kami naik tuktuk seharga 20rb Kip /orang ke hotel kami di city center. Kami sama sekali belum beli hotel, kami hanya berpedoman dari hotel termurah yang sempat saya cari sekilas di internet. Begitu tiba hotel untungnya ada kamar kosong seharga harga 30 USD…hmm, ambil aja deh males nyari lagi, kamarnya juga besar.

Istirahat, keluarin pakaian kotor masukin laundry di hotel 25rb Kip untuk semua pakaian kotor, cari makan. Ngomong-ngomong tentang laundry, kami menyesal banget masukin laundry di sini, pakaian hanya dicuciin begitu saja, gak disetrika, lipatnya juga asal, gak wangi lagi…aneh kan untuk ukuran laundry di hotel. Kami hanya sehari di Vientiane. Disini kami jalan-jalan ke Patuxai, That Dam Stupa, Presidential Palace, Lao National Museum serta tidak ketinggalan ke Night Market. Petualangan di Vientiane bisa dilihat di postingan sebelumnya.

# Menuju Bangkok (Thailand), 10 Maret 2015 #

20150316-072148.jpg

Belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, kali ini kami bertekad untuk membeli sendiri langsung dari loket resmi bis dan kereta menuju Bangkok. Pihak hotel sih menawarkan tiket bis ke Nongkhai (perbatasan Laos-Thailand yang ada stasiun kereta ke Bangkok) 200rb Kip/orang padahal di terminal bis harganya 15rb Kip/orang saja, jauh banget kan bedanya. Belum lagi kereta Nongkhai ke Bangkok harganya juga diatas harga resmi tapi dia tidak berani menjamin tempat duduk satu deret seperti kami minta. Akhirnya kami beli langsung di loket kereta di Nongkhai seharga 750 Baht/orang. Malahan orang loketnya menyarankan kami beli tiket kelas duduk aja, katanya enak tempat duduknya bisa tiduran hanya seharga 550Baht (kalau gak salah, lupa lagi). Laa kami nyarinya tiket first class malah disaranin tiket kelas duduk…tahu aja si bapak kami backpacker haha..

Jam 11-an siang kami check out dari hotel, sewa tuktuk 50rb Kip untuk mengantar ke terminal bis karena kami mengejar bis ke Nongkhai yang jam 12an. Bis ke Nongkhai ini ada yang jam 8 pagi, jam 10 dan jam 12. Kami pilih yang jam 12-an karena dari Vientiane ke Nongkhai tuh dekat saja, hanya satu jam kurang lebih. Di terminal saya sempat belanja cepat, karena letak terminal yang dekat morning market sedang saya belum beli oleh-oleh, akhirnya buru-buru pergi ke pasar terdekat di terminal sementara si ayah dan krucils menunggu di terminal. Kami naik bis yang ada tulisannya International Bus…wuiih keren kan ada bis mirip kopaja tapi tulisannya bis internasional..hehe. Kebanyakan penumpangnya warga lokal, atau orang Thailand yang tinggal bekerja di Vientiane atau sebaliknya, jadi mereka gak pakai passport hanya kertas fotokopian sementara gitu, judulnya temporary residence. Warga asingnya hanya ada dua bule serta kami.

Begitu sampai di perbatasan keluar Laos, kami turun hanya membawa passport sedang semua barang ditinggal di bis. Di sini kami liat semua orang antri membeli sesuatu di loket, kami gak ngeh jadi langsung ke imigrasi untuk dapat cap keluar. Begitu keluar imigrasi ini ada pintu-pintu otomatis, nah untuk keluar dari pintu itu kami lihat semua orang memasukkan semacam kartu eletronik gitu. Kami bingung dong, gimana mau keluar…petugas yang jaga pintu juga bingung menjelaskannya. Akhirnya ada petugas yang datang menjelaskan dalam bahasa inggris bahwa kami harus beli kartu tersebut tadi di depan, ya itu mungkin antrian yang kami lihat membeli sesuatu. Takut ketinggalan bis sementara barang kami dalam bis tersebut, kami lari-larian beli kartu ini. Lama dan ribet pula lagi prosesnya, harus ngasihin passport dulu..masukin nama. Tapi lucunya kami dikasih kartu gratis, gak bayar…haha..rejeki memang gak kemana.

Baru kali ini kami nemuin imigrasi yang pakai kartu-kartuan segala. Setelah akhirnya bisa keluar imigrasi ini, kami masuk bis lagi. Setelah semua masuk bis, bis jalan lagi sebentar kemudian berhenti di perbatasan masuk Thailand. Di sini kami disuruh turun dengan membawa seluruh barang bersama kami. Di imigrasi masuk Thailand ini banyak banget bule numpang ngadem karena ruangannya pakai ac dan kipas angin besar gitu. Mereka yang sudah kelar urusan imigrasi bukannya keluar malah duduk-duduk, berdiri ngobrol di depan kipas angin sampai petugas imigrasinya marah, hey.. get out katanya sambil ngusir bule-bule yang langsung ngacir keluar setelah diusir haha, lagian siapa suruh numpang ngadem di imigrasi. Setelah dapat cap masuk, kami naik tuktuk seharga 100Baht ke stasiun kereta yang ternyata dekat banget dari imigrasi ini, jalan juga bisa sebenarnya cuma puanasnya poll nampol deh.

Kami sampai di Stasiun kereta Nongkhai sekitar jam 14.00, kami berniat beli tiket first class ke Bangkok ternyata habis katanya. Adanya second class, itupun hanya ada yang atas, harganya kalau gak salah 750Baht/orang. Kami minta satu deret…si petugas mengangguk setuju, ternyata hanya dua yang satu deret, sedang dua lagi beda tempat. Awalnya saya ragu beli empat karena ini kereta tidur, ngeri membayangkan bungsu saya tidur sendiri di atas, bahkan petugas loket pun heran kami membeli tiket empat buah. Kata si ayah berdasarkan pengalamannya waktu kami naik sleeper train Penang-Kuala Lumpur, tempat tidur diatas tuh lebih sempit daripada dibawah jadi ya harus beli empat. Waktu Penang-Kuala Lumpur saya dan bungsu dapat yang bawah, ya bagi saya cukup-cukup aja sedang ayah dan sulung dapat yang atas katanya sih sempit untuk berdua. Waktu Penang-Kuala Lumpur sih boleh saja satu tempat tidur diisi berdua dengan anak, cuma untuk anak bayarnya setengah harga tiket. Tapi ayah tetap pengen beli empat, yo wes.

Cukup lama juga kami menunggu di stasiun ini, padahal keberangkatan kereta sekitar jam 18.30. Awalnya hanya ada kami, kemudian mulai berdatangan turis-turis lain. Ruang tunggu stasiun ini asik banget, bersih dan rapi, ada tempat ngecharge HP juga. Berhubung kami sudah kehabisan stok Baht, yang tersisa malah Kip sedang kami sudah berada di wilayah Thailand lagi, si ayah sempat nyari money changer keluar stasiun. Lama banget perginya, rupanya dia kembali ke imigrasi jalan kaki karena disana ada money changer dan ada seven eleven tempat beli makanan dan minuman banyak untuk persedian krucils di kereta *kecup si ayah, muah*.

Kereta tidur ini keren, enak banget tidur didalamnya cuma ac nya super duper dingin. Awalnya tempat duduknya masih berupa tempat duduk biasa, baru sekitar jam 8 atau 9 malam ada petugas yang berkeliling dalam gerbong untuk mengubah tempat duduk tersebut menjadi tempat tidur. Begitu tempat tidur diubah, saya langsung tidur dengan pulas bergelung dalam selimut, ngantuk berat. Sementara krucils masih bermain heboh saya dengar ditemani ayah. Sekitar jam 3 subuh saya terbangun, intip tempat tidur krucils eh ternyata si ayah sedang tidur bareng bungsu, sulung sendiri. Baru sekitar jam 5 subuh, si bungsu sadar kalau ternyata dia tidur bareng ayahnya langsung marah-marah nyuruh ayahnya kembali ke tempat tidurnya sendiri. Bungsu kami ini memang pengen banget disebut anak besar yang bisa tidur sendiri, dia bete banget setelah sadar kalau ternyata orang tuanya masih mengkhawatirkan dia…hehe.

Setelah terbangun jam 3 subuh dan memastikan krucils baik-baik saja, saya tidur lagi. Sekitar jam 5 subuh ada petugas yang ngebangunin, berkeliling dari satu gerbong ke gerbong lain sambil menyapa good morning…good morning. Laa saya yang kaget kirain sudah sampai..ngintip lewat gorden yang menutupi tempat tidur ternyata petugasnya ngebangunin aja. Sebagian tempat tidur diujung gerbong sudah diubah jadi tempat duduk kembali. Saya teruskan saja baring-baring kembali, soalnya dapat tempat tidur diatas susah untuk duduk-duduk. Setelah petugas mau mengubah tempat tidur menjadi tempat duduk kembali karena sudah mendekati Bangkok baru ayah dan saya turun untuk ngebangunin krucils.

Tanggal 11 Maret, sekitar jam 6 pagi, kami pun sampai di stasiun Hua Lamphong, Bangkok. Di stasiun ini kami duduk-duduk sebentar nungguin ayah ngecek di Hpnya katanya sih mau nyari hotel (kami memang jadi malas beli hotel di internet lagi sejak tidak diperbolehkan check in pagi di Luang Prabang). Laa krucils sih mana mau disuruh nunggu diam gitu, mereka merengek-rengek ngajak jalan. Kemudian saya bilang kenapa harus repot sih yah? Kenapa gak ke Khaosan Road lagi aja, ke hotel tahun lalu…kalau gak ada kamar, ya cari aja seputaran situ karena daerah situ penuh dengan hotel dan guesthouse.

Kami naik taxi meter dari stasiun kereta ke Khaosan Road dengan biaya sekitar 75 Baht saja. Awalnya kami mencoba hotel lain yang tampaknya sih keren, ada sih kamar tapi melihat kami sekeluarga si resepsionis malah bilang ke kami, kamar-kamar di hotel tersebut berisik banget oleh musik kalau malam, mungkin kalian akan kesulitan untuk tidur katanya (memang sih depan hotel tersebut ada bar yang ramai banget kalau malam). Baik banget kan dia ngingatin begitu, bukannya malah menyembunyikan informasi beginian.

Akhirnya kami ke hotel kami tahun lalu, tanya kamar ternyata full katanya. Si ayah dan saya pengen nyari tempat lain saja namun sulung kami minta, di Khaosan aja enak, disini kita bisa belanja-belanja gak jauh dari mana-mana. Duile ternyata sulung kami terkesan banget sama Khaosan, ya sudah kami tanya saja di hotel tidak jauh dari hotel kami tahun lalu. Ada kamar, harganya kalau gak salah 750 Baht. Kamarnya lumayan sih cuma free wifinya yang nyebelin, masa tiap jam harus login ulang. Biasanya hotel kan free wifinya berlaku selama tamu berada di hotel tersebut, bukan tiap jam ngilang hingga harus login ulang. Selain itu sih tidak ada komplain dari kami.

Kami di Bangkok hanya satu hari, rencananya istirahat saja di Bangkok ini. Tapi punya krucils berjiwa petualang mana bisa disuruh diam istirahat di hotel, malah ngajak jalan berkelana lagi. Malah mereka komplain, kok petualangan kita sebentar banget sih…kenapa gak sebulan aja sih? Huapah? Pengen sebulan? Kalau gak kena marah kepala sekolah kalian…hehe.

Di Bangkok kami hanya satu hari, kami ke Madam Tussauds dan berkelana dengan Chao Phraya Express Boat ke China Town, malamnya ayah ngajak jalan-jalan tapi saya lebih memilih istirahat di hotel karena sakit kepala. Hanya ayah dan krucils yang jalan seputaran Khaosan sambil mencari kebahagiaan untuk si bungsu , istilah ciptaannya untuk ice cream…hehe, lucu kan krucils. Walau katanya mau begadang ternyata mereka cepat balik hotel, si ayah dan sulung sakit kepala mendengar musik-musik keras yang dilantunkan bar-bar di sepanjang Khaosan, tuh kan salah sendiri disuruh istirahat malah sok-sokan keliling Khaosan hehe. Pada akhirnya kami cepat tidur, selain pada gak enak badan juga besok kami harus ke bandara subuh-subuh.

# Menuju Kuala Lumpur (Malaysia), 12 Maret 2015 #

20150316-072503.jpg

Seperti sebelumnya yang telah kami ceritakan, ke Bangkok ini adalah rencana dadakan karena setelah hitung-hitungan waktu untuk ke Hanoi tidak cukup. Niat awal sih ke Bangkok, lanjut ke Hatyai dengan kereta, lanjut lagi ke Kuala Lumpur dengan kereta pula tapi gak cukup juga waktunya. Jadi kami memutuskan istirahat di Bangkok untuk kemudian melanjutkan perjalanan pulang menggunakan pesawat ke Kuala Lumpur.

Beli tiket pesawat Bangkok – KL ini dadakan juga, malam ketika kami berada di Bangkok. Selain beli tiket pesawat juga sekalian beli hotel di KL. Begitu masuk e-mail konfirmasi dari maskapai bersangkutan dan booking hotel bersangkutan, langsung tidur deh. Sama sekali belum kepikiran besok naik apa ke bandara. Baru subuh ayah dan saya kasak kusuk packing-packing bawaan yang jadi segambreng. Eits, jangan salah, penuhnya bukan dengan barang berkelas…penuhnya malah sama gantungan kunci berbentuk boneka gajah, magnet kulkas, dan tetek bengek souvenir murahan lainnya. Untung bawa ransel tambahan, ransel keren ini kalau tidak dipakai bisa dilipat kecil dan tipis banget cocok banget untuk backpacker seperti kami. Sementara saya packing-packing, ayah turun ke bawah ke resepsionis nanyain transportasi ke bandara. Tahun lalu kami pesan di hotel untuk transportasi ke bandara ini, harganya 600Baht. Tapi karena kami belum booking malam sebelumnya, resepsionis tidak bisa membantu.

Kami pun membangunkan krucils subuh-subuh, hayo kita ke bandara sayang, kita belum cari taxi. Sambil menenteng barang dan menggandeng krucils keluar hotel, jam 5.30 subuh ternyata Khaosan Road masih penuh dengan turis, ya ampyun nih kawasan gak pernah tidur apa. Beberapa turis mabuk terlihat tidur dijalan, beberapa turis lainnya sedang pijat di tepi jalan yang berubah jadi tempat pijat dadakan, sebagian masih di bar menonton pertandingan bola. Baru kali ini kami keluar subuh di kawasan ini, jadi baru ngeh ada pemandangan seperti ini.

Di luar Khaosan kami mencegat taxi meter, kami minta diantar ke Don Mueang. Awalnya dia minta 300Baht tapi si ayah minta dia menghidupkan argonya, supir taxi setuju. Di dekat bandara macet banget, ketika sampai argo hanya menunjukkan 275 Baht tapi ayah kasih 300Baht. Wuiih lagi-lagi membuktikan langsung dari tangan pertama lebih murah, bandingkan dengan tarif di hotel yang 600Baht ke Don Mueang.

Walau waktu keberangkatan pesawat kami jam 09.25 sebenarnya, tapi kami belum check in. Biasanya kalau di rumah kami self check in di internet, kemudian print sendiri check in nya. Laa karena sedang di perjalanan kami susah juga mau self check in. Cari di bandara, ada sih mesin self check in nya cuma kata petugasnya yang internasional sedang gak connect jadi harus check in di counternya di dalam. Masuk ke dalam, antriannya panjang banget, kaget juga kami padahal tahun lalu rasanya tidak seramai ini pesawat pagi. Apa sekarang semua pesawat jadi pagi, atau sedang ada libur nasional atau apa, kok banyak banget penumpang di bandara.

Setelah check in, masuk ke imigrasi lebih panjang lagi antriannya. Mana Banyak turis China yang nyerobot-nyerobot lagi tepat di depan saya. Kalau cuma satu orang yang nyerobot sih mending, laa ini satu rombongan nyerobot, gak lucu banget kan. Anehnya lagi sudah salah, ditegur sama petugas bukannya minta maaf eh malah nyolot, petugasnya di dorong-dorong dan jadi cek-cok mulut sama petugas bandara… hadeuh. Padahal banyak juga penumpang lain yang pesawatnya sudah hampir boarding masih tertib antri. Kalau sedang dalam antrian biasakan sabar deh, sabar itu subur…hehe.

Untung saja kami preventif sejak pagi sudah ke bandara. Jam 08.20 boarding, tiba di KLIA 2 sekitar jam 14.40 waktu setempat. Selesai urusan imigrasi, langsung ngacir nyari makan. Nemu Resto yang jual rendang yang rasanya malah kaya kari atau gulai, saatnya berkalap ria karena sepanjang jalan susah nemu makanan halal. Masuk hotel…istirahat. Malamnya seperti biasa berkelana lagi di bandara sekalian nyari makan.

# Menuju Little House on the Prairie (Indonesia), 13 Maret 2015 #

Kami kembali berkemas di subuh hari, rapiin ini itu, bangunin krucils. Jalan ke bandara, masuk imigrasi, beli minuman. Kemudian ayah dan krucils sholat di mushola, lanjut jalan ke gate keberangkatan. Nunggu keberangkatan sambil makan nasi lemak yang malam sebelumnya sudah dibeli dan main game. Jam 08.20 pesawat take off, jam 11-an pesawat landing di bandara kota kami. Setelah roda menyentuh landasan, baru keliatan kalau kota kami sedang hujan gerimis. Alhamdulillah, senang banget sampai di rumah kembali walau agak nyesak juga karena Imuto anak kucing peliharaan yang kami taruh di depan rumah hilang. Kembali ke rutinitas….krucils, siapkan buku sekolah untuk besok…haha😀


Actions

Information

4 responses

16 03 2015
jefrio martiyus

Wih, keren mbak. Selalu jadi inspirasi tulisan mbak nya. Soon, jadi rencana trip juga nih

16 03 2015
advanture

Terima kasih …jadi tersipu-sipu…hehe😀

31 03 2015
Betty Sianipar

Enak banget baca tulisannya, Mbak Henny… Terima kasih untuk sharing perjalanannya ya..

1 04 2015
advanture

Halo mbak Betty, apa kabar? kapan main kesini lagi? terima kasih mbak sudah mampir ke blog ini😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: