Menghabiskan Weekend ber Bamboo Rafting di Tanuhi

13 10 2014


Setelah hampir dua bulan dinas diluar kota, Jumat siang setelah krucils pulang sekolah tiba-tiba ayah menyuruh kami bersiap-siap. “Kita mau berpetualang sore ini, mau gak kalian?”, tanyanya. Whaaattt??? Sebuah tawaran yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Lalu sibuklah si bunda siapkan ini itu, breek… jejalkan semua dalam mobil dan berangkaaat. Semua dadakan, tanpa rencana bahkan tujuan pun belum dipastikan hendak kemana. Gaya jalan-jalan ayah ya seperti itu, dadakan…tanpa rencana.

Setelah diperjalanan baru diputuskan, kami akan berbamboo rafting (balanting paring) di Loksado, kaki pegunungan Meratus, Hulu Sungai Selatan (Kalimantan Selatan). Lima tahun lalu saat krucils masih balita dan bamboo rafting masih belum begitu dikenal seperti sekarang, kami pernah mencoba bamboo rafting ini. Masih kebayang alam Loksado yang masih asri dan nyaris belum tersentuh…kami berniat mengulang petualangan di Loksado lagi sekaligus membuka memori krucils yang ketika pertama kesini masih pinyik bingit..hehe…

Lalu mengarahlah kami ke pelabuhan ferry di Kariangau sambil sedikit deg-degan…jangan-jangan antri nih seperti biasanya. Namun begitu sampai ferry, kosong melompong euy…mobil bisa langsung naik, yippie. Perjalanan ferry sekitar satu jam, begitu touchdown…matahari sudah hampir terbenam. Baru maghrib kami memutuskan istirahat makan sekaligus sholat. Lalu jalan lagi sambil beberapa kali berhenti tidur di jalan. Total perjalanan kurang lebih 12 jam, hari Sabtu sekitar jam 6 pagi kami pun akhirnya sampai di Loksado.

Begitu parkir, liat ke arah sungai amandit tempat bamboo rafting dilakukan…kecewa berat. Airnya surut banget pakai bingits…kalau seperti itu sih bakalan gagal nih misi berbamboo rafting. Rupanya kemarau panjang di Kalimantan berpengaruh juga pada debit air sungai amandit. Pengen nginap di tempat dulu kami nginap, kok kondisi seperti itu sekarang…banyak yang berubah di Loksado sekarang. Hutan-hutan yang dulu lebat dan perawan sekarang banyak yang gundul, entah terbakar atau dibakar…kata joki bamboo rafting kami sih dibakar untuk membuka lahan. Belum lagi udara segar dan dingin khas alam pegunungan diganti dengan kabut asap.

Menambah keyakinan kami bahwa tidak bisa berbamboo rafting hari itu, tidak seorangpun yang mendatangi kami untuk menawarkan bamboo rafting (dulu sih, begitu parkir mobil) ada aja yang datang menawarkan bamboo rafting. Akhirnya kami memutuskan berjalan kaki saja mengitari Loksado, meluruskan kaki yang tertekuk selama perjalanan panjang kami menuju tempat ini. Kemudian nyemplung ke sungai, main-main air. Krucils betah banget main disungai, ketika diajak nyari tempat lain aja (yang masih seputaran KalSel) langsung protes. Bahkan sulung saya ngomel-ngomel, ngapain sih kita jauh-jauh kesini, 12 jam dijalan kalau gak bamboo rafting…hehe😀

Duile, ayah bunda sama kecewa juga kok bang…beneran deh. Untuk apa juga sih ayah bunda ngajak kalian jauh-jauh kalau gak untuk berbamboo rafting tapi kalau liat kondisi gini sih kayaknya gak bisa. Si sulung masih ngotot, ya tanya dong sama orang..hehe, bete banget dia gak jadi bamboo rafting walau sudah puas hampir satu jam main air dan nyari batu apung di sungai.

Akhirnya bertanyalah ayah pada penduduk setempat dan benarlah dugaan ayah bunda, gak bisa bamboo rafting. Kalaupun tetap pengen, hanya bisa sampai ke jembatan (laaa jembatannya sudah kami lalui tadi saat berjalan kaki). Nanggung amat kalau cuma sampai jembatan..tapi sulung memaksa, gak apa-apa yah, katanya dengan tatapan penuh harap. Melihat krucils yang ngebet banget, akhirnya penduduk tersebut menyarankan kami ke Tanuhi (kurang lebih 7km dari Loksado), disana air agak lebih banyak dari disini, mungkin masih bisa. Atau kalau mau ke air terjun haratai aja, 8km dari situ tapi harus naik ojek (motor) karena roda empat tidak bisa lewat. Hmmm…karena tujuan utama adalah bamboo rafting akhirnya kami memutuskan ke Tanuhi saja.

Setelah tanya sana-sini, kemudian kami disuruh ke depan kantor Kepala Desa Tanuhi. Biasanya bamboo rafting berawal dari Loksado dan berakhir di Tanuhi. Laa karena ini mulainya dari Tanuhi, berakhirnya di daerah bernama entah Lampihang atau Lumpiyang (lupa lagi saya) 8 km ke arah Batu Licin (3 jam perjalanan melalui sungai). Biaya yang dikenakan 300rb dan karena mobil parkir di Tanuhi, jadi sewa ojek lagi 30rb untuk kembali ke Tanuhi.

Awalnya rakit bambu yang dibuat langsing banget, begitu kami disuruh coba naik. Krucils naik aman, saya naik…rakit sedikit terendam air tapi kondisi masih stabil, ayah naik… rakit oleng dan terendam banyak air, joki naik.. rakit oleng kanan kiri…jerit-jeritlah saya dan krucils…hahaha. Akhirnya di tambah 3 batang bambu lagi di kiri kanan, baru deh jalannya stabil…nah ini baru mantap…berangkaaattt…

Seperti dulu, kami pun menikmati rafting menggunakan rakit bambu ini. Menurut kami, terutama ayah dan saya, pemandangan saat berbamboo rafting Tanuhi-Batu Licin ini lebih top dibanding Loksado-Tanuhi. Hutan-hutannya lebih lebat, berkesan mistis, ditambah kabut dan sepi serta hening. Disini benar-benar hutan, berbeda dengan Loksado-Tanuhi yang kadang-kadang masih bertemu aktivitas manusia di sungai, seperti mandi, mencuci dan mencari ikan. Seruuuu…pakai bingit. Sayangnya kami sudah agak kesiangan memulai petualangan ini (sekitar jam 10 pagi) karena nunggu rakit dibuat dulu, sehingga pertengahan jalan sudah kepanasan, matahari sudah bersinar cerah yang walau tertutup asap tetap aja panas.

Siapa yang paling heboh? Sudah ketebak dong, tentu saja krucils paling heboh dan happy. Walau joki bamboo rafting nyuruh kami duduk tapi krucils grasak grusuk berdiri ngambil foto, bantuin joki dayung rakit pakai bambu yang dikasih joki, sibuk ngoceh, sibuk nyelup-nyelupin kaki ke air…pokoke hepi banget deh. Sementara itu si ayah ngorok dengan tenangnya dibelakang…haha kasian pak supir ngantuk. Sulung saya tiap ngeliat jeram, langsung maju kedepan ngambil foto…katanya siap-siap air beriak…hehe. Beda lagi dengan sulung, bungsu malah sibuk jerit-jerit tiap ada anggang-anggang yang naik ke rakit…takut ada laba-laba katanya (efek keseringan nonton National Geographic Channel tentang hewan beracun dan berbisa)…hehe.

Dan semua senang, walau handphone si bunda jadi error kecelup air (sebuah pelajaran baru dapat dipetik, lain kali kalau mau main air gadget taruh di tempat aman, kalau perlu tinggal dirumah…hehe). Selesai bamboo rafting, ganti baju dalam mobil, makan minum dulu (untung sudah beli banyak makanan dijalan) kemudian kendaraan pun mengarah ke Kandangan, saatnya nyari dodol dan sate itik…huraayyy. Kami memutuskan tidak jadi nginap di Loksado, kami akan menginap di Tanjung (kurang lebih 2 jam dari Loksado). Setelah hampir 24 jam belum nemu kasur, begitu ketemu kasur empuk rasanya sesuatu banget, nikmat banget… langsung bablas tidur. Bangun sebentar untuk makan malam di hotel, lanjut tidur lagi sampai pagi.

Jam 6.30 sarapan di hotel dengan menu nasi goreng plus ayam goreng, sementara sulung kwetiaw dan bungsu roti bakar dengan selai coklat plus ayam goreng (krucils memang hobi memadukan makanan manis dengan asin, pernah makan ice cream dicampur sosis…pokoknya suka-suka merekalah mencampur jenis makanan hehe). Selesai sarapan, mampir ke rumah datuk sebentar lalu lanjut ke pasar nyari kuliner aneh dan enak yang biasanya banyak bertebaran namun ternyata bukan hari pasar, langsung pulang deh jadinya.

Berhubung saat berangkat kami jalan malam, tidak kelihatan situasi jalan dan pastinya lebih sepi jarang bertemu kendaraan lain, jalan siang semua tampak jelas dan lalu lintas lebih ramai daripada saat malam sehingga tidak bisa melaju kencang. Kondisi jalan di KalSel mulus bener berbanding terbalik dengan kondisi jalan di KalTim, yang lebih banyak rusaknya daripada mulusnya. Paling parah di perbatasan sampai ke Muara Komam, sedikit mulus lalu rusak lagi sampai Batu Kajang, kemudian mulus lagi sampai Penajam. Lama perjalanan kurang lebih 6 jam dari Tanjung. Istirahat di Tanjung memang menghemat tenaga dan waktu.

Jam 3.30 masuk ferry, jam 4.30 touchdown di hometown. Petualangan akhir pekan pun ditutup dengan cucian segunung, yang walaupun sedang capek dipaksain nyuci karena hari Senin konon katanya PDAM akan menghentikan aktivitasnya karena krisis air …hiks..hiks…nyuci sambil mata sepet nahan ngantuk😥


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: