Penipuan Floating Market, Bangkok

23 04 2014


Selama petualangan kali ini kami mempercayakan semua urusan tour guide ke ayah…jadi saya malas gooling, baca-baca, maupun survey berbagai hal di internet. Laa kata ayah, “serahkan pada ayah semuanya”. Tapi ternyata ayah belum survey tentang Bangkok, dia hanya baca tentang Vietnam dan Cambodia sementara Bangkok sama sekali tidak disurveynya….jadi dia juga sama sekali buta tentang Bangkok, yang lucunya lagi dia yang paling ngebet kami berlama-lama di Bangkok daripada di kota-kota lain, ya ampyun…

Ketika kami tanya mau kemana kita di Bangkok yah? Gak tahu…hahaha….jadilah petualangan di Bangkok ini mengalir begitu saja. Pagi pertama di Bangkok akhirnya kami putuskan menyusuri jalan di seputaran hotel kami di Khaosan Road, yang dilihat dari peta sih banyak tempat wisata yang bisa didatangin hanya dengan berjalan kaki. Beberapa tawaran supir taxi dan tuktuk yang mangkal didaerah tersebut untuk mengantar kami kesono mari tidak kami pedulikan. Asyik ngobrol bareng krucils sembari sesekali baca peta kamipun terus berjalan kaki.

Tidak berapa lama kemudian, kami berpapasan dengan seorang pejalan kaki juga, seorang bapak yang bilang kepada kami kalau mau menyeberang kami salah arah (on the other side katanya) dan memang kami lihat disitu kami tidak bisa menyeberang jalan padahal kami berniat menyeberang jalan. Dia bertanya kami mau kemana? Dengan lugu dan polos kami menjawab kami mau ke National Museum, dengan cepat dia menjawab hari ini museum tidak buka, besok baru buka. Kami pun menjawab kalau gitu Grand Palace yang letaknya sebelahan aja dengan National Museum, eh dia bilang belum buka juga …bukanya siang nanti.

Lalu dia pun menyarankan kami mencoba floating market, bagus katanya menyusuri sungai. Dia meminta peta kami sembari mencoret-coret dermaga yang ada di peta, jangan disini katanya, itu untuk turis…mahal. Coba didermaga ini khusus orang Thailand, murah. Kalau dermaga lain 4000Baht didermaga yang ditunjukinnya tadi hanya max 2000Baht. Dia juga memberi tahu kami, jangan naik taxi mahal…naik tuktuk murah, kalau ke dermaga itu cuma 20 Baht saja kalau naiknya tuktuk plat kuning, bukan plat putih dan lebih murah lagi kalau bisa bahasa Thai….laaa kami kan gak bisa bahasa Thai…piye toh. Bapak tersebut yang sueeer banget tampangnya orang baik-baik dan berpendidikan mengaku dia teacher sekolah anak-anak….saya sih berbaik sangka karena kami berpapasan saat jalan, dia sedang jalan berbeda arah dengan kami jadi benar-benar gak kepikiran macam-macam.

Sambil ngobrol gitu, tiba-tiba berhentilah tuktuk plat kuning didekat kami…dia pun ngomong bahasa Thai yang dari gerak tubuhnya sih suruh supir tuktuk mengantar kami ke dermaga yang disebutnya itu dengan harga 20 Baht, supir tuktuk ngangguk-ngangguk setuju. Dermaga sih agak jauh dengan harga 20 Baht, hanya seharga dua buah minuman di seven eleven untuk ngantar sejauh itu harusnya sudah membuat kami curiga. Tapi masih gak ngeh…

Tiba di dermaga, dermaganya sepi banget…ya ampun dermaga apaan itu. Saya sih terus terang malas banget floating market, kami sudah pernah ke pasar terapung di Banjarmasin yang benar-benar khas, untuk kelas traveler kayaknya kelas keeksotisannya jauh lebih tinggi deh dibanding dengan floating market di tempat lain. Selain itu beberapa tahun lalu saya pernah iseng-iseng baca tentang floating market di Bangkok, katanya not worthed untuk didatangin. Makanya sebenarnya floating market Bangkok ini tidak termasuk dalam list yang pengen saya perlihatkan pada krucils…kan sudah ada di Indonesia, ngapain lagi jauh-jauh ke negara lain dan mahal lagi…2000Baht itu sekitar 800rb-an loh. Tapi karena ayah kayaknya pengen ngajak kami kesini, ya saya ngikut aja…kan katanya serahkan pada ayah semuanya…

Selain saya merasa tidak perlu ke floating market, saya juga sempat bilang uang Bath kita gak sampai 2000Baht loh yah. Entah kenapa saya malas menukar uang Dollar yang kami punya ke Bath, sayang aja rasanya. Kami hanya mengandalkan sekitar 700 Baht yang kami punya sisa dari petualangan ke Phuket tahun lalu. Itu sebenarnya sudah cukup untuk beli makan, minum dan tiket masuk museum. Namun ayah bilang, di dermaga nanti pasti ada money changer dan begitu sampai dermaga yang sepi itu tidak tampak money changer. Kami pun bilang kami akan menukar uang dulu, eh orang di dermaga tersebut bilang gak apa-apa kami membayar pakai Dollar atau kami bisa menukar uang ke dia 100$ = 3000 Baht. Sumpah deh, saya gak enak hati…duh 100$ itu harusnya dapat lebih, masa cuma 3000Baht.

Lagi-lagi ayah setuju menukar uang di dia, kemudian membayar 2000Baht. Laaa mau diapain lagi, yo weslah….kita nikmati aja jalan-jalannya kalau gitu. Lupakanlah masalah harga dan hitung-hitungan money changer ala si pemilik perahu, saya gak mau pusing lagi la wong tujuan jalan-jalan kan untuk refreshing, bukan pusing dengan hitung-hitungan uang. Uang mah ntar aja dipikirinnya kalau sudah di Indonesia lagi, work hard lagi dan play harder lagi…hehe.

Saya dan krucils saya sih menikmati perjalanan kami menyusuri sungai Chao Phraya, melihat kehidupan masyarakat dari arah sungai, melihat bahwa sungai tersebut ikannya banyak banget….wuih, sungainya dijaga banget sehingga ikan-ikan mirip ikan patin gede-gede banyak banget disitu. Kayaknya gak ada yang mancing atau menjalanya, yang ada beberapa biksu memberi makan ikan malah sehingga ikannya makmur gitu bisa sebanyak itu dan sebesar itu…seperti sedang berada dikolam ikan malah rasanya.

Saya dan krucils menikmati perjalanan kami walau kami sama sekali tidak melihat pasar terapungnya, yang mana katanya floating market sampai harus bayar semahal itu coba, sama sekali gak ketemu. Tetap aja asik-asik aja ditengah panas mentari yang menyengat kulit. Tapi si ayah sepanjang jalan langsung membahas, “bunda kayaknya kita kena scam nih”…masa semahal itu hanya begini. Saya yang sudah gak mau pusing, sudah gak mau mikir tentang pengalaman aneh yang kami alami tadi pagi.

Sepanjang jalan si ayah cuma membahas tentang scam mulu, bahkan sampai balik hotel pun masih bilang “kayanya kita kena scam deh”. Saya hanya mau berbaik sangka, okelah kami tadi ketemu bapak yang mengarahkan kami ke dermaga sepi. Masa sih seorang guru mau berbuat gitu…jadi sudahlah, yang terjadi ya sudah. Namun si ayah yang penasaran langsung browsing dan ow ow…dia langsung membacakan ternyata ada orang bule (turis) yang kena tipu juga persis seperti kami. Berpapasan dengan seorang yang ngakunya guru, ngasih tahu dermaga floating market murah, dsb….ya mirip dengan kami..bedanya dia kena 2400Baht. Dan dia memperingatkan hati-hati sama orang yang keliatannya baik di Bangkok…

Biaya floating market itu hanya berkisar 600-1000Baht saja sebenarnya. Bayangkan saudara-saudara, betapa banyak keuntungan yang diperoleh oleh komplotan ini, yang kemungkinan terdiri dari si guru, supir tuktuk, dan pemilik perahu. Arrrrghhhh…saya pun kesal dibuatnya. Bela-belain nukar duit Dollar hanya untuk ditipu, sudah gitu si ayah pakai acara membahas-bahas segala tentang penipuan tersebut. Kalau sudah tahu kena tipu, gak usah ceritain ke saya lagi maksud saya, saya mau tetap berbaik sangka dan tetap menikmati liburan ini…bukan malah dibuat menyesali yang sudah terjadi.

Ya sudahlah, yang terjadi sudah terjadi…dan yang paling penting mulai sekarang percaya pada diri pada diri sendiri aja. Itu sebabnya survey itu penting, selalu saya ingatkan ke ayah….browsing, surfing, googling dulu tentang tempat-tempat tujuan petualangan kami. Saya tiap hendak berpetualang bertiga dengan krucils, sebulan sebelum berkelana sudah mulai survey berbagai hal, dari transportasi, akomodasi, tempat-tempat tujuan, dsb. Kita kan tidak mengenal wilayah orang…apalagi ini keluar negeri loh yang pastinya berbeda bahasa, budaya, dsb. Ayah sih selalu beranggapan let it flow aja, dia selalu menganggap remeh survey…bagi dia petualangan itu ya get lost, gak perlu survey, gak perlu peta, gak perlu jadwal…seenaknya hati dan gimana mood membawa aja….

Sudah terjadi, ya sudahlah…sebuah pelajaran berharga banget bagi kami. Ini kota besar bung, berhati-hatilah selalu. Kalau kata bung napi, waspadalah…kejahatan terjadi tidak hanya karena ada niat dari pelaku tapi juga adanya kesempatan…waspadalah. Sekarang nikmati aja, ntar pulang ke Indonesia kita kerja keras lagi ya ngumpulin duit lagi untuk berpetualang yang lebih seru lagi…hahaha..😀


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: