Bunaken, Kami Kembali !

19 10 2013


Setelah sholat Ied, kami kembali ke hotel. Sarapan dulu sekalian memperpanjang hotel setengah hari karena malam itu kami akan ke Makassar. Selesai sarapan kembali ke kamar, istirahat sejenak sambil berunding akan kemana kami hari itu bersama ayah.

Ayo yah, kita mau kemana nih? (mumpung ada bos besarnya nih hehe). Terserah kalian mau ngajak ayah kemana, ayah kan baru datang…kalian dong yang ngasih tahu ayah. Krucils kemudian heboh ngajak ayah ke Bunaken, “ke Bunaken aja ya yah”…hadeuh gak puas-puasnya kemaren seharian main air di Bunaken. Tapi karena bos besar mengangguk setuju, anak-anak pun langsung lompat-lompat kegirangan, yang bikin ayah tambah penasaran sebagus apa sih Bunaken itu sampe krucils minta kembali.

Saya menyarankan untuk menelpon Daeng dulu tapi ayah bilang kita cari langsung di pelabuhan aja, kalau mahal gak usah. Begitu sampai pelabuhan, beberapa orang langsung mendekat menawarkan kapal. Harga yang ditawarkan umumnya 950rb, bahkan ada yang 1,2jt…wuidih, mahal beneur. Ayah pun menyuruh saya telp Daeng tapi entah kenapa gak bisa tersambung. Sewaktu saya mengangkat muka dari layar HP, eh terlihat Daengnya sedang asik nelp tidak jauh dari situ. Langsung hebohlah saya teriak-teriak manggil Daeng…hehe…lucu juga jadinya, namun karena posisi saya masih agak jauh dia tidak mendengar. Beberapa orang yang awalnya berada di dekat kami perlahan menyusut hingga tertinggal satu orang. Nah, orang yang tersisa ini mungkin karena tahu kami hendak mendekati Daeng, dia kemudian gak mau kalah…dia menawarkan harga super miring tapi join dengan orang lain.

Si bapak : ” Gini deh mas (ngomong ke ayah), sebentar lagi jam 9 nanti saya ada tamu mau ke Bunaken juga. Dia hanya berdua, mas ikut kapal dia aja, kapalnya besar kok tapi nunggu mereka datang dulu sebentaaarrr aja. Mas cukup bayar 400rb, gimana?”
Ayah : Mereka dimana sekarang?
Si bapak : Sedang perjalanan kesini dari hotel.
Saya : Boleh, tapi 300rb (tetap emak-emak kudu nawar hehe)
Si bapak : Oke. Kalau mereka nanya, bilang aja mas saudara saya ya.
Hadeuh, atur-atur ajalah pak…kan situ yang nawarin.

Dan kami pun disuruh duduk ditangga tidak jauh dari belakang hotel kami, kesian deh kayak anak terlantar hehe. Nunggu beberapa lama, kok belum muncul juga? Eh si bapak yang nawarin ikutan ngilang, jangan-jangan gak jadi nih. Melihat kami duduk-duduk disitu, beberapa orang mulai mendekati lagi…menawarkan kapal lagi. Seorang bahkan akhirnya malah ikutan duduk dan ngobrol ngolor ngidul tentang Bunaken dan Manado dengan ayah , agaknya dia sudah lupa dengan tujuan awalnya menawarkan kapal…hehehe…

Tepat ketika kami memutuskan, sudahlah gak jadi aja lama bener (yang katanya jam 9, eh sudah 9.30 belum ada tanda-tanda juga. Kami kan malam ini harus ke bandara lagi) si bapak mendatangi kami lagi. Ayo mas, kita ke kapal katanya seraya mengajak kami ke pelabuhan. Nunggu di dalam kapal beberapa saat muncul rombongan 8 orang ibu-ibu dan seorang bapak yang dipanggil pak lurah oleh ibu-ibu tadi. Walah, katanya tamunya cuma dua orang kok jadi 9 sih hehehe…

Walau kapalnya cukup besar, kapasitas 15 orang, tetap aja jadinya sesak. Kami memutuskan duduk di atap aja sambil dibantu pemilik kapal, seru juga memandang laut dan Manado Tua dari atas atap kapal yang menggol kiri kanan jika terkena ombak, lebih seru lagi karena kali ini ditemani ayah. Mendekati Bunaken, lagi-lagi terlihat sampah …bahkan pemilik kapal menunjukkan banyaknya sampah yang mengapung disitu, ya kantong kresek, bungkus makanan, gelas air kemasan, dsb. Sebagian akhirnya terlihat tenggelam seperti kantong kresek dan menutupi terumbu karang…sayang banget.

Sebelum kami mengajak ayah ke Bunaken, saya tidak menceritakan kondisi Bunaken ke ayah karena saya ingin ayah melihat sendiri dan menilai sendiri secara objektif tidak berdasarkan hasil pengamatan saya. Begitu kami turun, banyak sekali starfish di pantai…krucils langsung senang, heboh minta berfoto sama starfish tapi ayah yang pegang …piye itu? Pengen dan penasaran tapi takut tuh artinya…hehe. Akhirnya sulung berani setelah dikasih tahu rasanya seperti pegang batu, sementara bungsu masih aja takut-takut.

Ayah ganti celana, sewa snorkle untuk dirinya dan sulung kami (200rb)…kami pun diantar menuju spot snorkling terbaik katanya. Mereka awalnya memaksa kami menggunakan pemandu tapi ayah gak mau…laaa ayah kan sudah pernah snorkling di Derawan, aneh banget kalau dipaksa pake pemandu, di Derawan aja bebas-bebas aja. Awalnya saya gak mau ikut, pengen nunggu di darat aja deh sambil nyeruput kelapa muda lagi. Tapi ayah nyuruh ikut aja, nunggu di kapal aja sama adek biar adek juga bisa liat ikannya dari kapal, kata ayah. Baiklaaah, berangkaaat…

Di spot snorkling tersebut ayah dan abang nyemplung. Sulung saya walau sudah di leskan renang sejak playgroup tapi ogah-ogahan itu hingga sekarang gak bisa berenang dan agak takut nyemplung air. Walau sudah pakai pelampung dan di pegangin ayah tetap aja jerit-jerit heboh, ayah…kembali ke kapal. Atau, ayah….pegangi abang (padahal memang dipegangi terus sama si ayah) hehe. Atau, airnya masuk hidung yah…atau leher abang kram…lain waktu teriak masker abang jatuh yah, sampai tukang kapal sebelah (yang juga sedang ngantar tamu snorkling) yang nyelam ngambilin masker yang jatuh….wkwkwk…ada aja yang dijeritkan si abang, sampai ngakak ayah dan bunda ngeliatnya. Padahal waktu di Phi-Phi dia berani loh snorkling bersama ayah, malah lautnya lebih dalam dari yang di Bunaken, kenapa ini malah heboh sendiri jerit-jeritan…hehehe…

Menunggu dikapal resikonya adalah ikut terombang ambing kapal mengikuti gelombang air. Hal ini membuat bungsu saya yang memang ogah snorkling dan hanya menunggu dikapal mabuk. Ini yang saya prediksi sejak awal, pengalaman waktu menunggu ayah dan abang snorkling di Phi-Phi kan begitu juga. Akhirnya setelah beberapa saat snorkling, kami memutuskan kembali ke darat dulu. Makan minum, ganti baju dulu. Tapi abang (sulung saya) masih mau main air di pantai dulu katanya, ayah beli baju Bunaken di tempat jual souvenir, bunda pesan pisang goreng pesanan adek, adek duduk-duduk dekat bunda karena moodnya sudah hilang untuk main air akibat jatuh karena takut liat doggie yang banyak berkeliaran di Bunaken ini.

Belum selesai pesanan pisang goreng dimasak, eh pemilik kapal mendatangi kami. Katanya rombongan ibu-ibu tadi sudah mau pulang ke Manado…waduh, tunggu dulu, saya sedang beli pisang goreng nih (sudah terlanjur bayar lagi). Akhirnya kami ditunggui. Pisang goreng di Bunaken ini kesukaan bungsu saya, dia sengaja ngajak kami ke Bunaken ya demi beli pisang goreng ini karena sehari sebelumnya saat kami ke Bunaken bertigaan aja, dia makan banyak pisang ini yang katanya enak banget itu. Sampai malamnya ketika kami di Manado, dia minta beliin pisang goreng Bunaken lagi, jadi ya saat kembali ke Bunaken lagi bersama ayah salah satu tujuannya ya untuk beli pisang goreng lagi hehe…

Setelah pisang goreng selesai dimasak, kami segera menuju kapal yang telah menunggu eh ternyata rombongan ibu-ibu tadi malah belum siap hehe. Di kapal sembari menunggu beberapa ibu ke kamar kecil kami ngobrol dengan ibu-ibu yang di kapal. Mereka bertanya asal kami, apakah kami muslim, berapa tiket ke kota kami, bahkan seorang ibu bercerita tentang keponakannya yang berada di kota kami…hehe. Ibu-ibu ini adalah rombongan ibu-ibu PKK dari Manado yang sedang liburan bareng.

Kemudian kapal jalan sebentar lalu berhenti di dekat kapal yang lebih besar sedikit. Mentransfer rombongan ibu-ibu tersebut ke kapal kaca, kami diajak bergabung oleh pemilik kapal dengan “hanya” membayar 100rb/orang…namun kami menolak, kan tadi sudah snorkling sudah liat “isi” lautnya hehe. Menunggu sekitar 15 menitan, ibu-ibu tersebut kembali ke kapal dan kapal pun melaju menuju Manado.

Sekitar jam 14.30, kami pun sudah istirahat di hotel. Semua mandi, istirahat, makan, guling-guling di tempat tidur sambil melihat hasil foto di kamera dan cerita sama ayah. Ayah lalu mengemukakan pandangannya bahwa sayang banget Bunaken kotor oleh sampah, serba mahal, dikit-dikit harus bayar ini itu, padahal ikan yang mau diliat hampir tidak ada. Sebenarnya agak rugi sudah bayar mahal untuk ini itu tapi gak ada yang bisa dilihat. Kalau bayar mahal tapi ikannya banyak sih masih setimpal, laa ini cuma liat terumbu karang hehe.. Atau seperti di Phi-Phi, yang memang bawah lautnya kalah keren tapi servicenya memuaskan dengan harga yang jauh lebih murah. Itu sebabnya wisata kita kalah pamor dari negara-negara tetangga yang padahal sih Indonesia jauh lebih indah dari negara tersebut. Ya memang sangat disayangkan sih, padahal menurut kami sampah-sampah yang mengambang itu bisa dibersihkan kok kalau memang ada niat dan ada perhatian dari pihak-pihak yang terkait…


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: