Berunding di Keraton Jogjakarta

22 06 2013

20130622-043437.jpg

Dari Taman Pintar, si bunda sudah kelelahan…yuks naik becak aja. Kemudian kami berjalan masuk kembali kearah benteng untuk memintas jalan daripada harus muter jika lewat depan. Di pintu benteng penjaga loket bertanya, sudah beli tiket? Tadi sih sudah pak, cuma ke Taman Pintar sebentar sekarang mau ke depan aja. Kalau sudah punya, ya gpp sahut penjaga pintu…sambil mempersilahkan masuk.

Depan benteng kami ramai ditawari becak dengan berbagai pesan sponsor seperti biasa, “keliling mbak…ba’pia, kaos 5rb saja”. Saya sih gak mau beli oleh-oleh pak e’ …hanya pengen ke keraton. “oo boleh nanti diantar sekalian beli ba’pia sama kaosnya, gak usah nambah-nambah lagi” tambah pak e’ becak lagi. Enggak pak…saya hanya mau ke keraton. Dan seketika saya ditinggal, alah dalah? Ternyata ngantar tamu ke pesan sponsor lebih menguntungkan daripada ngantar ke keraton yang setahu saya jaraknya lebih dekat dari benteng ketimbang ke tempat-tempat pesan sponsor tersebut…wahaha…

Akhirnya saya dapat juga tukang becak yang mau ngantar ke keraton sambil tetep merayu ke produk sponsor hehe. Biaya masuk keraton 5rb/orang. Kami ditawari mau pakai guide atau tidak, saya memilih tidak. Tapi saran saya sih pakai guide yang dapat menjelaskan tentang keraton ini, saya sendiri memilih tidak karena pengen bebas aja mengeksplore sendiri keraton.

Dari pintu masuk diarahkan ke gedung paling ujung dulu yang berisi patung-patung tentang kerajaan, seperti prajurit, abdi dalem, dsb. Kemudian naik tangga sampailah di aula luas lagi seperti didepan, entah deh ini tempat apaan (inilah salah satu contoh kerugian gak pake guide..hehe) yang jelas area tersebut ditutup rantai. Agak masuk dari situ ada gedung semacam theathre yang ketika itu sih tidak memutar apapun. Di ruang sebelahnya ada museum, salah satunya berisi foto kereta-kereta keraton. Jalan keluar memutari aula luas tadi, disebelah kirinya lagi-lagi berisi patung-patung.

Jadi, tempat tinggal rajanya yang mana bunda?tanya krucil…ya ini dulunya tempat tinggal sultannya, sekarang kan gak disini lagi tapi depan benteng itu loh, jawab si bunda sok tahu (bener-bener deh, harusnya pakai guide tadi…hehe). Nah, di keraton sinilah kami berunding…habis dari keraton mau kemana. Abang pengen ke Museum Kereta Keraton, adek pengen ke Tamansari naik andong (nah, kalo ini requestnya andong mulu…yang langsung ditukas abangnya, ngapain naik andong dek…mahal, mending uangnya kita beliin bros…wahaha…sami mawon deh, tetap aja bunda keluar uang hehe), bunda pengen pulang ke hotel (huuu…emaknya kalah sama anak => diketawain si ayah melalui telp, pegel banget nih seharian nemenin krucil).

Hasil perundingan diambil jalan tengah, biar adil karena Museum Kereta sudah dekat banget dengan Keraton, kita ke Museum Kereta dulu, setelah itu ke Tamansari, setelah itu kita balik hotel. Janji? Janji kata abang semangat, sedang adek masih dengan syaratnya “tapi naik andong ya”…kita liat nanti ya dek, kalau ada andong naik andong…kalau gak ya naik becak aja. Dan perundingan pun disepakati semua pihak…hehe…


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: