Prambanan yang Mempesona

20 06 2013


Seperti biasa saya dan krucil selalu bangun pagi kalau sedang berpetualang. Entah mengapa, mata kami setelannya begitu…otomatis terbuka diwaktu subuh walau niatnya bangun agak siangan (biar gak kelamaan nunggu waktu sarapan gratisan dari hotel hehe) tetapi tetap saja terbangun subuh.

Krucil disuruh tidur lagi pada gak mau, liat jam tangan punya abang masih jam 6an waktu Indonesia Tengah alias masih jam 5an. Sarapan hotel baru tersedia jam 8, perut sudah bunyi-bunyi…kelamaan kayaknya nunggu sarapan gratis dari hotel. Krucil tampak mulai tak sabar, mulai main heboh-hebohan di dalam kamar dan ngajak cepat jalan. Hadeuh, daripada ganggu tamu lain yang sedang tidur, begitu melihat jalanan depan hotel mulai terang…jam 6 pagi waktu Jogja, kami pun turun ke Lobby.

Disambut sapaan ramah khas Jogja oleh petugas hotel yang bisa dibilang adek-adek (masih muda-muda banget), saya pun bertanya info seputaran Prambanan. Kira-kira inilah pertanyaan dasarnya : 1) naik apa dari hotel, 2) letaknya kearah mana dari hotel (kiri/kanan) 3) jauh tidak, 4)buka jam berapa, dsb. Nah, begini jawaban adek-adek tersebut menjawab pertanyaan saya : 1)ada taxi & becak dari hotel tapi harus dipanggil dulu lebih cepat jalan kaki, 2) letaknya timur hotel, jalan terus diutaranya …bla…bla menyebut berbagai macam arah mata angin yang langsung membuat keriput di jidat saya kian bertambah…waduh mas, gak bisa pakai bahasa yang dimengerti saya aja apa? kanan kiri aja deh patokannya (maklum saya buta arah mata angin hehe). Dan dia langsung mengkoreksi, dari hotel ke kanan…jalan lurus aja, nanti keliatan kok candinya ada disebelah kiri jalan. 3) tidak jauh, ya sekitar 10 menit jalan kaki dari hotel=> kata dia loh (padahal kalau untuk saya bisa-bisa 30-45 menit jalan kaki hehe), 4) kalau melihat sendratari malam, kalau cuma keliling candi buka 24 jam.

Yippie…sudah buka, artinya kami sudah bisa berkelana. Karena hotel kami letaknya di jalan poros Jogja-Solo, dekat dengan candi Prambanan, agak susah nyari angkutan umum…beneran susah deh. Taxi jarang lewat, angkot kagak ada, becak juga jarang nemu. Jadilah kami jalan kaki dari hotel, yang langsung diterpa udara membekukan hidung…wuiiih dingiin bangeetttt…grrrr (menggigil) padahal matahari sudah tampak. Krucil gak mau pakai jaket tapi akhirnya si adek mau juga setelah diiming-imingi pakai jaket bunda hehe.

Beberapa kali kami berpapasan dengan becak motor yang membawa penumpang dari pasar, sayangnya gak ada yang kosong. Maka begitu nemu becak kosong (yang kayaknya sedang perjalanan pulang), kami pun dengan semangat 45 memanggilnya. Tanya, berapa ke Prambanan? 10 ribu njih…baiklah, malas nawarnya lagian gak tahu pasaran becak berapa disini jadi langsung oke ajalah. Naik, gak lama (kurang dari 5 menit) candi mulai terlihat disebelah kiri jalan, namun becak mengarah ke kanan…loh? pak, ke candi pak. Oooh ke Candi? Kirain ke pasar, kata tukang becak…rupanya Prambanan identik dengan pasar juga toh…hehe..

Begitu sampai di parkiran, terlihat rombongan orang sedang mengantri di pintu masuk candi…walah, kirain belum ada orang ternyata sudah ada rombongan. Perut yang terus menerus berbunyi, membuat saya berjalan ke arah warung nasi yang sudah buka…yang langsung diprotes krucil, gak mau makan belum lapar, lagian tadi sudah makan biskuit… maunya makan dihotel aja nanti sekarang masuk ke candi dulu bunda. Melihat mulut monyong-monyng krucil dan sedikit genangan air mata (kayak orang disiksa aja sih disuruh makan…hadeuh), bunda pun mengeluarkan jurus andalan…”kalau kalian gak mau makan, bunda gak mau masuk…kita tunggu aja diwarung ini sampai kalian lapar”. Seperti biasa, jurus andalan pun mempan…mereka pun makan nasi rames plus ayam goreng.

Perut kenyang, hati senang, langkahpun ringan…kalau begini siap menjelajah. Berdasarkan informasi yang berhasil dikorek beberapa hari sebelum berangkat dari DK, pemilik blog fotodeka yang sedang menempuh pendidikan di Jogja, konon katanya ada paket candi Prambanan-Ratu Boko yang menyediakan juga kendaraan gratis ke Ratu Boko. Di loket masuk sayapun menanyakan paket ini yang harganya 45rb perorang namun karena masih terlalu pagi, Ratu Boko belum buka. Ratu Boko buka jam 9, jadi sekarang beli aja tiket masuk Prambanan dulu…nanti bisa tukar tambah disini, demikian info penjaga loket…oke deh.

Tiket masuk candi Prambanan ini adalah 30rb/orang, tapi karena melihat adek yang masih “keiimutan (istilah abang untuk adek)”…saya cukup membayar 75rb untuk kami bertiga, alhamdulillah…bawa krucil berpetualang memang banyak enaknya hehe. Setelah masuk, kami liat peta dulu…waduh ternyata arealnya luas banget dan candinya juga banyak…bisa gempor kalau gini. Foto sana-sini, ternyata masih sepi banget hanya tampak kami bertiga, sedang rombongan didepan kami sudah tidak terlihat lagi.

Bertigaan saja di seputaran candi benar-benar menyenangkan, puaass banget foto-fotonya (tetep narsis hehe). Candi Prambanan ini benar-benar mempesona dan mengaggumkan. Mendekati areal candi Prambanan, saya dipasangin petugas sarung…mirip di Bali ya bunda, seru krucil. Mengeksplore candi sih bebas-bebas aja, cuma ketika kami hendak memasuki candi Siwa, kami diwajibkan pakai helm…karena khawatirnya tertimpa bangunan, yang walau tertulis dalam kondisi stabil, tetap saja menurut cerita petugas dulunya kompleks ini ditemukan Jepang ditengah hutan jati dalam kondisi hancur akibat gempa. Jadi bangunan yang ada sekarang adalah hasil restorasi tahun 1958, mungkin itu sebabnya…untuk jaga-jaga, kami disuruh pakai helm…yang menambah kekhawatiran bungsu saya, “adek gak mau naik” sambil memeluk erat bebeknya. Tiap melihat candi, dia bertanya “masih ada orangnya bunda?” (maksudnya orang jaman dulu yang membangun candi-candi ini). Walau dijelaskan sudah gak ada lagi dek, ini hanya peninggalannya aja…bungsu saya masih malas dekat-dekat.

Berbeda dengan adeknya… si abang, sulung saya, seperti biasa backpacker dan petualang sejati…dia asik menjelajah berbagai bangunan di kompleks Prambanan sambil bertanya ini itu dan jepret sana-sini. Antusias banget, kadang-kadang saya sampai bingung sendiri sebenarnya apa sih minat si abang, melihat sejarah antusias, melihat modern-modern juga antusias…kayaknya antusias semua deh hehe. Keluar kompleks candi Prambanan, masih ada candi Sewu. Ada berbagai kendaraan yang disewakan untuk mengelilingi seluruh candi yang ada, ada sepeda (gak tahu harganya karena krucil tidak tertarik), kereta (rp 7500/orang tapi harus nunggu 10 orang baru jalan, laaa saat itu yang baru terlihat disitu hanya kami, mau nunggu sampai jam berapa kalau harus 10orang), kuda (60rb/orang…yang langsung ditolak mentah-mentah oleh si bunda yang pedit dan menyebabkan adek nangis terisak-isak). Untungnya gak jauh dari situ ada kandang rusa sehingga perhatiannya agak teralihkan.

Dengan pertimbangan kasian krucil kalau jalan sampai ke candi Sewu, jadi candi-candi lain selain Prambanan di skip aja. Setelah puas di Prambanan kami pun keluar, yang pintu keluarnya mengarah ke pasar souvenir. Si adek beli banyak pensil dan melirik-lirik ke bunda begitu ditawarin penjual gelang yang juga bisa berfungsi sebagai ikat rambut, yo wes…beliin aja deh, harganya (3rb) jauh lebih murah dari naik kuda soalnya hehe. Sedang sulung langsung jatuh cinta sama bros warna-warni berbentuk hewan seharga seribu rupiah, yang nantinya bikin gempor bundanya untuk nyari bros beginian lagi.

Lihat jam, sulung langsung berseru…”sudah buka nih bunda Ratu Bokonya”. Baiklah, putar arah lagi ke loket masuk, tanya soal Ratu Boko…tadi saya sudah masuk, pengen beli paket ke Boko tapi tadi katanya masih tutup. O iya bu, silahkan masuk aja…(sreeet, dibukain pintu khusus), didepan sana sebelah kiri ada shutle bis ke Ratu Boko, bilang aja disana kata petugas pintu masuk. Di shutle bis dimaksud, kami langsung dipersilahkan masuk minivan-minivan yang menunggu disana. Untung saya orang jujur, langsung ngomong…belum bayar, baru bayar yang ke Prambanan. Nah kalau ke Boko ini harganya 15rb/orang untuk tiket masuk plus shutle bis gratis ini, yang pulangnya diantar lagi ke Prambanan. Shutle bis ini ada tiap 15 menit.

Setelah membayar, kami pun dipersilahkan masuk. Saya bertanya…apakah nunggu orang dulu baru berangkat? ternyata tidak…bis (lebih tepat minivan) langsung berangkat walau hanya ada kami bertiga…wuih seruu, serasa carter kendaraan sendiri hehe.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: