Menikmati Teriknya Mentari di Pantai Losari

29 04 2013


Setibanya di hotel, yang pertama teman-teman krucil lakukan adalah mainin bel kamar! Saat duo krucil saya suruh istirahat, terdengar bel kamar yang dibunyikan berkali-kali…room boy? Bukan, tapi gengnya yang langsung ngajak bermain, ampun deh. Jadilah krucil dan the geng bikin rusuh hotel, main di lorong kamar atau bunyi-bunyiin bel kamar yang jaraknya berdekatan, bolak balik lari-larian dari kamar yang satu ke kamar yang lain, heboh banget…hadeuh *tepok jidat*…

Daripada bikin rusuh, bikin tetangga kanan kiri gak bisa tidur, pasukan krucils…cepat mandi! Kita ngelayap aja deh, cari makan sekalian melihat pantai Losari yang terkenal itu, penasaran kan? (halah yang penasaran sih para emaknya, anak-anak sih asik-asik aja kalau disuruh main di hotel).

Setelah anak-anak selesai mandi, kami pun celingak celinguk di depan hotel. Sebenarnya hotel kami ini tepat menghadap pantai Losari juga, cuma penasaran sama tempat yang sering kami lihat di TV, yang ada tulisan besar PANTAI LOSARI itu loh, yang kalau menurut resepsionis disebut anjungan. Niatnya sih pengen jalan kaki (yang menurut resepsionis cuma 5 menit jalan kaki dari hotel) tapi apa daya rengekan geng krucil yang pengen banget naik becak dengan janji manis “sekali ini aja”. Terpaksalah 3 becak di pesan sekaligus…serasa ikutan pawai deh eike jadinya hehe..

Sebelum ke pantai Losari, kami yang mulai kelaparan berkelana di kawasan kuliner Makassar yang terletak tepat di seberang anjungan Losari. Saat berkelana, tiba-tiba mata kami melihat tulisan Mie Titi di sebuah rumah makan. Walau gak tahu apa sih “Mie Titi” itu tapi karena sering dengar bahwa itu salah satu kuliner khas Makassar, kami pun mencoba mie ini. Ternyata ini adalah mie kering yang disiram pakai kuah yang berisi ayam, sayur dan telur mirip kuah capcay gitu deh. Dan menurut buku gratisan tentang wisata kuliner yang saya baca di hotel, saking terkenalnya Mie Titi ini hingga semua mie kering disebut orang Makassar sebagai Mie Titi…oalah…

Saya sih oke-oke aja, krucil & the geng aja yang langsung mengeluarkan protes berjamaah…mienya kerasss, sakit gigi…hadeuh. Niatnya sih wisata kuliner, nyobain makanan khas sini…lupa kalau ada krucil yang menu favoritenya itu-itu mulu yaitu ayam goreng…jadilah setelah itu kami lebih sering beli menu netral untuk makan seperti ayam goreng, mie goreng atau nasi goreng hehe.

Perut kenyang, jalan pun nyaman. Walau jam sudah menunjukkan angka 16.30 sore tapi ternyata matahari masih terasa terik, terutama di anjungan. Foto-foto juga tidak maksimal, selain panas ternyata di anjungan sedang dibikin panggung untuk acara nanti malam (tahu deh acara apaan) sehingga mau foto anjungan lengkap dengan tulisan Pantai Losari yang tersohor itu gagal, laaa panggungnya menghalangi view tulisan…hiks..

Anjungan Losari ini mirip Monpera (kalau di Balikpapan) atau lebih tepatnya mirip Tepian (Samarinda) menurut saya. Tempatnya dipinggir laut dengan sejumlah tempat untuk santai sambil menikmati pisang epe yang terkenal itu. Nah, pisang epe itu mirip-mirip pisang gapit. Yang membedakan adalah kuahnya, kalau pisang epe kuahnya gula merah kental sedang pisang gapit kuahnya campuran gula merah, susu dan sedikit maizena…jadi manisnya gak begitu nyelekit seperti pisang epe. Sepanjang pantai Losari semua menjual pisang epe, bahkan baru datang di anjungan aja sudah dihampiri beberapa orang yang menawarkan pisang epe (mukanya keliatan banget orang baru kayaknya wkwkwk)…

Sulung saya begitu mendekati bibir pantai langsung kecewa berat…mana pasirnya bunda? Memangnya di Balikpapan pantainya berpasir wkwkwk…Cita-citanya bermain air dan pasir di pantai Losari gagal total, anjungan ini disemen jadi memang bukan pantai berpasir gitu. Kecewa berat, langsung ngajak balik ke hotel…pulang bunda, kita main di depan hotel aja (belum sempat diperhatikannya bahwa pantai depan hotel pun disemen, gak ada pasir)…ngambek, memisahkan diri dari gengnya dan pasang tampang manyun. Digodain teman-temannya tambah bete, ngambeknya memuncak jadi level 10 hehe..

Kebetulan si bunda ngeliat ada orang jualan pesawat mainan dari gabus, pesawat mainan ini mempunyai berbagai nama ; garuda, merpati, lion, dsb. Iseng-iseng nanya gimana nih cara maininnya…eh ternyata maininnya kayak main layangan gitu, diterbangkan keatas dengan bantuan angin pantai sambil tarik ulur tali ya persis mainin layangan. Beliin si sulung, geng yang lain pada ikutan beli dan main…dan case closed, ngambeknya sudah lupa hehe..

Jadilah kami menikmati teriknya mentari pantai Losari dengan bermain layangan ala pantai Losari ini, berupa pesawat dari gabus. Saking asyiknya bermain, gak terasa turis mulai memenuhi anjungan dan berpose di tulisan yang terkenal itu. Sebagian lagi asyik menunggu sunset, sedang kami para emak-emak baru sadar…oalah, sudah hampir magrib. Hayuu krucils, saatnya kembali ke hotel, simpan tenaga untuk esok hari. Saat terdengar protes berjamaah, jangan pulang dulu…bentar lagi (sambil asyik dengan layangan masing-masing), baru mau pulang ketika dikasih tahu besok kita mau Trans Studio…horeee, ini dia tujuan utama jalan-jalan geng krucil ke Makassar..hehe.

Rupanya Trans Studio adalah salah satu ikon hiburan terkenal dari Makassar karena begitu pesawat kami landing di Bandar Udara Sultan Hasanuddin, pramugari langsung bilang seperti ini kurang lebih : ” Penumpang yang terhormat, kita baru saja mendarat di Sultan Hasanudin, Makassar. Tidak ada perbedaan waktu dengan Balikpapan. Terima kasih sudah terbang bersama kami, selamat berjalan-jalan dan menikmati Trans Studio ” (bacanya pakai intonasi ala pramugari ya). Yang langsung disambut dengan dengungan riuh berbagai komentar penumpang, ada yang ketawa, ada yang bilang iklan, ada yang komen “kok tahu?” dan sebagainya. Sedang sulung saya begitu mendengar pramugari menyebut Trans Studio langsung menatap saya dengan heran, “kok dia tahu kita mau ke Trans Studio, bunda? Ketahuan deh” hahaha…

Kembali ke cerita, dan janji manis krucil pun hanya tinggal janji. Pulangnya karena pengen cepat dan daripada bikin pawai becak lagi, kami pun menyetop pete-pete (angkot)..eh krucils dan the geng langsung merengek-rengek, naik becak aja dong. Hadeuh, jadilah pulangnya pawai becak lagi…hehe. Malam itu petualangan ditutup dengan krucil beserta teman-temannya bermain (entah main apa aja mereka, semua jadi mainan deh) di hotel sampai larut malam.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: