Belajar Mengenal Masa Lalu di Fort Rotterdam

29 04 2013


Duo krucil saya kalau sedang berpetualang, entah sengaja atau memang terbiasa atau settingan begitu, selalu bangun lebih pagi daripada kalau sedang berada di rumah. Demikian pula hari kedua kami di Makassar, subuh-subuh (jam 04.30) sudah pada melek dengan sendirinya…ya ampun, harus sering-sering diajak berpetualang kalau gini hehe . Setelah mandi, si bungsu sudah gak sabar ngebangunin temannya…jangan dong dek, kasian masih pada tidur gitu.

Setelah agak lama juga mereka menunggu teman-temannya bangun dan belum bangun-bangun juga, akhirnya saya ajak mereka turun ke lobby…kita jalan-jalan aja di pantai depan hotel. Kami pun duduk-duduk di pantai depan hotel, jalan ke ATM, kemudian kami putuskan sarapan duluan. Setelah kami selesai sarapan, baru teman-temannya turun dari kamar…yah daripada lama nunggu mereka sarapan, saya pun memutuskan mengajak duo krucil saya ke Fort Rotterdam karena kayaknya hanya krucil-krucil saya yang penggemar museum (di dalam Fort Rotterdam ada museum juga) diantara anak-anak seusianya.

Kami naik becak dari hotel kami di Losari (jl.penghibur) ke Fort Rotterdam, sebenarnya saya lebih suka mengajak krucil saya jalan kaki karena jaraknya gak terlalu jauh dari hotel. Tapi dengan pertimbangan biar cepat karena hari itu kami berencana ke Trans Studio bersama-sama, pakai becak aja deh. Harga becak berkisar 7rb-10rb dari hotel, tergantung bisa gaknya nawar dan karena saya jenis orang yang gak bisa nawar…ya sudah deh, terima-terima aja…hehe…

Mendekati benteng, beberapa orang berteriak-teriak pada saya menawarkan perahu untuk menyeberang ke pulau (pulau samalona, dan sekitarnya. Nah, pulau-pulau ini sebenarnya masuk dalam list tempat yang akan saya kunjungi, cuma setelah saya ajak emak-emak lainnya kayaknya gak begitu tertarik…mau pergi ngajak krucil bertigaan aja juga susah nyari waktunya karena krucil main mulu sama teman-temannya, jadi dengan sangat menyesal tempat yang satu ini disimpan dulu. Next trip insyaAllah akan kami datangi bersama ayah). Pengen nyeberang ke pulau tapi waktu mepet, ke benteng dulu aja deh yang penting…mengenal sejarah itu lebih penting.

Masuk ke dalam benteng ini cukup mengisi buku tamu dan membayar dana seikhlasnya. Nah kalau sudah mendengar kata seikhlasnya itu saya agak bingung tuh menentukan mau ngasih berapa, jadi seikhlasnya saya ya 6rb rupiah karena cuma nemu duit kecil segitu. Bentengnya guede (ya dibanding Fort Cornwallis sih hehe)…ada bangunan-bangunannya di dalam, ada Museum La Galigo, ada mushola (entah memang sejak jaman dulunya mushola atau baru diubah peruntukannya), ada gereja, ada ruang tahanan Diponegoro, ada kanalnya, dsb.

Masuk ke museum bayar 5rb/orang (kalau gak salah, lupa euy). Museumnya ada 2 buah yang letaknya berseberangan, satu disebelah kiri pintu masuk dan satu lagi disebelah kanan pintu masuk. Yang sebelah kiri isinya senjata-senjata tajam dan tidak banyak yang bisa dilihat sehingga kami cuma sebentar banget disini, naik…liat isinya cuma berbagai jenis senjata tajam dan cuma ada kami bertiga, bungsu langsung ngajak turun.. yang membuat penjaga museum heran, sudah keliling belum? hehe.

Nah diseberang museum, ada museum lagi…kalau sudah bayar di museum yang satu, masuk yang satunya gak usah bayar lagi. Museum yang disebelah kanan isinya lebih banyak dan lebih bervariasi, berbagai adat budaya orang Makassar; ada tentang baju, alat-alat pertanian, mahkota raja, rumah adat, pelayaran, dsb. Nah yang disini krucil lumayan betah nih, terutama sulung saya…nanya ini itu, memperhatikan ini itu, sedang yang bungsu konsentrasinya pecah karena dia pengen main sama teman-temannya yang masih sarapan di hotel.

Setelah dari museum, tepat sebelah kiri pintu masuk museum, ada ruang tahanan Diponegoro…sulung saya langsung pengen tahu. Tapi ruang tahanan ini tertutup, jendela dan pintunya dalam keadaan tertutup sehingga yang bisa dilihat hanya bangunannya saja. Disamping ruang tahanan ada tangga sempit untuk naik keatas benteng, dulunya mungkin ini adalah tempat pengamatan, untuk mengamati musuh yang datang dari arah laut karena benteng ini letaknya menghadap laut. Wah sulung saya semakin semangat disini, dia yang biasanya males banget di foto langsung pasang pose minta difoto.

Saat kami sedang asik mengamati depan benteng dari sini sambil membayangkan apa yang dulu terjadi didalam benteng ini dan apa yang dulu dilihat orang-orang disini…tiba-tiba HP saya berdering. Oalah ternyata kami disusul teman-teman krucil kesini, mendengar hal tersebut bungsu saya langsung happy…hehe, dia memang lengket dengan salah seorang anak dalam gengnya. Baiklah, kalau sudah disusul ya gak bisa lama-lama di benteng pasti sudah gak sabar ke Trans Studio, tapi karena masih jam 9an dan ternyata kata tukang becak Trans Studio bukanya jam 10an…maka kami kembali ke hotel dulu…istirahat dulu yuk anak-anak…


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: