Anak, Orang Tua dan Buku

22 04 2012

20120422-092352.jpg

Sudah lama yah gak nulis-nulis, maklum sibuk atau lebih tepatnya sok sibuk hehe. Kali ini saya tidak menulis tentang jalan-jalan kami, tapi lebih kepada budaya baca di masyarakat tanpa bertujuan apapun dan ditujukan pada siapapun. Hanya menangkap fenomena yang sering saya lihat dimasyarakat saja.

Saya belakangan ini berjualan buku anak. Ya sejak sukses mengikuti beberapa bazar, saya jadi serius menekuni bidang ini. Saya percaya bahwa budaya baca itu harus ditanamkan sedari dini, kecintaan pada buku harus dimulai dari lingkungan terdekat, yaitu dari orang tua. Jika anak sering melihat orang tuanya membaca, dan terlebih selalu tersedia berbagai buku di rumah, anak niscaya akan turut mencintai buku.

Kenapa kita sebagai orang tua seharusnya menanamkan cinta buku dan budaya baca? Bagi saya pribadi, buku adalah sumber ilmu, sumber inspirasi, dan sebagai benteng diri dari hal negatif. Jika anak terbiasa membaca buku, saya percaya generasi mendatang tidak hanya menjadi generasi peniru, tapi juga pionir, generasi yang lebih berilmu. Dan tahukah anda? anak itu ibarat sponge,dia akan menyerap hal yang dilihat dan dipelajarinya lebih cepat dibanding orang dewasa. Jadi jika sedari dini anak sudah terbiasa membaca, maka ilmu yang diserapnya lebih banyak, dan ini juga menstimulasi kemampuan berbahasa dan merangsang saraf-saraf diotaknya untuk terus berkembang karena otak itu tidak statis seperti komputer loh bun yang kapasitasnya ya segitu tok, tapi dinamis (karena organik). Otak bisa berkembang ataupun mengempis sesuai dengan kapasitas yang sering digunakannya. Jika semakin banyak yang kapasitas yang dipakai, maka kemampuannya pun akan semakin besar. Otak lebih canggih dari intel processor🙂

Dan sedihnya, saya sering menjumpai orang tua yang lebih suka membelanjakan uangnya untuk barang konsumtif (baju, HP edisi terbaru, mainan, boneka,dsb) dibanding buku! Saat bazar saya sering miris menjumpai anak-anak yang bolak-balik didepan saya, minta belikan buku ke orang tua, tapi orang tuanya justru menolak (Catatan : jika tidak mampu sih lain hal, tapi umumnya orang tua anak-anak ini super mampu loh). Alasannya, halah…anak saya masih kecil, belum bisa baca. Atau anak saya boro-boro bahasa inggris, bahasa indonesia aja belum lancar. Atau waduh..kok mahal bener ya? (Padahal emaknya aksi banget dengan emas bling-bling seantero tubuh, memegang HP smart keluaran terbaru, keluar dari mobil produk teranyar. Mbok ya dijual satu tuh emas bu…bisa dapet banyak buku yang lebih bermanfaat untuk masa depan anak hehe). Atau ntar bukunya dirobek-robek aja mbak, gak dibacanya.

Dan menurut saya, semua alasan diatas adalah alasan dibuat-buat..nonsense, semua itu bukan alasan untuk tidak membelikan anak buku…apalagi jika anaknya sendiri yang memiliki kesadaran untuk (meminta) membeli buku. Kalo anak anda masih kecil, emangnya tidak boleh punya buku? Kalo anak anda belum bisa baca, apakah dengan dibelikan buku apa lantas anak anda akan jadi bodoh? Justru dia akan terpacu untuk bisa mengerti isi buku tersebut kan,ya tambah rajin belajar membacanya! Kalo anak anda belum bisa bahasa inggris, so what gituh? Kalo buku mahal, terus kalo beli PSP atau HP berjuta-juta agar jadi gaul tidak ketinggalan gaya bisa membuat anak anda lebih baik? Kalo beli buku dirobek-robek kenapa gituh? Anda lebih menyanyangi anak anda atau barang sih?

Saya pribadi sejak kecil menyukai buku, itu karena kebiasaan orang tua saya yang selalu memberikan hadiah buku tiap ada moment spesial (seperti ultah atau kenaikan kelas) dibanding memberi yang lain. Justru sampe sekarang kenangan itu yang saya ingat betapa serunya saya dan adek saya tiap liburan berembuk memilih harus membeli buku yang mana (karena dijatah 1 orang hanya boleh beli 1 buku) agar selama liburan tidak kehabisan stok bacaan. Akibatnya kami selalu memilih buku tertebal yang bisa dipilih (jaman dulu toko buku hanya satu, itupun stok bukunya terbatas). Terkadang malah kami tuker-tukeran buku dengan tetangga sebelah yang hobinya beli komik sementara kami lebih memilih novel dengan pertimbangan komik terlalu tipis, paling lama 1 jam sudah habis dibaca…hehe.

Dan saya ingin anak saya juga seperti saya, mencintai buku. Bagi saya, belanja buku lebih penting daripada belanja baju atau HP edisi terbaru. Duh buat saya pake baju itu-itu mulu sampe bulukan juga gak masalah asal anak saya punya buku terbaik yang sanggup saya belikan. Sejak bayi, baru lahir…saya sudah bacakan buku-buku untuk mereka. Siapa bilang mereka gak ngerti? Jangan sepelekan bayi anda, mereka ngerti apapun yang anda lakukan atau katakan, mereka bisa merasakan bahwa bundanya sedang membacakan sebuah buku. Dan kalaupun anda masih menganggap mereka belum ngerti, anggaplah mereka mengerti…dan pasti akan mengerti jika anda sering membacakan. Ingat bunda, otak balita ibarat sponge…inilah masa keemasan (the golden age), saat yang tepat untuk menstimulasi neuron-neuron mereka baik melalui kata-kata yang kita bacakan, maupun dari visual buku. Tiap bulan saya usahakan untuk membeli buku baik untuk saya, si ayah maupun untuk anak-anak…setelah bertahun-tahun kami pun mempunyai mini library, perpustakaan kecil dirumah. Hasilnya? kedua krucil saya alhamdulillah suka buku, si sulung bahkan mempelancar belajar bacanya menggunakan komik smurf (yang menurut saya bahasanya susahnya ampun-ampunan..hehe).

Kalau anak anda belum bisa baca, ya anda bacakan duong ah..plis deh. Atau kalau anda sibuk, belikan saja buku-buku yang menarik…sehingga walaupun mereka belum bisa baca, tapi dengan melihat gambar saja setidaknya akan menambah daya tarik buku bagi mereka. Contohnya si bungsu saya yang walau masih cadel dan belum bisa baca, tapi tiap ada kesempatan pasti mengambil sebuah buku dari perpustakaan mininya untuk diletakkan dipangkuan (kadang-kadang malah dibawa kemana-mana, sampe ke mobil, dalam tas sekolah atau tempat tidur segala yg akibatnya bisa ditebak, buku jd kucek atau robek sana-sini) seolah-olah bisa membaca (terkadang malah menceritakan sendiri isi buku versi dia hanya dengan melihat gambar).

Anak anda belum bisa bahasa inggris tapi dibelikan buku import? so what gituh? Kita lahir dan besar di Indonesia dengan bahasa ibu adalah bahasa indonesia, dan memang belum terlatih dengan bahasa inggris karena kita bukan bule! So what? Justru karena itu belikan buku berbahasa inggris, minimal bilingual, setidaknya mengenalkan ejaan-ejaan berbahasa inggris sehingga mereka familiar dengan kata-kata tersebut.

Buku mahal? hmm…iya sih, tapi herannya orang tua kadang malah lebih mampu beli yang lain yang lebih mahal (PSP contohnya) dibanding buku. Rekor buku termahal yang pernah kami beli adalah lonely planet edisi negara Indonesia seharga 500rb, yang walaupun mahal (bagi kemampuan dompet kami) bela-belain kami beli. Kenapa? Ya untuk dibaca, untuk mencari informasi, untuk anak-anak kami agar mengenal Indonesia (yang ironisnya info ttg negara Indonesia malah diperoleh dibuku terbitan luar). Kami bahkan pernah membeli sebuah buku seharga 250rb berbahasa inggris untuk kemudian dirobek-robek anak kami, beberapa kali bolak-balik direparasi tetap robek sana sini, yang justru malah pada akhirnya menjadikan buku tersebut jadi buku favorite mereka (yang walau belum ngerti bahasa inggris tapi sering minta bacain dan terjemahin ke ayahnya). Terus kalo mahal kenapa gitu? apa itu bisa dijadikan alasan? Lebih mahal mana, buku atau ilmu? Kalo buku mahal, tapi hasil didapat lebih..itu namanya bukan mahal babe.

Buku sering dirobek-robek? namanya juga anak-anak, mereka masih mengeksplorasi lingkungan mereka. Karena itu belikan buku sesuai usia, jika masih suka merobek, belikan boardbook (buku berbahan kertas tebal, yang tidak gampang robek, kecuali tenaganya seperti hulk) atau softbook (buku-buku berbahan lembut seperti terbuat dari kain, dan tidak gampang robek). Buku anak-anak saya sudah berapa korban dirobek-robek atau malah dicoret-coret. Kalo kata si ayah, biarkan saja robek, mereka belum ngerti, yang penting mereka mengenal dulu apa itu buku. Karena itu kalo mereka yang merusak buku sih saya oke-oke saja, tapi kalo orang lain yang merusak buku…saya baru tidak oke. Sono beli sendiri dong buku yang mau dirusak jangan punya anak saya…hehe..

Semua kembali lagi pada anda sebagai orang tua. Sudahkah anda membudayakan baca, mencintai buku, lebih mengutamakan membelikan buku daripada yang lain. Dan pada akhirnya semua kembali lagi pada anda, apa yang anda inginkan atau harapkan untuk anak anda? Kalo saya sih mengharapkan anak saya jadi generasi penerus yang lebih hebat dari ayah bundanya, generasi mendatang yang lebih mencintai buku daripada game atau yang lain. Generasi pioner yang bukan peniru. Generasi yang pandai dalam segala-galanya, dan itu semua insyaAllah bisa didapat dari buku sebagai jendela dunia.


Actions

Information

One response

11 09 2012
fajri

banyak baca maka banyak tahu deh…….
buku islami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: