Dari India, Melayu Hingga Jawa

19 02 2012


Siapa bilang makan dan minum mahal di Kuala Lumpur? Ya memang kalau anda makan dan minum di cafe, di mall, atau restaurant..memang mahal. Saya perhatikan cafe-cafe tempat turis nongkrong harga satu menu makanan mulai dari RM 20 sampai tak terhingga…hahaha. Minuman aja mahal di cafe..

Wah, kalau advanture blog sih gak begitu tertarik makan di cafe, mall, atau restaurant. Kenapa? Pertama sih alasannya sederhana…mahal, over budget…hehe. Kedua, bukankah kalau kita sedang jalan-jalan ke suatu daerah, kita tentunya pengen dong nyobain makanan khas tempat tersebut? Nah, kalau makan di tempat-tempat turis seperti itu sih biasanya menu makanan yang disodorkan sudah taste International, saya rasa yang begituan sih dimana-mana sama rasanya, ya toh? Saya yakin dikota anda pun ada kalo cuma pengen steak, burger, atau semacamnya itulah khas bule.

Nah, sebagai backpacker…gak masuk hitungan dan diluar budget makan di tempat-tempat mahal. Jadi kalau mau hemat sih, tirulah cara kami…makan di kedai-kedai kecil, yang berada diluar hiruk pikuk turis. Bukan berarti tempatnya jauh dari mana-mana, artinya adalah tempat ini biasanya dekat pemukiman, atau satu blok dibelakang pusat keramaian..gak terlalu jauh kalau berjalan kaki. Ini dia tempat makan yang kami coba selama di Malaysia.

Rasa Melayu di Taste of Asia

Ini letaknya di bandara (KLIA), namun harganya tidak terlalu mahal dan rasanya juga pas di lidah saya. Tersedia berbagai macam jenis masakan, dan minuman. Yang saya coba disini sih, nasi lemak dan chicken ricenya serta teh tarik. Harga makanan tersebut berkisar RM 7.90 – RM 10. Untuk teh tarik RM 3 (kalo gak salah ya, lupa soalnya).

Nasi lemak menurut saya mirip nasi uduk yang ditambah dengan telor rebus bentuk lingkaran, ayam, kacang, sambel dan ikan bilis (mirip ikan teri dan rasanya asin). Kalau Chicken Rice mirip nasi uduk juga cuma pakai ayam bakar. Sedang nasi briyani mirip dengan nasi kuning kalau di Indonesia.

Rasa India di Al-Ashiq

Dalam brosur pariwisata Culinary Delight Malaysia, disebutkan bahwa Roti Canai yang dimakan dengan kuah kare (curry), Nasi Lemak, Mee Goreng, dan Teh Tarik termasuk makanan khas Malaysia. Maka begitu menemukan menu ini di sebuah kedai, langsung saja saya memesannya. Letak kedai ini di jalan Walter Grener, satu blok dibelakang bukit bintang.

Harganya? Kalau dirupiahkan rata-rata makanan yang dijual kurang lebih sama dengan harga makanan diIndonesia. Tapi khusus roti canai, harganya jauh lebih murah. Roti canai hanya RM 0.90 atau sekitar Rp 2.800 (nilai tukar 1RM = Rp3000). Mee goreng, Nasi Lemak (ini juga khas Malaysia), kare ayam, kambing dan lauk pauk lainnya sekitar RM 3.5 – RM 5. Minuman saya kurang memperhatikan karena biasanya membayar makan+minum..tapi ya lebih murah dari itu lah. Yang paling saya ingat sih, sebotol air mineral ukuran 1,5l harganya RM 2…kurang lebihlah dengan harga di Balikpapan.

Saya sangat suka kare kambingnya, rasanya lebih berbumbu, enak sih menurut saya. Ditempat ini menjual nasi goreng juga loh, rasanya ya mirip nasi goreng cuma ditambah potongan kecil-kecil cabe rawit. Sedang Mee gorengnya terlalu berbumbu, sehingga kami kurang menyukainya. Hampir setiap hari kami kesini, saking seringnya sampai semua orang disini sudah hapal dengan kami..hehe. Tapi semuanya baik loh. Selain makanan rasa India, di jalan Walter Grener ini juga terdapat sebuah kedai melayu. Yang dijual ya kurang lebih sama dengan makanan melayu tempat lain, apalagi andalannya kalau bukan nasi lemak, plus berbagai pilihan lauknya.

Rasa Jawa di Kuala Lumpur

Suatu saat, ketika sedang jalan-jalan pagi hari, 2 blok dibelakang bukit bintang (lupa lagi nama jalannya), kami tanpa sengaja bertemu banyak kedai-kedai (semacam pujasera). Yang paling menarik perhatian kami adalah menu yang ditawarkan di sebuah kedai, ada ayam/tempe penyet, sayur bening,dsb…pokoknya khas jawa lah.

Ternyata kedai ini memang milik orang Indonesia yang berasal dari Surabaya, pantesan makanannya khas jawa sekali..hehe. Pemilik dan para pelayan disini semua wanita dan berasal dari jawa loh sehingga begitu mengetahui kami berasal dari Indonesia, mereka senang sekali. Serasa dirumah eh negara sendiri deh jadinya. Harga yang ditawarkan juga variatif tapi standard harga kedai, ikan RM 2, ayam RM 3…ya kurang lebih sama dengan harga warteg lah. Jadi kalau kangen masakan negara asal, dan nyari yang hemat-hemat..ya disini tempatnya.

Chicken Rice di Foodcourt Suria KLCC

Setelah nemenin krucil mengexplore dunia science di Petrosains, kami sangat kelaparan. 3 jam tak terasa berlalu di Petrosains. Walau di ransel sudah diisi bekal yang dibeli di fresh market suria sebelum masuk ke Petrosains berupa roti, sushi dan milo telah dilahap, tapi rupanya perut masih minta jatah.

Kalau begini sih harus segera mencari makanan nih. Nah kebetulan ketika turun ke lantai 3 (kalau tidak salah), ada food court. Segera saja kami mencari makan disini. Tapi karena sudah lapar berat plus kecapekan ngider di Petrosains, kami hanya memesan makanan yang terdekat dengan tempat duduk kami. Ketika itu saya lihat, tidak jauh dari tempat duduk kami ada sebuah tempat yang ramai dengan pembeli. Karena penasaran mendekatlah kami, oh rupanya menjual chicken rice dengan harga yang lumayan terjangkau dompet nih. Langsung saja kami memesan chicken rice seharga RM 5.

Rasanya sedap, apalagi dimakan saat hangat dikala kelaparan melanda. Saat sedang menyantap lahap chicken rice itu mata saya menangkap sebuah tulisan ayam penyet dikejauhan. Ah kapan-kapan nyobain ayam penyet ala Suria KLCC deh.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: