Banjarmasin, Kalsel

21 11 2011


Coba tebak, Weekend kali ini kami kemana? Yak, salah…bukan kepantai seperti biasa, bukan pula gowes-gowes bertiga beranak muter Balikpapan pake sepeda seperti biasa jika si ayah pergi melaut (nelayan kali, melaut hehe).

Kali ini si ayah yang tumben-tumbenan tidak melaut, jumat sore sepulang kerja tiba-tiba bersabda…”ke banjar (Banjarmasin) yuk”. Dan karena kami bocah-bocah petualang yg suka sekali jika diajak berkelana, langsung mengangguk setuju. Gak minta loh, apalagi maksa, mumpung kepala suku lagi berbaik hati nawarin..hayooo berangkat!

Sebenarnya tujuan utama sih menghadiri akad nikah sepupu saya, tapi kalau sempat sih…sekalian berkelana ke tempat-tempat wisatanya. Itu kalo sempat, kalo gak sempat juga gapapa, kan sudah puas jalan-jalannya yg sekitar 550km dari Balikpapan. Bagi kami berkelana melihat hal-hal baru itu sangat menyenangkan.

Dan karena tanpa persiapan, maka dadakanlah semuanya. Masukkan ini itu, brek jejalkan dalam bagasi…beres. Siap berangkat, tinggal nunggu sholat magrib aja dan kepala suku selesai makan dulu. Benar-benar tanpa rencana. Awalnya rencana saya untuk hari sabtu hanyalah, ngantar si adek sekolah, gowes-gowes seperti biasa, dan leyeh-leyeh dirumah.

Kami bukanlah type orang yg suka merencanakan sesuatu. Asal ada sedikit waktu, kesempatan, sedikit bekal, kemana hati membawa kesanalah kami melangkah. Selalu dalam petualangan kami, begitulah yg terjadi, dadakan, tanpa rencana karena biasanya justru yg direncanakan gagal terealisasi.

Dulu, waktu ke derawan, sepulang kerja tiba-tiba si ayah berkata ada libur kejepit nih, bisa besok kita ke derawan, dan malamnya berangkatlah kami ke derawan. Waktu ke Bali, sepulang kerja dalam mobil tiba-tiba si ayah bilang, bunda coba lihat dalam tas ayah ada tiket ke Surabaya. Dan kemudian sampailah kami di Bali. Kemudian suatu hari saat di pantai, tiba-tiba si ayah berkata, besok ke loksado yuk, dan besoknya berbambo raftinglah kami di sungai amandit, loksado. Begitulah selalu yg terjadi, begitu juga kali ini. Dan kenapa seringnya si ayah ngajak berpetualang sepulangnya dari kerja? Itu karena saya tidak suka memasang kalender di rumah, jadi kami hanya tahu kapan ada libur Nasional hanya saat ayah pulang kerja. Dan libur-libur seperti inilah yg sering kami manfaatkan untuk berpetualang.

Dan here we are…jam 19.00 kami berada di kariangau, antri naik ferry. Seumur-umur baru kali ini kami ngantri ferry sepanjang itu, dan 80% nya truk barang. Ampun deh, ngantri sampe 3 jam. Mau muter balik, gak mungkin dong..masa belum apa-apa sudah menyerah? Jadi antrian ferry 3 jam ditabah-tabahin aja deh hehe. Dan ketika akhirnya dapat ferry, baru jam 12 malam kami bersandar di penajam. Artinya total urusan berferryan ini 5 jam. Hmmm…lumayan juga untuk memulai sebuah petualangan.

Sepanjang jalan, duo krucil tidur nyenyak sehingga kami bisa tenang melanjutkan perjalanan tanpa harus mencari penginapan untuk beristirahat karena mengejar waktu agar senin aktivitas bisa kembali normal. Jadi sepanjang perjalanan kami beberapa kali berhenti, memberi kesempatan ayah yg ngantuk tidur sebentar. Seru banget camping di dalam mobil, sempit-sempitan ditemani berbagai suara dari hutan.

Subuh, kami entah berada dimana, maklum akibat mata sepet kurang tidur. Sekitar jam 6an, perut mulai menagih minta diisi. Di daerah muara uya kami menemukan pasar. Lumayan juga berkelana dipasar, melihat aktivitas warga setempat dan buah-buah khas di perdagangkan sambil menikmati sate itik, sop panas dan segelas teh hangat. Efek makanan langsung berasa, badan jadi bertenaga lagi, mulai menghangat setelah kedinginan semalaman.

Dan jam 8 pagi kami akhirnya sampe Tanjung, kabupaten tabalong, kalsel. Di Tanjung kami mulai mengisi berbagai amunisi yg mulai kosong, dan mengosongkan amunisi yg mulai penuh hehe. Dari mengisi bensin, air, ngecharge HP, ke kamar kecil, cuci muka, bersua dengan saudara-saudara. Satu jam kemudian, lanjut…perjalanan berlanjut.

Jalan trans kalimantan kondisinya lumayan bikin pegel, pegel jantung, pegel hati dan pegel badan. Jalan di Kaltim rusak dan berlubang sana sini, lain halnya dengan jalan memasuki kalsel. Jalan terlihat lebih terpelihara, mulus, sehingga memungkinkan kendaraan dipacu dengan cepat.

Sedangkan bahan bakar, hampir disemua SPBU antri panjang. Kalau ada SPBU yg sepi, tandanya bahan bakar kosong sedang dalam perjalanan. Fuih…lumayan bikin jantungan juga untuk orang-orang yg mengejar waktu seperti kami. Kalau terpaksa, ya isi pakai eceran. Tapi selama antrian pertamax kosong, aman.

Dan..ini yang paling kami suka jika melakukan perjalanan di kalsel. Sepanjang jalan, depan rumah penduduk penuh pohon buah yg akan semarak bila musim buah. Pohon rambutan yg penuh dengan rambutan yg menggiurkan hampir memenuhi setiap pekarangan rumah penduduk. Beberapa membuka kios kecil untuk dijual, selebihnya pohon dibiarkan lebat berbuah tanpa ada yg menyentuhnya.

Belum lagi berbagai buah khas dan unik terlihat dijual dimana-mana, rambutan, durian,kasturi, cempedak dan berbagai buah yg kami juga tak tahu namanya. Uniknya, disini ada rambutan berkulit hijau yg rasanya manis banget. Katanya sih khas disini, namanya rambutan antangin. Dan didaerah parangin sepanjang jalan penduduk menjual kulit cimpedak yg dimasukkan dalam toples. Untuk apa kulit cimpedak? Kalo disini kulit cimpedak, atau orang sini menyebutnya ciwadak, dijadikan makanan. Rasanya? Asin, gurih, enak sih menurut saya. Unik kan? Dimana lagi orang jualan kulit cimpedak kalo bukan disini.

Hampir tiap daerah menjual makanan khas daerahnya. Kalo di barabai, banyak penjual sate itik. Di kandangan, hampir tiap rumah berjualan dodol kandangan Hj.Nurhayati atau ketupat kandangan. Di martapura, sepanjang jalan mengiklankan diri menjual bolu gulung Hj.Enong. Sungguh pemandangan yg menyenangkan🙂

Jam 12 siang, di daerah matraman, setelah kandangan, kami menemukan warung kecil di depan sebuah pasar. Makanannya? Nyam, yummy. Seporsi udang galah masak habang, seporsi itik panggang, dan seporsi ikan bakar menemani kami santap siang plus sayur khas banjar.

Memasuki martapura, kendaraan mulai padat. Memasuki banjarbaru, kendaraan padat merayap. Macet banget. Ampun deh, kalo sudah melihat yg beginian kami langsung mengucap syukur: ” alhamdulilah tinggal di Balikpapan”, semacet-macetnya masih bisa ditolerir lah.

Baru jam 4 sore, disambut hujan yg mengguyur kota seribu sungai, kami akhirnya tiba. Pegel? Iya. Capek? Iya. Dekil? Pasti. Senang? Ya pastinya. Cihuy sampe juga setelah 21 jam dijalan dan belum bertemu kasur hehe. Ketika jam menunjukkan angka 6, barulah kami sampe rumah setelah nyasar-nyasar dikit. Maklumlah…ciri khas kami kan, nyasar hehe. Dan wrap up, perjalanan menuju Banjarmasin pun berakhir di kasur empuk. Khusus para penderita insomnia, cobalah resep kami ini, bercapek-capeklah, insyaAllah begitu bertemu kasur insomnia pun menjauh, mata pun merem dengan sendirinya disertai bunyi ngrok..ngrok, dan mungkin ngeces dikit hahaha, selamat mencoba.


Actions

Information

5 responses

25 11 2011
Lomar Dasika

ihhhh seneng deh akhirnya gak ke pantai lagi. hahahaha. saya rasanya langsung bisa membayangkan nih begitu Jeung Henny bercerita tentang rute-rute, makanan tradisional dan buah-buahan unik tsb. hmm….saya agak penasaran sih sama kemping di tengah hutan. ada cerita seru ga tuh? hehehehe…udah kangen sama cerita uniknya Jeung Hen….

Banjarbaru emang rasanya macet beud deh. apalagi truk truk di kanan kiri sadis sadis. SOlar mudah tersedia nggak disana Jeung? ngeri juga yah sama SPBU…saya jadi inget sama truk truk yang ngebut dan nyalip, tapi dari sebelah kiri! bukan kanan! hahaha…serem banged.

25 11 2011
advanture

yup, yippie lumayan pemandangan lain selain pantai hehe. padahal pengen bgt deh seperti lomar bisa jalan-jalan setiap saat, apadaya…hiks🙂 kemping di hutan? aman…kan diriku emang gak punya sixth sense, yg sering ada cerita “ajaib” kan kalo jalan sama sohibku itu yg skrg entah ngilang kemana…hehe.kalo diriku yg ada sih ngantuks berats aja, mau tidur ngeri soalnya ngebut dijalan rusak & sempit agak bikin sport jantung hehehe.

sama aja solar dan bensin sama-sama tidak bersahabat pasokannya di kalsel. kalo di kaltim sih masih agak mendinganlah, paling yg harus ngantri solar. oh skrg sdh gak ada truk batu bara lagi, tapi truk barang sih masih buanyak (sami mawon yak) hehehe.

28 11 2011
Lomar Dasika

owww…cerita horornya itu kalau pas bareng si sohib aja toh yah. jangan2 lagi bersemedi tuh jeung…hihihi…cari wangsit :p

28 11 2011
advanture

emang mungkin lagi semedi tuh dia…hehehe🙂

5 07 2013
Ehen

Maaf yg bnyk jual itik panggang tu bukan barabai tapi AMUNTAI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: