Lebaran yg Mengesankan!

30 08 2011

Seperti tahun sebelumnya, dan sebelumnya lagi, dan sebelum-sebelumnya lagi (sdh 8th), kami berlebaran di rumah orang tua saya di Samarinda. Alasannya? Ntah mengapa, harga tiket melonjak tak terkendali jelang hari kemenangan umat Islam tersebut. Ditambah lagi, jadwal kerja suami saya jg susah untuk dikendalikan, sangat padat hehe.

Tapi tahun-tahun sebelumnya, tak ada kejadian yg berarti untuk diceritakan, tak ada yg spesial. Hanya ritual biasa seperti keluarga-keluarga lainnya; kumpul keluarga, sholat ied di mesjid dekat rumah, makan-makan, kunjung mengunjungi.

Tahun ini ritualnya sih masih sama, tp ada beberapa hal yg mengesankan buat saya. Pertama, tidak seperti lebaran-lebaran tahun sebelumnya, kali ini lebaran tidak sesuai dg tanggalan merah di kalender! Prediksi kalender meleset 1 hari, wow! Agak mengacaukan rencana-rencana bagi sebagian orang.

Walau saya sdh bisa menduga beberapa hari sebelumnya melihat berita-berita yg beredar di internet bahwa Hilal belum terlihat. Tapi ibu saya selalu percaya lebaran selasa, sehingga tepat menjelang malam yg di”kira” malam takbiran, ibu saya sudah kasak kusuk masak spagethi ukuran jumbo. Dan seperti bisa di duga, setelah nobar (nonton bareng) sidang itsbath di tv, bisa dipastikan sahur, berbuka sampe lebaran menunya spagethi hehe.

Pada akhirnya di hari Selasa yg kelabu, selain sebagian orang masih dibingungkan memilih berpuasa atau berlebaran, juga dikarenakan cuaca yg mendung kelabu persis menggambarkan hari ini. Jalan-jalan sepi, toko-toko tutup, sebagian memilih berlebaran hari ini, sebagian lagi rabu. Kalo bagi kami sih…alhamdulilah diberi satu hari tambahan untuk menggenapkan puasa, kesempatan menambah amalan, kami ikut apa kata sidang itsbath aja.

Yang kedua paling mengesankan adalah..duaarrr!!! Yak, seumur-umur, baru kali ini, dimalam takbiran tahun ini yg terdengar bukan suara takbiran dari arah mesjid seperti biasanya. Melainkan…duaaarrr, suara berbagai petasan, mercon, laduman, kembang api mancur, dsb dst. Berisik dan yg pasti sih, bikin kaget.

Saya sih tidak anti kembang api kecil yg bisa dipegang dan lumayan aman untuk anak-anak, juga karena tidak mengganggu orang lain. Dulu sesekali saya belikan untuk anak-anak sebelum si sulung saya yg pemikir kritis suatu hari mengatakan sesuatu pada saya. Tapi itu cerita lain, nanti akan saya ceritakan. Nah beda ceritanya jika menyangkut petasan, mercon, sebangsa setanah airnya. Selain berbahaya juga berisik, suaranya yg menggelegar cukup mengganggu pendengaran.

Dari dulu saya sudah sebal banget sama orang-orang yg suka mainan petasan, mercon, kembang api mancur, atau sebangsanya yg selain mengeluarkan suara berisik bikin kaget juga mengeluarkan api-api besar. Dulu waktu kuliah di Bdg sendirian, banyak anak-anak main petasan depan rumah saya yg letaknya emang dipojokan. Sudah berisik, bikin kaget, eh gak bisa dikasih tahu lagi. Itu sebabnya saya jd trauma dan antipati sama petasan, mercon, dsb. Sehingga barang-barang seperti itu haram ada dirumah, dan saya cuma bilang ke duo krucil, benda-benda seperti itu berbahaya, gak usah kita mainkan.

Suatu hari, ketika saya sedang sibuk memasak dan duo krucil sibuk makan di meja makan, tiba-tiba sulung saya berkata : “bunda, jangan beli petasan/ kembang api ya. Itu sama dg bakar uang, lebih baik uangnya di infaqkan atau untuk makan”. Terus terang saya cukup kaget dg pernyataannya, walau si sulung memang cukup sering mengagetkan kami dg pernyataan-pernyataan maupun pertanyaan-pertanyaan hasil pemikirannya yg sering melebihi usianya.

Saya pun langsung mengiyakan, benar itu, petasan kan berbahaya. Kita bisa luka. Sulung pun menimpali “iya bunda, kata ustadzah (panggilan guru di sekolahnya) kalo bakar uang nanti Allah marah, kalo marah bisa dikenakanNya kita, kita bisa luka”. Oohh rupanya dia dengar ustadzahnya saat menasehati seorang temannya yg sedang main petasan.

Memang benar kata ustadzahnya, tepat & mengena sekali nasehat beliau pada anak didiknya. Kalo kita mau hitung-hitungan diatas kertas, minimal 1 orang menghabiskan uang Rp 20.000,- untuk sekali main petasan. Jika ada 1/4 saja dari 200 juta penduduk Indonesia bermain petasan/ kembang api, coba bayangkan berapa uang yg tersia-siakan hanya untuk kesenangan sesaat membakar petasan / kembang api. Belum lagi jika dikalikan 30 hari selama bulan Ramadhan, berapa banyak uang yg sebenarnya bisa memberi makan cukup kaum dhuafa di Indonesia. Sehingga kita tak perlu lagi tiap tahun menyaksikan hal mengenaskan kala anak-anak, dan kaum jompo berdesak-desakkan, tergencet-gencet, terimpit-impit bahkan kehilangan nyawa hanya untuk berharap sedekah kaum kaya seharga sebuah petasan/ kembang api.

Seperti yg kami alami malam takbiran ini, sudah sakit telinga & kepala mendengar petasan bertubi-tubi berbalas-balasan, duo krucil juga jd ketakutan, eh ternyata pesta petasan / kembang api terselenggara berkat sponsor resmi seorang warga. Dan tahukah anda, dana yg dikeluarkan untuk se dus kembang api/ petasan? Rp 1.000.000,- (1 juta)..wow harga yg fantastis untuk dibuang/ dibakar.

Andai uang tersebut dikasih saya, saya bisa pesankan katering untuk makan-makan warga satu kelurahan hahaha. Atau bisa membelikan sarung & peci untuk sunatan massal satu kecamatan hahaha. Atau bisa juga untuk sewa 3-4 bis untuk wisata ke pantai hahaha. Atau belikan buku tulis untuk satu sekolahan untuk stok setahun hahaha. Atau bisa juga…(lain-lain, silahkan isi sendiri sesuai imajinasi anda), pokoknya hal-hal produktif lainnya daripada perang petasan/kembang api. So, bijaklah dengan uang anda guys. Memang itu uang yg anda hasilkan sendiri, suka-suka anda menggunakannya, tapi alangkah baiknya jika digunakan untuk yg bermanfaat bagi orang lain.

Yang ketiga mengesankan yaitu hujan & banjir di hari H lebaran, hari rabu. Sejak subuh, hujan mengguyur deras membasahi bumi yg beberapa bulan ini agak kering. Sejuk, adem, dan bikin ngantuk. Yang jelas sih menyebabkan sebagian umat tidak bisa sholat Ied karena kapasitas mesjid yg terbatas.

Dan yang terakhir, yg keempat paling mengesankan adalah…*drum roll on* baru kali ini kami bisa lebaran di rumah sendiri dihari kedua lebaran. Semenjak kami nikah sampe skrg (sdh 8th), kami selalu lebaran di rumah orang tua. Tidak pernah sekalipun merasakan lebaran di rumah sendiri. Biasanya sih (karena dulunya suami saya kerja diluar kota) selama krucil libur sekolah (biasanya 1mgg sebelum & 1mgg sesudah) kami selalu dirumah ortu saya. Tapi sejak awal tahun, suami saya memutuskan kerja dekat-dekat rumah aja, sehingga akhirnya bisa juga lebaran dirumah sendiri walau cuma di hari kedua dan cuma bertiga karena sulung saya masih dirumah kakek neneknya. Dan lebaran dikomplek yg mayoritasnya “imigran” alias pendatang sepi, hampir 90% penghuninya mudik ke tempat asal. Tapi tetap senang kok ngalamin something new.

Dan akhir kata, kami sekeluarga mengucapkan : “mohon maaf lahir batin atas segala khilaf, Selamat Idul Fitri”. Mohon dimaafkan jika tulisan-tulisan saya selama ini mungkin menyakiti hati lembut anda tanpa saya sengaja, walau sumpe deh tulisan saya selama ini netral tidak ditujukan pada siapapun, hanya tulisan iseng yg ada di pikiran saya saat menulis. Maafkan ya😀


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: