Renungan Ramadhan

4 08 2011

Beberapa hari lalu, saya dapat berita bahwa seorang teman SMA dulu telah berpulang, inalillahiwainailahirojiun…

Berita ini mengejutkan dan sekaligus kembali memberi kesadaran pada saya, umur rahasiaNya. Tidak seorangpun mampu meramalkannya apalagi menghindarinya. Cepat atau lambat, pasti akan tiba saatnya.

Saya tidak pernah memikirkan usia, bagi saya usia hanya masalah hitung-hitungan diatas kertas, penanda resmi boleh tidaknya melakukan hal-hal yg menurut ketentuan harus berusia minimal sekian dan sekian. Walau bagi saya pribadi, saya dan teman-teman seusia dan seangkatan masih muda, tapi sekali lagi muda tua, sakit sehat, bukanlah penanda kapan kita pada akhirnya kembali pada Sang Pecipta.

Semalam saya bermimpi ala film suspense / thriller saya dikejar oleh orang tak dikenal, kemanapun saya pergi, dimanapun saya bersembunyi selalu dapat ditemukannya. Seperti itulah maut, kemanapun kita pergi, dimanapun bersembunyi kita tak dapat menghindarinya, menunda apalagi membatalkannya. Itu sebuah kepastian.

Dan berita-berita sedih dan sesak seperti ini, terlebih dibulan yg ditunggu-tunggu seluruh umat Muslim seperti sekarang, mengingatkan saya pada bekal apa yg sudah saya siapkan? Baik untuk orang-orang yg akan ditinggalkan (terlebih untuk anak), maupun bagi diri saya sendiri. Apakah bekal tersebut sudah mencukupi? Bagaimana dan apa yg mungkin saya perbuat, ucapkan, rasakan bila waktu itu sudah datang? Siapkah saya? Siapkah anda? Sudah siapkah kita semua?

Tak henti-hentinya saya berpikir dalam sholat setelah mendengar berita tersebut, apa yg dirasakan mereka di bawah sana? Apakah mereka sesak nafas seperti yg saya rasakan bila berada diruang gelap & sempit. Apakah mereka sedih? Apakah mereka kesakitan atau bahkan bahagia? Ataukah rasa itu sudah tiada lagi? Apakah mereka memohon diberi kesempatan? Sedang apa mereka? Apa yg dirasakan? Apa yg dilihat? Apa yg dialamin? Sekali lagi pertanyaan itu bergema menakutkan, siapkah saya sewaktu-waktu tanpa tahu kapan, dimana dan sedang apa, dipanggil menghadapNya?

Dan saya adalah manusia biasa, yg kadar imannya kadang turun, kadang naik. Kadang ingat, kadang lupa. Kadang sadar, kadang alpa. Kadang taat, kadang khilaf. Kadang insyaf, kadang bebal. Mungkin itulah sebabnya manusia disunahkan rajin nyekar ke kuburan, agar selalu ingat setiap manusia cepat atau lambat, pasti akan kembali padaNya. Dan berita-berita seperti inilah yg mampu mengingatkan kembali bahwa semua yg kita kejar didunia ini (harta benda, jabatan, popularitas, gengsi), kesenangan-kesenangan duniawi adalah semu, pada akhirnya harus berakhir juga.

Mohon maaf lahir batin atas segala khilaf, selamat menunaikan Ibadah di bulan Ramadhan. Semoga amal kebaikan sekecil apapun yg kita perbuat mampu menolong kita semua bila tiba waktunya bagi kita kembali padaNya. Dan bagi seluruh keluarga yg mengalami kehilangan agar diberi kekuatan, ketabahan, dan keiklasan. Amin yarobalalamin.


Actions

Information

2 responses

8 08 2011
Lomar Dasika

Mohon maaf lahir bathin juga ya Jeung. Semoga Puasa kali ini lancar dan Di Syawal akan menjadi pribadi yang lebih baik bagi diri sendiri dan sekitar.

iya, itu semua hanya rahasia terbesar Tuhan. Hanya ia yang tahu. setuju banged deh sama Jeung henny. Manusia harus berbuat baik senantiasa. Biar di saat dipanggil, siap🙂

makasih renungannya yah jeung🙂

8 08 2011
advanture

Sama-sama mar, maaf lahir batin juga.

Ah…hanya tulisan asal-asalan, sebagai pengingat buat dirikyu kalo nanti lupa, alpa, khilaf, bahwa manusia pada akhirnya kembali padaNya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: