PANTAI AMBALAT – KUKAR

11 08 2010

Dear honey bunny yellow polka ku. Abang yang sdg gundul, adek yg banyak omong, ayah yg ikut-ikutan botak.

Sambil ditemanin kura-kura yg belum bunda kasih makan, bunda bercerita tentang petualangan kita hari ini.

Hari ini hari pertama puasa loh bang, hari rabu tgl 11 agustus. Tadi malam kan abang ikutan taraweh ama ayah di mesjid dekat danau. Puasa biasanya terasa banget lapar dan hausnya di hari pertama. Karena itu kita ngabuburit…hehehe, kita ngabuburit (menghabiskan waktu agar puasa gak kerasa) sejak pagi-pagi. Ya karena ayah besok sudah harus balik gawe, dan abang libur awal puasa dua hari, jadi kita gak ada kegiatan. Kita bisa jalan-jalan, ngabuburit, adventure, berlibur.

Pagi-pagi, kita yg sudah kehabisan ide hendak kemana lagi jalan-jalan diseputaran kota kita, akhirnya memutuskan ke Teritip. Itu loh bang , tempat penangkaran buaya yg ada gajahnya juga. Letaknya ya di teritip, di dekat pantai lamaru, lebih jauh sedikit dari pantai manggar. Mungkin karena masih pagi, mungkin juga karena bukan akhir pekan, kita masuk tanpa harus membayar tiket masuk. Terus kita liat gajah yg sedang heboh bersuara, entah karena lapar, atau haus, atau memanggil induknya. Setelah itu kita liat buaya. Hiiiyyy…buayanya ada yg gede, ada juga yang masih kecil ya bang. Tapi kita terpesona sama buaya-buaya muara yg besar-besar, berkulit kasar. Buayanya sedang berjemur, beberapa diam sediam kayu. Bahkan abang bilang itu buaya atau kayu sih? Atau jangan-jangan patung? Hehehe. Buaya kalo sdg diam emang mirip kayu atau patung ya bang. Itu sebabnya banyak orang yg diserang buaya, mungkin karena mengira kayu, mereka jadi lengah dan menjadi santapan buaya.

Di teritip ada juga monyetnya yah bang. Ada uwa-uwa juga. Uwa-uwa selalu mengingatkan bunda pada Joe , uwa-uwa kesayangan bunda waktu kecil dulu. Muka mereka sama aja semua,susah dibedakan satu dgn lainnya, kelakuannya juga sama. Kenapa monyet bunda? Abang pernah nanya kan? Monyet bunda si Joe itu, kai serahkan ke dinas kehutanan untuk dikemabalikan ke habitat awalnya. Dulu sekali, kai yg sering pergi ke hutan untuk memancing, menemukan Joe yg masih kecil di rumah penduduk. Joe kemudian dijual kepada kai. Walaupun kami semua menyanyanginya, tapi Joe emang seharusnya dikembalikan ke hutan.

Setelah puas melihat-lihat buaya, monyet dan gajah di teritip, ternyata masih terlalu pagi untuk pulang ya bang. Wah masa ngabuburit sudah harus berakhir secepat itu. Berhubung kita melalui jalur di pesisir pantai, bunda teringat pada sebuah note seorang teman baru sesama blogger. Berawal dari note-note yg sering bunda baca tersebut, jadilah bunda terinspirasi untuk menjelajahi sebuah pantai baru yg pernah disebutkan dalam note. Nama pantai tersebut Pantai Ambalat.

Sebenarnya bunda juga gak tahu persis dimana letaknya. Tapi bunda kan suka sok yakin dan sok iye bang, yang bunda ingat cuman petunjuk bahwa pantai tersebut terletak sebelum pemancingan, dan di daerah yg ada tulisannya selamat datang di Kabupaten kutai kartanegara, samboja atau semacam itulah. Hmmm..akhirnya kita jalan pelan-pelan dari teritip, dengan mata jelalatan memandang kesebelah kanan. Bunda tahu ada pemancingan sih, karena kita sering lewat sini kalo mau ke Pantai Tanjung Harapan, pantai kesukaan abang yg banyak pohon dan kerang itu loh, yg juga terletak di samboja. Tapi letaknya persis bunda juga buta.

Akhirnya kita melalui pemancingan widuri, dan tulisan selamat datang di kukar. Tapi tidak ada satupun petunjuk atau tulisan pantai ambalat. Dimana bunda? Kalian mendesak terus. Lewat situ mungkin, abang selalu ngasih petunjuk-petunjuk. Bunda juga gak tahu saying…tapi kayaknya kelewat deh. Coba kita putar balik, kita susuri lagi jalan, mungkin jalan yg disemen sebelah kanan itu. Oke deh, sudah lama juga kita tidak menyasarkan diri, kita masuk aja sekalian jalan-jalan ini. Jalan semen itu pun kita susuri, ikutin terussssss….wah mencurigakan nih, jangan-jangan memang nyasar benaran, soalnya sekian lama mengikuti jalan tersebut tidak ada tanda-tanda ada pantai. Tapi berdasarkan intuisi para petualang sih, kayaknya sudah benar nih ya bang, arahnya menuju laut. Makin kedalam makin banyak pohon kelapa, tapi tidak tampak sedikit pun tanda-tanda pantai itu. Gak apa-apa kata ayah, namanya juga jalan-jalan, kan sudah lama juga kita gak nyasar.

Dan kita pun terkesima dengan pohon-pohon buah-buahan yg  ditanam penduduk. Ada lai, jeruk, jeruk bali, banyak pisang, kelapa, dan buah-buah aneh berwarna kuning. Saat kita mulai membahas untuk membeli buah-buah tersebut langsung dari pohonnya, apalagi kelapa muda buat buka ntar, tiba-tiba disebelah kanan kita ada sebuah gerbang bertuliskan tempat wisata pantai ambalat. Yippieeeee…akhirnya ketemu juga, gak sia-sia dong. Dan akhirnya kita menemukan pantai yang sepi, kosong, melompong. Pantainya bersih kata ayah yg alergi ama pantai kotor. Ya eyalah bersih, gak (belum) kotor, kan sepi…pasti jarang-jarang nih ada pengunjungnya makanya masih minim sampah.

Ada banyak kumang kecil-kecil, ada kerang juga, walau tidak sebanyak dan bertumpuk-tumpuk seperti di tanjung harapan (maniak tanjung harapan *mode on*). Pantainya sendiri mengingatkan bunda pada sebuah pantai, yg kemudian bunda baru ingat…mirip pantai nipah-nipah di PPU (Panajam Paser Utara), walau lebih bersih. Kita pun langsung berburu kerang, gak susah ya bang cari dollar laut disini. Ada banyak dollar laut, walau lebih rapuh daripada di tanjung harapan,dan walau banyak kerang tapi minim kerang besar, lebih banyak kerang yg kecil-kecil sekali.

Kemudian kita pun menyusuri pantai, abang, adek dan bunda langsung berburu dollar dan lari-larian kejar-kejaran dipantai yg pasirnya padat. Sementara ayah ngobrol-ngobrol dengan penduduk setempat, berdasarkan keterangan yg berhasil dihimpun ayah, katanya sih punya 1 wc umum disini, pendapatan dikala liburan, bisa mencapai 6 jt perhari. Wuih, berarti sebenarnya dikala liburan, pantai ini tidak sesepi penampakannya di hari biasa.

Puas bermain air, pasir dan kerang, kita pun pulang. Tapi kata abang, masa sih pulang, kekanan tuh belum. Oke deh, kita lanjutkan acara menyasarkan diri ini. Abang dan adek masih pengen jalan-jalan ya nak. Didaerah tersebut kita menemukan pohon yg dari kejauhan mirip durian yg sedang berbuah. Wahhh, durian? *bling..bling –mata berbinar cerah layaknya di komik-komik mangga-*…ayo kita serbu nih pohon. Siapa nih pemiliknya?dan begitu menemukan pemiliknya, bunda pun nanya-nanya. Kurang lebih gini bang percakapan bunda;

Bunda ; Bu, mau nanya…itu pohon durian?

Ibu dan bapak pemilik kebun ; Bukan…itu buah lai (sejenis durian tapi berwarna kuning), itu tuh baru dipetik sembari menunjuk tumpukan lai depan rumahnya…-yah, kita pengennya durian ya bang-.

Bunda ; oooohhh. Terus kalau sirsaknya bu? Dijual? Berapa harganya?

Bapak; Yg besar 5 rb, yg kecil 3 rb…

Bunda ; (Dalam hati cihuyy)…beli..beli. terus itu buah apaan pak? Yg kuning-kuning itu? Menujuk buah kecil-kecil berbentuk bulat warna kuning yg menggiurkan di pohon.

Bapak ; itu buah kapi, kalo di banjar bilangnya kapi…belum pernah makankah?

Bunda ; belum, kaya apa isinya

Ibu ; bentar saya ambilkan, sambil mengambil galah buat memotong buah langsung dari pohon…

Wuihhh si ibu baik hati banget, bunda dikasih gratis bang buah kapi…sebenarnya mau dikasih banyak, tapi gak enak dong bunda minta banyak-banyak, jadi cukup 3 aja sebagai contoh diliatkan pada abang dan adek. Isinya mirip manggis bang, katanya sih manis, tapi bunda kan gak bisa ngerasain karena sedang puasa. Sedang abang dan adek kan malas banget nyoba-nyoba makanan kalo ayah bunda gak makan. Tapi kita cukup senang kan anak-anak, ngeliat banyak pohon buah gitu. Selanjutnya kita menyasar-nyasarkan diri di gang-gang sempitnya. Dan menemukan sebuah rumah yg mengumpulkan kelapa mudanya dihalaman. Cepat yah, coba tanya berapaan tuh. Borong aja, buat buka sambil membayangkan es kelapa muda…slurrrpp…yummy. Eh saat kita mutar arah kearah rumah yg terlewati tersebut, ternyata sudah datang pick up, yg kayaknya pengepul, yg isi bak belakangnya kelapa muda mulu. Hiks…kita kalah cepat ya bang, gagal deh beli kelapa muda fresh from the tree.

Gak apa, yg penting hari ini kita semua senang kan sayang? Abang bilang, abang suka pantainya…bagus,sepi. Abang kan emang suka ama pantai yg sepi. Adek sih keliatan banget hepinya, baju adek basah dan berlumpur pasir, dari ujung kaki dan rambut, adek kotor oleh pasir. Adek senang banget ya sayang? Walau adek belum bisa cerita ke ayah bunda gimana perasaan adek, tapi ayah bunda tahu adek senang banget. Ayah senyum-senyum, pastinya bahagia banget ngeliat abang dan adek lari-larian, ketawa-ketawa dan perang lumpur. Bunda senang, karena bunda emang senang jalan-jalan bersama kalian. Di hari pertama di bulan yg suci ini, bersama keluarga tercinta bersenang-senang  kita ngabuburit bareng. Besok abang puasa lagi ya sayang, gak apa-apa cuman sampe jam 9.45 seperti hari ini, kan sedang belajar.

Love u all honey


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: