SUNGAI WAIN

30 05 2010

Minggu pagi. Seperti yang sudah-sudah, tiap pagi selalu mengawali hari dengan masalah yang sama…mau sarapan apa pagi ini, apa makan diluar atau masak? Kalo makan diluar, dimana…kalo masak, mau masak apa, dsb. Bila masalah ini sudah terselesaikan, muncul masalah kedua…akan kemana kita hari ini? (dengan catetan abang libur sekolah en ayah off, krn bila ayah sdg on duty…mau libur sekolahpun tetap akan dihabiskan dirumah).

Setelah sarapan, tetap masih belum ada keputusan akan kemana hari ini. Saran ayah : Ke mall, beli stok susu buat dua balita bolang. Saran abang : off road ke pohon tinggi seperti difoto adek (bukit bangkirai maksudnya), Saran bunda : berpetualang (ke pantai boleh juga)…saran adek : idem ditto ama suara terbanyak…hehehe. Karena belum ada tujuan jelas dan pasti, awalnya mobil mengarah ke pusat kota. Ketika hampir sampe di mall, akhirnya suara terkumpul secara bulat…kita hari ini ke bukit bangkirai (yah gak bulat-bulat amat sih, daripada dengar tangisan…jadi dibulat-bulatin aja). Oke…kita putar arah ya…yuks mare..

Setelah mengisi BBM full, langit yang cerah ceria mendadak berubah menjadi mendung dan agak-agak rintik. Abang langsung berubah pikiran secepat cuaca yang berubah, gak jadi deh…kita pulang aja. Loooh kookk?? Hihihi, rupanya si sulung takut kehujanan dihutan. Tapi si ayah menguatkan hati abang, kan di mobil…tidak perlu takut hujan. Kalo terus hujan, ya sudah…di mobil aja, kita off road aja. Dan hujan yang kemudian turun dengan derasnya serta kekhawatiran akan jemuran dirumah, tidak menyurutkan niat kami untuk terus maju pantang mundur, ayo nih…hutan dan jalan off road menanti, besok kan ayah sudah gawe lagi.

Ditengah jalan, sebelum sampe di bukit bangkirai…tiba-tiba mata saya tertumbuk pada plang yang lumayan besar –namun baru kali ini terlihat oleh saya, entah karena emang baru dipasang…atau sayanya aja yang emang gak perhatian- bertuliskan Sungai Wein. Setelah agak terlewati, saya mengajak suami dan anak-anak ke sana. Ada apa disana bunda? Tanya abang. Ada beruang madu…ada juga orang utan (menurut iklannya sih eh plangnya).

Sebenarnya long long time ago…jaman dahulu kala, saat kami baru baru saja terdampar di Balikpapan (kurang lebih 2,5 th yang lalu), kami pernah juga kesini. Namun saat itu seingat saya belum ada plang namanya, bahkan untuk sampai kesini kami harus muter-muter bertanya dulu pada semua orang yang diperkirakan kira-kira tahu tempat yang namanya sungai wein –yang dari info yang didapat katanya ada beruang madunya-. Ketika itu bahkan kami belum tahu ada tempat bernama agrowisata km 23, yang emang khusus spesialisasi dibidang penampakan eh konservasi beruang madu.

Cuman saya lupa, kenapa ketika itu kami tidak bisa masuk kekawasan hutan lindung sungai wein. Dan ingatan saya langsung kembali muncul ketika kami akhirnya memutuskan ke Bangkirai ditunda dulu, coba ke sungai wein aja. Setelah memasuki jalan yang lumayan, dan semakin lama semakin sempit dan semakin terlihat hutannya, sampailah kami ke kawasan konservasi sungai wein dan berhenti tepat di depan sebuah tempat yang bertuliskan pusat informasi sungai wein.  Di tempat yang lumayan luas tersebut, kami menemukan hanya seorang terlihat tertidur di dekat tv –yang setelah usaha keras saya untuk membangunkan tampaknya tidak membuahkan hasil-. Dari pintu gerbang jalan masuk hutan lindung, jelas-jelas terlihat plang besar bertuliskan agar pengunjung meminta ijin dan diharuskan ditemani seorang penjaga. Walah…gimana iki, mau minta ijin ama siapa? Haruskah kami minta ijin pada bebek yang banyak bergerombol dibawah rumah berbentuk panggung tersebut?

Disebelah rumah panggung yang katanya pusat informasi tersebut, kami melihat beberapa orang laki-laki. Kami pun memutuskan bertanya pada mereka. Kata mereka, kami harus meminta ijin di km 23, tempat agrowisata yang ada beruang madunya itu loh. Selain itu harus ditemani sama penjaga hutan, karena hutan tersebut benar-benar hutan gitu loh. Hutan liar, dan binatang-binatang didalamnya juga masih liar – termasuk beruang madunya-. Jadi bila tidak ingin tersesat atau terluka oleh binatang-binatang liar tersebut, ya begitu itu prosedurnya…rumit, ribet. Kalo mau liat beruang madu sih, ke km 23 aja mas…lebih gampang, enak lagi gak banyak nyamuk seperti disini…begitu terang mereka.

Hmmm…dan ingatan saya pun kembali. Oalah, itu rupanya dulu kami tidak masuk kedalamnya…cuman liat dari luar doang dengan hati agak gantung, karena petualangannya ngatung…hehehe. Yo wes lah kalo begitu, kita pulang aja. Sebelumnya foto-foto dulu dong –teteup bahan blog penting hehe-. Sementara tangis abang sudah meledak, mau liat beruang madu…pokoknya harus, cari jalan masuknya yah –keukeuh, padahal sehari sebelumnya sudah puas liat beruang madu di km23-. Mungkin kasian meliat tangis anak balita ini pecah, kemudian kami disarankan ke kebun raya Balikpapan yang memang masih dalam areal yang sama. Katanya sih masuk lewat sana aja, disana bebas masuk kok gak ada penjaganya. (laa, disini juga gak ada penjaganya…bebas juga sih sebenarnya kalo keingat cerita ayah, bahwa baru-baru ini di Koran setempat ada berita orang asing yang tersesat selama beberapa minggu di sungai wein…-kalo harus disuruh survive sendiri dihutan perawan nan liar akibat tersesat, ngeri juga, mending nurut deh-..)

Oke bang, kita cari jalan lain. Kita lewat kebun raya Balikpapan, yang katanya sih bebas masuk. Sesampai di kebun raya yang dimaksud -masuk dengan kondisi jalan yang bergerinjul, suasana sepi-, sama sekali tidak seperti bayangan akan kebun raya. Tiba-tiba jalan terputus..diujung terlihat bangunan yang cukup besar, namun disekelilingnya hutan, no way out or in…tidak ada jalan sama sekali. Hanya terlihat agak dikejauhan, jalan setapak menuju hutan. Saya dan anak-anak pun memutuskan tidak mengikuti tantangan si ayah untuk jalan menembus hutan tersebut. Sebagai petualang cemen, saya takut..kayaknya serem, kalo ada ular gimana…hiiiyyy…atau dicakar beruang madu. Kalo ada penjaga atau orang disekitar sih enak, setidaknya ada yang nolongin kalo kenapa-kenapa…laaa ini sepi banget, hanya kami berempat eh berlima ditambah bu’ung –si mobil setia-. Kita balik arah aja yuks…pulang eh cari jalan off road lain deh menuju hutan, bunda liat ada jalan inhutani tapi gak tahu tuh boleh masuk or gak. Yuks kita ke sana…(bersambung)


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: