KARIANGAU

29 05 2010

Jumat siang. Sedari pagi kami sibuk dengan berbagai urusan, ya cuci mobil ( yg memakan waktu 3 jam krn tukang cucinya sekalian mandi en maen air –siapa lagi tukang cuci mobil yg sekalian mandi en maen air kl bukan dua bolang/bocah petualang- ), ya cuci baju ( krn laundry andalan tdk memenuhi janji 4 hr selesai sdg stok baju kian menipis ), ya pesan ini itu material *teteup urusan renov rumah*, dan seterusnya, dan sebagainya, dan kawan-kawan sebangsanya.

Flashback :

Situasi, malam menjelang tidur

Kondisi, tidur berimpit-impitan dengan posisi adek diujung mepet tembok, bunda, abang, en ayah diujung tempat tidur…lampu sudah redup.

Waktu, kamis malam

Percakapan ; ayah : besok kita mau ke mana nih? Abang : Jalan-jalan aja yah, tapi gak boleh berhenti dimana-mana, gak ada yang boleh keluar mobil…jalan-jalan terus.

Bunda ikutan nimbrung : tujuannya kemana bang? Abang : tujuan itu apa? Bunda : tujuan = tempat yg mau didatangin. Abang : tdk ada tujuan, jalan-jalan aja…Bunda : ke bukit bangkirai ? (catetan kaki : begitu pulang berlibur dr jkt-bdg, dan melihat foto-foto adeknya sdg naik canopy bridge, langsung tidak mau kalah…pengen kesana juga) Abang : iya…abang pengen kesana. Ayah : wadow…ayah pegel banget *sambil membayangkan akan memikul beban tambahan krn biasanya si abang ikutan minta gendong juga*…jd kesimpulannya kemana nih? Ya jalan-jalan aja…adek : aaaa…howei (artinya; horeeyyy…)

Kembali ke Jumat siang. Setelah selesai segala urusan tetek bengek, semua kru masuk mobil. Seperti kata abang, saatnya liburan…berlibur, mumpung abang libur sekolah dek. Tanpa tujuan jelas dan pasti, dan dikarenakan semua anggota kru haus petualangan dan kurang kerjaan…akhirnya berjalanlah mobil kearah Kariangau. Kariangau ini tujuan mobil-mobil yang hendak menyeberang ke PPU (Panajam Pasir Utara) dengan tujuan utama biasanya ke Kalsel. Asiiikkk horey…mau ke Loksado lagi yah?

Ayah cuman tersenyum-senyum…nyeberang kita? Hmmm…coba kita pertimbangkan lagi : (1) besok, sabtu pagi…abang ada kegiatan disekolahnya yg sudah diwanti-wanti gurunya supaya hadir  (2) untuk sampai ke Loksado atau Banjarmasin ibukota kalsel, paling tidak memakan waktu 5 hari pp sedangkan ayah senin sudah on lagi (3) rumah gimana? Kalo tukang perlu material atau petunjuk tambahan pegimana tuuh? (4) karena tanpa ada arah tujuan jelas saat berangkat dari rumah, tidak ada perbekalan memadai; yg jelas susu anak tidak membawa cukup, diapers, baju ganti, dsb dst dkknya.

Walau kami petualang tanpa arah tujuan, tapi jangan sampe tanpa perhitungan duong, coz menyangkut hajat hidup anak-anak balita anggota kru nih. Dan rasanya tidak sreg kalo memutar arah, kok kayaknya seperti kalah sebelum berperang…hehe. Dan jadilah jalan tetap disusuri, tanpa tahu kemana akhir perjalanan, dimana jalan akan berujung. Dan eng ing eng…ternyata jalan tiba-tiba menyempit, dan dari jalan aspal berubah menjadi jalan semen yang menurun curam –bikin serem-bikin bergidik dan oauw…oauw…-atuuttt-. Dari ketinggian sempat tertangkap ujung mata ada sebuah jembatan yang panjang menuju lautan yang disebelah kirinya banyak pohon bakau, dan sebelah kanan lautan yang sedang surut. Ok…oke…okelah kalo beg…beg…begitu…daripada jantung saya copot harus menaiki tebing curam menggunakan mobil –walau si buung emg mobil segala kondisi-, lebih baik kita jalan kaki saja turun ke bawah.

Jalan kaki menuruni jalan curam gak masalah, enak malah….ada daya luncur membuat kita turun dengan cepat seperti roket tanpa perlu mengeluarkan tenaga yang berarti. Sayangnya tidak terpikir oleh saya, gimana ntar naiknya…yg penting saat itu aman, jantung saya berdegup dengan normal tanpa harus perlu direpotkan oleh degupan-degupan yg tidak perlu krn berada dalam mobil dengan kondisi jalan yg ekstrim. Karena abang sangat amat ngebet pengen liat jembatan, mau tidak mau ditengah hari bolong, di terik matahari, kami menyusuri jembatan yg lumayan panjang hingga tidak terlihat ujungnya. Dan janji abang, begitu dijung jembatan…kita baru pulang. Awalnya kami mengira jembatan ini menghubungkan dua desa, kelurahan, RW, RT or semacam itulah. Tapi setelah disusuri, ternyata ujung jembatan ini terputus…dan diujungnya ada beberapa perahu yg tampaknya perahu nelayan.

Secara keseluruhan menarik, sangat menarik bagi kami bila cuaca lebih bersahabat, bahkan dikala terik matahari seperti itupun bagi kami tetap menarik. Sepanjang jembatan disebelah kiri banyak sekali pohon bakau (mungkin hutan bakau), yang kala itu sesekali terdengar bunyi berkeretak dan suara serangga, burung bahkan kayaknya ada suara monyet juga *kalo yg ditulis belakangan saya kurang yakin, mungkin halusinasi saya aja yg kalo bertemu hutan suka mendramatisir*. Sedangkan dari sebelah kanan terlihat lautan yang dangkal karena siang ( menurut statistic saya, siang laut surut ), nun agak jauh disana terlihat kapal ferry hilir mudik. Jembatannya sendiri terbuat dari kayu ulin, yang mengingatkan saya pada kampung nelayan di Bontang Kuala ( jd kangen bontang nih…hiks..hiks), bedanya jembatan ini murni jembatan…tidak ada perumahan diatasnya.

Diujung jembatan, kami yang agak kecewa mendapati hasil akhirnya, langsung duduk-duduk melapas penat, sambil melihat daratan diujung sana -yg keliatan dekat, tapi tidak dekat-, yang terlihat banyak sekali kapal-kapal…hmmm tampaknya galangan kapal. Dan langsung berpraduga, jembatan ini memang sengaja tidak disambung keujung sana agar kapal-kapal bisa berlalu lalang. Sambil duduk kami melihat gerombolan ikan-ikan kecil yang lumayan menghibur dua balita anggota tim ekspedisi –mencari tempat berpetualang lain di Balikpapan-. Panas yang kian terik ditambah botol-botol minuman yang tersedia di mobil tidak terpikirkan dibawa turun, ditambah lupa membawa topi, memaksa dua bocah tua kepala ekspedisi memutuskan menyudahi ekspedisi kali ini. Disertai berbagai janji akan kembali kesini saat matahari tidak terlalu panas, alias sore hari sambil membawa alat pancing karena tampaknya disini lumayan banyak ikannya. Dan abang pun menangis kencang, tidak rela ekspedisi berakhir karena dia masih betah disana melihat ikan, perahu nelayan, kapal ferry, hutan bakau, kepiting, dan angin laut yg bertiup lumayan kencang.

Naik kembali ke tempat mobil terparkir membuat saya langsung  agak menyesal…kenapa tadi menolak mentah-mentah saran suami saya agar turun menggunakan mobil. Mendaki jalan curam bikin napas ngos-ngosan, keringat mengalir deras dari semua pori, kaki gempor dan sedikit gemetar karena sudah lama pensiun jadi mahasiswa yg doyan jalan kaki kemana-mana. Walau tidak jadi berpetualang ke kalsel lagi, setidaknya semua kru tetap berbahagia karena menemukan tempat rahasia –yang tentunya bukan rahasia lagi bila masuk blog- untuk kapan-kapan di jelajahi lagi sambil membayangkan memancing ikan.


Actions

Information

2 responses

5 06 2010
Lomar Dasika

hihihi…Bu, judulnya salah donk. Bukan Kariangau, karena jeung Hen sekeluarga nggak jalan ke Kariangau, malah ke jembatan yang penuh dengan pohon bakau ini. Btw, asyik yach Alessandra dan Alvaro, mama papanya seneng ngajak jalan2…hehehe

5 06 2010
advanture

Hmmm kayaknya sdh bener deh, karena Nama daerahnya kan emg kariangau ( catetan : kariangau adalah Nama sebuah kelurahan or kecamatan gitu deh, jd bukan Nama tempat penyeberangan ferry. Tp umumnya kl org nyebut kariangau merujuk pd tmp penyeberangan ferry).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: