Camping di Pantai Lamaru

28 12 2009

Suami saya yang tercinta itu sdg off…cihuy…yipiiiieeee…hip..hip horey, pokoknya semua jenis pekik gembira terdengar. Saatnya petualangan lagi dong, saatnya jalan-jalan menghabiskan waktu bersama keluarga lagi tentunya. Tapi sayangnya, baru akan merencanakan liburan ke kalteng, ke Niagara Falls…eh, mobilku yang tercinta ngadat. Selain itu kakek nenek berangkat ke Jakarta menghadiri pernikahan saudara, dan tentunya anak-anak gak bisa dititip dong. Tadinya rencananya anak-anak dititip dulu ama ortu…emak babe mo berpetualang ala backpacker lagi, naik bis…tp setelah ditimbang-timbang, ribet banget yak naik bis, lebih baik bawa mobil sendiri…tp ya seperti yang sdh disebutkan sebelumnya, si Bu’ung ngadat.

Dan setelah seminggu dirawat dibengkel, dan ternyata bengkelnya terlalu sibuk sehingga walopun Bu’ung sdh dikembalikan lagi, kondisinya masih belum fit. Eh gak berapa lama, suami saya dapat telp, disuruh ke Jakarta…oh yesss, oh nooo…disisi lain saya senang…asiikkk bisa ikutan ke Jakarta, Jakarta-Bandung wait for us…yippieee. Sudah 3 tahun saya tidak menginjakkan kaki di Jakarta dan Bandung. Bandung kota kenangan, tempat saya menimba ilmu selama 9 tahun, tempat berpetualang bersama sohib saya yg sekarang keberadaannya entah dimana, tempat saya ketemu jodoh (suami) saya. Namun disisi lain, setelah saya semedi…ternyata dipikir-pikir liburan akhir tahun gak menguntungkan. Ada beberapa alasan ; (1) tiket mahal…kalopun dpt tiket murah… (2) crowded…gimana mo liburan menjelajah jika macet dimana-mana… (3) liburan cuman bisa sebentar, karena beberapa hari kemudian suami saya harus kembali bekerja…mana asik liburan cuman habis waktu dijalan….(4) waktu mepet, suami dapat kabar baru beberapa hari lalu, belum persiapan apa-apa…

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya liburan ke Jakarta-Bandung batal. Dan yang menyedihkan berpetualang ke kalteng pun gagal…hiks…hiks…off kali ini sedih banget sih. Liburan emang lebih bagus kalo gak direncanakan, kalo direncanakan seringkali gagal. Dan untuk mengobati hati saya yang luka…(hehehe), suami saya berbaik hati mengantar saya dan anak-anak camping. Ya gak jauh-jauh, karena kondisi si Bu’ung yang belum fit, selain itu esok suami saya harus berangkat. Dan karena liburan bulan lalu sudah camping di pantai Manggar, jadi pilihan jatuh pada camping di pantai Lamaru.

Pantai Lamaru masih terletak dijalan Mulawarman seperti halnya pantai Manggar, namun bedanya, Lamaru letaknya lebih jauh beberapa kilometer dari pantai Manggar. Mungkin hal inilah yang menyebabkan kondisi kedua pantai ini jauh berbeda. Bila akses jalan menuju pantai Manggar sdh di aspal, serta ada pungutan masuk, berbeda dengan pantai Lamaru, jalan masuk cenderung off road…alias jalan tanah keriting dan berlumpur. Belum lagi sampah yang bertebaran dimana-mana, walaupun tempat-tempat sampah tersebar di seantero pantai, herannya saya, sampah kok masih bertebaran dimana-mana…kayak bintang dilangit aja…hehehe. Pantai Manggar lebih tertata dan bersih terawatt, ketika dulu saya datang ke Manggar, sedang ada mobil yang membersihkan pasir-pasir dipantai…persis seperti yang saya liat di Kuta-Bali. Kebalikannya adalah pantai Lamaru, hampir seantero pasir kotor oleh sampah. Gemes juga litany, padahal apa susahnya naruh sampah ditempat-tempat sampah yang tersedia.

Kembali ke cerita, Setelah menjemput anak pertama kami pulang sekolah, kami langsung mengarahkan kendaraan ke pantai Lamaru. Cuaca agak kurang mendukung, sedari pagi sampai menjelang siang ketika kami menjemput anak kami…langit masih mendung-mendung lesu. Bikin ngantuk…tapi demi petualangan, lanjutkan!!! Sesampai di Lamaru, segera tenda diotak atik oleh suami dan anak-anak saya, sementara saya…ya sibuk foto-foto…hehehe. Dan tenda ready…waktunya makan siang. Setelah makan dengan nikmat dialam terbuka seperti itu, saya jadi ngantuk…apalagi angin sepoi-sepoi, cuaca juga mendukung…mendung gak,panas gak, pokoknya asik banget tiduran ditenda sambil mendengar deburan ombak dan melihat serunya permainan bola anak-anak dan sang ayah.

Tiba-tiba, ditengah permainan bola, abang berteriak : “ayah…sakit perut..hah??? “whats…hayu cari toilet. Dan setelah saya terkantuk-kantuk menunggu lama didalam tenda dengan si adek, abang berlari-lari datang ke tenda sambil teriak-teriak “kata ayah pulang”. Whats? Pulang? Belum juga tidur…ternyata itu keinginan si abang, yang gak terbiasa tidur tenda…hobinya aja diriin tenda, tidur dalam tenda belum pernah. Belum lagi ternyata dia tidak mau mengeluarkan hajatnya disembarangan toilet (toilet kotor,reds). Dan akhir cerita, tenda dibongkar disertai dumelan bunda…belum juga sempat ngerasain tidur di tenda sdh pulang. Dan demikianlah petualangan camping kali ini, lagi-lagi gagal camping dalam arti sebenarnya. See you on next adventure…


Actions

Information

3 responses

30 12 2009
Lomar Dasika

hiks…sayang banged ke Kaltengnya gak jadi Jeung….Niagara Falls itu ada di kabupaten mana? bisa dicapai berapa lama kalau naik bus?
anyway, yah, begitulah potret kelam pariwisata di Indonesia. pengelolaannya sebaiknya memang harus dikelola swasta. kalau dibiarin masuk tanpa ada pungutan, dijamin kotor. contoh lain selain Lamaru, mungkin Pantai Taman Ria di Kupang. setelah Taman Ria bangkrut, orang bisa akses ke pantai dengan mudahnya. alhasil, itu pantai kotor sekotor-kotornya….ga ada yang ngurus.

Dalam beberapa hal, saya sebenernya setuju kalau Ancol diprivatisasi. abisan gimana, kalau dibiarkan jadi pantai publik yang gratis, orang sini belum terbiasa dengan budaya bersih, maen asal buang sampah sembarangan. Pantai Marunda mau dibiarkan tetep publik? yeah..right..liat aja betapa kotornya dan betapa di tempat tersebut tidak akan ada pembangunan berarti. biar ada tong sampah, buang seenak jidatnya. “Indonesia lebar dan maha luas”, begitu kali pikirnya…makanya mereka ga perduli soal sampah. begitu ada sampah, buang keluar mobil, buang ke got, buang ke sungai, sembarangan, seenak udel wae. hancurlah lingkungan hidup kita. orang Indonesia masih harus dididik berbudaya bersih, dengan membayar retribusi. menurut saya wajar kalau tiket masuk taman nasional mahal. wajar, biaya maintenance dan operasionalnya tinggi. pegawainya juga ingin makmur. mau hidup sejahtera dan biarkan mereka menyenangi pekerjaannya. Ini adalah pekerjaan rumah yang harus dilakukan oleh orang Indonesia, bukan pemerintah, bukan pula pejabatnya saja. kita semua mesti berdisiplin diri….hosh hosh hosh*jadi esmosi dan ngelantur kemana-mana* wakakakakak… :p

anyway, sayang banged yach Bu acara campingnya jadi gagal. mudah2an Kaltengnya terwujud yah…saya bener-bener penasaran loch. syukur2 dapet foto-foto kampung/pemukiman dayak yah. eh, itu Jeung Hen udah ada topi kupluk yang bagus. saya nyebutnya begitu : topi kupluk…hehehe

30 12 2009
advanture

Iya pak…sabar Pak e’… Sdh keseringan liat kondisi tmp wisata kotor Kayaknya si pak e’… Ya emg begt kondisinya pak,jd apa boleh buat.mulailah dr yg kecil ya lingkungan terdekat,plg gampang ngajarin generasi penerus kita.skrg kalo saya mo buang sampah sembarangan,anak saya malah marah2….bunda gak pernah sekolah ya kok buang sampah sembarangan…hehe… Ttg topi,duh itu topi keluarga pak,pakenya gantian…ayah,bunda+anak2, soalnya cuma punya satu…hehe… Kalo kami nyebut kupluk tu utk topi ski gt,yg dr wol…kalo topi itu topi petualang …hbs nyaman bgt make topi jenis gt buat petualang …hehe…

4 01 2010
Lomar Dasika

disini murah murah loch si Kupluk itu…hihihi…mulai 6000an juga ada loch…hehehe…iya, saya ngefans banged sama topi itu, topi petualang sejati😀

hidup Jeung Henny, yang mengajarkan anak-anak penerus generasi bangsa untuk mencintai kebersihan🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: