Cikole – Lembang, Bandung

4 06 2009

Ini hanya sebuah kenangan saya akan masa muda saya dulu, walaupun skrg masih muda, namun dalam cerita ini saya lebih muda lagi dari sekarang..hehehe. Masih kuliah, masih single, masih born to be free…halah…apa coba?

Setamat SMA, saya melanjutkan kuliah di Bandung. Dan Cikole, yang letaknya di lembang, adalah tempat favorite saya dan sohib2 saya melepaskan beban bila sedang dirundung masalah (ya masalah cinta, skripsi, tugas2 kuliah, dsb). Di tempat inilah biasanya saya dan sohib2 saya curhat soal masalah yg sdg menimpa sambil terengah2 menaiki bukit2 yang tidak ada habisnya, dan menikmati pemandangan hutan pinus dan belakangan ladang2 kebun sayur, serta menikmati udara segar jauh dari sumpeknya dinding2 kampus, dinding2 kost dan polusi udara.

Saya sering banget ke cikole ini, umumnya saya dijadikan tempat curhat sohib2 saya. Terkadang saya pergi dgn sohib cewek saya, terkadang pergi dgn sohib cowok, namun biasanya kami pergi hanya berdua atau maksimal bertiga. Mungkin tampang saya yang culun menyebabkan sohib2 saya mentasbihkan saya sebagai pendengar curhat mereka.

Walaupun sering ke tempat ini, namun pengalaman yang masih saya ingat sampai sekarang adalah ketika saya pergi dengan sohib cowok saya. Dari Bandung kami berangkat siang, sehingga sampai dilembang sdh sore, diteruskan ke Cikole. Sepanjang perjalanan sohib saya ini curhat masalah cintanya. Saya hanya mengangguk2kan kepala, sesekali berkomentar agar dia sabar….pdhal saya mah sedang menikmati pemandangan hutan pinusnya…hehehe.

Cikole memang salah satu tempat favorite saya, karena hutan pinusnya (saya entah kenapa suka pohon pinus, mungkin karena saya suka girl who loved tom gordonnya Stephen king –buku yg berkisah ttg perjuangan seorg gadis yang tersesat dihutan pinus), serta udaranya yang sejuk dan segar.

Kemudian kami beristirahat sebentar diatas sebuah bukit. Cikole ini menurut penduduk setempat sebenarnya tembus ke arah tangkuban perahu (kalo tdk salah) hanya sekitar 7km. Walaupun “hanya” 7km, namun bila dilalui hanya dgn berjalan kaki turun naik bukit, capek juga dan yang jelas tdk pernah sekalipun saya sampai ke tangkuban perahu itu, keburu menyerah duluan, putar arah…pulang, sekian dan terimakasih curhatnya…hehehe.

Karena hari ternyata sudah amat sangat terlampau sore,saya pun mengajak sohib saya ini pulang…berjalan kembali kearah semula (dan sekali lagi tdk sampai tangkuban). Mungkin karena sohib saya ini masih sedih dan pilu dgn kisah cintanya, dia berjalan very2 slow…oh my God…

Saya yang seorg petualang namun banyak syarat inipun sdh was-was…halah, kemalaman lagi deh dihutan (saya dan sohib saya ini entah knp sering kemalaman dihutan). Mana hanya berdua, tidak bawa perbekalan memadai (yg utama tidak ada senter). Sohib saya ini masih asyik bercerita dgn serunya, sementara saya sdh was2…sdh magrib, sementara perjalanan masih cukup jauh untuk sampai diperadaban manusia.

Ketika sedang asyik mendengarkan curhat teman saya ini, tiba2 kami mendengar ada yang memanggil dari atas bukit. Padahal jalan tersebut baru saja kami lalui, dan suer…td tdk ada tanda2 ada rumah atau manusia disitu. Otomatis kami berhenti dan menoleh kebelakang, karena hari sdh mulai gelap, yang kami lihat ketika itu hanya cahaya…entah cahaya senter atau apa.

Kemudian karena hanya melihat cahaya, kami melanjutkan perjalanan kami..kali ini agak terburu2…yang saya pikirkan sebenarnya ketika itu adalah lariiii…namun, ketika itu ada teriakan lagi memanggil. Kali ini kami menoleh lagi, ketika itu saya sdh hendak berlari, namun teman saya ini (yang memang memiliki six sense) berhenti memandang keatas…ketika itu teman saya yang memiliki banyak pengalaman supranatural ini mulai bercerita macam2 kepada saya.

Saya sebel banget, saya ini penakut…saya menyuruh dia diam dan mengajak dia lari, namun dia malah santai2 sambil terus memandang keatas bukit tersebut. Akhirnya karena sdh takut sekali, saya pun memiliki tenaga yang berlipat-lipat langsung menarik teman saya itu berlari menuruni bukit….lariiiiiiii….
Jalan semakin gelap, nyaris kami tidak bisa melihat jalan yang dilalui…namun kemudian ada cahaya menerangi jalan kami, yang rupanya sebuah mobil sedan berjalan melewati kami. Ketika itu saya hampir sdh ingin nebeng mobil itu, menyetopnya…sambil menangis terisak2…tolong om…kami kemalaman dihutan..hiks..hehehe…namun entah mengapa itu tidak terjadi. Dan ketika mobil itu menerangi jalan2 dibelakang kami, kami bahkan tidak melihat ada orang diatas bukit (tempat arah cahaya yang sebelumnya kami lihat dan mendengar ada orang memanggil2 ).

Saya sdh cukup sering mengalami berbagai kejadian bersama teman saya yang satu ini, dan beberapa kali pula kemalaman dihutan, namun belum pernah hanya berdua saja, makanya saya pun berlari-lari menyeret2 sahabat saya ini hingga akhirnya kami melihat jalan raya, melihat lampu lagi, dan menemukan angkot yang dapat membawa kami kembali ke Bandung…

Sebelum kembali ke kost masing2, kami makan dulu disebuah warung pecel lele, sambil dengan seru dan sok jagoan membahas ttg pengalaman kami sebelumnya di cikole tersebut, padahal ketika mengalaminya saya lari terbirit2..namun ketika semua sdh berlalu, sok2 jagoan..hahaha. Malamnya, dikamar kost…saya kembali ketakutan…hehehehe.


Actions

Information

One response

5 06 2009
Lomar Dasika

hiiiii…koq sering sich ngalamin peristiwa seperti itu? jadi, yang manggil itu sebenernya apa Mbak Hen? hiyyyyy…..

btw, saya juga suka Hutan Pinus loch…:) baunya segar, enak kalau bisa tarik nafas dalam dalam dech😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: