Benteng Kuto Besak

20 06 2018

Benteng Kuto Besak ini konon dulunya adalah keraton baru kesultanan Palembang yang pembangunannya di prakarsai oleh Sultan Mahmud Badarudin I. Letaknya mengahadap sungai musi, dekat dengan Jembatan Ampera, patung ikan belida, Kantor Walikota dann Mesjid Raya…semua bisa dikelilingin dengan berjalan kaki. Sekarang benteng ini menjadi markas kodam Sriwijaya selain menjadi objek wisata kota Palembang.

Di sekitar benteng ini banyak tempat-tempat makan dan restaurant terapung. Banyak warga juga yang menghabiskan waktu duduk-duduk menikmati sore ditepian sungai Musi. Kalau anda sedang ke Jembatan Ampera, sempatkan berkunjung pula ke benteng ini.

Advertisements




Museum Balaputra Dewa

20 06 2018

Hari kedua di Palembang kami isi dengan mengunjungi Museum Balaputra Dewa. Dari hotel, kami jalan kaki ke arah jembatan Ampera, dilanjutkan dengan naik bis Trans Musi ke arah Alang-alang, berhenti di halte Askes (kalau bingung buka google map aja). Tiket bis Trans Musi ini hanya 5 ribu rupiah/orang, murah meriah tapi kalau banyakan mending pake gocar sih jatuhnya sama juga hehe ­čśë. Dari halte tersebut jalan kaki lagi kurang lebih 300 meter masuk gang kecil. Awalnya kami gak yakin sih, masa iya museum masuk gang…apa gak salah nih? eh ternyata benar museumnya ada dalam jalan kecil tersebut.

Museumnya lumayan luas, tiket masuknya juga murah meriah 2ribu/orang eh dapat gratis koran daerah lagi seharga 2ribuan. Krucils yang awalnya lesu kepanasan diajak emak babenya jalan kaki panas-panasan begitu masuk langsung semangat, lama banget liat ini itu, nanya ini itu, ngajak kesono kesini, gak rugi deh. Dan yang paling menarik, ada rumah tradisional yang persis seperti di gambar uang 10.000,-an lama. Persis banget, sepertinya disinilah gambar uang tersebut diambil. Krucils tambah semangat deh, foto sana sini…cekrek cekrek. Puas menelusuri seluruh museum kamipun lemas, kalau begini caranya kita pake gocar aja…panasnya poll, mau jalan kaki lagi keburu malas….haha. Dan petualangan pun diakhiri dengan makan empek-empek.





Lodaya, Tenggarong

26 05 2018

Selalu ada cerita dibalik sebuah foto. Foto diatas diambil beberapa minggu lalu, beberapa jam setelah sulung saya jatuh di sebuah parit di troatoar untuk pejalan kaki di ibukota propinsi, yang membuat kakinya terluka dan merubah beberapa plan yang awalnya a berganti plan b…disitulah seninya bawa anak-anak kalau jalan. Itu sebabnya sulung saya jadi bercelana pendek seperti terlihat difoto, padahal biasanya anti bercelana pendek. Tapi karena dadakan cari celana ganti di mall dapetnya cuma celana itu. Dan karena insiden itupula yang menyebabkan krucil sakit selama seminggu tepat menjelang ujian akhir…bikin deg-degan emaknya. Alhamdulillah semua pulih sehat sedia kala, ceria kembali.

Walau akibat terjatuh tersebut kakinya terluka dan bengkak, bukan krucil namanya kalau tidak ngajak jalan. Itu sebabnya ketika pulang kami memilih memutar lewat Tenggarong, selain karena isu jembatan Mahakam yang goyang akibat tertabrak ponton juga karena request krucil. Baiklah….yuk kita lewat Tenggarong, sudah lama juga kita gak ke Tenggarong.

Banyak yang berubah di Tenggarong sekarang, jalan banyak satu arah dan lebih banyak tempat yang instagramable. Krucil mengajak ke pulau Kumala namun karena ramai dan penuh dengan anak-anak SD yang sedang perpisahan, jadi kami mencari alternatif lain. Akhirnya tujuan dialihkan ke Lodaya yang sedang booming di Tenggarong. Berkat GPS akhirnya sampai juga di Lodaya (jadi jangan tanya arah ya, karena belok sana sini …sampai lupa arah jalannya….haha). Begitu sampai parkiran, komentar ayah dan krucil, “cuma begini?”. Ya karena di areal parkirnya terlihat gersang dan tidak menarik. Yuk kita masuk dulu aja, baru komentar. Di loket bayar tiket 10rb/dewasa, 5rb/anak, biaya parkir lupa lagi antara 3 ribu atau 5 ribu.

Masuk….ya awalnya memang gersang sih, panas lagi. Tapi semakin ke dalam, semakin teduh karena mulai banyak pepohonan. Bagus menurut saya, instagramable. Krucil suka banget, sampai-sampai mereka mau difoto….amazing banget bagi si bunda yang biasanya tiap mau foto krucil kudu adu argumen dulu setengah jam…haha. Di areal ini terdapat areal permainan (paintball, flying fox, dsb) dan mini zoo….kesukaan krucil banget nih, itu sebabnya mereka betah banget nyeret-nyeret ayah bundanya untuk melihat binatang ini, binatang itu. Tapi berhubung men─úejar waktu agar tidak kemalaman diperjalanan, akhirnya krucil kami ajak pulang. Eh bungsu pake drama ngambek segala karena belum puas, mereka mau nyobain paintball. Next time kita kesini lagi…yuk sekarang markipul, mari kita pulang.





Balikpapan – Batulicin – Martapura – Tanjung

3 04 2018

==>Day 1 (Jumat, 30 Maret 2018)

Pernah kebayang gak, ada orang yang menempuh jarak ratusan kilometer hanya karena pengen makan sesuatu ditempat yang dituju? Kalau ngidam masih dimaklumin ya, nah ini cuma karena pengen makan aja. Entah beneran pengen makan atau cuma alasan, itulah yang krucil dan si ayah lakukan. Mengajak berkelana bundanya yang sedang gak enak badan dengan alasan pengen makan nasi kuning di Batulicin. Bunda, “emang gak ada tempat yang lebih jauh lagi ya untuk makan nasi kuning?” . “Ada sih…pengennya makan nasi kuning di Rusia tapi kan di Rusia gak ada yang jualan nasi kuning”, jawab mereka…hehe.

Gak mempan dengan rayuan pulau kelapa, mereka mulai melancarkan rayuan lain. “Bunda nih sudah tua ya, sudah gak punya jiwa petualang lagi”. Bunda, “iya, bunda memang sudah tua”. Masih gak mempan, serangan lain pun diluncurkan, “bunda gak tahu ya, berpahala loh menyenangkan orang itu”. Yayaya…ok deh, bunda menyerah tapi syarat dan ketentuan berlaku ya. Kapanpun bunda capek, kita berhenti. Deal, shake hand. Itu sebabnya kami kesiangan untuk memulai petualangan.

Berangkat dari rumah sekitar jam 9-an, eh masih bolak balik ke rumah karena ketinggalan ini itu, belum lagi mampir-mampir sana sininya mengisi perbekalan. Sekitar jam 12.30 mampir lagi di simpang Kuaro untuk sholat Jumat. Lalu lanjut lagi sampai Grogot, sholat dulu sekalian isi perbekalan lagi. Di pegunungan karst berhenti lagi, request krucil yang pengen ngumpulin kerang. Bingung kan ngumpulin kerang kok dipegunungan? Kerang ini menurut krucil hasil telaah mereka di buku Natgeo (National Geographic) adalah ammonite, fosil kerang purba. Tiap ke pegunungan ini mereka ngumpulin, kata mereka mau dikirim ke Natgeo dan BBC Earth supaya diteliti, kalau sudah masuk Natgeo kan terkenal lalu pegunungannya aman dari pemusnahan karena beberapa gunung kami liat sudah hancur dijadikan pondasi rumah.

Akhirnya sekitar jam 20.00 sampai juga di Batulicin yang disambut dengan hujan deras. Cari makan, cari hotel, isi BBM…jam 21.00 tidur nyenyak, siapkan tenaga untuk berburu nasi kuning esok subuh. Nasi kuning inilah alasan krucil dan si ayah suka banget mengajak bundanya ke Batulicin, kata mereka nasi kuning ini adalah nasi kuning terenak sedunia, sejagat raya dan alam semesta walau emaknya ini petualang dan suka juga nasi kuningnya, tapi kalau dalam setahun bisa 3-4 kali bolak balik tujuan sama hanya demi nasi kuning kan bosen juga.

==> Day 2, (Sabtu, 31 Maret 2018)

Subuh-subuh bangun, sholat lanjut cari nasi kuning di pasar. Nasi kuning ini letaknya depan pasar, samping mesjid. Cari aja nasi kuning yang paling rame, biasanya setelah sholat subuh orang-orang sudah mulai antri membeli nasi kuning ini. Si ayah kalap, beli 5 bungkus nasi kuning plus tiap bungkus double bahkan triple lauk. Belum lagi lauk yang dibeli terpisah, sampai penjualnya bilang “sudah pak ai, kebanyakan sudah”….haha, baru kali ini diomelin penjual karena beli banyak.

Di hotel diskusi, pulang atau lanjut? Krucil dan ayah masih pengen lanjut, sementara bunda pengen pulang. Eh ketika buka hp dapat kabar kalau kapal tanker terbakar dipelabuhan ferry dan minyaknya mencemari perairan serta asapnya tercium sampai Balikpapan. Hmm, kayaknya lebih baik kita lanjutkan aja petualangan kita kalau gitu, yuk markimon. Tujuan selanjutnya Martapura, ayah pengen mencari kayu gaharu yang wangi-wangi. Di Pagatan berhenti sebentar krucil main di pantai. Kami sudah pernah melalui jalan ini ketika pulang berpetualang dari Palangkaraya, tapi sulung saya sedang hobi memakai google maps. Berdasarkan GPS google inilah sulung meminta ayahnya keluar dari jalan utama, melalui jalan kecil. Katanya kalau lewat jalan kecil itu lebih hemat 20 menit, eh ternyata jalannya rusak…jadi kendaraan tidak bisa dipacu cepat jadi ya gak hemat waktu juga haha. Tapi karena jalan kecil, tidak semua orang tahu dan melalui pedesaan yang masih bersawah-sawah, jalannya relatif lebih sepi dari jalan utama jadi lebih bisa menikmati pemandangan.

Disini kami berhenti lagi untuk istirahat makan sekalian krucil liat-liat sawah. Sekitar jam 14.00 sampai juga di Martapura dan lagi-lagi disambut oleh hujan. Disini berburu oleh-oleh khas Kalsel, seperti gelang gaharu, kayu gaharu, sasirangan dan bros-bros murah untuk BFFnya di bungsu, maklum anak cewek hobi printilan dan saling berbagi printilan. Di Martapura penuh dengan spanduk-spanduk ucapan selamat datang untuk jamaah haulan kyai guru. Kalsel adalah propinsi yang religius, kota paling religiusnya ya Martapura ini. Setelah puas berburu cenderamata, perjalanan berlanjut menuju Tanjung. Jalur menuju Tanjung ini padat, sehingga susah untuk memacu kendaraan dengan cepat, si ayah sampai stress sendiri menyuruh bunda aja yang nyetir. Selama ini kalau ditawarin gantian nyetir, si ayah gak mau…eh ini malah nyuruh istrinya yang nyetir tanda bahwa ayah sudah stress to the max …hahaha

Kami beberapa kali berhenti dijalan untuk istirahat, sholat, makan serta membeli stok cemilan. Ayah beli satu keranjang langsat, beberapa buah srikaya , dan jambu biji dengan harga bersahabat. Jarak Martapura – Tanjung ini sebenarnya tidak begitu jauh tapi karena padat jadi lama, sampai selepas isya pun masih dijalan. Akhirnya google man pun beraksi, sulung saya mencari jalur lain melalui google maps. Lalu memaksa ayahnya melalui jalan diluar jalur utama, melalui Amuntai. Si bunda pun mengeluarkan pidato kenegaraannya, kalau lewat Amuntai ya lebih lama dong, kenapa gak lewat jalur biasa aja sih. Sulung dan ayah kompak, gak apa-apa jauh sedikit…cincai lah. Memang jalur yang dipilih super sepi sih dibanding jalur utama yang padat, tapi kanan kirinya hutan dan disepanjang jalan harus waspada melihat jalanan karena banyak penduduk lokal yang duduk-duduk di jalanan aspal.

Seakan belum puas memilihkan jalan sepi, eh GPSnya menuruh masuk ke jalan yang lebih sempit lagi dengan embel-embel lebih hemat 13 Km. Baiklah, sudah nanggung jadi diikutin lagi jalur yang dipilihkan GPS, awalnya sih jalannya bagus…tapi lama-lama rusak , makin masuk makin rusak parah. Semakin ke dalam, semakin berhutan…jalannya pas hanya muat untuk satu mobil, kanan kiri hutan dan jalannya berlubang-lubang. Saya yang awalnya ngantuk, langsung melek waspada. Hah? Gak salah pilih jalankah ini? Tapi ayah masih stay cool, dengan santai bilang “tenang bunda, kalau ada warung artinya ada jalan”. Makin lama jalannya semakin gelap, sepi, sempit dan rusak serta masuk hutan. Sulung saya yang memaksa memilih jalur ini langsung bilang, bunda tukaran tempat duduk yuk…abang dibelakang aja. Ayah yang awalnya sok tenang pun akhirnya bilang, kita putar balik aja ya. Cuma di bungsu yang stay cool karena sepanjang perjalanan memang tidur…haha.

Apa? Putar balik? Putar kemana…wong tuh jalan pas-pasan untuk satu mobil. Mata si bunda yang awalnya sudah 5 watt kembali terang benderang dan otak bunda yang hiperaktif ini pun mulai membayangkan berbagai hal, bagaimana kalau ban bocor siapa yang bantuin ganti ban ditengah hutan antah berantah di malam gelap habis hujan pula, bagaimana kalau ada orang jahat, bagaimana kalau ternyata tuh jalan ternyata buntu, kami tidur dimana? Dan bagaimana-bagaimana lainnya. Akhirnya kami sepakat untuk terus saja dan finally bertemu jalan hauling, pantesan jalannya antah berantah rupanya nembus ke jalan tambang. Truknya segede gaban, dipersimpangan nanya sama security. Akhirnya ketemu juga peradaban lagi…walau masih sih di daerah yang tak dikenal. Setelah bertemu peradaban lagi tuh baru kami bisa tertawa, menertawakan kejadian yang kami alami barusan sekalian sedikit ngomel coba kita ikutin jalur utama aja tadi, sekarang kita sudah tidur di hotel kali…tapi sulung saya bersikeras, tapi kita hemat 13km nih. Hemat 13 Km tapi in the middle of nowhere …yang ada waktu terbuang banyak, makanya ikutin shirathal Mustaqim, jalan lurus dan benar, gak usah berbelok-belok…hahaha…

Baru sekitar jam 22.00an kami sampai Tanjung, sambil mencari hotel sepanjang perjalanan menertawakan kejadian barusan sembari membahas pelajaran apa yang bisa dipetik dari peristiwa barusan. Kata ayah, kalau nyasar tuh harus tenang karena kalau panik gak bisa berpikir jernih malah bukan dapat solusi. Hmmm…baiklah yah, tapi tadi siapa ngajak putar balik…haha. Untunglah bungsu baru bangun setelah bertemu peradaban kembali, tidak tahu apa yang terjadi saat kami ditengah hutan. Kalau tidak bisa-bisa bungsu saya histeris atau nangis. Dan untungnya lagi sebelumnya kami sudah sempat sholat dan makan, walau panik tapi gak kelaparan …haha. Check in hotel, cuzz langsung tidur pulas…tepar, ya karena perjalanan panjang plus adrenalin juga.

==> Day 3 (Minggu, 1 April 2018)

Bangun subuh, siap-siap lagi. Mulih-mulih, bulikan kita…saatnya pulang. Sarapan di hotel, ke pasar Tanjung nyari yang aneh-aneh, maunya sih sate itik tapi ternyata belum buka. Beli roti gembong yang super yummy hanya seharga 5 ribu rupiah, dan langsung menyesal kenapa beli sedikit. Di simpang Mabu’un beli nasi kuning lagi untuk perbekalan dijalan, dan ayah kalap lagi. Kayaknya petualangan kali ini memang didedikasikan khusus mencari nasi kuning banjar yang memang rasanya lebih nendang dibanding di hometown. Kemudian beli sate 20 tusuk, baru jalan 2 km sudah ludes dan menyesal lagi kenapa belinya seadanya. Kalsel is the best lah kalau masalah kuliner ajaib, murah dan enak.

Di Lano sempat diskusi sama ayah tentang berhenti dulu gak di air terjunnya, tapi dengan pertimbangan krucil sedang tidur ya lanjut jalan aja, nunggu mereka bangun aja main air di air terjun Gunung Rambutan nanti aja. Gak berapa lama krucil bangun, saat melintas disebuah jembatan dan melihat ke bawah…wuih air sungainya jernih. Ayah langsung menawarkan pada krucil untuk main air di sungai tersebut yang tentu saja krucil menerima tawaran dengan senang hati. Jadilah berhenti didekat jembatan dan turun ke bawah mencari jalan menuju sungai. Sampai di sungai baru sadar ternyata sungai tersebut menjadi sumber air bagi daerah sekitar karena kami menjumpai beberapa truk air yang sedang mengisi air disitu. Setelah truk-truk tersebut pergi, krucil puas banget main air disitu, airnya jernih banget, penuh bebatuan dan dangkal. Agak kepojok, agak dalam dan berjeram, mirip dengan sungai di Loksado.

Krucil awalnya cuma jalan-jalan aja, kemudian mulai basahin dikit di baju bagian bawah, lama-lama nyelup seluruh badan…namanya juga anak-anak…haha. Krucil betah banget main air disini, ya mencoba menangkap ikan-ikan kecil, berburu batu, sampai berenang. Kata sohib bundanya, nih krucil mirip Tomb Rider dan Indiana Jones versi alamnya, yang dicari sepanjang petualangan kali ini fosil ammonite sampai batu kali lengkap pokoknya seperti Ninja Hatori, mendaki gunung lewati lembah.

Main di sungai ini selama 1,5 jam. Kalau gak dipaksa sudahan, gak selesai-selesai nih main airnya. Balik ke mobil, ganti baju, disuapin makan, kasih minyak…tidur lagi. Enak ya jadi anak kecil…haha. Sampai simpang Kuaro, ishoma sekalian isi perbekalan lagi. Agak was-was juga sih kami tentang kondisi tumpahan minyak, tidak ada info tentang apakah ferry beroperasi normal atau harus lewat darat melalui Petung yang artinya tambahan waktu dan jarak lagi nih. Sekitar jam 16.00 sampai di pelabuhan ferry. Begitu buka jendela untuk bayar tiket, bau solar menguar tajam. Di sekitar pelabuhan banyak posko penanganan bencana dengan polisi dan beberapa orang berpakaian ala astronaut…berpelindung putih-putih dari atas hingga bawah. Untungnya ferry beroperasi normal, walau jalannya seperti hati-hati banget. Minyak terlihat menggenangi permukaan laut, awan hitam pekat dan udara berbau solar diseputar pelabuhan. Akhirnya jam 17.30 touchdown di hometown…home sweet home. Belum apa-apa krucil sudah berisik, nanti kita berenang di sungai di tempat itu lagi ya yah request mereka. Sip, next petualangan kita akan lebih seru lagi…tenang aja





Mekkah Al Mukarramah

3 02 2018

Masjidil Haram


Cerita pengalaman selama di Madinah sudah, sekarang tentang pengalaman spritual di Mekkah. Lama perjalanan dari Madinah ke Mekkah melalui jalur darat itu kurang lebih sekitar 6 jam (termasuk ishoma, istirahat sholat plus makan cemilan). Kebetulan kami melakukan perjalanan dari Madinah ke Mekkah ini di hari Jumat setelah sholat Jumat. Setelah sholat dan makan siang, lalu naik bis bersama rombongan menuju Mesjid Bir Ali untuk Miqat. Pasti bingung kan apaan sih miqat itu? Samaan dong dengan saya waktu ustadz pembimbing menyebut-nyebut miqat pada malam sebelumnya. Miqat itu ternyata artinya batas dimulainya ibadah haji atau umroh, nah dibatas itulah kita mulai berniat dan memakai pakaian ihram. Kalau ihramnya laki-laki adalah mengenakan pakaian yang tidak ada jahitannya, sedang untuk perempuan pakaiannya lebih flexible.

Dan yang paling penting diingat adalah sejak miqat itu, dimulailah semua larangan-larangan ihram. Apa aja larangannya? Larangannya antara lain mencukur, memotong , menutup muka, membunuh dan berburu hewan, memakai wewangian, berkata kotor, memaki, mencaci, dsb…bisa di cari di gugel sisanya. Sebagai pengalaman pertama, saya lumayan takut tuh kalau gak sengaja melanggar larangannya, makanya saya gak berani mandi (takut pake sabun, kan sabun wangi), gak berani sisiran, bahkan gak berani garuk-garuk kepala karena takut rambut saya rontok. Ealah keluar mesjid malah kelupaan pakai masker…untung diingatkan si ayah.

Miqat di Mesjid Bir Ali ini adalah sholat sunah 2 rakaat sambil niat umrah. Setelah itu di dalam bis dilafadzkan kembali niatnya, kemudian membaca talbiyah, salawat dan doa. Ketika membaca talbiyah ini dalam bis yang sedang berjalan menuju Mekkah tuh haru banget. Susah bagi saya untuk menahan air mata. “Labbaika Allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik, innal-hamda wanni’mata laka wal mulka la syarika lak” yang artinya “Aku datang memenuhi panggilan-Mu Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu tidak ada sekutu bagi-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan segenap kekuasaan adalah milik Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu”.

Semua seolah di rewind lagi, kelakuan saya yang kadang keras kepala, mucil, dsb…masa lu sudah dikasih nikmat masih gak bersyukur sih, kurang apalagi coba? Cuma kurang bersyukur aja…hiks hiks. Ya Allah maafkan segala kekhilafan dan kelalaian hambamu ini, saat itu juga semua rasa syukur langsung membuncah memenuhi relung hati…terima kasih ya Allah telah Engkau undang kami kesini, terima kasih banyak, semoga Engkau masukkan kami dalam golongan orang-orang yang selalu bersyukur dan dijalan yang lurus, aamiin.

Di tengah perjalanan, kami berhenti disebuah perhentian untuk melaksanakan sholat Maghrib jama’ Isya. Di perhentian ini anak bungsu saya menangis karena merasa mual, bungsu saya ini memang gampang mabuk perjalanan. Akhirnya kami belikan mie instant buatan Indonesia yang paling ngetop (hayooo…pada tahu kan merknya…malas ah saya sebut merk entar dikira iklan lagi hehe). Harganya ? 5 riyal…ya sekitar 15 ribuan hampir 20 ribu lah…mahal kan? Di Indonesia tuh mie paling mahal paling 5 ribu…ok lah, mahal karena impor. Nah ternyata tuh gak dikasih air panas, padahal sebelum beli kami sudah tanya ke si penjual ada air panasnya gak? Oh ada, nanti… jawab si penjual. Giliran sudah dibayar dan ditanya mana air panasnya? Eh dia nunjuk restoran sebelah. Di resto sebelah air panasnya bayar 1 riyal…salah kami sendiri nanyanya kurang spesifik, harusnya nanyanya air panas gratis ya…hahaha.

Senangnya bawa krucil adalah hampir semua penjual suka sama krucil, kadang mereka ngusel-ngusel kepala krucil, dan seringnya malah dikasih bonus. Bonus yang paling sering adalah permen dan coklat…sambil ngasih ke krucil sambil bilang halal, alhamdulillah. Tapi sejak itu krucil kalau ngasih sesuatu jadi ikutan bilang halal…halal. Setelah makan mie, bungsu saya kembali merasa enakan. Setelah itu diperjalanan kami tertidur, sampai akhirnya sudah mendekati kota Mekkah kami dibangunkan oleh pembimbing. Disuruh mengucapkan doa memasuki kota Mekkah. Lalu sampai hotel langsung makan malam, setelah itu masuk kamar sebentar…eh sudah diketok-ketok pintu kamar sama ustadz pembimbing. Sudah saatnya menyempurnakan ibadah umroh dengan Tawaf dan Sai. Apa itu tawaf? Tawaf itu mengelilingi Ka’bah sebanyak 7x sambil berdoa, sedang Sai adalah berjalan dari bukit Safa dan bukit Marwa juga sebanyak 7x.

Rombongan kami mulai melakukan ibadah ini sekitar jam 1 dinihari. Sambil berjalan dari hotel menuju Masjidil Haram kami bertalbiyah kembali, sampai halaman Masjidil Haram belum keliatan Ka’bahnya…jadi belum ngeh sama situasi. Begitu masuk, turun melalui tangga lalu melalui sebuah jalan, mulailah terlihat Ka’bahnya. Bungsu saya langsung bisik-bisik ke saya “bunda, alhamdulillah bisa liat langsung Ka’bah. Adek senang”, ucapnya sambil senyum girang. Iya dek, alhamdulillah. Begitu memulai dari tempat start dan mulai berdoa, terlebih sambil tangan dilambaikan ke arah Ka’bah dan mengecupnya sambil mengucap “Bismillahi Allahu Akbar”….haru banget, mau nangis rasanya. Allahuakbar, Allah Maha Besar.

Ustadz kami mengambil putaran terluar agar rombongan kami tidak begitu berdesak-desakkan dan laki-laki diposisikan mengelilingi perempuan agar para jemaah perempuan terlindungi. Karena di Masjidil Haram sedang ada perbaikan sumur zamzam, area Tawaf agak menyempit. Kemungkinan perbaikan ini selesai saat Ramadhan nanti. Setelah Tawaf lalu menuju area untuk Sai, nah disini krucil saya terutama si bungsu mulai keliatan kecapekan. Tapi karena sudah dari Indonesia kami wanti-wanti bahwa selama beribadah tidak boleh mengeluh, tidak boleh sedikitpun mengucapkan keluhan…alhamdulillah mereka taat. Jadi walau capek dan mengantuk mereka tetap melakukannya, walau kaki mereka mulai keliatan diseret-seret. Selesai Sai, lalu memotong rambut, kemudian bermaaf-maafan dengan seluruh rombongan. Alhamdulillah, semoga ibadah umroh kita mabrur ya teman-teman, aamiin.

Setiba di hotel saya cerita ke ayah, “kaki bunda sakit yah”. Bungsu saya langsung bilang, “gak boleh mengeluh bunda, kan bunda sendiri bilang kalau gak boleh mengeluh”…hehe masih ingat aja pesan bundanya. Kami menyelesaikan ibadah umroh ini sekitar jam 3 subuh, jadi punya waktu sedikit saja sebelum sholat subuh. Kenapa ustadz pembimbing kami memilih waktu malam? Saya baru ngeh saat sholat subuh dan dzuhur di Masjidil Haram, ternyata pilihan waktunya pas karena setelah itu ramai sekali orang Tawaf.

Kami dua kali melakukan umrah, yang satu Miqat di mesjid Bir Ali (Madinah) sedang satunya lagi Miqat di mesjid Ji’ronah (Mekkah). Kalau umroh pertama dilakukan tengah malam, umroh kedua dilakukan siang hari jadi lumayan keringatan juga. Sebenarnya mau umroh berkali-kali pun tidak masalah selama mampu (terutama mampu dalam hal fisik), bisa menyewa taxi untuk menuju tempat miqat terdekat. Untuk yang sudah berusia lanjut dan dikhawatirkan tidak mampu untuk melakukan Tawaf dan Sai, banyak jasa pendorong kursi roda di depan Masjidil Haram, tarifnya sekitar 300 riyal kalau tidak salah.

Kota Mekkah lebih besar dari Madinah, selain itu suhu Mekkah yang kalau pagi dan malam sama dinginnya dengan Madinah namun siang suhunya kadang terasa panas. Kemudian hari terakhir di Mekkah, kami melakukan Tawaf Wada, atau Tawaf perpisahan sebagai penghormatan terakhir untuk Masjidil Haram. Kami melakukannya sendiri, terpisah dari rombongan yang melakukannya setelah sholat subuh. Kami melakukannya sebelum sholat subuh. Kami melakukan Tawaf Wada di lantai tiga, kebayang kan jauhnya. Ketika sudah putaran ke 4 tuh rasanya jaraknya makin jauh aja, melihat ke lantai satu, wah enak tuh putarannya gak sejauh di lantai tiga. Akhirnya saya mulai mucil lagi, ah ke lantai bawah aja ah….walau sama si ayah sudah dikasih tahu kalau bunda turun ke lantai bawah bisa jadi sudah selesai putaran kita di lantai tiga ini. Tapi godaan begitu besar, jadi saya memilih turun ke lantai satu. Lantai satu sebenarnya dikhususkan untuk yang berpakaian ihram, alias untuk yang melakukan Tawaf Umroh. Kalau perempuan karena susah dibedakan pakaian ihramnya, jadi gak masalah masuk di lantai satu, sedang untuk laki-laki harus berpakaian ihram kalau hendak tawaf di lantai tersebut. Sebenarnya banyak aja sih yang menyamar berpakaian ihram untuk melakukan Tawaf Wada di lantai satu ini, tapi ayah tidak mau begitu…itu sebabnya kami memilih di lantai tiga yang lebih sedikit orangnya dibanding di lantai dua.

Nah, begitu saya turun mengajak bungsu saya, kami susah mencari pintu masuk untuk tawaf di lantai satu ini. Kalau untuk sholat sih bisa dari pintu mana saja, sedang untuk tawaf ada pintu khususnya. Tiap masuk lewat sebuah jalan eh terhalang sama pagar pembatas, sampai akhirnya mulai sholat subuh. Setelah sholat subuh saya bertemu teman-teman rombongan yang mengajak keluar dulu untuk ikut rombongan melakukan Tawaf Wada, tapi berhubung saya sudah melakukan 4 putaran hanya tersisa 3 putaran lagi, saya memilih menyelesaikan sendiri. Eh masih susah tuh menembus pagar pembatas. Bisa sih kalau mau keluar dulu lalu melalui gate khusus, cuma saya malas keluar dulu. Setelah saya pikir-pikir, duh ini pasti akibat saya keras kepala lagi nih sama si ayah…hiks. Baiklah kalau begitu, saya ajak bungsu ke lantai tiga kembali menyelesaikan putaran tawaf sekalian bertemu ayah dan sulung. Tiba dilantai tiga, ayah dan sulung tidak keliatan, wah pasti mereka sudah menyelesaikan tawaf mereka nih dek…maafin bunda ya gara-gara bunda keras kepala adek jadi bolak-baliknya makin jauh. Akhirnya setelah menyelesaikan tiga putaran itu kami turun keluar, terlihatlah ayah dan sulung sedang menunggu kami sambil senyum-senyum…hehe. Iya bunda salah, maafin ya yah…

Begitulah pengalaman spritual saya, tiap mulai muncul keras kepalanya, langsung deh ditegur. Kata ayah, “tuh kan makanya jangan mucil lagi” …haha. Iya ya…bunda sudah insyaf kok untuk saat ini…besok-besok gak janji.. haha. Pulang dari Tawaf Wada makan-makan dulu deh di foodcourt sebuah mall, kebetulan ada makanan Malaysia kesukaan krucil, seperti nasi lemak, roti canai dan teh tarik. Selama di Arab Saudi kami tidak banyak berbelanja, uang lebih banyak dipakai untuk belanja makanan walau sebenarnya dapat jatah makan dari travel. Berbeda dari teman rombongan lain yang banyak belanja ini itu, terutama baju yang katanya sih harganya jauh lebih murah daripada di Indonesia. Gamis-gamis hanya 70-100ribu, bagus-bagus lagi. Kami malah kalau mau belanja selalu mikirnya ah entar aja. Waktu di Madinah mikirnya entar aja di Mekkah, begitu di Mekkah mikirnya entar aja di Jeddah, eh di Jeddah mikirnya entar di bandara. Eh di bandara ternyata gak ada mallnya, jadi aja gak jadi belanja. Sudah kepedean bawa koper 5 buah (tumben-tumbenan padahal biasanya kemana-mana cuma bawa satu koper), cita-cita dari rumah mau belanja banyak ternyata gak jadi haha. Baru setelah tiba di Jakarta kepikiran, kok kita gak belanja apa-apa ya untuk oleh-oleh buat saudara dan teman, akhirnya di bandara Soekarno-Hatta belanja oleh-oleh roti unyil 3 kotak…eh baru setengah hari sudah dihabisin krucil 2 kotak, tinggal satu kotak bawain untuk teman-teman. Biasanya orang pulang dari Arab oleh-olehnya kurma, kismis, kacang eh kami malah roti made in Indonesia…hahaha, maafkanlah kami. Kalau boleh saya sarankan sih belanjalah sebanyak-banyak yang mampu anda bawa daripada menyesal kemudian…haha.

Gunung Tsur

Pada tahu kan cerita tentang gunung Tsur ini? Waktu Nabi Muhammad hendak dibunuh oleh kaum kafir yang membenci nabi, Nabi Muhammad bersembunyi di gunung Tsur ini, letak guanya jauh diatas gunung tidak terlihat dari bawah. Dengan pertolongan Allah SWT, Nabi Muhammad selamat dari upaya pembunuhan tersebut. Rombongan kami diajak melihat Gunung Tsur ini walau dari bawah, jadi gak keliatan nih guanya.

Selain gunung ini, ada beberapa tempat sih yang dikunjungi, termasuk melalui Gua Hira. Tahukan Gua Hira ini? Tempat nabi menerima wahyu pertama, tapi karena letaknya jauh tinggi jadi bis hanya melaluinya saja.

Jabal Rahmah

Jabal Rahmah ini letaknya di Padang Arafah. Konon di Jabal Rahmah inilah tempat pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa yang terpisah setelah diturunkan dari surga oleh Allah SWT. Jabal Rahmah sendiri diartikan sebagai gunung kasih sayang, dan dipercaya untuk kelancaran jodoh. Itulah sebabnya supir bis rombongan kami secara bercanda berpesan kepada ibu-ibu kalau suami berdoa disini jangan langsung diaminkan …hehe.

Di Jabal Rahmah ini kami tidak naik ke atas bukitnya. Umumnya yang naik yang masih muda-muda. Jadi cukup berfoto-foto di bawah.





Madinah Al Munawwarah

24 01 2018

Ayah dan saya lumayan lama mendiskusikan tentang ibadah umroh ini. Ayah pengennya kami langsung berhaji saja karena menurutnya yang wajib itu haji bukan umroh, sedang menurut saya selama menunggu antrian haji yang sudah mencapai belasan tahun lebih baik kami umroh dulu. Umur rahasia Allah, tidak ada jaminan kami masih berumur panjang untuk menunggu antrian haji. Setelah sekian lama mendiskusikan masalah ini, akhirnya ayah setuju tapi syarat dari ayah adalah tidak boleh update status atau pajang foto di medsos selama pelaksanaan ibadah…tahu aja istrinya tukang update status

Tujuan syarat ayah ini adalah untuk meluruskan niat, agar tidak riya dan ujub. Jadi tujuan saya sekarang menuliskan pengalaman spritual kami ini adalah sebagai pengingat, sebagai kenangan untuk kami sendiri, untuk krucil kami dan juga untuk sharing pengalaman saja. Kalau memang untuk pribadi, lalu kenapa dimasukkan dalam blog? Karena blog ini sudah saya anggap diary kami, catatan-catatan kami sebagai pengingat apa saja yang telah kami lalui bersama. Kalau pada akhirnya jadi bermakna dan dimaknai dengan cara lain oleh pembaca, saya pribadi memohon untuk dimaafkan.

Sekarang saya berniat menuliskan tentang Madinah. Madinah sendiri kota kecil yang menarik. Suasananya tenang, cuaca cerah, matahari bersinar terang walau suhu sangat dingin. Mungkin inilah sebabnya dinamakan Al Munawarrah, yang artinya kota yang bercahaya. Buah-buahan dan sayurnya segar dan enak. Pokoknya kami merasa semua serba enak dan nyaman selama kami di Madinah. Inilah beberapa tempat yang kami kunjungi selama di Madinah

Mesjid Nabawi

Kami tiba malam di kota Madinah ini, saya lupa lagi jam berapanya…yang saya ingat hanya rasa kantuk yang mendera. Jadi waktu dikasih tahu ustadz pembimbing bahwa Mesjid Nabawi letaknya tidak jauh dari hotel, tinggal jalan kaki dikit, lurus saja dari hotel… saya hanya manggut-manggut. Sampai kamar langsung tidur pulas…bablas sampai subuh. Ketika menjelang subuh mendengar seruan adzan, langsung teringat kata pembimbing bahwa disini adzan itu dua kali, yang pertama itu untuk memanggil…adzan kedua baru sholat. Jarak adzan pertama dan kedua lumayan lama. Baiklah kalau begitu, bersiap-siap dulu untuk ke mesjid .

Suhu di Madinah 22┬░C kala itu, teorinya sih seharusnya gak sedingin di Turki yang mencapai 7┬░C. Tapi begitu melangkah ke luar hotel….bbrrrr, dingiiin bingit …dinginnya ngalah-ngalahin di Turki. Entah karena sayanya yang kondisinya sedang drop atau memang begitu keadaannya…dinginnya nembus tulang. Berduaan sama ayah berangkat ke mesjid dan menggigil kedinginan bikin saya gak konsen dengan keadaan sekitar tapi suasananya adem banget…damai. Enak banget.

Pulang dari mesjid, saya drop. Saya gak berani memaksakan diri ikut rombongan ke Raudah (makam Rasulullah) pagi itu walau pengen banget. Ayah dan krucil tetap berangkat ke Raudah dan karena perempuan dan laki-laki dipisah, sedang saya tidak bisa menemanin bungsu saya, saya sudah bilang ke si adek agar di kamar hotel saja bersama saya. Tapi bungsu saya bertekad untuk pergi ke Raudah sendiri ikut rombongan ibu-ibu. Terpaksalah bungsu dititipkan ke ibu-ibu rombongan…hebat adek, proud of you (terima kasih tak terhingga kami ucapkan untuk ibu-ibu yang telah menjaga si adek selama di Raudah). Sementara rombongan ke Raudah, saya minum obat, vitamin dan tidur pulas sampai ayah dan krucil kembali ke hotel lagi. Baru siang, ketika kondisi sudah berangsur pulih, saya sholat dzuhur ke Mesjid Nabawi. Dan baru saat itulah saya lebih memperhatikan Mesjid Nabawi ini…Subhanallah, luar biasa indah rasanya. Haru banget rasanya…

Balik ke hotel dan mendengar cerita krucil dan ayah tentang Raudah, yang kata ayah sekalinya nangis sesugukan seumur hidup tuh ya kali itu di makam Rasulullah. Padahal belum berdoa, baru masuk aja, tangis tak tertahankan. Mendengar cerita-cerita tersebut saya mulai gelisah. Kok saya sudah sejauh ini melangkah malah tersendat mengunjungi makam Rasulullah dan mulai bertanya tanya dimana sih letak Raudah. Karena terpisah pintu masuk laki dan perempuan, ayah susah menjelaskan letaknya kalau untuk perempuan, nanya ke bungsu dia juga bingung menjelaskannya. Kemudian nanya di wa group rombongan, ada gak yang mau ke Raudah lagi? gak ada yang jawab sampai sholat Isya…hiks.

Saat sholat Isya, saya dan ayah terlalu mepet berangkat ke mesjid karena mengurus krucil dulu. Sudah adzan kedua baru jalan dari hotel, jadi sholat sudah hampir mulai. Saya pun bergegas nyaris lari ke mesjid. Selesai sholat sunat, saat sedang berdoa…tiba-tiba saya melihat tiga orang teman rombongan saya sedang sholat persis di depan saya. Di mesjid sebesar itu dengan orang sebanyak itu, jarang banget bisa ketemu anggota rombongan kecuali sengaja janjian…kebetulan banget. Eh tanpa di duga, kebetulan lagi mereka sedang membahas tentang ke Raudah pas ketika hati saya gelisah mengenai Raudah. Karena paginya mereka sudah ke Raudah bersama rombongan kami, jadi mereka sudah tahu dimana letaknya…dan saya nanya, boleh ikutan gak? Oh boleh dong, tuh hati saya rasanya plong banget. Ternyata saya masih diijinkan Allah untuk ke makam Rasulullah.

Selesai sholat Isya, kami berjalan melawan arus menuju pintu no 25. Karena saya tanpa persiapan kalau malam itu mau ke Raudah, jadi ya gak bawa apa-apa termasuk tas untuk menaruh sandal jadilah sandal titip di tas teman. Kemudian kami masuk, liat ada antrian berdiri di pintu ujung…kami pun ikutan antri. Eh sama penjaga pintu wanita kami disuruh keluar dari antrian. Awalnya bingung, kenapa disuruh keluar antrian dan disuruh duduk diluar antrian. Ternyata antrian tersebut khusus untuk yang menggunakan kursi roda. Jadilah kami duduk-duduk menunggu dibolehkan masuk. Mata mulai ngantuk berat karena sudah malam, beberapa teman mulai membahas tentang balik ke hotel karena tidak tahan menunggu. Kemudian kami sepakat hendak balik ke hotel, teman-teman mengantuk dan saya belum sempat bilang ke ayah dan krucil kalau mau ke Raudah, takut mereka khawatir. Tepat ketika kami berdiri dan mulai berjalan ke arah pintu keluar, tahu-tahu pintu-pintu yang awalnya tertutup menjadi terbuka semua dan penjaga wanita teriak-teriak dan para pengantri mulai meransek masuk…kami berempat berpandang-pandangan dan memutuskan secara naluriah ikut meransek ke arah pintu yang terbuka. Lari-lari mencari pintu ke arah Raudah…akhirnya kami terpencar, seorang teman menghilang dari kami, sedang kami yang tersisa bertiga mulai berpegangan erat agar tidak terpencar.

Waktu untuk perempuan ke makam Rasulullah hanya 3 saat yaitu setelah Subuh, setelah Dhuzur dan setelah Isya. Sedang untuk laki-laki terbuka setiap saat, itulah sebabnya antrian untuk wanita begitu panjang. Tepat ketika kami mencapai karpet merah dekat makam Rasul, tiba-tiba kami disuruh duduk lagi. Antri lagi, untuk memberi kesempatan pada orang-orang yang sudah mencapai makam untuk sholat dan berdoa. Disini mulai mengobrol sama jamaah rombongan lain, konon katanya bisa sampai jam 12 nih antrian begini. Waduh…mata sudah sepet tapi nanggung kalau balik hotel. Jadi kami sabar menunggu, disini kami ketemu lagi sama teman yang awalnya menghilang. Jamaah dari Indonesia umumnya sabar, gak grasa grusu, yang sering diteriakin penjaga tuh wanita-wanita perawakan tinggi besar entah dari negara mana. Umumnya mereka maju terus dengan alasan ini itu padahal disuruh duduk antri. Disini kami banyak-banyak berdzikir dan shalawat. Antrinya lumayan lama, sekitar 20 menit. Ketika sudah hampir giliran kami…dua menit menjelang dibolehkan masuk, waduh tuh orang jadi beringas-beringas…semua meransek masuk, menerobos antrian. Salah seorang teman menarik kami agar kembali duduk, dia mendengar penjaga bilang haram karena belum waktunya, jadi lebih baik kita duduk lagi aja daripada gak berkah dan percuma juga desak-desakan gitu di dalam, ujarnya.

Akhirnya kami bertiga duduk lagi, sabar menanti giliran lagi. Si teman menghilang lagi, kayaknya terbawa arus yang masuk. Nunggu antrian lagi tuh harus nahan sabar banget , ya nahan ngantuk, nahan di desak orang dari belakang. Waktu yang dinanti tiba juga, giliran kami. Tetap sih desak-desakkan, agar tidak terpencar karena terbawa arus, kami berpegangan tangan erat-erat. Ketika diajak teman keluar aja kita, gak bisa sholat nih kita penuh gitu…eh kami malah terdesak sampai ke pagar pembatas makam. Berdoa sebentar, sambil bantuin bentengin orang-orang yang sedang sholat agar gak terimpit dan terinjak. Selesai itu, entah gimana ceritanya tahu-tahu ada tempat lumayan lega untuk sholat dan saya ditarik teman saya disuruh sholat disitu karena paginya belum ke Raudah jadi dikasih kesempatan pertama…hiks terharu. Alhamdulillah selama sholat sunat 2 rakaat tidak ada gangguan didesak-desak orang lain. Akhirnya kami ganti-gantian sholat disitu, sambil yang lain berjaga membentengi agar yang sedang sholat tidak terimpit. Subhanallah rasanya tuh plong dan senang banget, tiap kami hampir berputus asa eh ada aja jalannya diberi kemudahan.

Keluar dari Raudah tuh sudah malam banget, sekitar jam 12an. Minum air zam-zam dulu sembari istirahat… kemudian baru sadar, ya ampun sandal kami kan dititip sama teman yang terpisah itu. Jadilah pulangnya selain nahan hawa dingin juga nahanin kaki yang kedinginan nyeker di ubin dingin Mesjid Nabawi. Mesjid terasa tenang banget, sepi tapi rasanya senang banget nget walau kedinginan dan kami sibuk janjian besok setelah sholat Isya kita ke Raudah lagi. Nyatanya itulah satu-satunya kesempatan saya ke Raudah karena besoknya gak ada yang ke Raudah lagi. Sesampai di kamar ngeliat krucil dan ayah tidur, jam sudah menunjukkan pukul 1 dinihari. Rupanya ayah baru pulang dari Raudah juga dan krucil hebat saling menjaga berdua dikamar hotel saat ayah bundanya sibuk. Rasa bersyukur itu banyak banget muncul selama di Madinah, hal-hal yang kalau di Indonesia jarang disyukuri, di Madinah jadi banyak bersyukur. Alhamdulillah ya Allah, terima kasih atas semua karuniaMu pada kami.

Mesjid Quba

Mesjid Quba ini adalah mesjid yang pertama dibangun oleh Nabi Muhammad ketika hijrah dari Mekkah. Ketika itu nabi disambut oleh penduduk setempat dengan meriah. Itulah sebabnya mesjid ini sangat spesial dan memiliki keutamaan, bahkan Rosulullah bersabda : ” Barangsiapa yang keluar dari rumahnya kemudian mendatangi mesjid ini, yakni Mesjid Quba kemudian salat di dalamnya, maka pahalanya seperti ia menjalankan umrah”

Begitulah kurang lebih penjelasan pembimbing umroh kami. Itu sebabnya di hari ketiga kami di Madinah, kami diajak berkunjung ke mesjid ini. Disini kami sholat sunat 2 rakaat dan dhuha. Mesjid ini ramai banget, penuh dengan rombongan-rombongan jamaah umroh dari berbagai negara. Disini teman-teman rombongan pada borong baju gamis pria, katanya sih murah 50 ribu aja. Btw, selama di Madinah banyak pedagang yang bisa berbahasa Indonesia dan belanja juga gak perlu repot menukar uang karena Rupiah berlaku juga loh.

Jabal Uhud

Nampaknya Jabal Uhud ini salah satu tujuan semua penyelenggara umroh dan haji. Jabal uhud diartikan sebagai gunung penyendiri, gunung yang terlihat sendiri tempat terjadinya peperangan antara 700 kaum muslimin melawan 3000 kaum kafir Mekkah. Disinilah tempat gugurnya 70 orang syuhada. Ketika ustadz pembimbing cerita tentang perang ini ternyata krucil sudah tahu ceritanya karena sudah mendengarnya disekolah, alhamdulillah akhirnya mereka bisa melihat langsung lokasi dari cerita yang mereka dengar di sekolah.

Di area sekitar terdapat makam para syuhada dan banyak tempat penjual kaki lima yang menurut teman-teman rombongan harganya murah-murah. Kalau di Mesjid Quba bajunya murah, disini lebih murah lagi, 50 ribu dapat dua….yang sudah terlanjur belanja banyak di Quba langsung pada menyesal deh…hehe. Selain untuk belanja, disini menjadi area berfoto-foto. Kami tidak lama disini, karena ada beberapa tempat yang akan dikunjungi lagi selain untuk mengejar sholat dzuhur berjamaah di Mesjid Nabawi.





Kedinginan di Istanbul, Turki

16 01 2018

Sebagai petualang, Turki sudah lama masuk dalam salah satu incaran negara yang ingin di kunjungi. Apadaya sebagai backpacker dengan budget yang lumayan mepet, Turki masih disimpan dalam angan-angan. Namun kalau Allah berkehendak tidak ada yang tidak mungkin, eh siapa yang duga ternyata kesampaian juga ke Turki walau cuma sehari di Istanbul, alhamdulillah yang penting sudah liat dan ngerasain makanan dan udara di Istanbul.

Bermula dari sentilan halus dari Allah yang kami sadari ketika pulang dari berpetualang di Myanmar. Suatu kejadian yang membuat kami berpikir, sudah saatnya nih kami gak cuma berkelana kesono kemari tanpa juntrungan, kami harus berkunjung ke Grand Mosquenya Allah. Jadilah mulai ngumpulin sedikit-sedikit, ketika sudah terkumpul mulai deh hunting travel yang bisa dipercaya karena ketika itu sedang derasnya berita tentang travel-travel bermasalah. Ketika travelnya cocok, eh jadwalnya gak cocok. Sejak sulung saya dimasukkan ke sekolah negeri, susah mencari jadwal yang cocok karena tidak seperti sekolah sebelumnya yang kalau mau berlibur tinggal ngomong, di sekolah negeri hanya boleh berlibur ya hanya saat libur sekolah. Jadilah mencocokkan jadwal libur dengan jadwal travel-travel ini yang ribet, ada jadwalnya saat libur sekolah eh tapi sudah full seat, ada yang masih kosong eh tapi sudah masuk sekolah. Lalu seorang sahabat menyarankan, “kenapa lu gak backpackeran aja seperti biasa coy”…nah ini dia, sebagai orang awam kami gak punya gambaran tentang ritual selama ibadah di Tanah Suci, itu sebabnya kami memilih menggunakan travel daripada backpackeran sendiri.

Akhirnya dapat travel yang bisa dipercaya dan jadwalnya pas dengan yang dikehendaki. Saat sudah mulai proses ini itu, baru tahu kalau ternyata ada acara mampir sehari di Turki karena travel menggunakan pesawat Turkish Airlines, alhamdulillah…berasa dapat bonus. Dan sebagai wong ndeso, sekalinya naik pesawat dalam perjalanan panjang (10 jam) dengan pesawat yang lumayan keren (walau kelas ekonomi) tuh sesuatu…sudah berasa syahrini…hahaha. Krucil langsung happy, sibuk ngutak-ngatik tombol…ayah bundanya sibuk ngembulin diri karena makanannya keju mulu coy…mantap….hahaha #kamseupay mode on#

Selain diajak ke tempat belanja dan tempat makan, selama di Istanbul kami mengunjungi beberapa tempat. Beberapa tempat saya masih gak ngeh namanya, selain karena kedingina juga gak dengar tour guidenya ngomong apa…hiks. Ini beberapa tempat yang kami kunjungi dan semampunya saya menjabarkan dan mendeskripsikannya…


Blue Mosque (Sultan Ahmet Mosque)

Kami tiba dimesjid ini subuh, jadi sholat subuh di mesjid biru ini. Bentuk kubahnya berundak-undak. Dalamnya seperti mesjid pada umumnya cuma lebih megah. Tempat sholat wanita tertutup oleh pintu ayun dan kecil di pojokan. Airnya dinginnya pol karena saat itu suhu mencapai 7┬░C, lumayan bikin ngilu. Menurut guide tour kami Mustofa, muslim di Turki banyak tapi yang rajin sholat 5 waktu itu paling hanya 10%nya. Dan terbukti walau mesjidnya besar, yang sholat didalamnya sedikit, mungkin juga karena subuh…belum pada bangun.


Museum Panorama 1453 Tarih M├╣zesi

Museum ini adalah museum 3 D yang bercerita tentang perang. Cukup menarik sih untuk krucil terutama sulung saya yang memang suka sejarah dan museum. Sayang waktu disini sangat terbatas, lebih ke terburu-buru karena sudah ditunggu sama yang lain di bis padahal kalau krucil di museum biasanya lamanya mengalahkan emak-emak belanja. Kekurangan ikut tour travel ya begitu, kita harus menyesuaikan waktu dan selera dengan peserta lain. Kelebihannya sih tinggal bawa diri aja, gak usah repot ngurus ini itunya, mikirin itenary, dsb.

Selain gambar 3 dimensi tentang perang di lantai paling atas, banyak dipajang pula lukisan-lukisan sultan yang pernah menguasai Turki. Tidak banyak yang bisa saya ceritakan tentang museum ini. Keluar museum, langsung deh menyerbu penjual roti kaki lima…sebenarnya bukan karena lapar sebab seperti saya bilang diatas, ikut tour travel itu kita gak usah repot ini itu termasuk makanan…sudah makan kenyang di resto yang bekerjasama dengan travel. Kami beli cemilan lebih ke kepo, pengen tahu kayak apa sih rasa makanan (cemilan) kaki lima di Turki. Harganya lupa lagi, entah 2,5 Lira atau 5 Lira. Bentuknya kayak donat, berlubang ditengah, lalu diolesin selai (coklat atau keju). Rasanya ya roti coklat cuma lebih kenyal. Laaa kok malah ngomongin makanan, sudah ah…cus kita ke tempat lain.


Hagia Sophia

Hagia Sophia ini letaknya masih dalam satu area kota tua yang di dalamnya ada toko-toko souvenir, resto-resto, Blue Mosque, dan Hippodrome. Jadi jalan kaki muter-muter disini kalau gak terikat dengan tour travel sih pasti akan sangat menyenangkan. Kami aja yang jalannya ngikut rombongan senang walau kurang puas, kurang bisa ngider sesuka hati…hehe.

Hagia Sophia ini awalnya adalah gereja yang kemudian beralih fungsi menjadi mesjid ketika Konstantinopel (Istanbul) dibawah kekuasaan kekaisaran Ottoman (Ustmani). Wah hebatnya saya bisa tahu sejarah padahal mah hasil liat di gugel tuh, soalnya gak begitu dengar penjelasan tour guide karena kejauhan posisi duduknya…haha. Nah sekarang Hagia Sophia beralih fungsi menjadi museum. Untuk tiket masuknya kalau gak salah nih sekitar 165 Lira, hitung aja kaliin 3rb-4rb. Nih karena biaya tiket masuk tidak termasuk tanggungan travel dan mayoritas peserta tidak mau masuk karena tiketnya yang lumayan, jadi kunjungan masuk ke dalam dibatalkan…hiks hiks. Yang penting foto-foto diluar…cheese

Nah yang menariknya adalah diseputaran tempat ini banyak penjual jagung rebus dan kacang kastanye. Melihat kacang ini seketika ingatan kami ke smurf yang suka kacang kastanye…dan karena seumur-umur tahu kastanye hanya di smurf, langsunglah penasaran gimana rasanya. 100gr harganya 10TL (Turki Lira), eh dapatnya cuma segenggam. Mahal sih tapi rasanya enak juga, rebutan deh berempat beranak makan kacang hahaha. Kalau mau yang agak murah, agak menjauh dari daerah keramaian, harganya agak murah dikit sih jadi 7TL. Eh kok malah bahas makanan lagi…

Hippodrome

Konon katanya hippodrome ini tempat kuda kekaisaran, tapi sekarang beralih fungsi jadi taman yang luas tempat jalan-jalan cantik atau foto-foto. Gak banyak sih yang diceritakan tentang hippodrome ini karena ya cuma taman dengan tugu-tugu ala batu menhirnya obelix yang dipenuhi tulisan kuno.

Makam Sultan

Sampai sekarang saya lupa nama makam ini, apa ada yang tahu namanya? Hayu acungkan jari anda. Penjelasan dari tour guide yang paling saya ingat adalah ini makam yang selalu didatangi oleh orang Turki baik untuk jodoh maupun masalah pekerjaan. Setiap Raja yang mau diangkat atau dilantik, selalu mendatangi makam ini dulu dengan menggunakan baju kebesaran. Dalam area ini terdapat mesjid tempat kami sholat dzuhur. Area sholat laki dan perempuan terpisah.

Mesjidnya ramai dan penuh sesak. Di area sekitar mesjid banyak terdapat toko-toko, kedai-kedai dan penjual souvenir. Makamnya sendiri saya sedikit bingung, yang mana yang dimaksud karena di pelataran parkir penuh dengan makam tapi sepi. Ada juga makam dalam sebuah ruangan, nah itu ramai…tapi entah itu yang dimaksud atau yang lainnya, karena di sini tour guide kami cuma membiarkan kami sholat dan foto-foto saja karena tempatnya lumayan bagus dengan bendera-bendera Turki yang bertebaran.

Setelah sholat, krucil malah sibuk main sama kucing yang gendut dan terawat. Banyak banget kucing liar yang gendut-gendut dan bersih. Kemudian kami berburu magnet kulkas yang harganya lebih murah dibanding di kota tua, lalu nyobain doner kebab asli Turki. Sulung saya penggemar kebab kalau di Indonesia, itu sebabnya ketika ada penjual kebab langsung deh beli. Di Turki kebab seperti di Indonesia namanya doner kebab, kalau bilang kebab aja yang dikasih daging panggang karena kebab itu sebenarnya artinya daging yang ditusuk besi dan dipanggang. Doner kebab asli Turki tuh tuh ternyata pakai roti seperti rotinya hotdog gitu deh tapi porsi jumbo. Isinya daging iris yang besar-besar sama sayur. Dagingnya daging kambing, jadi ya gitu deh…makan satu aja bisa untuk dua orang dan puyeng deh makan kambing karena porsinya banyak. Hmmm, kayaknya saya dari tadi bukannya bahas tempat malah ke kuliner…efek hawa dingin kayaknya, yang diurus makanan mulu…haha.

Itulah sebagian tempat yang kami kunjungi selain beberapa yang menurut saya kurang menarik seperti tempat belanja sponsorship. Kesan secara keseluruhan, kami suka Turki…semoga someday bisa kembali ke negara ini lagi, aamiin.