Air Panas Long Kali, Kaltim

22 10 2017

Sudah lama absen berpetualang karena sulung selama setahun ini sibuk ini itu, ya UN, ya masuk SMP, belum lagi tugas sekolah yang bejibun. Jadi setelah terima raport tengah semester, ayah mengajak kami ngacir sebentar, cuma punya waktu 1,5 hari…yuk markimon.

Sabtu siang langsung dadakan siapkan ini itu, tujuan mah belakangan. Jejalkan  dan berangkaaattt. Setelah dijalan baru deh diskusi. Dengan pertimbangan paling lambat minggu siang sudah sampai di rumah karena sulung harus ngerjain PR, tujuan menyusut jadi yang terdekat…Tanah Grogot. Sempat main sebentar di air terjun Gunung Rambutan, malamnya menginap semalam di Grogot. Ketika sedang keliling cari makan di tepian Kandilo setelah sholat di mesjid raya, eh mata krucil tertombok pada buku buku yang berserakan di troatar pinggir tepian Kandilo, karena awalnya dikira buku bekas…berhentilah sebentar, lumayan kalau dapat buku murah untuk bacaan di rumah. Setelah mendekat, ngobrol sama yang jaga stand buku eh ternyata bukan jualan buku bekas tapi semacam perpustakaan keliling. Akhirnya ngobrol ngobrol deh sama anak-anak muda tersebut…dari awalnya ngobrol buku, eh akhirnya ngobrol tentang tempat wisata karena ternyata mereka pecinta alam juga.

Hasil ngobrol muncul dua destinasi, air terjun Doyam Seriam dan Air Panas Long Kali. Karena air terjun Doyam tersebut jalannya offroad harus pakai jeep sedang teman mereka yang awalnya mau jadi guide berhalangan tidak bisa mengantar, akhirnya pilihan terakhir ya yang aksesnya lebih mudah yaitu air panas. Berdasarkan petunjuk yang kami dapat lokasinya di Long Kali, sebelah kanan kalau dari arah Grogot dan letaknya sebelum jalan terbagi dua. Jadilah minggu pagi setelah check out hotel, krucil nagih ke air panas. Baiklah…sekalian jalan pulang gak ada salahnya kita mampir.

Sama sekali tidak ada papan penanda, hasilnya bisa diduga …mengandalkan nanya ke warga setempat. Akhirnya nyampai juga, walau panas menyengat…..yippie. Dari jalan raya masuk ke dalam sekitar 3km, memasuki perkebunan sawit dengan jalan yang lumayan hancur. Biaya parkir mobil 10rb, tiket masuk 2500 per orang. Masuk hutan lagi, dan lagi-lagi cuma ada kami berempat. Kemudian ada jembatan kayu…dan muncul deh kolam air panas berwarna kehijauan dengan permukaan tertutup belerang yang berbau menyengat. Lumayan panas sih tapi gak panas sekali yang bisa bikin telor mateng 😊

Lalu masuk hutan agak jauhan dikit, muncul kolam biasa, bukan air panas. Menurut saya sih tempatnya keren, berhutan-hutan dan berbatu-batu. Banyak pohon yang akarnya muncul di batu-batu besar, mengingatkan kami pada Angkor Watt. Sayangnya kurang perawatan aja sih, tapi menurut kami ini salah satu wisata yang cukup keren yang ada di Kaltim kalau dikelola dengan baik.

Advertisements




Air Terjun Lano, Tabalong – Kalsel

22 10 2017

Agustus 2017
Jika menempuh perjalanan darat menuju Kalsel pasti melewati air terjun Lano ini. Namun dahulu air terjun ini tertutup rimbunnya ilalang dan pepohonan sehingga menimbulkan kesan seram. Nah, setelah kami pulang dari Tanjung , eh saat melewati tempat ini sudah jadi kawasan terbuka dan terlihat ramai dengan pedagang. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, kami pun mampir sejenak.

Kami datang terlalu pagi, saat tiba ditempat ini jam masih menunjukkan pukul 8 pagi. Nampaknya penjaga loket belum datang, ketika bertanya sama pedagang yang sudah ada dikawasan ini, kami dipersilahkan langsung masuk saja, konon kata pedagang sih 15 menitan juga sampai. Karena masih pagi, ya cuma ada kami ber empat di kawasan hutan tersebut jadi sepi banget…dan berhubung si bunda petualang yang penakut, jadi ya dibuatlah suara-suara biar ramai. Untuk menuju air terjun harus melalui kawasan hutan dan jalurnya bolak balik menyeberang sungai kecil. Lumayan jauh dan menguras keringat jalan menuju air terjun utama, bagi kami sih sekitar 30 menit. Terkadang selama perjalanan kami bertemu binatang melata yang belum pernah kami liat sebelumnya, berhenti dulu memperhatikannya…pernah juga saya melihat cacing geliat-geliat dibalik daun-daun kering dan tindakan pertama saya adalah jerit memanggil si ayah dan kemudian lari terbirit-birit…haha, kirain ular, maklum petualang penakut 😂 jadi gak heran fotonya berjaket full, bukan karena dingin eh dingin sih kawasan tersebut, tapi berjaket lebih ke preventif kalau ada binatang kecil-kecil ikutan nebeng hehe…

Setelah bercucuran keringat, akhirnya terlihat juga air terjun utama. Kawasan ini terdapat air terjun kecil-kecil sepanjang perjalanan. Air terjunnya bagus, tinggi dan deras. Setelah puas main air dan foto-foto, pulang deh. Ketika sampai diparkiran, ditagih tiket masuk yang saya lupa lagi berapa, antara 5rb atau 15rb per orang. Oh iya, kalau mau ke tempat ini enaknya sih bersandal jepit karena seperti saya ceritakan diatas, jalurnya bolak balik menyeberang sungai kecil, jadi mau gak mau ya basah-basahan. Tapi jangan khawatir, dipintu masuk, banyak pedagang-pedagang yang menjual dan menyewakan sandal jepit.





Natuna

14 05 2017

Apa yang terpikir kalau mendengar nama Natuna? Kalau saya sih ikan , kalau si ayah malah kerjaan Belakangan Natuna khususnya kepulauan Anambas terkenal sebagai destinasi wisata bahari yang konon tidak kalah dari Raja Ampat. Nah karena sedang ngehits itulah sebenarnya saya tertarik banget mengunjungi kepulauan Anambas ini, tapi si ayah ke sana dalam rangka kerja …hiks hiks….gigit bantal.

Ayah sudah sering sih ke Natuna tapi biasanya selesai kerja langsung pulang. Kali ini kebetulan si ayah sedang standby di Natuna, karena statusnya standby jadi bisa jalan-jalan deh selama disana. Ya karena bentuknya kepulauan, ya jalan-jalannya sih naik perahu atau speedboat, selama di pulau utama ya naik ojek (di sana tidak ada angkutan umum). Tapi mungkin karena jarang ada wisatawan yang ke sana, ya gitu deh…harganya ya harga rajin nawar Kalau dari hometown ke lokasi kerja si ayah naik 2x pesawat plus 1 kali helikopter Jadi bisa ngebayangin jauh lokasinya. Kalau yang saya baca sih, sebagai pengganti heli, dari Tanjung Pinang ada kapal ferry menuju kepulauan Anambas ini. Cihuuuy….kalau ada ferry artinya someday kami bisa ke sana sebagai wisatawan


Pulau Palmatak

Ayah keliling Palmatak naik ojek. Awalnya ketika ditanya ongkosnya dijawab seiklasnya, begitu ditembak 100rb eh dijawab ojeknya biasanya 250rb …hehe, inilah sebabnya kenapa saya sebut harga rajin nawar. Tidak banyak sih yang bisa dikunjungi di Palmatak, paling top keramba yang konon tidak semua orang boleh masuk karena harga ikan yang diternakkan 70jt per ekor….OMG, kepikir gak sih siapa aja yang beli tuh ikan dan gimana rasa makan ikan seharga 70jt?

Pulau Tarempa

Ke pulau Tarempa ini ayah naik perahu selama kurang lebih 30 menit dari Palmatak, biayanya 20rb. Tarempa ini ibukota kecamatan Anambas, jadi lebih ramai. Selama di Tarempa ayah carter ojek 250rb untuk keliling pulau. Harga carter ojek lebih murah dibandingkan naik ojek pertujuan, karena sekali naik ojek ke satu tujuan biayanya 60rb, kalau ada beberapa tujuan jadi jatuhnya lebih mahal. Wisata di Tarempa hanya air terjun, wisata kuliner dan pantai tentunya. Nah menurut blog yang saya baca sih dari Tanjung Pinang ada ferry reguler menuju Tarempa ini.

Oh ya, yang menarik adalah ayah ke Tarempa ini hari Sabtu, sewaktu selesai makan disalah satu tempat makan melayu saat hendak bayar eh sama pemilik tempat makan di gratiskan karena itu hari bersedekah, istilahnya hari puasa…jadi siapapun yang makan di situ gratis. Wow, keren…daebak!

Pulau Semut

Ke Pulau Semut ini rejeki ayah, saat ketemu teman kerjanya yang warga asli Palmatak, eh ditawari ikut dia dan anak anaknya ke pantai naik perahu. Pasti bingung kan dengar ke pantai kok naik perahu, sama dengan saya waktu dengar cerita ayah. Rupanya yang disebut pantai oleh warga lokal adalah pulau. Jadi kalau diajak ke pantai artinya ke pulau. Lama perjalanan dari Palmatak kurang lebih 25 menit.

Dilihat dari foto fotonya sih Pulau Semut ini juaranya, airnya jernih, dangkal dan berbatu batu. Kalau kata ayah mirip Phi Phi Island…wuih keren banget dong. Perahu tidak dapat merapat ke pulau karena penuh batu, jadi dari perahu berenang dulu ke pantainya. Ok deh yah, selamat bersenang senang ayah





Petualangan Pertama Sulung

23 01 2017

20170123-085922.jpg

Sejak awal kami sering mengajak krucil keluyuran adalah dengan tujuan agar krucil kami bisa melihat dunia itu terdiri dari berbagai warna (bangsa, bahasa, adat istiadat, agama, ras, dan masih banyak lagi). Dengan krucil melihat sendiri, saya tidak perlu repot-repot menjelaskan kepada krucil bahwa perbedaan itu ada tapi tidak untuk membedakan. Lihatlah dunia ini justru terasa indah dengan berbagai warna tersebut. Ini juga sebagai bekal untuk menghadapi dunia mereka sendiri kelak, harapan kami sih agar mereka lebih mudah beradaptasi, tidak gampang menyerah dan toleran.

Itu sebabnya ketika ada pengumuman dari sekolah bahwa akan diadakan supercamp (di kota lain yang berjarak sekitar 7 jam dari hometown) dengan semangat 45 saya menyuruh sulung saya mendaftar, gak peduli dia nangis-nangis gak mau ikutan…pokoknya harus ikut demi masa depanmu sendiri kelak nak…halah lebay mode on. Mungkin akan terasa berat, tapi kelak suatu hari nanti sulung saya akan mengingatnya sebagai kenangan indah bahwa inilah petualangan pertamanya sendiri tanpa ada keluarga yang mendampingi. Dan itupula sebabnya saya harus merekam memori ini dalam blog sebagai kenang-kenangan untuk sulung saya kelak.

Beberapa minggu sebelum hari keberangkatan masih santai, ayah bunda dan anaknya sama-sama santai. Seminggu menjelang hari kebarangkatan, sulung mulai sibuk latihan ini itu di sekolah dan pulang mulai menjelang maghrib…tapi masih santai. Tiga hari menjelang hari keberangkatan, ada pertemuan wali murid dan guru untuk membahas supercamp dan peralatan yang harus disiapkan. Pulang pertemuan, ayah yang dengan semangat membara langsung mengajak nyari ransel pendaki gunung …hadeuh tepok jidat, memangnya yang mau camping ayahnya atau anaknya sih? Eh mahal pula lagi ransel pendaki gunung itu, baru tahu eike…*manggut-manggut*

Tidak hanya ransel, ayah pun mulai kasak kusuk dengan tenda, sleeping bag, dan printilan-printilannya. Ayahnya sibuk dengan printilan camping, bundanya sibuk nyiapin baju dan peralatan mandi, sementara anaknya masih anteng, santai kayak di pantai. Dua hari menjelang, peralatan harus dikumpulkan di sekolah…giliran sulung yang sibuk ngecek-ngecek ala kadarnya. Dan di hari keberangkatan semua sibuk….selamat bersenang-senang sayang.

Sulung berangkat bersama rombongan sekolahnya naik bis. Malamnya masih belum merasa apa-apa, tapi begitu foto anak-anak supercamp di share di grup WA…hiks hiks bundanya mulai merasa sedih. Tiap hari, selama lima hari, kerjaan ayah bundanya mantengin grup, berharap-harap foto kegiatan anak-anak selama di sana di share ..haha. Gini ya rasanya melepas anak sendirian jauh dari rumah…sedih, kepikiran gimana makannya, gimana tidurnya, apakah kehujanan, kesehatannya, dsb dst dll.

Walau pada awalnya menolak ikutan supercamp tapi begitu dijemput setelah pulang supercamp, meskipun waktu sudah menjelang tengah malam, banyak hal yang diceritakan sulung kepada ayah bundanya…tentang bagaimana regunya memenangkan perlombaan, bagaimana capeknya saat rotasi, bagaimana pengapnya tenda, serunya naik bis yang terasa seperti roller coaster, tentang bikin kulkas ala McGyver bersama teman-teman demi mempunyai minuman dingin, dsb. Dari cerita sulung terlihat betapa dia menikmati semua petualangannya. Ayah bunda memang berharap abang bersenang-senang bersama teman-teman dan menyimpannya sebagai kenangan indah masa kecil abang. Suatu hari kelak, mungkin abang bersama teman-teman abang bisa menertawakan kejadian-kejadian lucu selama camping ini di grup WA atau media social lainnya sambil mengenang dan mengatakan bahwa inilah petualangan pertama abang sendiri…we love you…muah muah..





Balikpapan – Berau – Bulungan

24 12 2016

Ayah belakangan ini bolak-balik nanya, kapan krucil libur. Ternyata ada rencana tersembunyi untuk mengajak kami berpetualang lagi. Dia masih penasaran mengelilingi pulau Kalimantan by land, terutama daerah yang masih belum diinjaknya yaitu bagian barat pulau. Namun setelah ditimbang jaraknya yang konon 1800km sedang cuti terbatas hanya 4 hari + libur Sabtu-Minggu..akhirnya pilihan yang masuk akal adalah mengajak krucil melihat nemo di Derawan.

Malam sebelum berpetualang, ayah mengajak krucil ke salah satu swalayan untuk mengisi perbekalan dijalan sementara si bunda sedang asik dengan drama korea (eeaa…hehe). Perbekalan penuh tinggal urusan si bunda nih ngurus packing-packing keesokan harinya lalu menitahkan krucil untuk memasukkan semua kebutuhan dalam mobil…siap berangkat. Eits tapi gak bisa berangkat dulu sebelum ambil raport krucil.

# Menuju Berau, 16 Desember 2016 #

==> Day 1

Jumat sore, sepulang ayah kerja dan setelah pembagian raport, kami langsung ngacir. Tujuan adalah Samarinda, pitt stop sekaligus memberitahu orang tua saya bahwa kami hendak ke Derawan. Lama perjalanan 2-3 jam dengan jarak 126 km. Tapi begitu sampai kami berkeliling mall dulu, berburu snorkeling dan kacamata renang. Alat snorkeling kami tidak ketemu, sebenarnya di Derawan ada penyewaan snorkeling sih cuma membayangkan ganti-gantian alat snorkeling rasanya gimana gitu…mending beli baru deh. Setelah dapat alat snorkeling, istirahat dulu sebelum petualangan dimulai…hmZZzzzZz

==> Day 2

20161224-014635.jpg

Keesokannya, setelah sholat subuh dan mandi…jalan lagi. Kali ini perjalanan cukup jauh dan tanpa bayangan apakah jalannya masih rusak seperti dulu atau sudah baik. Kami berangkat sekitar jam 5 subuh, belum sempat sarapan…untung stok cemilan cukup banyak.

Samarinda-Bontang sekitar 180 km ditempuh dengan waktu 3 jam. Bahan bakar sedang susah di Samarinda dan Bontang…hampir semua SPBU tutup atau antrian mengular panjangnya. Dengan pertimbangan mengejar waktu agar tidak kemalaman di jalan, kami memutuskan tidak ikutan mengantri dengan harapan di Sangatta kondisinya lebih baik. Di Bontang kami mampir sebentar untuk sarapan sebelum melanjutkan menuju Sangatta.

Bontang-Sangatta kurang lebih ditempuh 1 jam lebih, banyak jalan berlubang. Sepanjang perjalanan hujan gerimis, suhu cukup dingin dan bikin cepat lapar lagi. Di Sangatta ternyata kondisinya sama dengan kota-kota lainnya, terpaksalah mengisi BBM di eceran pinggir jalan 200rb. Di sini kami mengisi perbekalan makanan di mobil, beli wing bucket dan perkedel KFC, jaga-jaga kalau tidak nemu tempat makan selama perjalanan, tapi belum apa-apa sudah habis duluan..haha..

Sangatta-Muara Wahau ditempuh kurang lebih 4 jam. Keluar Sangatta jalan banyak rusak, namun setelah simpang Bengalon jalan mulus. Kami tiba siang di Muara Wahau, mampir makan siang dulu karena sudah pada kelaparan sekalian ayah meluruskan badan dulu. Setelah sholat, perjalanan berlanjut menuju Tanjung Redeb.

Muara Wahau-Tanjung Redeb kurang lebih 5 jam. Kami banyak berhenti untuk istirahat dan bermain di semacam air terjun tempat truk-truk berhenti beristirahat. Jalan lumayan mulus, sayangnya sepanjang perjalanan yang kami jumpai lebih banyak kebun sawitnya daripada hutan. Hutan beralih fungsi jadi kebun sawit…hiks sedih jadi gak bisa nunjukin ke krucil hutan Kalimantan yang indah itu deh.

Berdasarkan pengamatan saya, kondisi jalan sudah 80% mulus namun sayangnya kondisi hutan berbanding terbalik dengan kondisi jalan. Baru memasuki daerah Kelay hutan masih keliatan asri. Di daerah Kelay inipula kami melihat desa wisata Merasa (Merasa Village) …mau tahu tempat ini googling sendiri ya karena kami belum masuk juga.

Akhirnya sekitar jam 19.30 sampai juga di tanjung Redeb. Untungnya SPBU Tanjung Redeb tidak mengantri…langsung isi penuh sekitar 200rb. Kami menginap di Hotel Sederhana yang letaknya dekat tepian sungai Segah, rate yang standard room Rp 363.000. Cari makan di sepanjang sungai banyak penjual makanan, lalu balik hotel dan grookkk…waktunya mimpi indah.

==> Day 3

Setelah tidur nyenyak, badan kembali segar. Jam 5 subuh sudah packing-packing lagi, mandi, jalan-jalan di tepian sungai dulu…lalu sarapan di hotel. Check out sekitar jam 07.00, lanjutkan perjalan menuju Tanjung Batu. Di perempatan ayah dan krucil maksa belok kiri, katanya ada jalan tembus…padahal saat nanya orang hotel dikasih tahu kembali ke tempat kami datang dulu, baru disitu liat petunjuk arah. Akibatnya bisa ditebak, kami nyasar dengan sukses, muter-muter selama satu jam di Berau…haha daebak. Tapi gpp deh, jadi bisa ambil uang dulu persiapan di pulau nanti. Note untuk wisatawan, ATM di pulau Derawan saya lihat cuma ATM bersama BRI…berhubung saya pelit kalau pakai ATM bersama ada potongan ini itu, jadi saya pilih narik ATM punya bank tabungan saya aja biar gak kena potongan…haha…

Pelabuhan menuju Derawan ada di Tanjung Batu ini, jalannya 1/3nya rusak. Lama perjalanan sekitar 2 jam lebih dengan jarak 132km. Dulu hutan di Tanjung Batu ini super duper keren, sekarang rusak parah…jadi gagal deh nunjukin hutan disini ke krucil. Dalam 10 tahun banyak yang berubah, apalagi 10 tahun kedepan, jaman krucil siap berkelana sendiri…mungkin hutan sudah tinggal kenangan.

Kami tiba di pelabuhan Tanjung Batu ini sekitar jam 10-an. Parkir, waktu parkir kebetulan ada bapak-bapak lewat, nanyalah sama dia…disini ya tempat parkirnya pak? Sekarang pelabuhan Tanjung Batu ada dermaganya, dulu sih letaknya dibelakang pasar. Ternyata bapak itu supir speedboat, dia ngasih tahu disitu parkirnya atau kalau mau masuk dermaga disitu bisa juga cuma nanti kena charge 15rb/orang. Ya sudah parkir situ deh, lalu bapak (pak Tion) itu nawarin speedboat, dia minta 600rb pp. Bukan emak-emak dong kalau gak nawar…tawar 500rb pp. Dia setuju…deal..siapkan barang-barang yang mau dibawa, snorkel, koper baju, stok cemilan yang masih banyak, dan air mineral galon kecil.

Ngomong-ngomong tentang air mineral, sebulan lalu saya mengajak ayah berbelanja di salah satu pusat grosir, kebetulan waktu itu ayah melihat air mineral galon ukuran kecil…lucu juga nih saya pikir. Dibelilah air galon tersebut…harapan saya ya kalau saya harus mengganti galon sendiri di rumah saat ayah sedang di lokasi…kan ribet amat ngangkat galon besar, kalau galon kecil sih masih sangguplah. Sementara si ayah berpikir lain rupanya, galon kecil itu stok untuk dimobil kalau mendadak pengen berpetualang dan kami butuh minuman atau air untuk cuci muka. Ini salah satu bukti men from mars, women from venus …beda pemikiran …hahaha

Untung bawa air galon kecil ini, lumayan menghemat karena ayah dan krucil minumnya banyak tiap habis berenang sedang air mineral lumayan juga harganya di Derawan. Kembali ke cerita perjalanan, entah karena naik speedboat siang atau memang ombaknya lumayan besar saat menuju Derawan, speedboatnya terhentak-hentak yang membuat saya tegang sementara krucil happy banget melihat burung-burung bertengger di kayu yang terombang-ambing dilautan. Lama perjalanan dari Tanjung Batu ke Derawan 20-25 menit.

Begitu sampai jam menunjukkan pukul 11.00, supir speedboat menunjukkan salah satu cottage. Si ayah pengen di resort, sedang saya milih di cottage aja, wong seharian bakal banyak dilautnya daripada di kamar, lumayan hemat lagi…nah ini entah bukti men from mars, women from venus atau si bundanya aja yang pelit ..hahaha. Akhirnya kami pilih Sunrise Cottage Rp 300.000 / malam.

Setelah masukin barang ke kamar…krucil langsung ngajak nyemplung. Sebelum berenang harus ngisi tenaga dulu dong, karena pengen buru-buru sampai Derawan kami tidak makan dulu di Tanjung Batu, nyari makannya di Derawan aja. Selesai makan, ayah dan krucil langsung berenang. Kerjaan selama Derawan ya berenang seharian, snorkeling, ngasih makan ikan…berenang lagi, snorkeling lagi, ngasih makan ikan lagi. Malam pertama hanya ada kami di cottage tersebut, jadi seru banget…nongrong depan kamar memandang lautan dan bintang yang tampak lebih banyak dan bersinar terang disertai suara deburan ombak. Kami 3 hari 2 malam di Derawan, cerita tentang Derawan bisa dilihat dipostingan sebelumnya.

# Menuju Bulungan, 20 Desember 2016 #

==> Day 5

20161224-015757.jpg

Selasa pagi telp pak Tion minta jemput jam 8 pagi. Sembari nunggu kami jalan-jalan dulu cari souvenir…nyari magnet kulkas gak ada sebagai gantinya krucil beli gantungan kunci dan ayah beli baju. Setelah itu nongkrong depan kamar, menunggu speedboat datang sembari memberi makan ikan. Saat menunggu itu saya melihat awan hitam bergelayut di langit…wah gawat nih kalau hujan saat kami ditengah lautan. Akhirnya telp lagi pak Tion, dipercepat dong datangnya…setengah jam kemudian datanglah yang ditunggu ternyata pas datang jam 8-an juga…hehe.

Laut tenang banget saat kami pulang…kalau begini bisa menikmati perjalanan deh, bisa berfoto-foto juga (teuteup ya narsis…hehe). Saya pernah cerita bahwa dulu ketika ayah bunda ke Derawan 10 tahun lalu, sering ngeliat ikan terbang saat naik speedboat dan beruntungnya dalam perjalanan pulang naik speedboat ini krucil melihat juga ikan yang terbang-terbang membuat mereka antusias. Kata bungsu saya, I Love Derawan…haha…sudah diajak kemana-mana, baru kali ini bilang love artinya suka banget tuh si bungsu sama Derawan. Setelah perjalanan selama 20 menit, sampai di Tanjung Batu. Saat masukin barang dalam bagasi…ditagih uang parkir 100rb, rupanya tarif parkir di dermaga 50rb/malam.

Di parkiran sinilah kami berdiskusi dengan krucil, lanjut ke Tanjung Selor (Bulungan, Kaltara) atau ke Tanjung Redeb (Berau)? hasilnya kami memutuskan ke Tanjung Selor mumpung sudah di Utara Kalimantan. Lama perjalanan dari Tanjung Batu kurang lebih 4 jam. Kondisi jalan ke Bulungan bagus dan yang paling menyenangkan hutannya keren. Kata ayah, ini baru namanya hutan Kalimantan (si ayah kecewa selama merantau ke Kalimantan jarang ngeliat hutan yang masih benar-benar hutan).

Kami sampai sekitar jam 13.00 siang, kelaparan berat. Di Tanjung Selor makan siang, nyari cemilan di pasar induk, jalan-jalan di tepian Sungai Kayan, main sebentar di Tugu Pedamaian lalu balik arah ke Berau. Awalnya kalau ada waktu pengen sekalian nyeberang ke Tarakan, sayang waktu mepet karena libur ayah cuma sebentar. Kami hanya beberapa jam saja di Tanjung Selor, untuk memuaskan rasa ingin tahu tentang propinsi termuda di Kalimantan ini. Tentang petualangan kami di Kaltara, bisa dilihat di posting sebelumnya.

# Menuju Berau kembali, 20 Desember 2016 #

20161224-020926.jpg

Kami tidak bisa lama-lama main di Bulungan karena ayah mengejar waktu agar tidak kemalaman di jalan, kondisi jalan kan belum hapal betul dan berkelok-kelok tajam. Jam 16.00 kami melakukan perjalanan kembali. Sekitar jam 18.00 mulai masuk Berau lagi. Di mobil mulai diskusi alot masalah hotel yang akan dipilih. Ayah dan krucil maksa harus cari hotel berbintang, karena capek selama petualangan pengen menikmati tidur di hotel bagus. Bunda ngotot hotel biasa aja, toh hotelnya cukup bagus juga dan cuma tidur semalam doang. Saat vote si bunda kalah, untung bunda cerdik bilang…hayoo siapa yang dukung bunda selisih uang hotel mahal dengan hotel standard bunda kasih ke kalian daripada uangnya di kasih ke orang hotel, mending untuk kalian. Dan hasil akhir, bunda memenangkan vote…haha. Apesnya kamar standardnya penuh, sisa deluxe dengan rate Rp 495.000. Tapi tetap masih lebih murah dari hotel mahal…hahaha *ketawa pelit*. Di Berau ini, ayah isi BBM lagi 130rb. Kemudian cari makan, langsung tidur…ZzzzzZz

# Menuju Samarinda, 21 Desember 2016 #

==> Day 6

Mulih mulih, saatnya pulang. Walau krucil protes protes, petualangannya kurang lama…tenang aja, masih akan ada petualangan-petualangan lain yang menanti. Perjalanan pulang kami agak santai, di hotel krucil tidur sampai jam 06.00, lalu mandi, sarapan. Baru jam 7 lewat check out hotel. Di Berau pun bersantai-santai membuktikan teori bunda bahwa ada jembatan menuju istana Berau yang letaknya dipulau tengah sungai Segah…ternyata salah, sambil ledek-ledekan deh, si bunda urusan baca peta emang suka ngaco haha.

Di daerah Kelay, si ayah penasaran dengan Merasa Village…nyobain treknya sebelum mutar arah lagi, karena jalan tanah sedang mobil yang dipakai bukan mobil offroad. Kami banyak berhenti dan jalannya santai banget, gak ngebut seperti saat pergi. Di air terjun kecil, berhenti lagi…main air dulu sekalian ngilangin ngantuk. Makan siang di Muara Wahau, baru agak ngebut karena ngejar makan malam di Bontang. Di Sangatta berhenti sholat dan isi BBM 200rb. Sampai simpang Bontang ternyata sudah 18.30, wah kalau masuk kota bakal lama lagi nih sehingga kami putuskan makan di Kenari aja (pertengahan Bontang- Samarinda). Baru jam 22.30 kami sampai di Samarinda. Ayah bunda tepar dengan sukses, badan pegel-pegel…eh krucil masih bisa perang bantal sampai jam 24.00. Usia tidak bisa dibohongi…haha..

Saya dan krucil menghabiskan sisa liburan dirumah orang tua saya, sedang ayah melanjutkan perjalanan kembali menuju little house on the prairie keesokan harinya disertai sms, total odometer menunjukkan 1889 km sampai rumah, sambil bilang “tuh sudah bisa sampai Kalbar tuh”…haha teuteup si ayah masih penasaran. Ok yah, lain kali kalau liburnya panjang kita susuri Kalimantan ujung yang belum tersentuh kita…sabar aiiii… hehe…





Tugu Perdamaian, Tanjung Selor (Kaltara)

22 12 2016

20161223-052405.jpg

Sepulang dari Derawan, di Tanjung Batu, ayah bertanya…gimana kalau kita lanjutkan petualangan kita? Mari kita vote dulu, mau ke Tanjung Redeb (ibukota Berau) atau Tanjung Selor (Ibukota Kaltara) ? Ternyata mayoritas penasaran dengan Kaltara…markimon, kita lanjutkan petualangan mumpung sudah berada di utara Kalimantan.

Dari Tanjung Batu ke pertigaan Tanjung Batu-Tanjung Selor-Tanjung Redeb sekitar 2 jam, dari pertigaan tersebut menuju Tanjung Selor juga sekitar 2 jam. Sekitar jam 13.00-an kami sampai di Tanjung Selor. Begitu tiba disambut dengan jalan lebar dua arah dan deretan perkantoran pemerintahan tapi sepi banget. Baru agak mendekati arah Sungai Kayan mulai terlihat keramaian, ada pasar induk yang kebanyakan menjual produk Malaysia, ada tempat makan (ini yang paling dicari sepanjang perjalanan karena sudah lapar berat), dan ada sungai tentunya 😀

Kami mencari tempat makan mengandalkan google map, katanya sih tempat makan paling top. Setelah pesan ini itu, eh ternyata beneran top loh….top lamanya dan top mahalnya ..hiks. Setelah makan, googling tempat wisata dan tanya sama warga sekitar terrnyata kebanyakan tempat wisata jauh dari pusat kota. Akhirnya kami hanya jalan liat seputaran tepian Sungai Kayan dan berfoto di Tugu Perdamaian.

Kami memutuskan tidak menginap disini karena mengejar waktu, cuti ayah yang sebentar aja…jadi lebih hemat waktu jika kami menginap di Berau di banding Bulungan. Jam 16.00 kami pun memutuskan balik ke Berau….iseng banget cuma numpang makan siang di sini wkwkwk. Yang menarik perhatian krucil selama di Kaltara adalah plat kendaraan yang masih menggunakan plat Kaltim. Selain itu yang paling menarik adalah hutannya yang masih lebat…ini baru keren *sepuluh jempol*.





Derawan, Berau

22 12 2016

20161222-072334.jpg

Kurang lebih sepuluh tahun yang lalu, ayah dan saya melakukan perjalanan nekat menembus hutan menggunakan mobil jeep tua menuju Derawan. Kenapa saya bilang nekat? Karena selain sepi, ketika itu jalannya rusak parah, lebih banyak kubangan lumpurnya dan memakan waktu yang lumayan lama untuk bisa tembus ke tujuan dan kami lakukan hanya berdua yang ketika itu membuat orang-orang yang kami jumpai dijalan heran, berani juga kami melakukan itu.

Tujuan petualangan akhir tahun kami kali ini sebenarnya bukanlah Derawan, tapi kota lain di ujung pulau. Tapi setelah mempertimbangkan waktu dan jarak, akhirnya kami memutuskan untuk mengulang petualangan kami sepuluh tahun lalu dengan team yang lebih komplit bersama krucil kami. Kami ingin menujukkan tempat-tempat yang sering kami ceritakan kepada krucil, agar mereka bisa melihat dan merasakan sendiri serunya petualangan ayah bundanya dulu serta menikmati keindahan hutan yang dilalui dan menakjubkannya kepulauan Derawan.

Singkat cerita, setelah menempuh waktu 16 jam menembus hutan yang sekarang lebih banyak berubah menjadi kebun sawit serta terhentak-hentak di speedboat, kami tiba di Derawan sekitar jam 11-an siang. Begitu tiba apa yang dilakukan krucil? Melototin perairan yang berada di depan kamar kami. Kami menginap di salah satu cottage yang letaknya menjorok ke laut…jadi kalau mau melihat satwa laut ya cukup nongkrong depan kamar. Setelah melihat laut, mereka langsung ngajak ayahnya berenang. Tapi kami paksa makan dulu, baru deh boleh berenang.

Makanan di Derawan serba 25rb, entah hanya kami aja atau memang segitu harganya. Nasi goreng 25rb, nasi kuning 25rb, ikan tergantung ukuran 25-50rb, ayam goreng/bakar 20-30rb/potong tanpa nasi. Lumayan menguras kantong selama di Derawan ya urusan perut ini…4 orang x 3 waktu makan = *nangis* TT

Lupakan urusan perut, liat ke dalam air yang jernih, indah banget dah…walau tetap sih menurut ayah dan saya lebih indah sepuluh tahun lalu. Dulu penginapan yang menjorok ke laut bisa dihitung, hanya 3-4 aja…sekarang semua berlomba-lomba bikin menjorok ke laut yang walau sebagai konsumen terasa menyenangkan dari bangun tidur sampai mau tidur bisa ngeliat laut tetap aja ada efek negatif dari ini semua. Kebanyakan air kamar mandinya langsung dibuang ke bawah alias ke laut, coba bayangkan berapa banyak sabun,detergen,shampo yang mencemari laut. Efek kumulatifnya menurut saya (ini menurut saya loh sebagai orang awam), ya mencemari dan merusak kehidupan laut yang ironisnya justru menjadi andalan wisata di Derawan. Contoh paling keliatan sih, sudah mulai keliatan sampah di dasar laut, ada beberapa bungkus plastik yang saya lihat.

Tapi bagaimanapun, krucil saya happy. Mereka tidak jemu-jemu nongkrongin laut dari bangun tidur sampai mau tidur lagi. Mereka heboh banget ketika melihat ikan berseliweran, penyu mondar-mandir depan kamar sedang sibuk memakan rumput laut, ikan-ikan yang berdatangan ketika mereka melempar roti, bahkan melihat lionfish, starfish dan sebagainya cukup membuat suara mereka serak teriak-teriak kegirangan. Berenang seharian, istirahat mandi, makan, sholat…lanjut berenang lagi walau bagi saya sih mereka cuma main air bukan berenang beneran…hehe..

Bagi ayah dan saya yang sudah pernah kesini, rasanya pengen meneruskan penjelajahan dengan island hopping ke pulau sekitar seperti Sangalaki, Kakaban dan Maratua apalagi dapat tawaran yang lumayan menggiurkan dari supir speedboat. Sayang krucil sudah terlanjur jatuh cinta bersnokeling dan memberi makan ikan di spot favorite mereka sehingga tidak tertarik diajak ke pulau lain. Baiklah kalau begitu. Next time kita kesini lagi ya krucil, sekalian kita explore pulau dan tempat lainnya 🙂