Balikpapan – Palangkaraya – Sampit – Pangkalan Bun – Banjarmasin

5 01 2020

Setiap saya ijin bertualang kepada orang tua saya, ibu saya sering ngomel, “kenapa sih pikiran kalian tuh jalan aja terus”. Hmmm, sebenarnya saya juga gak tahu kenapa…mungkin bawaan orok, memang sudah dari sononya begitu 😂 Tapi setelah saya pikirkan lagi, mungkin karena masa kecil saya dipenuhi oleh novel-novel petualangan karya Enid Blyton seperti Lima Sekawan, Sapta siaga, Trio Detektif eh Trio Detektif bukan karya Enid Blyton ya? Little house on the praire, yah sejenisnyalah pokoknya karena di rumah saya penuh dengan buku-buku dan setiap dapat hadiah ya berupa buku. Selain itu papa saya suka kegiatan di alam seperti mancing ke pelosok hutan, dan yang sering dibawa ya saya anak sulungnya karena adik saya waktu kecil gampang mabuk di jalan. Kalau liburan keluarga, karena tiket pesawat mahal adik saya dan ibu saya naik pesawat…saya dan papa saya yang kebagian naik kapal, jadi sejak kecil sudah terlatih bertualang.

Kebetulan jodohnya sama pecinta alam, anak gunung…si ayah waktu muda suka mendaki gunung. Jadinya ya klop, kalau ada waktu libur ya dimanfaatkan maksimal dengan mengajak krucils bertualang. Mumpung kami masih kuat jalan jauh, mumpung kami masih tahan berjam-jam di jalan, mumpung badan belum ngilu termakan usia, mumpung masih bisa menikmati berbagai makanan aneh walau sekarang sudah mikir-mikir kolestrol juga, mumpung krucils masih mau bertualang bersama ayah bundanya, mumpung krucils belum sibuk dan asik dengan dunia mereka yang pastinya berbeda jauh dengan dunia orang tuanya karena jaman yang berbeda.

Libur akhir tahun biasanya jarang bisa terlaksana karena akhir tahun kerjaan ayah sedang banyak-banyaknya dan memang walau sudah disetujui cuti sejak setengah tahun lalu, tapi sesuai perkiraan menjelang cuti langsung ditahan karena tidak ada orang di kantor. Saya sih woles aja karena memang sudah diprediksi sejak dulu kalau akhir tahun tuh susah dapat cuti. Eh diluar perkiraan, sehari menjelang hari H tiba-tiba dapat kabar gembira…boleh deh bepergian tapi gak boleh jauh-jauh dan harus ready setiap saat kalau suatu waktu dipanggil balik untuk kerja. Yippieee….buru-buru jemput krucils yang sudah start duluan liburan di rumah kakek nenek di Samarinda sekalian ijin bertualang ke ortu. Inilah diari perjalanan kami selama bertualang tipis-tipis…rencana awal mewujudkan impian ayah overland Kalimantan sampai ke Pontianak tapi pada akhirnya kami hanya sampai Pangkalan Bun.

# Menuju Palangkaraya, 24 Desember 2019 #

Kami tiba di rumah kembali tanggal 23 Desember setelah menjemput krucils di Samarinda. Tiba sekitar jam 17.00 sore, sekalian mampir beli perbekalan untuk keesokan di jalan. Di rumah packing-packing, tidur. Sekitar jam 4 subuh semua mulai bangun dan bersiap-siap berangkat, krucils dan saya langsung cabut, ayah sempat mandi dulu. Ketika ferry berangkat adzan subuh berkumandang, kami sholat di atas kapal ferry. Angin bertiup kencang dan dingin, langit masih gelap ketika itu. Setelah sholat, ayah sempatkan tidur dulu di ferry sementara krucils baca buku.

Tiba di Penajam kurang lebih satu jam kemudian, kami tidak berhenti karena bawa bekal lumayan banyak berupa berbagai jenis roti dan cemilan. Kami hanya berhenti untuk sholat di jalan. Sampai Tanjung sekitar jam 13.00. Seperti biasa, kami selalu berembuk dulu, apa lanjut atau istirahat cari hotel atau bagaimana. Saya sih pengennya istirahat di Tanjung, santai-santai aja namanya juga liburan. Tapi saya kalah suara dari kubu ayah dan krucils yang pengen langsung lanjut ke Palangkaraya…alasan mereka masih siang, masih terang…mending terus aja, malam baru istirahat. Baiklah…lanjuuuttt…

Siang itu kami makan siang dulu di warung ikan bakar langganan kami sekalian istirahat dan mengisi BBM. Baru sekitar jam 2 atau 3 siang perjalanan dilanjutkan lagi. Melalui jalur Buntok kami menuju Palangkaraya. Jalannya sih mulus, cuma bergelombang. Banyak banget jalan keriting, yang menyebabkan kami banyak istirahat aja…foto-foto di jalan, sholat dan ke toilet. Karena jalannya slow sangat selow, santai…santai….laaahhh kok malah nyanyi, yah karena jalannya santai kami kemalaman di jalan dan karena kemalaman, jarak pandang ayah terbatas yang efeknya jalannya tambah selow. Akibatnya kami baru sampai di Palangkaraya sekitar jam 9 malam, dan karena kepedean sudah pesan hotel di aplikasi langganan, kami pun check in di hotel yang sudah dipesan dan dibayar itu. Tapi yang terjadi adalah kami ditolak masuk pihak hotel karena katanya belum ada email konfirmasi booking yang masuk ke hotel tersebut. Jadilah satu jam kami bolak balik telp cs aplikasi tersebut dan pihak aplikasi merasa sudah mengirimkan email konfirmasi ke hotel. 2x dikirim oleh pihak aplikasi, 2x juga hotel merasa tidak terima. Dan sayangnya hotel ngotot gak mau terima kami sebelum ada email tersebut. Selama bertualang saya selalu percaya sama aplikasi ini, dari dulu jarang ada kendala…kalau ada kendalapun selalu tetap bisa masuk hotel …hanya kali ini kami terlunta-lunta ditolak masuk ke hotel yang sudah kami bayar untuk 2 kamar.

Akhirnya kami putuskan makan dulu sembari nunggu email masuk, sambil bolak balik telp pihak hotel sudah bisa check in belum? Jawabannya tetap sama, belum bisa masuk karena email belum ada. Bahkan kami tunjukkan email konfirmasi yang kami terima pun pihak hotel tetap gak mau terima kami. Si Ayah akhirnya bete, dia langsung cari hotel lain yang jauh lebih bagus. Bukan apa-apa, saat sudah lelah diperjalanan, sudah mengharapkan kasur empuk malah ditolak masuk hotel yang sudah dibayar itu kan rasanya gondok banget. Tidak ada solusi dari kedua belah pihak. Baru keesokannya saat laporan ke pusat aplikasi, baru ada solusi yaitu booking sebelumnya dibatalkan dan uang akan kembali tapi itu menunggu 24 jam. Dalam setiap petualangan akan selalu ada kejutan-kejutan yang diluar prediksi, siap gak siap, mau gak mau…harus dihadapi dan dicari jalan keluarnya. Keesokannya kami jadi membahas kejadian tersebut bersama-sama sambil tertawa, padahal saat mengalaminya gondok to the max…kalau sudah dilalui jadi terasa lucu, bayangin aja sudah ngantuk, badan sudah burket semua belum mandi sejak subuh, punggung minta jatah diluruskan dikasur eh malah terlunta-lunta gak bisa masuk hotel 😂

Akhirnya kami beli hotel langsung tanpa aplikasi. Jam 22.30 akhirnya bisa rebahan dikasur empuk itu rasanya luar biasa nikmat…alhamdulillah ya Allah. Setelah sholat langsung pada ngorok …ZZzzzzz

# Menuju Sampit, 25 Desember 2019 #

Kami putuskan agak santai, belajar pengalaman dihari sebelumnya saat memforsir agar sampai langsung ketujuan yang ada kami jadi tidak menikmati perjalanan. Jarak Palangkaraya – Sampit sekitar 222km, Sampit letaknya persis setengahnya ke Pangkalan Bun. Kalau di google ditempuh dengan kurang lebih 4 jam perjalanan. Sebenarnya kalau mau maksain diri sih bisa aja langsung ditembuskan ke Pangkalan Bun hari itu juga cuma ya jadi gak bisa menikmati perjalanan karena fokus pada tujuan.

Jadi kami putuskan kami hanya sampai Sampit hari itu, agar kalau ribet urusan hotel lagi badan masih bugar gak ngantuk. Di hotel santuy dulu leyeh-leyeh, sarapan dulu baru sekitar jam 8 atau 9-an berangkat. Di jalan pun banyak berhenti, kami sempat berhenti cukup lama di Bukit Batu Kasongan. Sampai Sampit sore, langsung cari makan dan hotel. Ayah trauma pesan melalui aplikasi hingga mau gak mau kami bergirlya cari hotel sendiri yang sesuai budget. Di hotel istirahat sebentar yang disambut hujan lebat, malamnya lanjut wisata kuliner mencoba makanan khas Sampit dipinggiran sungai, menunya sayur rotan yang rasanya pahit dan sayur ikan asin yang enak banget.

# Menuju Pangkalan Bun, 26 Desember 2019 #

Jarak Sampit – Pangkalan Bun kurang lebih sama dengan Palangkaraya – Sampit. Kami memutuskan tetap santai…leyeh-leyeh di hotel sebelum melanjutkan perjalanan menuju Pangkalan Bun. Waktu tempuh kurang lebih 4,5 jam. Sebelum keluar Sampit kami sempatkan dulu foto di Tugu Perdamaian Sampit. Siang sekitar jam 12.00 tiba di simpangan, kami memutuskan melalui lingkar luar langsung lanjut ke Kumai agar bisa melihat situasi dermaga sekaligus memesan kelotok untuk esok hari. Kami sempat nyasar ke pelabuhan lama ESDP, padahal hujan turun dengan deras dan tidak nampak seorangpun untuk bertanya. Untunglah akhirnya menemukan jalan yang benar. Sekitar jam 13.00 sampai di dermaga Kumai. Disini ayah ngobrol sama petugas, saya dan krucils asik befotoan dan melihat-lihat kelotok yang bersiap-siap berangkat.

Setelah deal untuk pemesanan kelotok keesokan harinya, kami melanjutkan perjalanan ke Pangkalan Bun dan langsung takjub dengan kotanya. Kotanya rapi dan modern. Di Pangkalan Bun kami makan siang lalu lanjut beli perbekalan untuk ke Tanjung Puting di Hypermart, satu yang penting banget di bawa kalau bertualang di tengah hutan menurut saya adalah jas hujan karena cuaca sering tiba-tiba berubah di hutan. Sebelum ke hotel kami sempatkan mampir ke Istana Kuning yang berada dekat hotel. Kami 3 hari 2 malam di Pangkalan Bun, tujuannya berburu foto orang utan di Tanjung Puting. Sulung saya sedang hobi fotographi, dia sedang suka foto hewan di habitat aslinya dan dia jugalah yang membujuk kami agar ke Tanjung Puting ini. Selain ke Tanjung Puting, kami juga diajak city tour sama abang saya..melihat-lihat kota Pangkalan Bun malam hari, melihat waterfront di Kampung Sega, mencicipi berbagai kuliner, dsb. Cerita lebih lengkap tentang Tanjung Puting dan tempat-tempat yang kami kunjungi bisa dilihat di postingan sebelumnya.

# Kembali Menuju Sampit, 28 Desember 2019 #

Hari Sabtu pagi, kami agak santai karena masih kelelahan setelah dari Tanjung Puting. Baru sekitar jam 9 pagi check out hotel dan berangkat menuju Pontianak, tapi sebelum keluar kota kami bolak balik cari stok makanan dan cemilan di jalan. Sebelumnya di hotel yang sama kami bertemu dua mobil berplat serupa dengan kami yang berarti berasal dari propinsi sama, setelah ngobrol malah ketahuan kalau bukan hanya satu propinsi tapi juga satu kota dengan kami. Mereka rombongan dua mobil sedang perjalanan pulang menuju hometown dari Pontianak, dari mereka kami dapat informasi bahwa jalanan mulus dan bisa ditempuh dalam waktu 12 jam (jaraknya dari Pangkalan Bun sekitar 600km). Saat ayah tanya ada penginapan gak di tengah jalan? Mereka jawab ngapain nginap di jalan pak, tembuskan aja cuma 12 jam aja kok. Nah mereka masih muda, ayah kan sudah berumur…harus banyak istirahat.

Sebenarnya kami sudah browsing tentang jalan ke Pontianak ini. Begitu tahu bahwa akan menempuh 12 jam perjalanan yang mana kalau dalam sebuah perjalanan menempuh jarak lebih 8 jam, saya selalu memaksa berhenti ditengah-tengahnya. Berhenti disini adalah berhenti istirahat untuk tidur dan cari hotel….tujuannya supaya menjaga kondisi ayah yang menyetir sendiri, juga kondisi saya dan krucils. Kalau 12 jam berarti ditempuh 2 hari perjalanan, sedangkan ayah harus balik atau setidaknya sudah ada dihometown lagi tanggal 4, yang kalau dihitung-hitung bisa sih, cuma mepet banget. Sejak di hotel saya sudah bilang ke ayah, gak usah memaksakan diri….bisa next adventure lagi ke Pontianaknya. Memang impian ayah dari dulu adalah mengelilingi Kalimantan jalan darat, menggunakan kendaraan pribadi…biar lebih berasa petualangannya dibandingkan kalau naik pesawat.

Namun ayah meyakinkan kami, bisa kok kita teruskan lanjut terus ke Pontianak. Baiklah kalau begitu…yuk markimon. Tapi yang saya bingung kok si ayah santai banget, sudah tahu perjalanan akan panjang tapi kok muter-muter dulu di kota untuk cari makan padahal biasanya cari selewatnya aja. Lebih aneh lagi begitu sudah masuk jalur luar kota, arah Pontianak (arah Pontianak berbeda arah dengan arah pulang)…sudah 100km yang ditempuh tapi gak biasanya jalannya pelan, kadang cepat kadang melambat, tapi lebih sering pelan dan santai sebelum akhirnya bertanya pada kami, yakin kalian ke Pontianak? Laahhh yakin dong, kan tadi ayah juga yang meyakinkan di hotel. Terus ayah hitung-hitung kalender…hmmm sempat sih, tapi kok ayah gak yakin. Laaahhh, piye iki? Si ayah gak pernah ragu kalau sudah punya tujuan, baru kali ini keliatan galau dan ragu.

Ya sudah kalau gak yakin kita pulang aja yah, next trip kita bisa coba lagi, kata saya. Krucils ditanya pendapatnya, serentak mereka jawab lanjut aja. Akhirnya setelah diskusi panjang lebar, ayah bilang kalau kita pulang aja gak kecewa kan? Gak kecewa, cuma kesel…eh sama aja yak 😁…ya udah, balik arah pulang. Tapi saat dipertigaan, untuk menghilangkan gundah gulana si ayah dan untuk mengurangi kekecewaan kami ayah ngajak kami makan siang di Pangkalan Bun. Kita makan siang aja dulu, siapa tahu setelah makan ayah jadi yakin, atau kalau gak kita nginap lagi aja di Pangkalan Bun semalam lagi. Apaa?..wah ini sih si ayah benar-benar lagi galau, belum pernah sejarahnya kami muter balik lagi, baru kali ini. Jadi deh muter kembali ke Pangkalan Bun yang jauh kami tinggalkan sebelumnya. Hadeuuuhh, hari yang gak jelas dan aneh…

Pagi dan siang itu kami hanya bolak balik gak jelas, akibatnya banyak waktu terbuang yang pada akhirnya kami putuskan kalau malam itu kami akan beristirahat di Sampit aja. Pangkalan Bun – Sampit kurang lebih 4 jam, dan karena kami makan siang santai di Pangkalan Bun jadi sampai Sampit sudah menjelang malam. Ayah masih melarang memesan hotel melalui aplikasi, jadilah nyari-nyari hotel sesuai kantong eh hotel yang ada penuh semua karena katanya sudah dibooking sampai tahun baruan. Akhirnya dapat juga hotel malam itu dan semua langsung tidur pulas.

# Menuju Banjarmasin, 29 Desember 2019 #

Setelah sarapan, kami langsung berangkat lagi. Tujuan awal malam nanti istirahat di Palangkaraya, cuma setelah ditimbang-timbang…Palangkaraya-Banjarmasin hanya 4 jam, nanggung juga kalau gak diteruskan akhirnya kami teruskan sampai Banjarmasin. Diperjalanan kami berhenti lama di Betung , beli buah, nongkrong makan durian pinggir jalan, makan siang di Palangkaraya, mampir ke rumah saudara, dsb. Hingga gak heran kami sampai Banjarmasin sekitar jam 22.00 eh nyasar pula nyari hotel yang sudah di booking melalui aplikasi. Lohhh kok akhirnya pakai aplikasi, iya soalnya belajar dari hari sebelumnya di Sampit …susah nyari hotel karena menjelang tahun baru.

Saya malas sebenarnya membahas hotel, karena kami sudah mencoba berbagai jenis hotel. Nah hotel di Banjarmasin ini baru keingat untuk pesan dulu saat di tengah jalan yang sinyalnya hilang timbul, jadi begitu dapat sinyal buru-burulah beli untuk 2 kamar, liat fotonya kamarnya bagus, harganya murah eh pas bayar dapat potongan vouvher pula lagi…jadi hanya bayar 150rb untuk 2 kamar, murah bingit yang langsung menceriakan hati emak-emak irit seperti saya. Saya lupa baca review pengunjung, biasanya sebelum memesan hotel, saya selalu baca review pengunjung untuk mengetahui kondisi real hotel dari pengunjung yang pernah menginap disitu. Setibanya di Banjarmasin, kami nyari hotel ini pake google maps…eh ternyata hotelnya ada banyak yang namanya serupa. Begitu tiba di hotel yang benar…kamarnya sih sesuai dengan foto yang dipajang, minimalis modern cuma terlihat sekali gak terawatnya, jadi kesannya malah kumuh dan bau. Ya karena kami sudah biasa dapat kejutan di jalan selama bertualang, jadi ya reaksi kami sih biasa wae….wesss gpp, wong cuma semalam, lagian untuk hotel seharga 75rb/kamar (harga aslinya sih 250rb/kamar, cuma dapat voucher diskon hingga totalnya cuma 75rb/kamar) itu lumayanlah. Karena salah pilih hotel inilah, niat awal 2 hari di Banjarmasin jadi berubah cuma semalam aja.

# Menuju Tanjung, 30 Desember 2019 #

Di Banjarmasin kami mengunjungi om saya sebelum melanjutkan perjalanan ke Tanjung. Biasanya Banjarmasin – Tanjung padat, walau jaraknya tidak terlalu jauh tapi karena jalurnya padat, bisa memakan waktu hingga 5 jam. Untungnya saat ngobrol sama om saya, kami diberitahu bahwa ada jalur baru yang masih sepi yaitu jalur Rantau. Berhubung kami semua suka melihat tempat-tempat baru, langsung terpicu rasa keingintahuannya…yuks kita coba jalur baru tersebut. Konon kata om saya, jalur baru ini menghemat 1-2 jam. Baiklah…langsung deh di coba. Jalurnya mulus, sempit dan lebih sepi, tampaknya belum banyak yang menggunakan jalur tersebut.

Saya lupa lagi sampai jam berapa di Tanjung. Yang jelas kami disambut hujan deras, hingga malam itu kami hanya makan di hotel lalu tidur saja tidak blusukan seperti biasa kalau ke Tanjung. Tanjung ini menurut kami surga kuliner, kami biasanya kalau pagi nyari nasi kuning, siang nyari ikan bakar dan sate itik atau paliat. Sayangnya sate itik hanya ada dihari pasar, yaitu Sabtu atau Minggu saja. Untungnya di perjalanan kami sudah bertemu warung sate itik sehingga siang itu sudah kenyang makan sate itik.

# Menuju Hometown, 31 Desember 2019 #

Setelah sarapan, kami santai-santai di kamar. Tampaknya krucils masih belum rela kalau liburannya sudah usai, mereka masih pengen liburan lebih lama lagi hingga saat mereka diajak packing pun masih santuy. Ayah pun tampak malas-malasan, kata ayah ini malam tahun baru loh…ayah malas rame-rame, laah siapa juga yang mau rame-rame ? Kan kita gak pernah ikutan malam tahun baruan. Kalau malam tahun baru biasanya kami malah tidur cuma sering terkaget-kaget karena banyak yang nyalain kembang api.

Sebenarnya saya juga malas balik cepat, krucil masih libur seminggu lagi…sangat jarang kami balik liburan cepat seperti sekarang. Tapi kalau ada anggota team yang ragu untuk meneruskan perjalanan, lebih baik putar arah. Mungkin memang harus bertahap petualangan overland kalimantan kami. Dulu waktu krucils kecil, kami hanya berani sampai Tanjung, lalu maju dikit sampai Loksado, lalu Banjarmasin, lalu maju ke Palangkaràya, lalu sekarang maju dikit lagi Pangkalan Bun, inshaAllah next trip bisa maju ke Pontianak, aamiin. Ambil hikmahnya segala sesuatu memang harus bertahap biar selalu ada target baru untuk dieksplore.

Kami istirahat makan siang di Gunung Halat, perbatasan Kalsel-Kaltim. Dari Tanjung kami sengaja bawa makanan, ikan bakar, itik panggang, ayam panggang, banyak rambutan, sedikit langsat, manggis pesanan papa, kasturi, durian yang bikin mabuk seisi mobil dengan wangi semerbaknya. Di perbatasan kami cari lokasi yang sepi dan bisa lesehan makan. Baru kali ini kami piknik makan, biasanya kalau lapar di jalan yang kami lakukan adalah cari warung terdekat untuk makan. Kata krucils, bunda sudah kayak uci-uci (uci panggilan mereka untuk ibu saya, aka nenek mereka). Ibu saya memang kemana-mana bawaannya banyak banget, makanan, minuman berbagai rupa, bantal, pernah ke Tanjung bawa kasur lipat, bahkan pernah ke Malaysia bawa rice cooker juga, baju hampir satu lemari….kata papa saya kalau bisa mindahin rumah, uci bakalan bawa rumah juga kalau jalan saking banyaknya bawaannya.

Seperti biasa, krucils request main air di Batu Sopang. Di Batu Sopang berhenti lagi main air sepuasnya bahkan kala hujan pun ayah dan krucils masih main air…inilah yang mengakibatkan setiba di rumah sulung demam. Main air hampir dua jam, lalu lanjut perjalanan. Di Kuaro mampir makan bakso, karena pada pusing habis makan lahung di jalan. Lahung itu durian merah, kami hanya menemukannya di dekat-dekat perbatasan Kaltim. Durian ini sudah sangat langka, karenanya krucils saya terobsesi mengkonservasi Lahung …jadi sengaja banget beli Lahung 2 buah supaya bijinya bisa kami bibitkan di rumah, yàng ketika dilihat penjual Lahung dia malah kaget kenapa bijinya kami kumpulin bawa pulang.

Ngomong-ngomong tentang biji buah-buahan, kami sering banget kalau makan buah bijinya kami kumpulin lalu disebar di taman belakang. Di taman belakang rumah kami penuh bibit buah lengkeng, mangga, alpukat, pepaya….cuma karena sering bepergian, kadang ketika pulang sebagian sudah meranggas kekeringan. Kadang kalau sudah dirasa cukup besar bisa dipindah, kami pindah ke tempat lain…cuma ya baru beberapa minggu dipindah tanam sudah mati, atau malah dipotong orang. Kadang kesel juga liatnya, kok pada gak punya jiwa pecinta pohon sih. Halaman depan rumah kami penuh pohon, kebanyakan sih yang survive pepaya. Buahnya gak pernah kami nakan tapi kami suka aja melihat halaman rimbun penuh tanaman. Pernah saya berniat merapikan tanaman, sebagian pohon yang pepaya yang terlalu banyak di halaman saya suruh tebang…eh begitu krucils pulang sekolah dan ayah pulang kantor, mereka nanya dengan nada kecewa, kok ditebang sih? Kan jadi aneh dan panas rumah kita, kata mereka.

Kalau sedang musim buah-buahan seperti sekarang, biji buah yang berlimpah buah sering kami tebar dilapangan kosong atau di jalan-jalan. Kalau bertualang, kami lempar keluar jendela sepanjang jalan…berharap diantara ratusan biji buah yang disebar, satu atau dua biji bisa tumbuh hingga besar dan berbuah. Coba bayangkan, setiap dari biji yang kita tebar tumbuh subur di lahan-lahan kosong atau hutan-hutan…berapa banyak buah-buahan gratis yang tersedia di alam? Jadi saya mengajak pembaca untuk melakukan hal yang sama, mari kita simpan biji buah-buahan yang kita makan, lalu sebarkanlah di jalan, di hutan, di lapangan kosong. Mari kita hijaukan bumi yang mulai panas ini dengan pohon buah-buahan semoga anak cucu kita atau minimal hewan liar bisa menikmati hasilnya kelak.

Kembali ke cerita semula, kami sampai ferry setelah maghrib. Baru kali ini kami merasakan naik ferry super cepat, 30 menit kemudian sudah bersandar. Setelah ditelisik ternyata ferry sedang membawa ambulan. Ambulan ini yang menyebabkan ferry harus segera sampai di seberang, akibatnya kalau biasanya ferry membutuhkan waktu satu jam lebih, sekarang dipangkas 30 menit sudah sampai tanpa nunggu antrian bersandar. Alhamdulillah sampai rumah lagi, walau rumah berdebu tapi home sweet home. Tapi seperti yang diduga semula, malam itu kami susah tidur karena terganggu dengar kembang api yang bersahut-sahutan. Semoga tahun baru, kalender baru… semua lebih baik dari tahun sebelumnya dan petualangan berikutnya lebih seru dan lebih jauh lagi kami bisa melangkahkan kaki melihat bumi ciptaan Allah yang indah ini, aamiin yarobbalalamiin.





Gua Limbuhang Haliau, Hulu Sungai Tengah – Kalsel

3 01 2020

Dalam perjalanan balik ke hometown, kami mampir ke Gua Limbuhang Haliau yang terletak di Sungai Pagat, Hulu Sungai Tengah, Kalsel. Tiket masuknya kalau tidak salah 5rb/orang dan parkir 10rb. Sayangnya kami sampai di tempat ini sekitar jam16.55 menit sementara di baliho yang dipajang di tepi jalan tertulis bahwa gua tutup jam 17.00…yaaahhh telat. Tapi saat nanya sama penduduk setempat, dia bilang masih buka….buru-burulah kami parkir di dekat pohon durian yang sedang berbuah.

Sebenarnya kami gak tahu kalau di daerah ini ada gua bahkan ada objek wisata. Dalam perjalanan menuju Tanjung, si ayah sudah ngantuk berat…diajak gantian nyetir gak mau. Jadi supaya ayah bisa ngilangin ngantuk, ayah menyuruh krucils cari di google maps ada wisata apa di sekitar daerah kami sedang berada, kebetulan di google ditulis ada riam sungai pagat. Isenglah melipir 9 km dari jalan trans kalimantan. Sebelum sampai di titik yang dituju, kami melihat baliho besar bertuliskan gua Limbuhang, pada akhirnya kami memilih ke gua limbuhang.

Ternyata tempat ini bukan cuma gua, tapi ada kolam renang, spot-spot foto ala instagram. Tapi karena hari sudah mulai gelap, sudah jam 5 sore plus mendung dan terdengar petir dari kejauhan, menyebabkan kami fokus ke gua nya saja. Guanya letaknya menjorok ke bawah, pengunjung harus menurunin sejumlah anak tangga yang curam di bebatuan. Di dasarnya berisi air berwarna toska, dikelilingi bebatuan cadas dan rimbunan pepohonan, cahaya matahari yang masuk menimbulkan berkas cahaya cantik…sayangnya kami sudah terlalu sore di tempat ini dan mendung hingga kondisinya gelap. Bisa di google bagaimana bentuk gua nya sebenarnya, saya hanya sempat foto krucils di salah satu spot foto dekat gua, di gùa nya sendiri sempat foto juga cuma gelap.

Krucils malah asik main di sungai dekat gua Limbuhang ini. Kami sempat melihat warga yang sedang berburu udang. Walau sore sudah hampir tutup dan mendung , pengunjung lumayan ramai juga. Umumnya pengunjung anak-anak muda yang sibuk berfoto-foto di spot foto. Di tempat parkir kami malah asik melihat orang yang manjat pohon durian, panen durian euy…Kalsel memang the best kalau sedang musim buah, banyak banget buah-buahan.





Dukuh Betung, Katingan – Kalteng

3 01 2020

Dalam perjalanan menuju Pangkalan Bun, di daerah Katingan kami melihat gapura bertuliskan dukuh Betung, pusat budaya dayak. Saat nanya sama penjual buah di dekat situ, kami diberitahu kalau masuk dari jalan raya ke dalam sekitar 2km cuma sedang tidak ada acara budaya. Setelah menimbang kami sedang mengejar waktu untuk sampai ke Sampit sebelum malam, karena kalau malam jarak pandang ayah sudah terbatas jadi kami putuskan nanti saat pulang aja mampir ke tempat tersebut.

Saat perjalanan balik ke hometown, kami sempatkan mampir ke tempat ini. Jalan masuknya masih tanah, sepanjang jalan banyak pohon durian besar-besar, agak kedalaman terlihat pemukiman yang kala itu sepi. Dipemukiman ini banyak pohon berbagai buah-buahan, langsat, manggis, durian, dsb. Tempatnya tenang dan sepi, mau bertanya dimana desa budayanya sedang gak ada penduduk yang terlihat. Akhirnya ada motor yang berjalan dibelakang kami, tanyalah pada orang itu…ternyata dia juga gak tahu karena dia datang tujuannya untuk ke Betung sambil menunjuk jembatan ulin panjang menembus hutan di samping kami. Hmmm, jangan-jangan ini jalan masuknya…parkirlah kami di dekat situ. Begitu keluar mobil langsung diserbu nyamuk hutan.

Berjalan menembus hutan menyusuri jembatan ulin terbut, ketemu lagi sama dua anak muda yang sedang asik foto-foto. Saat nanya kepada mereka, jawabannya sama mereka gak tahu tempat apa yang kami maksud padahal di gapura menuju tempat ini ada tulisan besar pusat budaya dayak. Tampaknya jembatan ulin ini daya tarik dukuh Betung ini, karena setelah itu tampak beberapa rombongan menuju jembatan ulin ini. Kami mengambil jalur paling jauh, paling ujung…tidak banyak pengunjung ditempat tersebut hingga terasa ketenangan hutan, gemericik air sungai yang tampak sesekali ikan melonpat keluar, suara burung berkicau dipepohonan. Tenang banget pokoknya hingga krucils betah. Keluar kembali ke jalan raya, didepan gapura banyak sekali penjual durian kasongan yang konon durian ini yang terkenal di daerah tersebut. Duriannya tebal dan tidak terlalu mahal, jadi wisata ke tempat ini selain bisa menikmati ketenangan hutan juga bisa menikmati durian kasongan.





Orang Utan di Tanjung Puting, Kalteng

3 01 2020

Apa yang anda rasakan begitu sampai ditempat yang diidamkan? Perasaan saya begitu kami sampai di pelabuhan Kumai adalah….yeaaayyyy…joget joget. Alhamdulillah kesampaian juga bisa kesini walau saat itu baru sampai di dermaganya, norak maksimal 😂 Kok setiap sampai tempat tujuan reaksi saya selalu sama? Reaksi saya memang sudah di standardisasi…jadi maklum aja kalau tiap sampai tempat tujuan sering kegirangan sendiri kayak anak kecil dibelikan permen.

Semua orang punya prioritasnya sendiri, punya sesuatu yang dianggap membahagiakan dirinya…ada yang merasa bahagia kalau bisa meñambah koleksi barang, ada yang bahagia dengan koleksi perhiasan, koleksi mobil, dsb. Kalau kami bahagia banget kalau bisa melihat tempat-tempat baru walau untuk sampai ke tempat tersebut butuh perjuangan. Untuk sampai ke pelabuhan Kumai ini kami membutuhkan 3 hari perjalanan dari hometown. Kok sampai 3 hari? Soalnya saya dan si ayah sudah berumur, badan sering pegel maksimal kalau kelamaan duduk diam jadi harus banyak berhenti…maksimal 8 jam kami stop untuk beristirahat. Begitu kendaraan sudah mendekati Pangkalan Bun, kami memilih lingkar luar agar bisa langsung ke dermaga Kumai yang ternyata jalannya rusak parah plus ditambah nyasar pula malah ke pelabuhan ESDP padahal ketika itu angin kencang bertiup dan hujan deras plus belum makan juga. Rasanya nelangsa banget…

Lalu kenapa tujuan langsung ke dermaga Kumai sih, bukannya nyari hotel dulu di Pangkalan Bun? Kami sama sekali gak punya gambaran bagaimana menuju Tanjung Puting…dimana sewa kelotok dan informasi sejenisnya. Memang sebelumnya sempat nanya-nanya tentang kelotok melalui telp hasil nyari di google, tapi kami belum booking. Jadi kalau langsung ke dermaga Kumai, bisa melihat langsung situasi dan bisa tanya langsung ke petugas Taman Nasional Tanjung Puting karena di dermaga Kumai ini ada kantor Tanjung Putingnya sekalgus untuk pesan kelotok. Begitu akhirnya sampai di dermaga, hujan berubah rintik-rintik sementara ayah nanya ke kantor Tanjung Putingnya kami melihat-lihat ke dermaganya. Kebetulan sore itu ada dua kelotok yang sedang bersiap-siap berangkat, sementara banyak kelotok sedang bersandar.

Kami memutuskan untuk sewa kelotok yang dikoordinir oleh petugas di dermaga…harganya 2,6 jt sudah termasuk makan siang, guide, tiket masuk dua camp. Harganya gak bisa kurang katanya…hiks, kalau mau lebih murah sedikit pakai speedboat tapi kami memilih menggunakan kelotok biar bisa santai-santai. Berhubung sedang musim hujan kami disarankan untuk membeli jas hujan plastik seharga 10rb -an di hypermart (yang akhirnya kami pakai di camp Leakey). Dari petugas ini kami baru tahu ada Hypermart di Pangkalan Bun, disitulah kami membeli perlengkapan lainnya jas hujan, cemilan, mie instant, air mineral, dsb. Air panas, kopi dan teh disediakan dikelotok. Jarak dermaga Kumai ke Pangkalan Bun sekitar 12 km.

Singkat cerita …keesokan harinya, yaitu hari keempat petualangan, setelah sholat subuh kami langsung cabut dari hotel menuju ke dermaga Kumai. Kami lupa kalau mau berangkat subuh hari ini jadi lupa beli makanan untuk sarapan pagi ini pada malam sebelumnya karena subuh belum ada warung yang buka. Sebenarnya dihotel dapat sarapan, cuma pada jam 5 subuh bahkan sarapan di hotel pun belum tersedia. Kami janjian jam 05.30 subuh dengan petugas Tanjung Puting kemarin. Sampai tepat jam 05.30 di dermaga ternyata belum ada orang sama sekali, telp lagi petugasnya lalu jam 06.00 mulai terlihat tukang kelotok mempersiapkan kelotoknya, jam 06.30 mulai terlihat petugas kemarin plus guide yang memperkenalkan dirinya bernama Agung.

Setelah semua beres, sekitar jam 07.15 kami berangkat dari dermaga. Perjalanan dari dermaga Kumai menuju camp 1, pondok Tanggui memnempuh 2 jam perjalanan menyusuri sungai. Feeding time di pondok Tanggui 09.00-11.00. Treking tipis 10-15 menit dari tempat kelotok bersandar. Orang utannya banyak sedang makan, kata guide kami…beruntung banget hari ini banyak orang utannya karena biasanya orang utannya di camp ini sedikit, biasanya cuma 2 maksimal 3 …lah hari ini malah banyak, dia sendiri kaget. Kemudian perjalanan diteruskan lagi menuju camp Leakey menempuh 2 jam perjalanan dari camp pondok Tanggui. Semakin menyusuri kedalam sungainya semakin menyempit, bahkan arah menuju camp Leakey ini air sungainya berubah warna jadi hitam karena perbedaan jenis tumbuhan.

Feeding time di Camp Leakey jam 14.00-16.00, paling akhir jam 4 sore semua pengunjung diwajibkan untuk meninggalkan lokasi. Selama berada di lokasi makan, kita diwajibkan untuk silence …jangan berisik, kalaupun mau ngomong harus bisik-bisik agar tidak mengganggu orang utan. Di Camp Leakey ini cuaca mendadak berubah total, dari terik panas menyengat langsung angin kencang, hujan dan petir. Saya punya ketakutan terhadap petir, itu sebabnya ketika petir saya memutuskan menunggu di pondok ranger aja….untungnya ketika itu masih belum jam 14.00, bahkan ranger yang memberi makan orang utan aja masih di pondok sehingga kebanyakan pengunjung memilih berteduh dari hujan di situ juga. Ketika ranger akhirnya bergerak…hujan sudah agak reda dan petir pun sudah tidak ada…alhamdulillah saya jadi bisa ikutan ke feeding location. Trekking tipis sekitar 20 menitan, ternyata di camp ini selain orang utan banyak babi juga. Sementara diatas panggung oŕang utan makan, babi dibawah juga makan sisa-sisa makanan orang utan.

Jam 4 sore yang tersisa hanya kami dan sepasang bule spanyol. Kami memutuskan keluar camp, lalu perjalanan pulang pun dimulai. 4 jam untuk kembali ke dermaga Kumai, matahari perlahan terbenam, angin dingin mulai bertiup, sepanjang jalan bekantan dan warik (monyet) terlihat di pepohonan sepanjang tepian sungai. Ketika malam semakin gelap, kunang-kunang terlihat menghiasi pepohonan dengan kelap kelip cahayanya, genset dan lampu kapal mulai dinyalakan, krucils mulai menyetel film conan di laptopnya. Selama perjalanan tidak ada sinyal, jadi benar-benar menepi sejenak dari hingar bingar dunia. Kelotok-kelotok lain mulai menepi dan besandar di tepian sungai, bersiap-siap untuk posisi tidur….hanya kelotok kami yang masih menyusuri sungai sendirian dalam kegelapan malam. Seru sekaligus ngeri-ngeri sedap, karena tidak ada sinyal sementara sungainya sepi karena memang sungai khusus jalur ke Tanjung Puting yang tidak diperbolehkan kapal lain lewat situ, gelap pula dan sungainya konon banyak buayanya.

Sekitar jam 8 malam akhirnya sampai juga di dermaga Kumai dan ternyata sungainya sedang pasang karena dermaganya jadi dibawah kelotok bagian atas padahal saat berangkat dermaga tingginya sama dengan kelotok lantai atas. Seru banget ….petualangan berkesan buat kami terutama untuk krucils, bahkan sulung saya memaksa agar tahun depan kembali ke Tanjung Puting lagi. Kami memang sengaja memilih untuk sewa kelotok satu hari saja, tidak ambil paket 3 hari 2 malam seperti bule-bule karena pertimbangan waktu. Tujuan utama kami sebenarnya ke Pontianak, melipir ke Tanjung Puting sebentar mumpung lewat, yang pada akhirnya kami malah tidak jadi ke Pontianak karena ayah sudah ditelp kantor suruh supaya cepat balik. Tapi walau begitu kami semua sudah puas dan senang. Alhamdulillah wasyukurillah bisa kesampaian juga ngeliat orang utan di Taman Nasional Tanjung Puting,





Istana Kuning, Pangkalan Bun – Kalteng

2 01 2020

Pernah mendengar Pangkalan Bun? Kalau anda penggemar traveling pasti setidaknya pernah mendengar kota bernama Pangkalan Bun, tempat Taman Nasional Tanjung Puting berada. Dahulu, ketika mendengar nama Pangkalan Bun yang saya bayangkan adalah sebuah kota kecil yang dikelilingi oleh perkebunan sawit, kota yang berada di tengah–tengah hutan. Hmmm, bayangan saya memang tidak salah….Pangkalan Bun memang sebuah kota kecil di tengah hutan dan dikelilingi perkebunan sawit. Eits, tapi bayangan saya juga tidak sepenuhnya benar. Begitu tiba di kota ini…saya lumayan kaget, ternyata bukan kota kecil seperti kebanyakan kota ditengah hutan. Kotanya walau kecil tapi rapi, bersih dan modern. Modern disini maksudnya ada bandara, ada mall , bahkan ada fast food ngetop juga! Coba bayangin ada mall ditengah hutan…keren.

Saat keliling mencari hotel yang sesuai isi dompet, tiba-tiba kami melihat Istana Kuning ini. Jiwa narsis pun bergejolak, wah gak boleh dilewatkan nih untuk berfoto-foto disini 😂 Tiket masuknya lagi-lagi saya lupa, kalau tidak salah 5rb/orang, pelajar 3rb namun penjaga tiket tetap ngecharge krucils 5rb karena katanya hanya pelajar berseragam yang mendapat potongan harga pelajar. Lalu ada apa di dalam istana ini? Ada banyak foto raja-rajanya yang saya sendiri tidak hapal, ada singgasana, ada guci-guci dan sebagainya.





Bukit Batu Kasongan

2 01 2020

Saat menyusuri jalan dalam perjalanan dari Palangkaraya menuju Pangkalanbun, kami melihat tempat wisata di pinggir jalan tepatnya di daerah Kasongan. Kebetulan badan pegel kelamaan duduk, pengen istirahat sebentar setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh.

Kami tidak tahu ada apa disini, cuma karena melihat ini merupakan objek wisata dan ramai pengunjung jadi kepo juga…mampir untuk melihat wisata apakah tempat ini. Saya lupa lagi biaya masuknya berapa, cuma murah banget (kalau tidak salah 12 ribu, sudah termasuk berempat plus biaya parkir). Ada kantor tourism information, cuma keliatannya kosong tidak ada orang padahal pengen nanya-nanya tentang sejarah tempat ini.

Lalu ada apakah di bukit batu ini? Sesuai namanya, isinya batu-batu besar dan pepohonan serta ada semacam kain-kain kuning yang menutupi beberapa tempat. Beberapa orang terlihat asik berfoto-foto di beberapa tempat. Kami baru tahu tempat apakah itu saat sudah sampai di Sampit, kala mendapat sinyal internet lagi. Berdasarkan info dari google rupanya tempat tersebut merupakan tempat pertapaan Tjilik Riwut. Tjilik Riwut adalah pahlawan nasional kelahiran Kasongan dan Gubernur Kalimantan Tengah pertama, itu sebabnya namanya digunakan sebagai nama jalan yang menghubungkan Palangkaraya dengan Sampit serta diabadikan pula sebagai nama bandara di Palangkaraya.





Bekantan di Sungai Hitam, Samboja

6 12 2019

Keluarga kami tuh suka gak jelas, kalau sudah bosen dengan rutinitas sering tiba-tiba ngacir. Ya namanya juga tiba-tiba tentunya tanpa rencana, arah, tujuan dan waktu. Yang paling utama adalah semua sedang punya waktu luang, soalnya prinsip kami all for one..one for all, kudu komplit kalau mau ngacir. Eh tapi gak harus juga sih, kadang ayah sedang sibuk tapi beliau menitahkan kami untuk bertualang bertiga. Jadi saya paling sering kena marah ortu, karena katanya gak pernah ngasih tahu jauh-jauh hari. Lah gimana mau ngasih tahu jauh-jauh hari, kan kami sering dadakan…benar-benar dadakan.

Biasanya situasinya begini, krucils sedang libur (entah weekend, entah libur kejepit, atau tanggalan merah), ayah juga sedang santai dirumah (nah ini situasi yang benar-benar tidak bisa diprediksi, karena orang lain libur eh si bapak satu ini malah super sibuk), lalu salah seorang nyeletuk…jalan yuk/ngacir yuk/bertualang yuk atau bahasa sejenisnya. Lalu yang lain nimpalin, kemana? Lalu yang lainnya ngasih ide, kesono yuk cobain kita kan belum pernah. Kadang juga gak ada ide mau kemananya, yang penting jalan aja masalah tujuan entar dipikirin di jalan 😆 Selanjutnya kalau sudah dapat mayoritas suara setuju untuk ngacir, kemudian bagi tugas…ayah ngecek mobil, krucils siapin perlengkapan pribadi, si bunda bagian siapin makan minum dan perbekalan dijalan lainnya. Dan berangkatlah kami….sembari di jalan wa ortu yang selalu dibalas loh kok gak ngomong-ngomong. Nah ini kan sedang ngomong 😂

Pernah tiba-tiba krucils jadwalnya kosong sabtu minggu (sejak tahun ini mereka punya jadwal padat saat weekend). Baru tahu jumat menjelang maghrib. Langsung ngacirlah kami tujuan Batulicin (request sulung), eh belum masuk kota Batulicin tiba-tiba ayah mengusulkan mencoba jalan tembus ke Loksado, melipirlah tuh ke Loksado. Belum sampai Loksado, tiba-tiba badai, putar arahlahlah ke Kandangan. Benar-benar gak jelas, habis waktu di jalan, tapi justru disitulah letak serunya…khas keluarga kami, ngukur jalan….yang penting bisa melihat hal-hal baru.

Balik ke cerita semula. Suatu sore di hari Sabtu, tiba-tiba kami memutuskan yuks kita liat bekantan di Samboja. Pernah liat iklannya entah dimana tentang bekantan di Sungai Hitam. Lalu dadakanlah jam 3 sore semua siap-siap. Sekitar jam 4 sore sampai ditempat, proses tawar menawar perahu (harga ditawarkan 250rb/perahu, kami tawar 200rb dan deal) dan menyiapkan perahu sekitar 30 menit, jam 4.30-an sudah menyusuri sungai mencari bekantan. Ternyata kami kecepatan, katanya sih sore menjelang maghrib tuh banyak keluar atau subuh jam 6-an atau setelah hujan. Sulung saya sedang hobi hunting foto, dia pengen foto-foto ala Natgeo…itu sebabnya kami sering menemaninya hunting foto hewan liar di habitat aslinya.

Alhamdulillah kami akhirnya bertemu juga dengan beberapa kelompok bekantan. Konon katanya bekantan yang berada diwilayah Sungai Hitam ini berjumlah seribu. Umumnya bekantan ini berkelompok, dalam satu kelompok hanya ada 2 atau 3 pejantan, selebihnya 25-30 lainnya betina dan anaknya. Kelompok ini akan mengikuti pejantan utama yang paling besar. Kalau pejantannya naik pohon, anggota kelompok akan mengikuti demikian juga sebaliknya. Di Sungai Hitam yang warnanya hijau toska ini (karena katanya air laut masuk), kami juga melihat berbagai jenis burung serta biawak. Biawaknya standby diatas pohon, yang menurut informasi merupakan strategi biawak yang sedang menunggu induk bekantan lengah karena mangsa biawak ini adalah anak bekantan.

Sebagai tambahan pengetahuan adalah makanan bekantan ini adalah pucuk pohon rambai. Saat sedang asyik melototin kawanan bekantan ini, tiba-tiba saya melihat jam tangan. OMG ternyata sudah jam 5.30…belum sholat, tidaaaaaak. Buru-burulah minta diantar ke dermaga, lalu nyari mesjid terdekat. Pulang ngejar sebelum jam 19.00 malam karena ada undangan, kalau sedang bertualang gak bisa tuh narget-narget waktu. Kami baru sampai rumah jam 20.30 karena krucils kelaparan, jadi berhenti makan dulu dijalan. Jadi serunya dimana dong? Serunya ngukur jalan dong.. hahaha

Read the rest of this entry »





Overland India ( Delhi, Agra, Varanasi, Jaipur)

5 08 2019

Dulu waktu krucils masih piyik, saya sempat mengajak ayah untuk ke India namun karena pertimbangan krucils masih kecil, kayaknya belum sanggup mereka diajak ke India jadi kami menunda, entar deh kapan-kapan kalau krucils sudah kuat staminanya, sudah bisa gendong ransel sendiri. Impian itupun terlupakan, saya ganti mimpi yang lain…pengen ke Jepang. Kata ayah kalau mau ke Jepang nabung dulu yang banyak karena sebagai salah satu negara dengan biaya hidup tertinggi di dunia, budgetnya pasti gede…akhirnya deal sama ayah, ok bunda nabung dulu tapi 2019 atau 2020 jepang loh yah.

Eh nabungnya belum terkumpul, tiba-tiba tahun ini ayah mengajak ke India. Hampir saban hari selalu menyuruh saya beli tiket ke India….saya sih entar besok, tarsok aja karena selain memang mimpi saya sudah berubah juga karena mempertimbangkan harga tiket yang lumayan. Namun karena didesak terus, ditanya terus setiap hari…sudah beli tiket belum? Akhirnya suatu hari bosen juga ditanya mulu, Bismillahirohmanirrohim….tekan tombol beli sambil merem, khawatir menyesal soalnya 😂

Saat tiket sudah kebeli, eh ayah dengan santainya bilang “bunda cari-carilah tempat yang mau dikunjungi, susun itenarynya…ayah sibuk, gak senpat mengurus begituan”…yang pengen ke India siapa, yang disuruh susun itenary siapa? Heran akutu 😁 yah karena team, jadilah si bunda yang gugel-gugel, baca-baca plus nanya beberapa teman yang sudah ke India. Hello ma pren, thank you ya sharing infonya. Nah dari info teman inilah kami mengurus visa online, websitenya lupa lagi…bisa di gugel. Visanya gratis loh, alhamdulìllah. Pengurusannya juga gampang, tinggal isi data lalu tunggu hasilnya. Gak perlu menunggu lama, kami hanya menunggu sehari atau 2 hari (lupa lagi saya) sudah di approve. Nah setelah tiket dan visa sudah ditangan, tinggal menentukan destinasi deh.

Awalnya saya pengen Kashmir dan Jaipur, setelah baca-baca…Kashmir medannya susah dan agak ribet kalau membawa krucils, walau viewnya top markotop tapi ditunda ajalah, kapan-kapan semoga ada rejeki lagi bisa ke Kashmir. Destinasi incaran akhirnya hanya tersisa Jaipur dan Agra tentu saja. Lucunya ayah malah ngeblank, dia tujuannya hanya ke Taj Mahal tok…jadilah perjalanan ke India ini sama sekali tanpa rencana rapi, semua amburadul dan hanya mengikuti kata hati aja. Inilah cerita petualangan kami mengunjungi negara dengan menyematkan slogan “Incredible” depan namanya.

# Menuju Singapore, 1 Juli 2019 #

Entah mengapa, rutinitas sebelum memulai petualangan adalah krucils batuk pilek, ayah malah job…bikin panik si bunda. Alhamdulillah sehari sebelum memulai petualangan situasi kembali aman terkontrol. Kebetulan lagi sedang ada orang tua saya berkunjung ke rumah sehingga mereka mengantar kami ke bandara. Pesawat kami jam 11.10 dari hometown dan tiba di Singapore jam 13.25 lokal time. Tidak ada perbedaan waktu antara hometown dan Singapore.

Begitu pesawat mendarat, ayah langsung mengajak keluar imigrasi untuk mengambil bagasi kami berupa tripod sulung saya. Kami membawa 4 tas, dua koper sudah dimasukkan bagasi. Sebenarnya dua koper ini adalah koper kabin, kami hampir tidak pernah memasukkan koper ke bagasi karena malas menunggu bagasi. Namun kali ini dengan pertimbangan suhu di India sedang panas-panasnya (hasil gugel), pastinya banyak membutuhkan baju ganti (itu sebabnya sampai bawa baju 2 koper, biasanya cukup 1 koper). Pesawat kami transit 13 jam di Singapore, sedang kami berniat jalan-jalan dulu di Singapore selama menunggu pesawat ke Delhi. Karena itu dua koper yang isinya baju tok dimasukkan bagasi, kami minta agar kami terima saat di Delhi sementara dua ransel masuk kabin. Satu lagi tripod masuk bagasi namun kami minta di keluarkan di Singapore.

Untuk mengambil tripod inilah kami terpaksa keluar imigrasi. Saya awalnya berniat ikutan free city tour Singapore gratis tapi karena sudah keluar imigrasi jadi gak boleh ikutan city tour gratisan ini. Syarat ikutan free city tour adalah transit diatas 5 jam di Changi, boarding pass penerbangan selanjutnya dan tidak boleh keluar imigrasi. Setelah pesawat landing harusnya ke bagian transit, disitu ada counter free city tour ini, jangan malah keluar imigrasi. Sayangnya bagasi ada dibagian luar imigrasi tapi sebenarnya ini bisa diuruskan sama pihak free city tour …tapi karena gak tahu jadi aja gagal ikutan free city tour.

Akhirnya kami naik MRT ke bugis, lalu jalan kaki ke Kampung Glam di arab street. Dari Kampung Glam jalan kaki lagi ke Esplanade dan Merlion. Di Espalanade inilah kami duduk lama nungguin sulung sedang hunting foto. Sekitar jam 9 malam jalan kaki ke stasiun MRT, lalu balik ke Changi. Di Changi istirahat sholat, makan dan duduk-duduk menunggu pesawat kami ke Delhi jam 02.30 dinihari. Changi itu makin malam makin ramai, banyak penerbangan malam sehingga banyak penumpang yang memilih istirahat di bandara, ada tempat untuk tidur juga sih tapi karena penuh akhirnya kami duduk-duduk di sofa aja. Capek? Iya tapi seru aja nongkrong di bandara. Ngantuk? Gak terlalu, toh di pesawat nanti bisa tidur.

# Menuju New Delhi, 2 Juli 2019 #

Sekitar jam 03.00 dinihari waktu Singapore kami sudah berada dalam pesawat perjalanan menuju New Delhi. Lama perjalanan sekitar kurang lebih 5 jam-an. Di pesawat krucils langsung pewe, ambil posisi enak untuk tidur…memakai selimut langsung pulas sehingga terlewat makan malamnya yang menikmati makan hanya emak babenya, mau banguni kasihan toh mereka sudah makan juga di bandara. Sekitar jam 05,45 pesawat mendarat di New Delhi. Perbedaan waktu Singapore dan Delhi sekitar 2,5 jam.

Begitu mendarat, keluar imigrasi dan menunggu bagasi masih bengong dan ngantuk tapi excited…yeaaayy kami di India *joget-joget ala Bollywood dulu*. Setelah semua urusan beres, langsung teringat petatah petitih dari dunia maya bahwa jangan sampai ke toilet umum kalau gak mau mual, buru-burulah memaksa krucils ke toilet bandara yang bersih. Lalu menukar uang di money changer, 100 USD = sekitar 6500 rupee. Di luar bandara ambil ATM, 10.000 rupee = sekitar 2 ,1 jt. Jadi menurut hitungan saya sih lebih hematan ambil ATM daripada nukar uang walau bedanya tipis sih tapi lumayan juga.

Di luar bandara nih banyak pilihan transportasi, ada metro, ada bis, ada MRT, ada taxi, dsb. Nah ayah memilih taxi dengan pertimbangan kami sudah capek, biar gak ribet diantar langsung ke hotel ya naik taxi aja. Taxi bandara ada counternya di depan, ada banyak pilihan sih. Saya lupa lagi harganya ke daerah Paharganj, yang konon merupakan backpacker area di Old Delhi. Jaraknya cukup jauh dari bandara (sekitar satu jam) apalagi kalau macet bisa tambah-tambah lamanya. Dan ternyata taxi bandaranya itu mobil minibus kecil seperti semacam angkot tapi lebih kecil lagi jadi sesak di isi berempat. Lebih syok lagi melihat lalu lintasnya, saling salip, saling klakson. Klakson ini mendominasi banget suasana lalu lintas di India, berisik banget.

Begitu sampai di daerah Paharganj, supirnya bingung sama alamat hotel. Akhirnya dia menunjuk sebuah gang kecil, dia bilang kayaknya di situ deh hotelnya, cari aja di situ. Supir taxi ini juga nyebut-nyebut tea time, kayaknya semacam kode minta tips tapi si ayah gak ngeh jadi cuek aja dan saya juga malas ngasih tips. Terus terang saya lumayan syok berat dengan daerah hotel kami berada, kami selalu booking hotel via sebuah aplikasi, selama ini jarang mengecewakan. Nah ini bikin syok karena daerahnya masuk gang kecil, daerahnya berdebu, banyak anjing liar yang buluk (saya termasuk orang yang takut banget anjing), ya sama sekali gak mirip area turis umumnyalah. Biasanya area turis (backpacker area) walau crowded dan ramai tapi fasilitas menunjang, banyak minimarket, tempat makan, moneycharger, ATM, lumayan bersih, dsb. Nah area hotel kami ini berada sama sekali berbeda…belakangan menjelang pulang kami baru tahu bahwa area hotel kami ini masih jauh dari pusat keramaian turis. Itu belum seberapa, kami makin syok begitu masuk ke lobby hotel…kecil dan sempit banget. Saya sadar kami masuk diluar jam yang ditentukan dan kami siap bayar biaya extra. Saat resepsionisnya bilang kalau belum ada kamar yang ready, saya jadi teringat pengalaman di Luang Prabang dan Myanmar, dimana akhirnya kami terpaksa muter-muter kota menunggu kamar ready padahal mata menuntut untuk tidur. Lalu dia bilang, saya bisa kasih kamar tapi bukan family room seperti yang saya pesan, yang langsung saya sahut ok gak masalah kamar yang mana aja, kasian krucils soalnya.

Sayangnya resepsionis gak mau ngasih kamar sebelum saya batalkan pemesanan sebelumnya. Selama ini kami gak pernah membatalkan pesanan sehingga bingung juga, cukup lama juga nih ngutak ngatik pembatalan ini tetap gak bisa. Heran juga kenapa harus pake dibatalkan segala untuk mendapat kamar lain, kalaupun dia maksa batalkan harusnya pihak dia saja yang membatalkan…suer heran akutu. Akhirnya resepsionisnya bilañg ok nanti saya batalkan, kalian masuk aja dulu. Nah gitu dong dari tadi, ribet amat dah 😂 awalnya saat memasuki gang tempat hotel ini berada, saya nyeselnya bukan main apalagi ditambah penampakan lobbynya. Namun saat ditunjukkan kamar kami yang berupa dormitory (karena familyroom masih ditempati tamu lain, kami akhirnya diberi kamar dormitory) …kamarnya lumayan juga, sesuai dengan foto yang dipajang. Ada 3 tempat tidur berupa bankbed dikamar yang artinya ada 6 tempat tidur, awalnya kami khawatir kalau harus bergabung dengan orang lain. Ternyata seluruh kamar diberikan untuk kami. Kamarnya ber ac dan disetiap tempat tidur tersedia kipas angin yang awalnya saya bertanya-tanya kenapa ada ac dan kipas angin dalam satu kamar? Ternyata pada jam-jam tertentu, ac nya mati…hiks. Untungnya adalah kami tidak di charge biaya tambahan karena masuk awal. Inti dari cerita ini adalah, jika hendak memilih hotel lihatlah review score dan review dari tamu yang pernah menginap.

Kami hanya semalam di Delhi sebelum melanjutkan perjalanan ke Agra. Di Delhi kami hanya ke Red Fort, itupun tidak masuk karena panas Delhi yang mencapai 41°C saat itu. Lalu hanya ke stasiun berencana mencari tiket kereta namun karena krucils sudah kelelahan dan kepanasan kayak kepiting rebus akhirnya kami memilih balik saja ke hotel. Cerita tentamg Red Fort bisa dilihat di postingan sebelumnya.

# Menuju Agra, 3 Juli 2019 #

Tanggal 3 Juli pagi kami mulai packing-packing lagi. Saatnya melanjutkan petualangan menuju kota selanjutnya, Agra. Ayah akhirnya memesan uber dengan pertimbangan walau harganya mahal tapi kalau dibagi 4, jatuhnya kurang lebih aja dengan harga tiket kereta, selain itu kami tidak perlu repot nyeret-nyeret tas ke stasiun dan mencari-cari angkutan lagi dari stasiun Agra menuju hotel di Agra. Kalau naik taxi online kan tinggal duduk manis, diantar langsung sampai hotel.

Tarif uber ini saya lupa lagi, sekitar 4000 rupee belum termasuk tax dan toll. Konon kata supir kami kalau keluar kota taxi kena tax, yang dibayarnya ditepi jalan namun ternyata tempatnya dibawah pohon-pohon saja bukan berupa tempat permanen. Kalau gak salah tax ini sekitar 200 rupee, ditambah toll yang totalnya sekitar 600 rupee. Jadi totalnya sampai Agra kurang lebih 4700-4800 rupee. Tollnya mahal memang, saya juga bingung…

Jalan dilalui ya seperti jalan toll pada umumnya, datar, lurus, dan membosankan….eh tapi gak bosen deng saya, karena sering ngeliat rumah-rumah petani, sering liat orang nunggu kendaraan dijalan toll, sering juga liat sepeda motor dijalan toll. Cuma ngantuk dan lapar aja karena belum sempat sarapan di Delhi. Kami start dari hotel jam 9-an, sedari pagi nyari makanan untuk krucils pada belum buka. Restoran pada umumnya baru buka jam 10 dan jam 11 siang, kalau makanan pinggir jalan sih semacam parata sudah ada yang jualan tapi kami gak berani makan makanan foodstreet karena khawatir kehigienisannya. Cuma ada snack-snack dan permen bungsu, jadilah mengganjal perut lapar dengan permen 😣

Sebenarnya sejak awal kami sudah bilang sama supir agar berhenti dulu di resto fatfood, tapi karena belum ada yang buka ya apa boleh buat. Akhirnya semakin siang semakin kelaparan kami bilang sama supir agar berhenti makan dulu deh di rest area, lalu dia bilang rest area yang kami suruh berhenti itu cuma makanan biasa bukan fast food yang seperti kami inginkan, nanti 7 menit didepan ada restbarea yang ada fast foodnya kata supir lagi. Mendengar kata 7 menit, semangat langsung membara…tapi kok ya lama banget rasanya saking kelaparannya. Finally berhenti juga di restbarea yang ada fastfoodnya, tapi bingung juga saking banyak tempat makannya akhirnya malah pesan pizza yang sebenarnya salah strategy, pizza kan prosesnya lama. Selama nungguin pizza akhirnya liat-liat sekitar nemu resto burger, langsung pesan burger sandwich. Ketika akhirnya bisa makan tuh enak banget, surga rasanya.

Supirnya saya tawarin pizza dia menolak malu-malu. Walau dipaksa tidak mau, yo weslah langung dihabisin krucils. Pizza india tuh asanya disesuaikan dengan rasa lokal, jadi ada rempah-rempahnya. Singkat cerita kami sampai sekitar jam 3 an di Agra. Hotel kami letaknya dekat sekali dengan Taj Mahal, masih di area Taj Mahal sehingga tidak boleh masuk kendaraan umum. Jarak hotel dengan Taj Mahal 600 m, bisa berjalan kaki 15 menitan. Setiba dihotel dikasih minuman selamat datang di lobby, wuih segar banget rasanya langsung lupa sama panas yang menyengat. Istirahat sebentar dikamar, langsung krucils ngajak ke rooftop agar bisa melihat Taj Mahal. Panasnya poll banget, anginnya kencang. Lalu santai-santai dikamar sambil menghabiskan burger yang dibeli dijalan.

Sore kami berniat jalan-jalan sore melihat situasi Taj Mahal, eh pada akhirnya malah masuk Taj Mahal sore itu juga. Kami 3 hari di Agra. Selama di Agra kami mengunjungi Taj Mahal dan Agra Fort, cerita selengkapnya tentang tempat tersebut bisa dilihat di postingan sebelumnya. Ayah sempat jatuh sakit di Agra yang membuat ayah homesick, pengen pulang. Saya sempat khawatir berats selama ayah sakit, apa yang harus saya lakukan dinegeri asing, tanpa seorangpun kenalan kami. Alhamdulillah keesokannya ayah membaik, mungkin cuaca yang super panas di India kala itu menyebabkan ayah demam selain makanan yang tidak cocok bagi lidah ayah. Alhamdulillah krucils sehat selama perjalanan, saya dan ayah sehat. Saat ayah demam kami sempat membahas untuk membeli tiket pulang atau tiket ke negara lain dulu, namun karena tiketnya mahal jadi mikir-mikir 😂😂😂 (tiket sudah terlanjur dibeli untuk pp selama 2 minggu di India). Saya bersyukur banget kami tidak jadi pulang saat itu karena petualangan-petualangan hari selanjutnya sangat seru.

# Menuju Varanasi, 6 Juli 2019 #

Petualangan mengajarkan kita agar tidak takut menghadapi berbagai situasi yang terkadang tidak mengenakkan selama perjalanan, situasi yang terkadang mendadak berubah, keluar dari zona nyaman dan aman selama ini. Alhamdulillah setelah melewati perang batin selama di Agra, dimana kami berada dalam situasi cemas dan khawatir karena ayah tiba-tiba demam sementara ada dua krucils yang juga harus diperhatikan, akhirnya saya dan ayah berkomitmen apapun kendala yang nanti kami hadapi lagi, kami tetap harus lanjut meneruskan apa yang sudah dimulai. Lagian kan gak lucu banget masa sudah jauh-jauh ke India, cuma sehari dua hari sudah pulang. Itu sebabnya kami lama di Agra dan tidak kemana-mana, waktu banyak kami habiskan di hotel untuk memulihkan stamina ayah, menjaga kesehatan krucils, untuk menyusun rencana yang memang perjalanan ke India ini yang paling kacau, sama sekali tanpa rencana apapun serta untuk mencari tiket ke tujuan selanjutnya.

Tanpa ada plan sebelumnya, di India mau kemana, akhirnya di Agra kami berembuk dengan krucils, mereka pengen kemana. Bungsu nanya-nanya tentang sungai Gangga, ok nampaknya bisa dimasukan dalam itenary. Sulung pengen ke Mumbai, tapi setelah diliat jaraknya terlalu jauh dari Delhi sementara pesawat pulang kami dari Delhi, takut gak kekejar waktunya. Saya pengen ke Kalkota, ayah dan krucils lalu nanya ada apa disitu? Saya gak tahu ada apaan, saya ngikut salah satu blog aja….haha dasar gak punya prinsip 😂 . Tapi karena pertimbangan jarak juga dibatalkan. Bahkan ayah yang pengen lanjut ke Nepal pun dibatalkan, kali ini harga tiket yang mahal memaksa demikian 😂😂😂

Akhirnya malam kedua kami di Agra kami sepakat, tujuan selanjutnya Varanasi, lalu lanjut balik arah lagi mendekat ke Delhi yaitu ke Jaipur, kalau sempat ke Jodhpur juga. Karena ayah sedang memulihkan diri setelah sakit, saya melarang ayah kemana-mana. Untuk pembelian tiket kami menggunakan jasa hotel. Beberapa hari menunggu tiket ini akhirnya hari ketiga orang hotel datang ke kamar mengabarkan kalau kami berhasil mendapatkan tiket kereta 3rd ac tieer menggunakan emergency kuota untuk keberangkatan malam itu. Biayanya untuk berempat 10.000 rupee. Mahal? Pasti, bagi kami sebagai backpacker ya mahal, tapi daripada stuck di Agra ya terùskan aja rencana yang sudah dibuat.

Malam itu kami naik kereta jam 2 malam. Sebelumnya kami pesan dua porsi chicken tandori di hotel yang dikirimkan sesaat sebelum berangkat. Orang daur sampai ikutan begadang demi bikinin tandori yg fresh from the oven, biar gak basi di jalan kata mereka. Kami naik tuktuk yang di booking sejak siang, jam 1 an malam turun ke lobby dan berangkat. Walau awalnya agak deg-degan juga karena supir tuktuknya belum muncul , takut tertinggal kereta padahal tiket kereta ini didapat dengan penuh perjuangan dan harganya juga mahal. Singkat cerita kami sampai juga di stasiun kereta, menunggu kereta kami ke Varanasi. Begitu kereta yang ditunggu datang, saya lumayan kaget juga dengan kereta tidurnya, berbeda dengan kereta tidur di beberapa negara yang pernah kami coba, dimana tempat tidurnya biasanya dikasih gorden dan hanya susun dua keatas, kereta 3rd ac tieer ini susun 3 ke atas dan tanpa gorden…jadi ya gak ada privasi. Tapi karena sudah ngantuk jadi ya kami langsung tidur aja. Baru keesokan paginya terasa kurang nyamannya, karena tidak ada privasi dan bergabung dengan orang lain serta duduknya juga gak enak ketekuk disebabkan tempat tidur diatas.

Menurut jadwal yang tertera di tiket, perjalanan menempuh waktu sekitar 12 jam namun kenyataannya kereta sering banget berhenti. Di setiap stasiun kereta berhenti, belum lagi menunggu kereta lain lewat, pada akhirnya perjalanan molor 5 jam hingga total perjalanan 17 jam. Jadwal yang harusnya sore sudah sampai ternyata baru sampai sekitar jam 9 malam. Stok makanan sudah habis, sehingga kami kelaparan. Belum lagi depan stasiun saat mencari makan ternyata jalanannya tergenang air…mata ngantuk, badan lengket karena belum mandi seharian….aarrghhh rasanya campur aduk. Akhirnya kami naik tutuk seharga 150 rupee ke hostel kami yang terletak dekat sungai Gangga. Eh seakan belum komplit, supir tuktuknya bingung pula letak hostel kami sehingga terpaksa kami pakai GPS untuk mengarahkan.

Jalanan di varanasi lumayan macet kala malam karena ada banyak orang berjalan kaki selepas acara yang selalu diadakan setiap malam di pinggir sungai Gangga. Begitu sampai hotstel, nanya sama orang hostel dimana nyari makan…dia bilang buruan, sebentar lagi restoran bakalan tutup karena sudah malam. Akhirnya bagi tugas, saya mengurus kamar hotel dan krucils, ayah mencari makan. Cuma dapat roti, karena yoko-toko sudah tutup…lumayanlah mengganjal perut. Sementara krucis langsung mandi karena badan lengket belum lagi mereka geli karena selama di kereta terpaksa menggunakan toilet yang lumayan jorok karena selain bau pesing juga sering ada “you know what” yang tidak disiram.

Malam itu kami tidur nyenyak dikamar hostel. Kami menghabiskan 3 hari di Varanasi, kenapa lama? Karena dapat tiket kereta ke Jaipurnya ya untuk 3 hari kedepan, jadi mau gak mau ya stay lama di Varanasi. Tidak seperti kota New Delhi dan Agra yang panasnya poll, di Varanasi setiap hari hujan walau tetap suhu udaranya bikin keringatan. Itu sebabnya laundry kami menumpuk banyak di Varanasi, selain sering kehujanan juga keringatan. Di Varanasi kami hanya ikutan Ghats Tour yang diadakan hostel, lalu selanjutnya hanya belanja beberapa pakaian dan syal di pasar. Untuk cerita selengkapnya tentang petualangan kami mengikuti Ghats tour bisa dibaca dipostingan sebelumnya.

# Menuju Jaipur, 9 Juli 2019 #

Tiket kereta tujuan Jaipur ini ayah beli di stasiun seharga 9000 rupee untuk berempat dengan kelas 2nd ac tieer. Di stasiun kereta Varanasi ada loket khusus foreigner yang tidak perlu antri, cuma harap diingat pihak loket hanya mau menerima uang cash. Berhubung uang cash rupee kami sudah habis, tidak sempat menukar dan mencari ATM, kami pikir mungkin bisa pakai debit atau kartu kredit namun ternyata tidak. Terpaksalah hujan-hujanan mencari money changer atau ATM. Kebetulan lagi semua ATM di stasiun sedang error, jadi lumayan grasa grusu juga nih demi tiket kereta ke Jaipur ini. Alhamdulillah dapat.

Dari hostel kami naik uber ke stasiun. Saya lupa lagi ongkosnya, kalau tidak salah 150 rupee. Berangkat siang sekitar jam 3 sore , walau sebenarnya kereta kami berangkat jam 4 an. Menurut schedule lama perjalanan sekitar 18 jam walau kenyataan tak seindah harapan, kereta molor lagi hingga total perjalanan 21 jam. Untungnya kami sudah belajar dari pengalaman sebelumnya sehingga perbekalan sudah maksimal, namun ternyata habis juga sebelum sampai tujuan. Sebenarnya masalah makanan dan minuman tidak perlu khawatir karena banyak saja pedagang yang berjualan tapi karena kami memilih makanan untuk krucils, jadi lebih aman kami bawa bekal saja.

Nah kelas 2nd ac tieer ini lebih nyaman menurut saya, selain tempat tidur hanya susun dua, dalam satu kompartemen pas berempat dan lebih menyenangkan lagi ada gorden pembatas dengan lorong sehingga lebih bebas rasanya mau ngapai di dalam kompartemen kami. Toiletnya juga airnya mengalir, flushnya jalan sehingga toilet agak lebih bersih dibanding kereta sebelumnya yang kami naiki. Saran saya jika travelling ke India, bawalah masker, hand sanitizer, tisu basah dan norit. Benda-benda ini menurut saya penting banget dibawa.

Walau lama di jalan, tapi lebih enak…itu sebabnya krucils juga happy main manjat-manjat kasur, atau sekedar dengar musik. Kami sampai siang di Jaipur yang langsung disambut panas terik dan supir tuktuk yang menempel erat mengikuti kemanapun kami melangkah. Demi menghindar kejaran supir tuktuk ini kami masuk dalam foodcourt stasiun, maksud hati supaya tuh supir pergi juga karena kelaparan juga. Eh ternyata dia nungguin kami makan, masyaAllah gigih sekali perjuangannya. Karena iba ayah basa basi nanya berapa ongkos ke hostel kami, dia nawarin 200 rupee, kami yang dari awal berniat naik uber jadi malas langsung menwar dengan tega 100 rupee. Kalau gak mau tinggalin aja kami, begitu kami bilang…eh dia setuju.

Selama perjalanan dia cerita ini itu, dia bahkan memanggil si ayah dengan big brother (padahal gedean badan supir tuktuk ini). Suruh ayah duduk di depan dekat dia biar enak, lalu dia melancarkan serangan menawarkan tour menggunakan tuktuknya sore itu. Ya gak mau dong kami, sampai hostel aja belum, badan sudah gak enak belum kena sabun sudah diajak jalan, katanya lagi gpp nanti dia tungguin. Namun kami tolak terus, eh dia tiba-tiba berubah dong dari awalnya ayah suruh duduk depan langsung suruh duduk dibelakang. Lalu ngomelngomel katanya dia nerima 100 rupee karena dikiranya kami akan ikut tour dia, kalau enggak dia rugi. Pada puncaknya dia menurunkan kami di tikungan yang terlindungan pandangan dari hostel, bukan tepat depan hostel. Awalnya kami gak ngeh, baru ketika jalan ke hostel terlihat bahwa tepat depan hostel kami ada police tourist…langsung deh kami bertanya-tanya kenapa tuh supir tuktuk tadi tidak menurunkan tepat depan hostelya? Apa dia menghidari kantor polisi itu? Hmmm, entahlah…

Hostel kami berada di pink city, jadi dekat dengan beberapa lokasi wisata di pink city. Bisa jalan kaki mengelilinginya. Kami bahkan berjslan kaki malam itu sebelum tidur, menyusuri jalan mendatangi Hawa Mahal. Kami menghabiskan waktu 2 malam di Jaipur, yang rasanya gak cukup banget karena Jaipur ini banyak sekali lokasi wisatanya dan lebih bersih dibanding Varanasi. Sulung saya sampai bilang, kenapa sih kita gak dari awal aja ke Jaipurnya, kok kita malah berlama-lama di kota lain 😂 Sulung saya suka Jaipur rupanya. Selama di Jaipur kami mengunjungi banyak sekali tempat wisata. Oh iya, di pink city ada tiket terusan untuk semua lokasi wisata seharga 1000 rupee, jauh lebih hemat dibanding mengunjungi satu-satu. Untuk cerita selengkapnya mengenai tempat wisata di Jaipur bisa dibaca dipostingan sebelumnya.

# Menuju New Delhi, 12 Juli 2019 #

Dengan pertimbangan gak mau ribet lagi, ditambah krucils yang menolak naik kereta lagi karena trauma menghabiskan waktu lama diperjalanan akibat kereta yang sering delayed, akhirnya kami memutuskan menggunakan uber lagi saja. Toh jaraknya juga tidak terlalu jauh, perkiraan akan menghabiskan waktu 4-5 jam saja di jalan. Biayanya saya lupa, tapi sekitar 2500 rupee dtambah toll sekitar 200 rupee. Tidak ada tax, plus tarif tollnya jauh lebih murah dibanding ke Agra padahal jarak Delhi-Agra dan Jaipur-Delhi kurang lebih saja, heran juga akutu.

Sebenarnya sih 4 jam an saja kayaknya bisa sampai, eh tapi supir uber kali ini suka tiba-tiba berbelok arah yang ternyata mengisi gas (kendaraan umum di India umumnya menggunakan bahan bakar gas). Ini beberapa kali kejadiannya, mana supirnya gak bisa bahasa inggris. Jadi kalau dia mulai milih jalan aneh kami sudah bisa menebak, pasti mau ngisi gas . Positif thinkingnya adalah untung aja dia cuma hobi mengisi gas bukan mengeluarkan gas 😂😂😂 Pernah tebakan jami meleset ternyata dia mampir ke foodcourt dan tanpa berkata apapun, tinggal kami bertanya-tanya sendiri…ini mau makan atau dia sedang kebelet aja sih 😂

Begitu tiba di Delhi, eh dia pake bahasa India menyuruh kami turun. Padahal hotelnya aja belum keliatan, terpaksalah ayah yang turun sibuk nanya sama orang-orang dimana hotel kami berada. Ternyata hotelnya masuk gang sempit dan berliku saudara, duh rasanya antara mau nangis dan ketawa…masa sih tiap beli hotel di Delhi diphpin mulu sama fotonya. Eh tapi ternyata walau masuk gang kecil dan sempit, fotonya sesuai kenyataan. Bukan kapok memilih Paharganj lagi, ini sih karena sikon…hotel-hotel diluar area Paharganj harganya mahal book…mending uangnya buat belanja oleh-oleh. Namun kali ini paharganj nya pas tepat berada di tengah keramaian turis, keluar dari gang ya pusat keramaian. Banyak penjual menjual berbagai macam syal, baju sari, souvenir, resto, dsb. Sayangnya jalannya crowded dan berdebu serta gerah banget sehingga kamimlebih betah dikamar hotel daripada di jalan. Oiya, syal dan pashmina yang dijual di Paharganj ini termasuk murah loh…kami melihat pashima yang mirip dibandara harganya 100x lipat. Entah dari segi kualitas karena dipajang dikotak kaca jadi gak bisa membandingkannya secara detail.

Kami hanya sehari dua malam di Delhi. Di Delhi kami mengunjungi India Gate, Humayuns Tomb, Qutub Minar, Jama Masjid, dsb. Cerita tentang tempat-tempat tersebut bisa dilihat dipostingan sebelumnya.

# Menuju Singapore, 14 Juli 2019 #

Pesawat kami ke Singapore jam 09.00, kami berangkat dari hotel sekitar jam 05.00 subuh menggunakan taxi yang dipesankan pihak hotel. Taxi ini lumayan mahal sekitar 600 rupee. Taxi awalnya mengebut tapi tiba-tiba melambat, lalu jalan menggol kanan kiri, kanan terlalu ke kanan yang membuat saya bingung. Rupanya supirnya ngantuk, sama ayah suruh berhenti cuci muka. Begitu sampai bandara, dia minta tips. Bete juga si ayah karena sudah bayar mahal, belum jalannya tidak safety masih minta tips.

Kami sengaja datang awal ke bandara agar tidak buru-buru, karena banyak yang harus diurus ya check in, masuk imigrasi, belum lagi mengurus bagasi, dsb…lebih enak nunggu di bandara daripada nanti buru-buru. Singkaþ cerita kami sampai di Changi sekitar jam 17.30 waktu Singapore. Di changi krucils santai dulu di Butterfly Garden Changi sementara emak babenya buru-buru booking hostel. Kami masih ragu apakah perlu memesan penginapan karena pesawat kami ke hometown keesokan hari jam 08.00. Namun mempertimbangkan krucils, kasihan kalau diajak ngelandang di bandara, makanya begitu mendarat langsung memutuskan pesan penginapan aja biar krucils bisa tidur enak. Di Changi kami juga sempat ke Jewel, sebelum lanjut ke hostel menggunakan MRT. Naruh barang sebentar langsung berburu oleh-oleh di Bugis Street. Kemudian tidur di hostel walau ternyata krucils susah tidur, entah mengapa mereka susah tidur malam itu.

# Menuju Hometown, 15 Juli 2019 #

Sekitar jam 04.00 subuh kami meminta bantuan resepsionis untuk memesankan kendaraan ke Changi dikarenakan jam segitu belum ada bis dan MRT. Ternyata ada gojek, dan mobilnya mobil mahal coy. Kurang tidur selama perjalanan menyebabkan saya ngantuk berat, di bandara saya sempat tertidur. Singkat cerita 3 jam kemudian kami mendarat di hometown, alhamdulillah petualangan kali ini walau sempat mengalami kejadian tak terduga seperti ayah sakit di Agra, semua dilancarkan. Bersyukur banget kami bisa menikmati petualangan kami di india, krucils sehat, ayah sehat, saya sehat…walau seminggu kemudian sulung terkena cacar yang langsung neneknya menuduh ini pasti karena India 😂 dua minggu kemudian malah saya kena batuk parah dan demam.

Walau banyak orang nanya untuk apa sih ke India, gak ada negara lain apa yang bisa dikunjungi. India walaupun streotipenya kotor dan jorok, menurut saya dibeberapa kota malah tidak jauh beda dengan Indonesia. Di New Delhi malah modern banget, bersih, jalannya lebar, trotoar penuh pohon sehingga adem. Jangan menilai sesuatu sebelum melihat sendiri kondisinya, pepatah itu benar adanya.





The Jewel, Singapore

22 07 2019

Begitu pesawat kami dari Delhi mendarat di Changi (Singapore), saya pengen buang air kecil. Saya kebiasaan lebih suka buang air kecil di darat daripada di pesawat kecuali sudah gak tahan lagi. Dekat pintu keluar ada toilet yang walau tampak antrian panjang, saya malas mencari toilet lain. Eh begitu mendekat, dekat toilet tersebut ada tulisan besar “Butterfly Garden” yang langsung saja saya tunjukan ke krucils, terutama pada sulung saya yang sedang hobi fotography. Tentu saja mereka senang, jadi nongkrong dulu di Butterfly Garden ini sembari ayah bundanya sibuk mencari penginapan dadakan di aplikasi.

Setelah puas memotret kupu-kupu cantik, krucils mengajak kami ke Jewel, tempat yang sedang hits di Changi. Sebenarnya saat mau ke Delhi kami sempat mencari Jewel ini di Changi cuma gak ketemu. Nah kali ini krucils bertekad harus ketemu apalagi saat itu masih sore, masih panjang waktunya untuk mencari Jewel. Jewel ini letaknya di terminal 3, kebetulan pesawat kami dari Delhi juga mendarat di terminal 3…jadi gak susah mencarinya cuma jalannya cukup jauh juga.

Jewel ini letaknya ditengah-tengah berbagai macam tempat makan. Nah ditengahnya inilah air terjunnya besar sekali dan tinggi serta penuh orang. Hampir setiap sudut ramai dengan orang, baik yang sedang selfie, groupie, maupun cuma memandang air terjunnya saja apalagi disertai backsound musik. Seru sih kalau mau berlama-lama disini menunggu penerbangan berikutnya kayaknya enak, apalagi banyak tempat makan…tapi kami sudah terlanjur memesan kamar yang buru-buru dipesan saat di Butterfly Garden sebelumnya.





Jama Mesjid, Delhi

22 07 2019

Area menuju mesjid ini macet luar biasa sehingga kami harus berjalan kaki lumayan jauh untuk sampai mesjid ini. Dan ternyata mesjidnya pun ramai dengan orang, ada yang memang sedang sholat, ada yang hanya duduk-duduk saja, ada juga yang selfie bahkan kami berjumpa dengan anak-anak yang sedang bermain layangan.

Kami berniat melaksanakan sholat di mesjid ini. Begitu kami sampai di pintu masuk, tahu-tahu kami dihentikan oleh seseorang yang memberi kami tiket, kami disuruh membayar 300 rupee/orang dewasa, anak-anak gratis. Yang membuat saya heran adalah dari seķian banyak orang yang lalu lalang disitu, hanya kami yang tampaknya disuruh bayar tiket masuk. Apa memang wajah wisatawan diharuskan membayar, entahlah. Setelah mebayar tiket masuk, saya tanya dimana menaruh sepatu? Sebenarnya kami mau membawa masuk sendiri ke dalam seperti orang-orang yang lalu lalang, tapi kemudian kami teringat kalau sepatu kami itu sudah 2 minggu tidak dicuci dan sudah dibawa kemana-mana entah menginjak najis apa dijalan, takut mengotori kalau dibawa masuk selain kami juga tidak membawa plastik untuk tempat sepatu.

Lalu si tukang tiket masuk ini bilang, titip aja ke dia, tidak masalah. Yah namanya ditawari titip ke dia, ya kami senang dong gak perlu lagi bingung naruh dimana dan bawa pake apa ke dalam mesjid. Lalu wudhu tapi sayangnya keran wudhunya gak nyala, yang nyala dipojokan tempat orang-orang mengisi tumbler mereka. Setelah wudhu kami lalu berjalan melintasi ubin yang terasa panas banget di kaki telanjang. Berjalan menuju mesjid, saat saya dan bungsu saya mau masuk lalu dihadang oleh seorang pria yang duduk di kursi yang diletakkan ditengah pintu masuk. Dengan bahasa isyarat saya mempraktekkan gerakan sholat, lalu dia meunjuk pojokan depan pintu masuk. Rupanya tempat sholat perempuan disitu, hanya ayah dan sulung yang diperkenankan masuk mesjid untuk sholat.

Area tempat sholat saya itu persis dipojokan depan pintu masuk, tanpa ada karpet atau sajadah dan mukena. Saya juga tidak membawa mukena ketika itu. Disamping saya ada perempuan muda juga sholat disitu, setelah sholat seperti kebiasaan di Indonesia, saya ajak salaman perempuan tersebut…eh saat hendak melangkah, saya dan bungsu saya malah diajak foto selfie sama perempuan tersebut, berasa artis jadinya. Nah ketika ayah dan sulung keluar mesjid, si ayah memberi uang kepada sulung saya untuk dimasukkan ke kotak yang berada dipintu mesjid. Pria yang awalnya duduk dikursi ditengah pintu ini begitu melihat sulung saya memasukkan uang ke kotak tersebut, tiba-tiba mendehem keras sambil menjulurkan tangannya dalam posisi meminta ke ayah. Awalnya kami cuekin…kami pura-pura tidak tahu lalu berjalan berkeliling mesjid seperti ala turis, namun pria tersebut terus mengikuti sambil mengeluarkan suara-suara keras dan posisi tangan tetap meminta. Karena lama-lama merasa terganggu, akhirnya ayah mengeluarkan uang kecil untuk diberikan pada pria tersebut…bukannya senyum itu pria malah terkesan marah.

Setelah puas melihat-lihat mesjid, krucils saya mengajak balik hotel…mungkin capek setelah seharian jalan ke berbagai tempat wisata. Saat hendak keluar, kami mengambil sepatu yang awalnya dititipkan sama penjual tiket. Eh beberapa orang di dekat situ menagih uang 200 rupee, katanya itu biaya penitipan sepatu. Whats?!!! Gak mau kalah kami bilang kalau kami tadi sudah bayar tiket masuk, eh mereka juga gak mau kalah katanya itu beda lagi…yang ini biaya penitipan sepatu. Lah kenapa saat saya nanya dimana naruh sepatu, dia bilang ke dia aja no problem….kata ayah bunda gak lengkap nanyanya, harusnya nanya sekalian bayar enggak kalau nitip sepatu ke dia 😂😂😂 Saran saya jika hendak ke mesjid ini bawalah kantung plastik untuk membawa sepatu, jangan nanya-nanya dimana naruh sepatu kalau gak mau kena scam.