Overland India ( Delhi, Agra, Varanasi, Jaipur)

5 08 2019

Dulu waktu krucils masih piyik, saya sempat mengajak ayah untuk ke India namun karena pertimbangan krucils masih kecil, kayaknya belum sanggup mereka diajak ke India jadi kami menunda, entar deh kapan-kapan kalau krucils sudah kuat staminanya, sudah bisa gendong ransel sendiri. Impian itupun terlupakan, saya ganti mimpi yang lain…pengen ke Jepang. Kata ayah kalau mau ke Jepang nabung dulu yang banyak karena sebagai salah satu negara dengan biaya hidup tertinggi di dunia, budgetnya pasti gede…akhirnya deal sama ayah, ok bunda nabung dulu tapi 2019 atau 2020 jepang loh yah.

Eh nabungnya belum terkumpul, tiba-tiba tahun ini ayah mengajak ke India. Hampir saban hari selalu menyuruh saya beli tiket ke India….saya sih entar besok, tarsok aja karena selain memang mimpi saya sudah berubah juga karena mempertimbangkan harga tiket yang lumayan. Namun karena didesak terus, ditanya terus setiap hari…sudah beli tiket belum? Akhirnya suatu hari bosen juga ditanya mulu, Bismillahirohmanirrohim….tekan tombol beli sambil merem, khawatir menyesal soalnya πŸ˜‚

Saat tiket sudah kebeli, eh ayah dengan santainya bilang “bunda cari-carilah tempat yang mau dikunjungi, susun itenarynya…ayah sibuk, gak senpat mengurus begituan”…yang pengen ke India siapa, yang disuruh susun itenary siapa? Heran akutu 😁 yah karena team, jadilah si bunda yang gugel-gugel, baca-baca plus nanya beberapa teman yang sudah ke India. Hello ma pren, thank you ya sharing infonya. Nah dari info teman inilah kami mengurus visa online, websitenya lupa lagi…bisa di gugel. Visanya gratis loh, alhamdulΓ¬llah. Pengurusannya juga gampang, tinggal isi data lalu tunggu hasilnya. Gak perlu menunggu lama, kami hanya menunggu sehari atau 2 hari (lupa lagi saya) sudah di approve. Nah setelah tiket dan visa sudah ditangan, tinggal menentukan destinasi deh.

Awalnya saya pengen Kashmir dan Jaipur, setelah baca-baca…Kashmir medannya susah dan agak ribet kalau membawa krucils, walau viewnya top markotop tapi ditunda ajalah, kapan-kapan semoga ada rejeki lagi bisa ke Kashmir. Destinasi incaran akhirnya hanya tersisa Jaipur dan Agra tentu saja. Lucunya ayah malah ngeblank, dia tujuannya hanya ke Taj Mahal tok…jadilah perjalanan ke India ini sama sekali tanpa rencana rapi, semua amburadul dan hanya mengikuti kata hati aja. Inilah cerita petualangan kami mengunjungi negara dengan menyematkan slogan “Incredible” depan namanya.

# Menuju Singapore, 1 Juli 2019 #

Entah mengapa, rutinitas sebelum memulai petualangan adalah krucils batuk pilek, ayah malah job…bikin panik si bunda. Alhamdulillah sehari sebelum memulai petualangan situasi kembali aman terkontrol. Kebetulan lagi sedang ada orang tua saya berkunjung ke rumah sehingga mereka mengantar kami ke bandara. Pesawat kami jam 11.10 dari hometown dan tiba di Singapore jam 13.25 lokal time. Tidak ada perbedaan waktu antara hometown dan Singapore.

Begitu pesawat mendarat, ayah langsung mengajak keluar imigrasi untuk mengambil bagasi kami berupa tripod sulung saya. Kami membawa 4 tas, dua koper sudah dimasukkan bagasi. Sebenarnya dua koper ini adalah koper kabin, kami hampir tidak pernah memasukkan koper ke bagasi karena malas menunggu bagasi. Namun kali ini dengan pertimbangan suhu di India sedang panas-panasnya (hasil gugel), pastinya banyak membutuhkan baju ganti (itu sebabnya sampai bawa baju 2 koper, biasanya cukup 1 koper). Pesawat kami transit 13 jam di Singapore, sedang kami berniat jalan-jalan dulu di Singapore selama menunggu pesawat ke Delhi. Karena itu dua koper yang isinya baju tok dimasukkan bagasi, kami minta agar kami terima saat di Delhi sementara dua ransel masuk kabin. Satu lagi tripod masuk bagasi namun kami minta di keluarkan di Singapore.

Untuk mengambil tripod inilah kami terpaksa keluar imigrasi. Saya awalnya berniat ikutan free city tour Singapore gratis tapi karena sudah keluar imigrasi jadi gak boleh ikutan city tour gratisan ini. Syarat ikutan free city tour adalah transit diatas 5 jam di Changi, boarding pass penerbangan selanjutnya dan tidak boleh keluar imigrasi. Setelah pesawat landing harusnya ke bagian transit, disitu ada counter free city tour ini, jangan malah keluar imigrasi. Sayangnya bagasi ada dibagian luar imigrasi tapi sebenarnya ini bisa diuruskan sama pihak free city tour …tapi karena gak tahu jadi aja gagal ikutan free city tour.

Akhirnya kami naik MRT ke bugis, lalu jalan kaki ke Kampung Glam di arab street. Dari Kampung Glam jalan kaki lagi ke Esplanade dan Merlion. Di Espalanade inilah kami duduk lama nungguin sulung sedang hunting foto. Sekitar jam 9 malam jalan kaki ke stasiun MRT, lalu balik ke Changi. Di Changi istirahat sholat, makan dan duduk-duduk menunggu pesawat kami ke Delhi jam 02.30 dinihari. Changi itu makin malam makin ramai, banyak penerbangan malam sehingga banyak penumpang yang memilih istirahat di bandara, ada tempat untuk tidur juga sih tapi karena penuh akhirnya kami duduk-duduk di sofa aja. Capek? Iya tapi seru aja nongkrong di bandara. Ngantuk? Gak terlalu, toh di pesawat nanti bisa tidur.

# Menuju New Delhi, 2 Juli 2019 #

Sekitar jam 03.00 dinihari waktu Singapore kami sudah berada dalam pesawat perjalanan menuju New Delhi. Lama perjalanan sekitar kurang lebih 5 jam-an. Di pesawat krucils langsung pewe, ambil posisi enak untuk tidur…memakai selimut langsung pulas sehingga terlewat makan malamnya yang menikmati makan hanya emak babenya, mau banguni kasihan toh mereka sudah makan juga di bandara. Sekitar jam 05,45 pesawat mendarat di New Delhi. Perbedaan waktu Singapore dan Delhi sekitar 2,5 jam.

Begitu mendarat, keluar imigrasi dan menunggu bagasi masih bengong dan ngantuk tapi excited…yeaaayy kami di India *joget-joget ala Bollywood dulu*. Setelah semua urusan beres, langsung teringat petatah petitih dari dunia maya bahwa jangan sampai ke toilet umum kalau gak mau mual, buru-burulah memaksa krucils ke toilet bandara yang bersih. Lalu menukar uang di money changer, 100 USD = sekitar 6500 rupee. Di luar bandara ambil ATM, 10.000 rupee = sekitar 2 ,1 jt. Jadi menurut hitungan saya sih lebih hematan ambil ATM daripada nukar uang walau bedanya tipis sih tapi lumayan juga.

Di luar bandara nih banyak pilihan transportasi, ada metro, ada bis, ada MRT, ada taxi, dsb. Nah ayah memilih taxi dengan pertimbangan kami sudah capek, biar gak ribet diantar langsung ke hotel ya naik taxi aja. Taxi bandara ada counternya di depan, ada banyak pilihan sih. Saya lupa lagi harganya ke daerah Paharganj, yang konon merupakan backpacker area di Old Delhi. Jaraknya cukup jauh dari bandara (sekitar satu jam) apalagi kalau macet bisa tambah-tambah lamanya. Dan ternyata taxi bandaranya itu mobil minibus kecil seperti semacam angkot tapi lebih kecil lagi jadi sesak di isi berempat. Lebih syok lagi melihat lalu lintasnya, saling salip, saling klakson. Klakson ini mendominasi banget suasana lalu lintas di India, berisik banget.

Begitu sampai di daerah Paharganj, supirnya bingung sama alamat hotel. Akhirnya dia menunjuk sebuah gang kecil, dia bilang kayaknya di situ deh hotelnya, cari aja di situ. Supir taxi ini juga nyebut-nyebut tea time, kayaknya semacam kode minta tips tapi si ayah gak ngeh jadi cuek aja dan saya juga malas ngasih tips. Terus terang saya lumayan syok berat dengan daerah hotel kami berada, kami selalu booking hotel via sebuah aplikasi, selama ini jarang mengecewakan. Nah ini bikin syok karena daerahnya masuk gang kecil, daerahnya berdebu, banyak anjing liar yang buluk (saya termasuk orang yang takut banget anjing), ya sama sekali gak mirip area turis umumnyalah. Biasanya area turis (backpacker area) walau crowded dan ramai tapi fasilitas menunjang, banyak minimarket, tempat makan, moneycharger, ATM, lumayan bersih, dsb. Nah area hotel kami ini berada sama sekali berbeda…belakangan menjelang pulang kami baru tahu bahwa area hotel kami ini masih jauh dari pusat keramaian turis. Itu belum seberapa, kami makin syok begitu masuk ke lobby hotel…kecil dan sempit banget. Saya sadar kami masuk diluar jam yang ditentukan dan kami siap bayar biaya extra. Saat resepsionisnya bilang kalau belum ada kamar yang ready, saya jadi teringat pengalaman di Luang Prabang dan Myanmar, dimana akhirnya kami terpaksa muter-muter kota menunggu kamar ready padahal mata menuntut untuk tidur. Lalu dia bilang, saya bisa kasih kamar tapi bukan family room seperti yang saya pesan, yang langsung saya sahut ok gak masalah kamar yang mana aja, kasian krucils soalnya.

Sayangnya resepsionis gak mau ngasih kamar sebelum saya batalkan pemesanan sebelumnya. Selama ini kami gak pernah membatalkan pesanan sehingga bingung juga, cukup lama juga nih ngutak ngatik pembatalan ini tetap gak bisa. Heran juga kenapa harus pake dibatalkan segala untuk mendapat kamar lain, kalaupun dia maksa batalkan harusnya pihak dia saja yang membatalkan…suer heran akutu. Akhirnya resepsionisnya bilaΓ±g ok nanti saya batalkan, kalian masuk aja dulu. Nah gitu dong dari tadi, ribet amat dah πŸ˜‚ awalnya saat memasuki gang tempat hotel ini berada, saya nyeselnya bukan main apalagi ditambah penampakan lobbynya. Namun saat ditunjukkan kamar kami yang berupa dormitory (karena familyroom masih ditempati tamu lain, kami akhirnya diberi kamar dormitory) …kamarnya lumayan juga, sesuai dengan foto yang dipajang. Ada 3 tempat tidur berupa bankbed dikamar yang artinya ada 6 tempat tidur, awalnya kami khawatir kalau harus bergabung dengan orang lain. Ternyata seluruh kamar diberikan untuk kami. Kamarnya ber ac dan disetiap tempat tidur tersedia kipas angin yang awalnya saya bertanya-tanya kenapa ada ac dan kipas angin dalam satu kamar? Ternyata pada jam-jam tertentu, ac nya mati…hiks. Untungnya adalah kami tidak di charge biaya tambahan karena masuk awal. Inti dari cerita ini adalah, jika hendak memilih hotel lihatlah review score dan review dari tamu yang pernah menginap.

Kami hanya semalam di Delhi sebelum melanjutkan perjalanan ke Agra. Di Delhi kami hanya ke Red Fort, itupun tidak masuk karena panas Delhi yang mencapai 41Β°C saat itu. Lalu hanya ke stasiun berencana mencari tiket kereta namun karena krucils sudah kelelahan dan kepanasan kayak kepiting rebus akhirnya kami memilih balik saja ke hotel. Cerita tentamg Red Fort bisa dilihat di postingan sebelumnya.

# Menuju Agra, 3 Juli 2019 #

Tanggal 3 Juli pagi kami mulai packing-packing lagi. Saatnya melanjutkan petualangan menuju kota selanjutnya, Agra. Ayah akhirnya memesan uber dengan pertimbangan walau harganya mahal tapi kalau dibagi 4, jatuhnya kurang lebih aja dengan harga tiket kereta, selain itu kami tidak perlu repot nyeret-nyeret tas ke stasiun dan mencari-cari angkutan lagi dari stasiun Agra menuju hotel di Agra. Kalau naik taxi online kan tinggal duduk manis, diantar langsung sampai hotel.

Tarif uber ini saya lupa lagi, sekitar 4000 rupee belum termasuk tax dan toll. Konon kata supir kami kalau keluar kota taxi kena tax, yang dibayarnya ditepi jalan namun ternyata tempatnya dibawah pohon-pohon saja bukan berupa tempat permanen. Kalau gak salah tax ini sekitar 200 rupee, ditambah toll yang totalnya sekitar 600 rupee. Jadi totalnya sampai Agra kurang lebih 4700-4800 rupee. Tollnya mahal memang, saya juga bingung…

Jalan dilalui ya seperti jalan toll pada umumnya, datar, lurus, dan membosankan….eh tapi gak bosen deng saya, karena sering ngeliat rumah-rumah petani, sering liat orang nunggu kendaraan dijalan toll, sering juga liat sepeda motor dijalan toll. Cuma ngantuk dan lapar aja karena belum sempat sarapan di Delhi. Kami start dari hotel jam 9-an, sedari pagi nyari makanan untuk krucils pada belum buka. Restoran pada umumnya baru buka jam 10 dan jam 11 siang, kalau makanan pinggir jalan sih semacam parata sudah ada yang jualan tapi kami gak berani makan makanan foodstreet karena khawatir kehigienisannya. Cuma ada snack-snack dan permen bungsu, jadilah mengganjal perut lapar dengan permen 😣

Sebenarnya sejak awal kami sudah bilang sama supir agar berhenti dulu di resto fatfood, tapi karena belum ada yang buka ya apa boleh buat. Akhirnya semakin siang semakin kelaparan kami bilang sama supir agar berhenti makan dulu deh di rest area, lalu dia bilang rest area yang kami suruh berhenti itu cuma makanan biasa bukan fast food yang seperti kami inginkan, nanti 7 menit didepan ada restbarea yang ada fast foodnya kata supir lagi. Mendengar kata 7 menit, semangat langsung membara…tapi kok ya lama banget rasanya saking kelaparannya. Finally berhenti juga di restbarea yang ada fastfoodnya, tapi bingung juga saking banyak tempat makannya akhirnya malah pesan pizza yang sebenarnya salah strategy, pizza kan prosesnya lama. Selama nungguin pizza akhirnya liat-liat sekitar nemu resto burger, langsung pesan burger sandwich. Ketika akhirnya bisa makan tuh enak banget, surga rasanya.

Supirnya saya tawarin pizza dia menolak malu-malu. Walau dipaksa tidak mau, yo weslah langung dihabisin krucils. Pizza india tuh asanya disesuaikan dengan rasa lokal, jadi ada rempah-rempahnya. Singkat cerita kami sampai sekitar jam 3 an di Agra. Hotel kami letaknya dekat sekali dengan Taj Mahal, masih di area Taj Mahal sehingga tidak boleh masuk kendaraan umum. Jarak hotel dengan Taj Mahal 600 m, bisa berjalan kaki 15 menitan. Setiba dihotel dikasih minuman selamat datang di lobby, wuih segar banget rasanya langsung lupa sama panas yang menyengat. Istirahat sebentar dikamar, langsung krucils ngajak ke rooftop agar bisa melihat Taj Mahal. Panasnya poll banget, anginnya kencang. Lalu santai-santai dikamar sambil menghabiskan burger yang dibeli dijalan.

Sore kami berniat jalan-jalan sore melihat situasi Taj Mahal, eh pada akhirnya malah masuk Taj Mahal sore itu juga. Kami 3 hari di Agra. Selama di Agra kami mengunjungi Taj Mahal dan Agra Fort, cerita selengkapnya tentang tempat tersebut bisa dilihat di postingan sebelumnya. Ayah sempat jatuh sakit di Agra yang membuat ayah homesick, pengen pulang. Saya sempat khawatir berats selama ayah sakit, apa yang harus saya lakukan dinegeri asing, tanpa seorangpun kenalan kami. Alhamdulillah keesokannya ayah membaik, mungkin cuaca yang super panas di India kala itu menyebabkan ayah demam selain makanan yang tidak cocok bagi lidah ayah. Alhamdulillah krucils sehat selama perjalanan, saya dan ayah sehat. Saat ayah demam kami sempat membahas untuk membeli tiket pulang atau tiket ke negara lain dulu, namun karena tiketnya mahal jadi mikir-mikir πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ (tiket sudah terlanjur dibeli untuk pp selama 2 minggu di India). Saya bersyukur banget kami tidak jadi pulang saat itu karena petualangan-petualangan hari selanjutnya sangat seru.

# Menuju Varanasi, 6 Juli 2019 #

Petualangan mengajarkan kita agar tidak takut menghadapi berbagai situasi yang terkadang tidak mengenakkan selama perjalanan, situasi yang terkadang mendadak berubah, keluar dari zona nyaman dan aman selama ini. Alhamdulillah setelah melewati perang batin selama di Agra, dimana kami berada dalam situasi cemas dan khawatir karena ayah tiba-tiba demam sementara ada dua krucils yang juga harus diperhatikan, akhirnya saya dan ayah berkomitmen apapun kendala yang nanti kami hadapi lagi, kami tetap harus lanjut meneruskan apa yang sudah dimulai. Lagian kan gak lucu banget masa sudah jauh-jauh ke India, cuma sehari dua hari sudah pulang. Itu sebabnya kami lama di Agra dan tidak kemana-mana, waktu banyak kami habiskan di hotel untuk memulihkan stamina ayah, menjaga kesehatan krucils, untuk menyusun rencana yang memang perjalanan ke India ini yang paling kacau, sama sekali tanpa rencana apapun serta untuk mencari tiket ke tujuan selanjutnya.

Tanpa ada plan sebelumnya, di India mau kemana, akhirnya di Agra kami berembuk dengan krucils, mereka pengen kemana. Bungsu nanya-nanya tentang sungai Gangga, ok nampaknya bisa dimasukan dalam itenary. Sulung pengen ke Mumbai, tapi setelah diliat jaraknya terlalu jauh dari Delhi sementara pesawat pulang kami dari Delhi, takut gak kekejar waktunya. Saya pengen ke Kalkota, ayah dan krucils lalu nanya ada apa disitu? Saya gak tahu ada apaan, saya ngikut salah satu blog aja….haha dasar gak punya prinsip πŸ˜‚ . Tapi karena pertimbangan jarak juga dibatalkan. Bahkan ayah yang pengen lanjut ke Nepal pun dibatalkan, kali ini harga tiket yang mahal memaksa demikian πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Akhirnya malam kedua kami di Agra kami sepakat, tujuan selanjutnya Varanasi, lalu lanjut balik arah lagi mendekat ke Delhi yaitu ke Jaipur, kalau sempat ke Jodhpur juga. Karena ayah sedang memulihkan diri setelah sakit, saya melarang ayah kemana-mana. Untuk pembelian tiket kami menggunakan jasa hotel. Beberapa hari menunggu tiket ini akhirnya hari ketiga orang hotel datang ke kamar mengabarkan kalau kami berhasil mendapatkan tiket kereta 3rd ac tieer menggunakan emergency kuota untuk keberangkatan malam itu. Biayanya untuk berempat 10.000 rupee. Mahal? Pasti, bagi kami sebagai backpacker ya mahal, tapi daripada stuck di Agra ya terΓΉskan aja rencana yang sudah dibuat.

Malam itu kami naik kereta jam 2 malam. Sebelumnya kami pesan dua porsi chicken tandori di hotel yang dikirimkan sesaat sebelum berangkat. Orang daur sampai ikutan begadang demi bikinin tandori yg fresh from the oven, biar gak basi di jalan kata mereka. Kami naik tuktuk yang di booking sejak siang, jam 1 an malam turun ke lobby dan berangkat. Walau awalnya agak deg-degan juga karena supir tuktuknya belum muncul , takut tertinggal kereta padahal tiket kereta ini didapat dengan penuh perjuangan dan harganya juga mahal. Singkat cerita kami sampai juga di stasiun kereta, menunggu kereta kami ke Varanasi. Begitu kereta yang ditunggu datang, saya lumayan kaget juga dengan kereta tidurnya, berbeda dengan kereta tidur di beberapa negara yang pernah kami coba, dimana tempat tidurnya biasanya dikasih gorden dan hanya susun dua keatas, kereta 3rd ac tieer ini susun 3 ke atas dan tanpa gorden…jadi ya gak ada privasi. Tapi karena sudah ngantuk jadi ya kami langsung tidur aja. Baru keesokan paginya terasa kurang nyamannya, karena tidak ada privasi dan bergabung dengan orang lain serta duduknya juga gak enak ketekuk disebabkan tempat tidur diatas.

Menurut jadwal yang tertera di tiket, perjalanan menempuh waktu sekitar 12 jam namun kenyataannya kereta sering banget berhenti. Di setiap stasiun kereta berhenti, belum lagi menunggu kereta lain lewat, pada akhirnya perjalanan molor 5 jam hingga total perjalanan 17 jam. Jadwal yang harusnya sore sudah sampai ternyata baru sampai sekitar jam 9 malam. Stok makanan sudah habis, sehingga kami kelaparan. Belum lagi depan stasiun saat mencari makan ternyata jalanannya tergenang air…mata ngantuk, badan lengket karena belum mandi seharian….aarrghhh rasanya campur aduk. Akhirnya kami naik tutuk seharga 150 rupee ke hostel kami yang terletak dekat sungai Gangga. Eh seakan belum komplit, supir tuktuknya bingung pula letak hostel kami sehingga terpaksa kami pakai GPS untuk mengarahkan.

Jalanan di varanasi lumayan macet kala malam karena ada banyak orang berjalan kaki selepas acara yang selalu diadakan setiap malam di pinggir sungai Gangga. Begitu sampai hotstel, nanya sama orang hostel dimana nyari makan…dia bilang buruan, sebentar lagi restoran bakalan tutup karena sudah malam. Akhirnya bagi tugas, saya mengurus kamar hotel dan krucils, ayah mencari makan. Cuma dapat roti, karena yoko-toko sudah tutup…lumayanlah mengganjal perut. Sementara krucis langsung mandi karena badan lengket belum lagi mereka geli karena selama di kereta terpaksa menggunakan toilet yang lumayan jorok karena selain bau pesing juga sering ada “you know what” yang tidak disiram.

Malam itu kami tidur nyenyak dikamar hostel. Kami menghabiskan 3 hari di Varanasi, kenapa lama? Karena dapat tiket kereta ke Jaipurnya ya untuk 3 hari kedepan, jadi mau gak mau ya stay lama di Varanasi. Tidak seperti kota New Delhi dan Agra yang panasnya poll, di Varanasi setiap hari hujan walau tetap suhu udaranya bikin keringatan. Itu sebabnya laundry kami menumpuk banyak di Varanasi, selain sering kehujanan juga keringatan. Di Varanasi kami hanya ikutan Ghats Tour yang diadakan hostel, lalu selanjutnya hanya belanja beberapa pakaian dan syal di pasar. Untuk cerita selengkapnya tentang petualangan kami mengikuti Ghats tour bisa dibaca dipostingan sebelumnya.

# Menuju Jaipur, 9 Juli 2019 #

Tiket kereta tujuan Jaipur ini ayah beli di stasiun seharga 9000 rupee untuk berempat dengan kelas 2nd ac tieer. Di stasiun kereta Varanasi ada loket khusus foreigner yang tidak perlu antri, cuma harap diingat pihak loket hanya mau menerima uang cash. Berhubung uang cash rupee kami sudah habis, tidak sempat menukar dan mencari ATM, kami pikir mungkin bisa pakai debit atau kartu kredit namun ternyata tidak. Terpaksalah hujan-hujanan mencari money changer atau ATM. Kebetulan lagi semua ATM di stasiun sedang error, jadi lumayan grasa grusu juga nih demi tiket kereta ke Jaipur ini. Alhamdulillah dapat.

Dari hostel kami naik uber ke stasiun. Saya lupa lagi ongkosnya, kalau tidak salah 150 rupee. Berangkat siang sekitar jam 3 sore , walau sebenarnya kereta kami berangkat jam 4 an. Menurut schedule lama perjalanan sekitar 18 jam walau kenyataan tak seindah harapan, kereta molor lagi hingga total perjalanan 21 jam. Untungnya kami sudah belajar dari pengalaman sebelumnya sehingga perbekalan sudah maksimal, namun ternyata habis juga sebelum sampai tujuan. Sebenarnya masalah makanan dan minuman tidak perlu khawatir karena banyak saja pedagang yang berjualan tapi karena kami memilih makanan untuk krucils, jadi lebih aman kami bawa bekal saja.

Nah kelas 2nd ac tieer ini lebih nyaman menurut saya, selain tempat tidur hanya susun dua, dalam satu kompartemen pas berempat dan lebih menyenangkan lagi ada gorden pembatas dengan lorong sehingga lebih bebas rasanya mau ngapai di dalam kompartemen kami. Toiletnya juga airnya mengalir, flushnya jalan sehingga toilet agak lebih bersih dibanding kereta sebelumnya yang kami naiki. Saran saya jika travelling ke India, bawalah masker, hand sanitizer, tisu basah dan norit. Benda-benda ini menurut saya penting banget dibawa.

Walau lama di jalan, tapi lebih enak…itu sebabnya krucils juga happy main manjat-manjat kasur, atau sekedar dengar musik. Kami sampai siang di Jaipur yang langsung disambut panas terik dan supir tuktuk yang menempel erat mengikuti kemanapun kami melangkah. Demi menghindar kejaran supir tuktuk ini kami masuk dalam foodcourt stasiun, maksud hati supaya tuh supir pergi juga karena kelaparan juga. Eh ternyata dia nungguin kami makan, masyaAllah gigih sekali perjuangannya. Karena iba ayah basa basi nanya berapa ongkos ke hostel kami, dia nawarin 200 rupee, kami yang dari awal berniat naik uber jadi malas langsung menwar dengan tega 100 rupee. Kalau gak mau tinggalin aja kami, begitu kami bilang…eh dia setuju.

Selama perjalanan dia cerita ini itu, dia bahkan memanggil si ayah dengan big brother (padahal gedean badan supir tuktuk ini). Suruh ayah duduk di depan dekat dia biar enak, lalu dia melancarkan serangan menawarkan tour menggunakan tuktuknya sore itu. Ya gak mau dong kami, sampai hostel aja belum, badan sudah gak enak belum kena sabun sudah diajak jalan, katanya lagi gpp nanti dia tungguin. Namun kami tolak terus, eh dia tiba-tiba berubah dong dari awalnya ayah suruh duduk depan langsung suruh duduk dibelakang. Lalu ngomelngomel katanya dia nerima 100 rupee karena dikiranya kami akan ikut tour dia, kalau enggak dia rugi. Pada puncaknya dia menurunkan kami di tikungan yang terlindungan pandangan dari hostel, bukan tepat depan hostel. Awalnya kami gak ngeh, baru ketika jalan ke hostel terlihat bahwa tepat depan hostel kami ada police tourist…langsung deh kami bertanya-tanya kenapa tuh supir tuktuk tadi tidak menurunkan tepat depan hostelya? Apa dia menghidari kantor polisi itu? Hmmm, entahlah…

Hostel kami berada di pink city, jadi dekat dengan beberapa lokasi wisata di pink city. Bisa jalan kaki mengelilinginya. Kami bahkan berjslan kaki malam itu sebelum tidur, menyusuri jalan mendatangi Hawa Mahal. Kami menghabiskan waktu 2 malam di Jaipur, yang rasanya gak cukup banget karena Jaipur ini banyak sekali lokasi wisatanya dan lebih bersih dibanding Varanasi. Sulung saya sampai bilang, kenapa sih kita gak dari awal aja ke Jaipurnya, kok kita malah berlama-lama di kota lain πŸ˜‚ Sulung saya suka Jaipur rupanya. Selama di Jaipur kami mengunjungi banyak sekali tempat wisata. Oh iya, di pink city ada tiket terusan untuk semua lokasi wisata seharga 1000 rupee, jauh lebih hemat dibanding mengunjungi satu-satu. Untuk cerita selengkapnya mengenai tempat wisata di Jaipur bisa dibaca dipostingan sebelumnya.

# Menuju New Delhi, 12 Juli 2019 #

Dengan pertimbangan gak mau ribet lagi, ditambah krucils yang menolak naik kereta lagi karena trauma menghabiskan waktu lama diperjalanan akibat kereta yang sering delayed, akhirnya kami memutuskan menggunakan uber lagi saja. Toh jaraknya juga tidak terlalu jauh, perkiraan akan menghabiskan waktu 4-5 jam saja di jalan. Biayanya saya lupa, tapi sekitar 2500 rupee dtambah toll sekitar 200 rupee. Tidak ada tax, plus tarif tollnya jauh lebih murah dibanding ke Agra padahal jarak Delhi-Agra dan Jaipur-Delhi kurang lebih saja, heran juga akutu.

Sebenarnya sih 4 jam an saja kayaknya bisa sampai, eh tapi supir uber kali ini suka tiba-tiba berbelok arah yang ternyata mengisi gas (kendaraan umum di India umumnya menggunakan bahan bakar gas). Ini beberapa kali kejadiannya, mana supirnya gak bisa bahasa inggris. Jadi kalau dia mulai milih jalan aneh kami sudah bisa menebak, pasti mau ngisi gas . Positif thinkingnya adalah untung aja dia cuma hobi mengisi gas bukan mengeluarkan gas πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Pernah tebakan jami meleset ternyata dia mampir ke foodcourt dan tanpa berkata apapun, tinggal kami bertanya-tanya sendiri…ini mau makan atau dia sedang kebelet aja sih πŸ˜‚

Begitu tiba di Delhi, eh dia pake bahasa India menyuruh kami turun. Padahal hotelnya aja belum keliatan, terpaksalah ayah yang turun sibuk nanya sama orang-orang dimana hotel kami berada. Ternyata hotelnya masuk gang sempit dan berliku saudara, duh rasanya antara mau nangis dan ketawa…masa sih tiap beli hotel di Delhi diphpin mulu sama fotonya. Eh tapi ternyata walau masuk gang kecil dan sempit, fotonya sesuai kenyataan. Bukan kapok memilih Paharganj lagi, ini sih karena sikon…hotel-hotel diluar area Paharganj harganya mahal book…mending uangnya buat belanja oleh-oleh. Namun kali ini paharganj nya pas tepat berada di tengah keramaian turis, keluar dari gang ya pusat keramaian. Banyak penjual menjual berbagai macam syal, baju sari, souvenir, resto, dsb. Sayangnya jalannya crowded dan berdebu serta gerah banget sehingga kamimlebih betah dikamar hotel daripada di jalan. Oiya, syal dan pashmina yang dijual di Paharganj ini termasuk murah loh…kami melihat pashima yang mirip dibandara harganya 100x lipat. Entah dari segi kualitas karena dipajang dikotak kaca jadi gak bisa membandingkannya secara detail.

Kami hanya sehari dua malam di Delhi. Di Delhi kami mengunjungi India Gate, Humayuns Tomb, Qutub Minar, Jama Masjid, dsb. Cerita tentang tempat-tempat tersebut bisa dilihat dipostingan sebelumnya.

# Menuju Singapore, 14 Juli 2019 #

Pesawat kami ke Singapore jam 09.00, kami berangkat dari hotel sekitar jam 05.00 subuh menggunakan taxi yang dipesankan pihak hotel. Taxi ini lumayan mahal sekitar 600 rupee. Taxi awalnya mengebut tapi tiba-tiba melambat, lalu jalan menggol kanan kiri, kanan terlalu ke kanan yang membuat saya bingung. Rupanya supirnya ngantuk, sama ayah suruh berhenti cuci muka. Begitu sampai bandara, dia minta tips. Bete juga si ayah karena sudah bayar mahal, belum jalannya tidak safety masih minta tips.

Kami sengaja datang awal ke bandara agar tidak buru-buru, karena banyak yang harus diurus ya check in, masuk imigrasi, belum lagi mengurus bagasi, dsb…lebih enak nunggu di bandara daripada nanti buru-buru. SingkaΓΎ cerita kami sampai di Changi sekitar jam 17.30 waktu Singapore. Di changi krucils santai dulu di Butterfly Garden Changi sementara emak babenya buru-buru booking hostel. Kami masih ragu apakah perlu memesan penginapan karena pesawat kami ke hometown keesokan hari jam 08.00. Namun mempertimbangkan krucils, kasihan kalau diajak ngelandang di bandara, makanya begitu mendarat langsung memutuskan pesan penginapan aja biar krucils bisa tidur enak. Di Changi kami juga sempat ke Jewel, sebelum lanjut ke hostel menggunakan MRT. Naruh barang sebentar langsung berburu oleh-oleh di Bugis Street. Kemudian tidur di hostel walau ternyata krucils susah tidur, entah mengapa mereka susah tidur malam itu.

# Menuju Hometown, 15 Juli 2019 #

Sekitar jam 04.00 subuh kami meminta bantuan resepsionis untuk memesankan kendaraan ke Changi dikarenakan jam segitu belum ada bis dan MRT. Ternyata ada gojek, dan mobilnya mobil mahal coy. Kurang tidur selama perjalanan menyebabkan saya ngantuk berat, di bandara saya sempat tertidur. Singkat cerita 3 jam kemudian kami mendarat di hometown, alhamdulillah petualangan kali ini walau sempat mengalami kejadian tak terduga seperti ayah sakit di Agra, semua dilancarkan. Bersyukur banget kami bisa menikmati petualangan kami di india, krucils sehat, ayah sehat, saya sehat…walau seminggu kemudian sulung terkena cacar yang langsung neneknya menuduh ini pasti karena India πŸ˜‚ dua minggu kemudian malah saya kena batuk parah dan demam.

Walau banyak orang nanya untuk apa sih ke India, gak ada negara lain apa yang bisa dikunjungi. India walaupun streotipenya kotor dan jorok, menurut saya dibeberapa kota malah tidak jauh beda dengan Indonesia. Di New Delhi malah modern banget, bersih, jalannya lebar, trotoar penuh pohon sehingga adem. Jangan menilai sesuatu sebelum melihat sendiri kondisinya, pepatah itu benar adanya.

Advertisements




The Jewel, Singapore

22 07 2019

Begitu pesawat kami dari Delhi mendarat di Changi (Singapore), saya pengen buang air kecil. Saya kebiasaan lebih suka buang air kecil di darat daripada di pesawat kecuali sudah gak tahan lagi. Dekat pintu keluar ada toilet yang walau tampak antrian panjang, saya malas mencari toilet lain. Eh begitu mendekat, dekat toilet tersebut ada tulisan besar “Butterfly Garden” yang langsung saja saya tunjukan ke krucils, terutama pada sulung saya yang sedang hobi fotography. Tentu saja mereka senang, jadi nongkrong dulu di Butterfly Garden ini sembari ayah bundanya sibuk mencari penginapan dadakan di aplikasi.

Setelah puas memotret kupu-kupu cantik, krucils mengajak kami ke Jewel, tempat yang sedang hits di Changi. Sebenarnya saat mau ke Delhi kami sempat mencari Jewel ini di Changi cuma gak ketemu. Nah kali ini krucils bertekad harus ketemu apalagi saat itu masih sore, masih panjang waktunya untuk mencari Jewel. Jewel ini letaknya di terminal 3, kebetulan pesawat kami dari Delhi juga mendarat di terminal 3…jadi gak susah mencarinya cuma jalannya cukup jauh juga.

Jewel ini letaknya ditengah-tengah berbagai macam tempat makan. Nah ditengahnya inilah air terjunnya besar sekali dan tinggi serta penuh orang. Hampir setiap sudut ramai dengan orang, baik yang sedang selfie, groupie, maupun cuma memandang air terjunnya saja apalagi disertai backsound musik. Seru sih kalau mau berlama-lama disini menunggu penerbangan berikutnya kayaknya enak, apalagi banyak tempat makan…tapi kami sudah terlanjur memesan kamar yang buru-buru dipesan saat di Butterfly Garden sebelumnya.





Jama Mesjid, Delhi

22 07 2019

Area menuju mesjid ini macet luar biasa sehingga kami harus berjalan kaki lumayan jauh untuk sampai mesjid ini. Dan ternyata mesjidnya pun ramai dengan orang, ada yang memang sedang sholat, ada yang hanya duduk-duduk saja, ada juga yang selfie bahkan kami berjumpa dengan anak-anak yang sedang bermain layangan.

Kami berniat melaksanakan sholat di mesjid ini. Begitu kami sampai di pintu masuk, tahu-tahu kami dihentikan oleh seseorang yang memberi kami tiket, kami disuruh membayar 300 rupee/orang dewasa, anak-anak gratis. Yang membuat saya heran adalah dari seΔ·ian banyak orang yang lalu lalang disitu, hanya kami yang tampaknya disuruh bayar tiket masuk. Apa memang wajah wisatawan diharuskan membayar, entahlah. Setelah mebayar tiket masuk, saya tanya dimana menaruh sepatu? Sebenarnya kami mau membawa masuk sendiri ke dalam seperti orang-orang yang lalu lalang, tapi kemudian kami teringat kalau sepatu kami itu sudah 2 minggu tidak dicuci dan sudah dibawa kemana-mana entah menginjak najis apa dijalan, takut mengotori kalau dibawa masuk selain kami juga tidak membawa plastik untuk tempat sepatu.

Lalu si tukang tiket masuk ini bilang, titip aja ke dia, tidak masalah. Yah namanya ditawari titip ke dia, ya kami senang dong gak perlu lagi bingung naruh dimana dan bawa pake apa ke dalam mesjid. Lalu wudhu tapi sayangnya keran wudhunya gak nyala, yang nyala dipojokan tempat orang-orang mengisi tumbler mereka. Setelah wudhu kami lalu berjalan melintasi ubin yang terasa panas banget di kaki telanjang. Berjalan menuju mesjid, saat saya dan bungsu saya mau masuk lalu dihadang oleh seorang pria yang duduk di kursi yang diletakkan ditengah pintu masuk. Dengan bahasa isyarat saya mempraktekkan gerakan sholat, lalu dia meunjuk pojokan depan pintu masuk. Rupanya tempat sholat perempuan disitu, hanya ayah dan sulung yang diperkenankan masuk mesjid untuk sholat.

Area tempat sholat saya itu persis dipojokan depan pintu masuk, tanpa ada karpet atau sajadah dan mukena. Saya juga tidak membawa mukena ketika itu. Disamping saya ada perempuan muda juga sholat disitu, setelah sholat seperti kebiasaan di Indonesia, saya ajak salaman perempuan tersebut…eh saat hendak melangkah, saya dan bungsu saya malah diajak foto selfie sama perempuan tersebut, berasa artis jadinya. Nah ketika ayah dan sulung keluar mesjid, si ayah memberi uang kepada sulung saya untuk dimasukkan ke kotak yang berada dipintu mesjid. Pria yang awalnya duduk dikursi ditengah pintu ini begitu melihat sulung saya memasukkan uang ke kotak tersebut, tiba-tiba mendehem keras sambil menjulurkan tangannya dalam posisi meminta ke ayah. Awalnya kami cuekin…kami pura-pura tidak tahu lalu berjalan berkeliling mesjid seperti ala turis, namun pria tersebut terus mengikuti sambil mengeluarkan suara-suara keras dan posisi tangan tetap meminta. Karena lama-lama merasa terganggu, akhirnya ayah mengeluarkan uang kecil untuk diberikan pada pria tersebut…bukannya senyum itu pria malah terkesan marah.

Setelah puas melihat-lihat mesjid, krucils saya mengajak balik hotel…mungkin capek setelah seharian jalan ke berbagai tempat wisata. Saat hendak keluar, kami mengambil sepatu yang awalnya dititipkan sama penjual tiket. Eh beberapa orang di dekat situ menagih uang 200 rupee, katanya itu biaya penitipan sepatu. Whats?!!! Gak mau kalah kami bilang kalau kami tadi sudah bayar tiket masuk, eh mereka juga gak mau kalah katanya itu beda lagi…yang ini biaya penitipan sepatu. Lah kenapa saat saya nanya dimana naruh sepatu, dia bilang ke dia aja no problem….kata ayah bunda gak lengkap nanyanya, harusnya nanya sekalian bayar enggak kalau nitip sepatu ke dia πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Saran saya jika hendak ke mesjid ini bawalah kantung plastik untuk membawa sepatu, jangan nanya-nanya dimana naruh sepatu kalau gak mau kena scam.





Qutub Minar, Delhi

21 07 2019

Sebelum ke Qutub Minar ini, supir mobil carteran bertanya pada kami apa mau makan siang? Ya jelas maulah…eh baru jawab gitu tiba-tiba mobil berhenti di sebuah resto. Loh kok? Biasanya kami makan di fastfood biar aman, nah ini gak jelas resto apaan. Lalu teringat sempat ngobrol sama pak Ali supir mobil carteran ini kalau dia muslim juga seperti kami, nah kalau muslim pastinya dia ajak makanan halal dong. Singkat cerita, saat makan kami hendak menawari supirnya ikutan makan tapi dia menghilang kata ayah. Lalu saya lihat pelayan resto bolak balik bawa makanan keluar resto, kayaknya ke tempat supir-supir menunggu..mungkin supir dapat jatah makan dari resto karena sudah membawa klien ke situ karena saya lihat memang banyaknya sih pengunjung restonya wisatawan bersama drivernya.

Saat bayar tagihan, pihak resto nanya apa makanan supir dibayarin kami atau supir bayar sendiri? Karena niat awal mau ngajak supir makan bareng, ya tentu kami gak keberatan bayarin makanan supir. Tapi saya kok curiga ya apa memang harus bayar atau ini cuma taktik resto aja…eits hilangkan prasangka buruk. Yang penting sih makanannya enak, krucils suka dan sulung saya yang awalnya di Humayuns ngajak balik hotel, setelah makan langsung segar kembali.

Begitu sampai di Qutub Minar, penampakan pertama….wuih ngeri antrian di loket tiket panjangnya kayak kereta. Saya sempat mengkeret, pulang ajalah daripada antri panjang. Untungnya pas didekatin ada loket khusus foreigner yang awalnya ketutup sama orang-orang yang berdiri depan loket tersebut. Loket khusus foreigner ini sepi, jadi berasa jalan toll tapi ya harganya emang berasa jalan toll, jauh lebih mahal dari wisatawan lokal. Tiket masuk 600 rupee/orang dan seperti biasa krucils gratis.

Qutub Minar ini semacam mesjid yang sebagian tinggal puing-puing. Tapi tempatnya megah, entah kenapa perasaan saya kok bangunan-bangunan bersejarah India pada megah-megah. Terlihat betapa jaman dulu India pernah berjaya. Tempat-tempat wisatanya bagus-bagus dan megah cuma sayangnya tiket masuknya mahal semua dan bedanya jauh banget antara warga lokal dan orang asing…tiket ini mencekik banget untuk backpacker seperti kami sehingga milih-milih yang mana yang mesti masuk, yang mana cukup dari luar saja.





Humayun’s Tomb, Delhi

21 07 2019

Setelah dari India Gate kami ke Humayuns Tomb. Tiket masuknya 600 rupee/person untuk foreigner, anak-anak dibawah 15 tahun free. Alhamdulillah krucils gratis lagi. Nah disini panasnya mulai poll nih, panas banget.

Dari pintu masuk, disebelah kanan ada gerbang gitu yang saat dilihat kayaknya tempatnya keren…jadilah kami melipir dulu kesini. Saya lupa lagi apa namanya, nah di sini foto-foto sepuasnya dan sempat ngobrol sama turis Malaysia. Lalu saat asik foto-foto, dari arah belakang kami ada orang berpakaian seragam petugas yang menyapa nanya kami dari mana. Saat dijawab dari Indonesia, dia langsung bilang Indonesia itu nice…iya tentu nice, nih orang Indonesia aja nice seperti kami yang nice 😎

Lalu dia mengajak kami masuk ke sebuah makam, lalu dia menjelaskan segala halnya yang gak begitu saya dengarin. Kemudian orang yang berpakaian seragam ini lalu mengikuti kami sambil foto-fotoin kami (suer gak diminta loh, dia minjam hp anak saya lalu mengarahkan kami berpose dan mengambil foto kami melalui hp krucil), walau senang ada yang fotoin tapi saya bilang ke ayah, kayaknya kasih uang aja deh yah biar kita bebas ngider sendiri. Ayah nanya, kasih berapa? Terserah ayah, 50 rupee kayaknya cukup. Ayah ngorek-ngorek sakunya cuma nemu 20 rupee, akhirnya sambil dengan sopan bilang…ok pak, terima kasih infonya, kami akan keliling sendiri. Akhirnya orang tersebut pergi juga.

Nah setelah itu bebas deh kami eksplore tempat tersebut. Tempatnya keren banget mengingatkan saya pada Angkor Watt …ada pohon-pohon gede. Nah disini sulung saya mulai kepanasan, dia bilang pusing lalu ngajak balik hotel. Haduh bang, kita belum ke tempat utamanya loh…lagian kita sudah sewa mobil mahal nih. Kalau abang kepanasan, ayuk kita duduk-duduk dulu….jadilah duduk-duduk sambil minum, dan sulung ganti baju karena kaosnya basah kuyup kena keringat.

Setelah agak enakan baru jalan lagi, dan sampai juga di bangunan utamanya. Bangunan utama ini konon idenya dari Taj Mahal di Agra, jadi mirip. Nah disini minta tolong fotoin sama pengunjung yang lewat, lalu krucils saya minta duduk aja disitu sementara ayah masih penasaran. Akhirnya saya dan ayah saja yang naik, krucils kami suruh tunggu di tangga tempat yang adem eh mereka kepo juga malah ikutan naik juga 😁 puas sudah sampai bangunan utama, lalu buru-buru keluar…pengen nyari minuman yang segar-segar, panasnya gak tahan.





India Gate, Delhi

21 07 2019

Pagi-pagi kami memesan taxi yang bisa di carter seharian…eh sebenarnya bukan seharian sih tapi 8 jam-an atau 80 km. Promosi pohak hotel sih itu sudah termasuk semuanya, seperti parkir, bbm, dsb. Kalau lebih dari 8 jam, akan dihitung lebihnya per hour 300 rupee. Nah untuk biaya carter ini 1700 rupee, mahal? Iya mahal banget menurut saya sebagai emak militan dan pengiritan, sampai-sampai saya ogah awalnya. Mendingan pake uber atau tuktuk aja…eh setelah ditimbang-timbang, ini carter satu mobil loh dan ber ac. Satu mobil itu bisa untuk berempat, bisa kemana-mana dan nyaman juga karena suhu Delhi panas luar biasa. Akhirnya, ok deh…kita carter aja.

Pesan sama pihak hotel sejak jam 8 pagi, dan mereka bilang nanti jam 9-an turun aja ke lobby. Jam 9 lewat dikit turunlah kami ke lobby, eh ternyata mobilnya belum ready….mereka baru manggilin mobilnya. Nunggu cukup lama juga, bolak balik ke resepsionis selalu alasan mobil sedang diperjalanan menuju hotel 😣 ketika akhirnya mobil muncul, eh supirnya ngilang…haha dasar. Tapi ternyata mobilnya gak mengecewakan. Ssetelah berembuk tujuan yang akan kami pilih sama pihak hotel dan supir, kemudian disetujui eh saya lihat pihak hotel ngasih duit ke supir yang saya hapal persis tuh uang jumlahnya hanya 700 rupee aja.

Lalu ngobrol-ngobrollah sama supir, apa ini mobil hotel? Oh bukan, ini mobil pribadi si supir yang bernama Ali (kok Ali mulu ya….). Jadi tampaknya pihak hotel ngambil untungnya gede juga nih. Pak Ali supir ini bisa bahasa inggris cuma kayaknya orangnya gak banyak omong, jadi irit bicara. Nah setelah diantar ke Raj Ghat, kami diantar ke India Gate ini. Tempat parkirnya jalan tanah jadi berdebu banget karena angin sedang kencang berhembus. Dari area parkir harus menyeberang jalan menuju ke India Gate ini. Nah antrian masuk laki dan perenpuan dipisah, di pintu masuk ini diperiksa ketat. Banyak banget wisatawan di India Gate ini, kebanyakan wisatawan lokal dan sangat banyak tukang foto. Tuh yang berdiri di latar foto itu tukang foto loh πŸ˜‰

Sudah gitu yang nyebelin, kayaknya hanya tukang foto dan kliennya ini yang boleh dapat angle yang bagus. Kami beberapa kali berniat selfie lebih dekat dengan India Gate, eh diteriakin dong sama mereka…suruh minggir karena mereka mau foto kliennya. Untung stok sabar saya masih banyak nih karena masih pagi πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Oiya, masuk tempat ini gratis loh gak pake bayar…mungkin itu sebabnya jadi ramai banget dan semakin sore semakin ramai.





Monkey Temple, Jaipur

20 07 2019

Sore hari setelah istirahat sejenak di hostel, kami memutuskan sewa tuktuk untuk mengantar kami ke Monkey Temple, melihat kota Jaipur malam hari dari ketinggian di Nahargarth Fort dan mampir sebentar di Jaal Mahal. Sebenarnya awalnya kami melihat di hostel kami ada tulisan Monkey Temple Tour, kami kira seperti di hostel kami di Varanasi yang akan rame-rame dengan rombongan lain tour bersama. Ternyata maksud tour di hostel kami di Jaipur ini adalah mereka hanya menolong mencarikan tuktuk dan bantu nego harga saja, jadi bukan mereka yang menga-arrange tour ini. Karena kami di Jaipur hanya dua malam dan itu malam terakhir di Jaipur sebelum keesokannya balik ke Delhi jadi ayah mengatur agar kami bisa mendatangi tempat-tempat yang belum sempat kami kunjungi siang tadi. Ketiga tempat tersebut (Monkey Temple, Nahargarh Fort dan Jaal Mahal) tersebut letaknya jauh dan berlawanan arah. Cuma Nahargarh dan Jaal yang searah sehingga tidak heran dealnya jadi mahal banget, membuat saya bertanya-tanya ke ayah, apa gak salah harga tuh yah (total 900 rupee untuk tuktuk). Tapi kata ayah gpp deh, biar kita gak pusing-pusing lagi nyari-nyari transport.

Jalan menuju Monkey Temple ini masuk ke pelosok-pelosok, jalannya sepi, melalui wilayah berhutan dan mendaki. Mana menjelang maghrib lagi, jadi agak-agak temaram. Kenapa maghrib? kan judul tournya sunset di Monkey Temple…karena itu menjelang matahari terbenam. Tapi seru juga sih, kami melalui wilayah yang dijalannya dipenuhi sapi semua, lalu berganti burung merak semua…eh tapi yang burung merak ini letaknya bukan ditengah jalan seperti sapi, tapi burung meraknya berada dihutan kanan kiri jalan. Nah lalu diujung jalan nih letak Monkey Temple ini.

Awal masuk sih masih ketawa-ketawa liat monyetnya. Oh iya, disini masuk free, gak dipungut bayaran. Cuma dicharge kamera dan hp aja. Kamera pocket/hp =50 rupee, kamera profesional macam DSLR =150 rupee. Padahal tuh kami masing-masing pegang hp, lalu sulung saya pegang DSLR tapi kami ditagih 50 rupee saja. Di pelataran monyetnya masih santai, lalu makin menanjak menaiki tangga monyetnya makin bandel…mereka berantem kejar-kejaran dan mengeluarkan suara yang bikin saya takut, belum lagi suara anjing yang menggonggong keras menambah panik saya. Saya sampai mogok di tengah-tengah, pengen turun nunggu di pelataran parkir aja tapi kata ayah jangan tunjukin rasa takut saya di depan krucils biar mereka gak penakut kayak emaknya …jadi aja terpaksa ngikut sampai atas sambil memegang tangan ayah erat-erat. Eh ternyata kalau mau melihat matahari terbenam tuh harus nanjak bukit, melihat daerahnya yang semakin sepi (sudah sore hanya sedikit banget turis disitu dan kebetulan pas paling ujung cuma ada kami). Saya gak mau kemalaman di daerah yang banyak monyet dan anjing, akhirnya ayah setuju kami turun saja.

Krucils sih berani, malah mereka kecewa ketika diajak turun. Kata mereka gpp kok bunda, monyetnya baik. Ya sudah cukuplah kita melihat monyet hari ini, mendingan kita ke tempat lain aja yuk. Dan petualangan di Monkey Temple pun diakhiri tanpa sempat banyak berfoto.