Mencari Patrick di Tanjung Bara

14 04 2013


Tahu Patrick kan? Itu tuh sohib kentalnya Spongebob yang terinspirasi dari seekor starfish…iya, Patrick itu starfish alias bintang laut. Dulu…long time ago, dahulu kala waktu saya dan suami masih tinggal di Bontang, kadang kala kami mengajak sulung kami mencari starfish di sebuah pantai dikawasan tertutup di kota Sangatta, nama pantai itu adalah Tanjung Bara.

Nah, karena jarang-jarang banget kan nemu banyak starfish di sebuah pantai seperti pantai di Tanjung Bara ini, pantai ini meninggalkan bekas mendalam bagi kami. Mumpung kami sedang berada di TNK yang artinya sudah dekat dengan Sangatta (kurang lebih 30 menit dari TNK)…hayu kita lanjutkan petualangan di bulan April ini, kepalang tanggung. Jadilah setelah adventure @ the jungle di TNK, kami memutuskan lanjut ke Sangatta, saatnya berburu starfish di Tanjung Bara…yeaayyy…

Sangatta sudah berkembang dibanding terakhir kali kami kesini 6 tahun lampau, yang membuat kami agak pangling, bahkan jalan menuju Tanjung Bara pun berubah…hehe. Dulu untuk menuju Tanjung Bara kami harus ke jalan menuju Bengalon dulu, baru ke arah kanan…masuk portal…tukar KTP dengan kartu pas…terusss…sampai Tanjung Bara. Namun kali ini, begitu ketemu portal kami disuruh jalan ke arah kanan…kearah Bukit Pelangi (yang artinya muter lagi, karena Bukit Pelangi ini sudah terlalui sebelumnya) baru di bunderan pesawat belok kiri, demikian petunjuk security pada kami.

Nah loh, bunderan pesawat itu dimana ? Baru dengar soalnya, dulu sih gak ada daerah yang bernama bunderan pesawat…hadeuh…Daripada bingung, ikutin aja deh petunjuk security, setelah Bukit Pelangi terus aja…eh ternyata di depan muncul deh simpangan berbentuk bunder yang ditengah-tengahnya ada pesawat dan di salah satu pojok jalan banyak penjual makanan kaki lima plus tempat parkir kendaraan…oalah, ini toh namanya bunderan pesawat hihihi…baru tahu…Senyum langsung tersimpul lebar diwajah sulung saya, kebaca dengan jelas nih…pasti tertarik pengen berhenti disitu, pengen meneliti pesawat ini.. pulang nanti aja ya bang sekarang kita berburu starfish dulu deh..

Setelah menemukan bunderan pesawat ini, kami pun belok kiri sesuai petunjuk security. Belok kiri nemu portal lagi, tapi tenang aja…bilang aja ke penjaganya mau ke Tanjung Bara, dibukain deh. Jalan lagi…gak berapa lama nemu portal lagi, nah kalau portal yang ini jelas-jelas didepannya tertulis harus ada ID Card atau kartu pass. Disini KTP harus ditukar kartu pass ke aquatic, setelah dapat kartu pass baru deh dibukain dan boleh lewat. Kenapa kok ribet banget ke Tanjung Bara? Hal ini dikarenakan letaknya yang berada dalam lingkungan KPC (Kaltim Prima Coal), jadi ya wajar-wajar aja kalau pengamanannya berlapis seperti itu.

Memasuki kawasan Tanjung Bara banyak ditemukan monyet, dan ada pengumuman bertuliskan do not feed the monkey, jangan memberi makan monyet, tanyaken-apa? ya supaya monyetnya hidup alami, gak terbiasa makan dengan cara mudah…pemberian atau belas kasihan manusia…

Kawasan ini memang berada di wilayah hutan bakau sehingga gak cuma monyet yang bisa dijumpai disini, gak jauh dari situ ada papan yang bertuliskan CAUTION, kemungkinan ada buaya lewat jalan ini ! Serem? Itu belum seberapa, di dekat pantainya sendiri ada pengumuman lagi yang bertuliskan hati-hati loh daerah sini ada jellyfish (ubur-ubur), stingfish (ikan pari), stonefish (ikan kerapu batu) selain crocodile (buaya)…sekarang silahkan pingsan dengan sukses deh, inilah pantai yang penuh mara bahaya…hehe… :D

Pengumuman-pengumuman tersebut sudah ada sejak dahulu kala, cuma bedanya kali ini kami perhatikan benar-benar karena ada pengumuman kecil tentang kejadian yang terjadi 25 Maret lalu saat seorang anak yang sedang berenang tersengat oleh sesuatu yang diperkirakan sebagai ubur-ubur kotak (box jellyfish) yang berujung pada kematian. Ditambah lagi suasana pantai yang lebih lengang dari biasanya, pantai yang biasanya ramai dengan anak-anak berenang namun kali ini kami jumpai dalam kondisi ditutup (khusus akses menuju air) disertai tulisan huruf kapital AWAS UBUR-UBUR. Nah, ini sih serius banget artinya…

Tahu kan betapa berbahayanya ubur-ubur kotak? Kalau gak tahu seberapa berbahayanya ubur-ubur jenis ini silahkan cari di mbah google deh. Kalau saya sih gak mau berurusan dengan ubur-ubur kotak karena ubur-ubur jenis ini berbahaya sekali (akibat terlalu sering nonton National Geographic Channel), belum lagi stone fish yang durinya beracun…hadeuh mending jauh-jauh dari pantai deh kalau gini. Setahu saya sih ubur-ubur kotak ini seringnya berada di wilayah perairan Australia, belum pernah saya mendengar ubur-ubur jenis ini berada di perairan Indonesia apalagi di Kalimantan…this is something new. Kadang-kadang di beberapa pantai kami menjumpai ubur-ubur, namun jenis yang “agak jinak” alias gak begitu berbahaya, paling gatal-gatal aja. Dan dulunya di Tanjung Bara ini ubur-uburnya juga sering dijadikan mainan anak-anak karena ya gak berbahaya… itu sebabnya adalah sesuatu yang baru bagi kami menemukan pantai ditutup karena ubur-ubur berbahaya. Ternyata di sebuah pengumuman memperkuat dugaan saya bahwa ubur-ubur kotak sesuatu yang baru di Indonesia apalagi di Kalimantan.

Jadilah impian mencari Patrick si starfish terpaksa tidak diwujudkan dan baju renang krucil tidak jadi terpakai. Akhirnya kami hanya melihat dari batu-batu dan sebuah jembatan saja sekelompok ikan tampak berenang dibawah. Menikmati pemandangannya saja, yang membuat bungsu saya berkata dengan nada sedih “adek gak senang gak jadi berenang”…lebih baik gak berenang deh dek daripada kena jellyfish yang satu ini. Sekarang kita cari tempat lain yang seru dan aman aja yuks…





Petualangan di Hutan Kalimantan (Taman Nasional Kutai, Sangkima)

13 04 2013


Petualangan di bulan April ini tidak pernah direncanakan, semua serba dadakan. Si ayah yang sudah sebulan lebih di Laut Jawa, setibanya di rumah tiba-tiba berkata…kita ngacir yuuukk. Mendapat tawaran begitu dari sang ayah setelah sebulan mendekam dirumah saja membuat duo krucil petualang saya langsung antusias..dengan membuka peta dunia kesayangannya, mereka mengajak kami untuk ke Tanah Grogot. Hadeuh..

Setelah diskusi yang cukup alot dimalam hari sebelum petualangan dimulai, akhirnya diputuskan kami ke Sangatta. “Petualangan apapun yang pernah dilakukan oleh abang, adek harus mengalaminya juga”, ucap si ayah. Nah, bungsu kami yang lahir dan bertumbuh kembang di kota yang jaraknya ratusan kilometer dari tempat abangnya bertumbuh belum sekalipun melihat bagaimana sih kota Sangatta itu, dan petualangan apa sih yang bisa dilakukan disana.

Setelah keputusan yang telah bulat, krucils dan ayah pun terlelap…tinggal si bunda nih yang ditugasi mempersiapkan bekal petualangan ; baju, susu, cemilan krucils, dsb. Esok subuh, setelah sholat subuh…krucils yang antusias langsung mandi dan bersiap-siap. Semua barang sudah masuk mobil…Bismillahirahmanirrahim, berangkaaat!

Balikpapan – Samarinda ditempuh dalam waktu 3 jam. Menyontek istilah perlombaan F1, krucils pun menyebut rumah kakek neneknya di Samarinda (pertengahan Balikpapan – Bontang) sebagai Pit Stop. Perhentian di Pit Stop kurang lebih 1 jam. Dilanjutkan Samarinda – Bontang 3 jam, Bontang – Taman Nasional Kutai (TNK) 1 jam. Lama? Iya memang. Capek ? Belum kerasa hehe :D

Biaya masuk TNK ini cukup murah meriah, kayaknya belum mengalami kenaikan sejak si sulung usia 1 tahun saat pertama kali berpetualang kesini, sampai sekarang punya bungsu yang berusia 4 tahun, masih tetap sama…
Rp 1500,- / orang. Kamera Rp 3000,- total 9 rb perak.

Lantas apa sih yang bisa diliat atau dilakukan di TNK sampai kami bela-belain menghabiskan waktu berjam-jam untuk kesini, penasarankan? Yah, sebenarnya ini hanya hutan biasa, seperti halnya Taman Nasional lainnya…ya hutan, yang diliat ya hutan…berbagai jenis tumbuhan dan hewan kalau beruntung. Dulu waktu kami mengajak sulung kami kesini pertama kalinya, kira-kira 6 tahun lampau…kami bertemu dengan kera eh monyet (apa ya bedanya?) serta ular dahan. Konon kabarnya di sini anda masih bisa melihat berbagai jenis monyet dan rusa (jika beruntung). Yah, kalaupun gak beruntung…kami merasa cukup puas dengan memberi pengertian pada krucils kami bahwa hutan adalah penopang kehidupan, jika hutan di rusak apalagi dibabat…akibatnya yang rugi ya manusia sendiri, contoh sederhana adalah banjir.

Dan yang ngebet banget paling pengen diperlihatkan pada krucils (khususnya si bungsu sih, kalau untuk sulung untuk merefresh ingatannya saja) oleh ayahnya adalah pohon ulin raksasa berada ditengah-tengah TNK ini, yang konon saking besarnya harus sepuluh orang dewasa yang saling berpegangan tangan untuk memeluk pohon ini. Kami sendiri sih belum pernah nyoba memeluknya, cukup dikagumi saja…andai semua pohon dibiarkan bertumbuh…ya segede inilah hasilnya. Wow keyen..

Begitu memasuki hutan yang treknya dibuat dari kayu ulin ini, si bungsu awalnya sering berucap “adek takut yah..”. Tapi takut karena belum terbiasa, tak kenal maka tak sayang..setelah beberapa lama, eh malah paling semangat..hehe. Panjang trek kurang lebih 1 km, turun naik yang lumayan juga nih membakar kalori. Sementara sulung kami antusias banget meperhatikan sekeliling..jepret sana, jepret sini. Mulai terlihat jika sulung kami ini pecinta alam :)

Setelah puas jeprat jepret, liat ini itu, tanya ini itu…kami pun melangkahkan kaki kembali ke areal parkir. Kami memutuskan petualangan kami hanya sampai ulin besar walau trek sebenarnya masih panjang, masih banyak yang bisa dilalui. Masih ada jembatan sling (jembatan dari satu utas tali), rumah pohon, pemandian 7 putri, dsb. Tapi untuk anak seusia mereka cukup sampai situ dululah. Walau lelah, mereka happy…sekarang petualangan masih akan berlanjut, waktunya ngumpulin starfish…yippie…





Lamin Etam Ambors

5 01 2013

20130105-041732.jpg

Sudah seminggu ini mertua berkunjung ke little house on the praire kami dan belum sempat ngajak kemana-mana karena seperti biasa, ayah sibuk mencari nafkah (bahasanya gak kuat deh hehe). Untungnya walau si ayah sibuk, tengah malam sudah pulang sehingga sabtu ini meskipun badan masih lemes dan ngantuk akibat pulang dari laut, masih ada waktu untuk ngajak jalan-jalan mbah dan eyang. Tapi kemana ya? ke pantai? bosen ah…

Saatnya mencari lamin etam ambors yang kayaknya belakangan ini lumayan ngetop namanya dikalangan warga balikpapan. Walau kami sendiri belum tahu letaknya dimana, tapi katanya sih di km 28 masuk ke daerah kaveleri. Baiklah…berangkaaat, saatnya penjelajahan di awal tahun 2013 dimulai. Masuk wilayah kaveleri ini ternyata masih hijau royo-royo juga, masih asri. Ikutin jalannya yang agak rusak… terus sampai menemukan petunjuk jalan lamin etam ambors. Nah masuk wilayah lamin ini jalannya berubah jadi jalan tanah.

Biaya parkir mobil 5rb rupiah. Dari tempat parkir, jalan kaki sedikit menuju gerbang yang dipagari seng. Di loket masuk tertera tarif masuk taman wisata ini, yaitu 10rb untuk dewasa dan 5rb untuk anak-anak. Tiket masuk ini sudah termasuk gratis berenang dan terapi ikan. Di dalam taman wisata ada arena atv, berkuda, memancing, outbond, sepeda air (bebek-bebekan yang dikayuh dengan kaki) dikolam, dan ada beberapa jenis binatang seperti owa-owa, ular, burung-burung, dan rusa. Kalau menurut saya sih mirip dengan kebun raya samarinda bentuknya.

Untuk mencoba berbagai jenis permainan tersebut harus membayar lagi tiap wahana, harganya berkisar 10-30rb per wahana. ATV? bosen karena krucil sudah punya ATV di rumah. Sepeda air? males, panas euy. Memancing ? lebih males lagi, masih capek begadang tadi malam karena ayah pulang malam. Berenang? kayaknya lebih seru berenang di kolam renang komplek deh…lebih luas hehe. Jadi yang kami coba ya hanya terapi ikan. Lumayan, cukup membayar 10rb bisa nyobain terapi yang sedang ngetrend…kaki dikelilingi ikan kecil-kecil yang memakan kulit-kulit mati di daerah kaki. Geli, kayak kesetrum kata sulung saya yang betah banget nih kakinya dicium-cium ikan hehe. Si bungsu sih ogah, cuma kena airnya doang sudah jerit-jerit geli…la ikannya aja belum nongol dek, kok sudah geli hehe…

Setelah itu krucil bermain bersama rusa, cukup lama juga mereka dan mbah nya bermain bersama rusa. Mbahnya ngambil rumput-rumput, mereka yang memberi makan rusa…gak ada bosennya kalau gak di paksa pulang, masih betah tuh ngasih makan rusa. Ok krucil, kita pulang. Next week kan kita mau berpetualang yang lebih seru. See you on next adventure :)





Mengisi Baterai di Desa Budaya Pampang

16 12 2012


Sudah lama…lama dan …lamaaaaa sekali kami berniat ke desa budaya yang satu ini untuk melihat tarian adat khas dayak. Walaupun kami sudah beberapa kali ke desa ini, namun selalu salah waktu. Kalau gak datangnya terlalu pagi, atau datangnya salah hari, atau kesorean sehingga tidak kesampaian melihat tarian dayak dan orang-orang dayak berkumpul di satu tempat (balai desa yang berbentuk rumah panjang) yang bernama lamin.

Hari ini kesampaian juga akhirnya melihat tarian khas dayak langsung di desa yang dihuni oleh suku dayak kenyah yaitu desa budaya pampang…yippie. Duo krucil langsung antusias mendengar bahwa kami akan melihat tarian khas, mereka langsung gak sabar pengen buru-buru masuk lamin. Untuk melihat acara ini kami membayar 30rb, dengan rincian perorang dewasa 15rb sedangkan anak-anak digratiskan. Beruntungnya, walau krucil katanya tidak usah membayar tapi mereka tetap dikasih tiket oleh penjaga gerbang. Kemudian setelah parkir, kami masuk lamin besar yang sudah penuh dengan turis-turis lokal dan mancanegara serta disebelah kiri terlihat para tetua dayak duduk memanjang ditempat duduk yang tersedia. Lamin ini adalah balai desa yang berbentuk rumah panjang tanpa sekat, didalamnya penuh dengan ukiran-ukiran khas dayak serta kursi-kursi panjang. Nama lamin ini Bloq Pemung Tawal.

Nah, ketika masuk lamin kami diberi 3 buah gelang manik-manik bertuliskan PAMPANG oleh panitia sesuai jumlah karcis yang sebelumnya diberi oleh penjaga karcis di gerbang depan. Kami diberi gelang berwarna kuning, orange dan hijau dengan kombinasi tulisan berwarna hitam. Sekali lagi duo krucil kami langsung heboh, rebutan gelang manik…hadeuh.. Menurut jadwal acara sih tarian dayak ini diadakan tiap hari minggu dimulai jam 14.00, namun agak lama juga kami menunggu, mungkin karena sudah terlanjur penasaran jadi berasa lama hehe..

Sebelum acara dimulai, pembawa acara memberi informasi bahwa sesi foto bersama penari, pemusik atau tetua dilakukan setelah acara tari-tarian selesai. Sekali sesi foto dikenakan tarif 25rb / 3x foto. Si ayah langsung tidak menyia-nyiakan kesempatan, menghilang untuk membeli tiket untuk 2 sesi foto, artinya kami dapat jatah 6 kali berfoto. Lumayan bisa berfoto langsung dengan tokoh-tokoh yang selama ini hanya kami lihat di kartu pos.

Kemudian acara yang dinanti pun mulai, ada beberapa jenis tarian. Tarian selamat datang oleh anak-anak perempuan kecil, tarian perang oleh anak laki-laki, tarian topeng oleh ibu-ibu, dsb yang nama-nama tariannya susah untuk diingat. Yang jelas begitu melihat tari-tarian ini, melihat langsung tarian adat di rumah adat lamin memulihkan segala semangat saya. Ibarat mengisi baterai yang sudah hampir lowbat…benar-benar menyegarkan dan menyenangkan. Di dua tarian terakhir, penonton boleh ikut menari bersama yang semakin menghidupkan suasana.

Ayah gak mau ketinggalan ikutan menari loncat-loncat diantara 3 pasang kayu yang digerak-gerakan oleh penari melebar dan menyempit mengikuti irama lagu, yang membuat duo krucil tertawa lebar sekaligus ngeri melihat hentakan kayu semakin lama semakin cepat …hahaha… Setelah acara tarian selesai, beberapa anak kecil penari mendatangi saya menawarkan diri untuk dipotret. Tapi karena kami pengen berfoto dengan tetua, kami pun menolak tawaran mereka..duh, takut banget nih kalo 6 kali jepret terbuang percuma.

Akhirnya dibantu oleh pembawa acara, kami berhasil mengajak para tetua berfoto bersama. Alhamdulillah dapat giliran pertama, jadi bisa puas-puasin deh 6x berfoto dengan tetua yang nampaknya tidak bisa berbahasa indonesia. Setelah itu baru terlihat oleh kami, ternyata ada seorang tetua perempuan yang berkuping panjang…OMG, dengan menyesal saya pun menatap tetua tersebut…ini dia yang pengen saya foto, tapi jatah kami 6x jepret sudah habis walau hasilnya kurang memuaskan karena difotoin oleh orang lain..hiks-hiks. Akhirnya dengan nekat, kami bertanya pada panitia yang memberi kami gelang manik-manik, nih pak liat (sambil nunjukin hasil foto sebelumnya), rupanya kami belum berfoto dengan yang bertelinga panjang…tapi karcis kami sudah dikasihkan semua tadi, boleh gak foto lagi? *pasang tampang memelas*

Alhamdulillah wasyukurillah saudara-saudara, kami dibolehkan berfoto-foto lagi. Gak cuma 1x foto, malah 3x foto lagi. Sayangnya kali ini tidak ada yang bisa dimintai bantuan untuk mengambil foto, jadi yang berfoto hanya saya dan si sulung (bungsu takut) saja yang berfoto, jepret sama ibu bertelinga panjang asli. Saat akan berfoto lagi, tetua disebelah saya memegang-megang kepala saya…saya kira mau diapain kepala saya, ternyata malah dipasangin topi miliknya dikepala saya. Si ayah langsung heran, wah bunda…tetuanya senang tuh sama bunda sampe dikasih topi…hehe…

Pulangnya kami semua puas, ayah senang karena bisa menari bersama dan impiannya tercapai melihat langsung suku dayak yang masih bertelinga panjang, krucil senang karena koleksi tiketnya bertambah dengan adanya tiket masuk lamin dan dapat gelang manik asli dari desa pampang. Saya bersyukur banget punya anak yang benar-benar pecinta alam & budaya, biasanya anak-anak seumuran ini mana mau diajak nonton-nonton tarian adat, tapi duo krucil kami malah antusias banget. Saking senangnya mereka ngajak nonton tarian lagi, yang dikasih gelang-gelang lagi ya bunda…hahaha. Ok anak-anak, nanti ayah bunda bikin planning lagi ya, kita liat tari-tarian khas daerah lain lagi, okeh? See you on our next adventure :)





Gua Jepang yang Tersembunyi

16 11 2012

Seperti biasa, urusan nyari-nyari tempat baru si bunda (saya) jagonya. Sistematikanya seperti ini, saya hembuskan isu, anak-anak antusias, dan si ayah yang mencari letak pastinya..hehe. Nah, sudah lama nih saya punya info bahwa di Balikpapan mempunyai tempat-tempat bersejarah peninggalan perang, dan hampir semua tempat sudah kami kunjungi…cuma satu nih yang belum nemu, yaitu gua jepang dan jembatan tua, dan tampaknya tidak banyak info yang bisa di dapat di internet. Nanya ke beberapa kenalan, jawabannya ngambang , kurang lebih memang pernah dengar ada gua tapi gak tahu dimana tempatnya. Nah loh?

Saya hanya tahu bahwa ada gua dan jembatan tua di daerah bernama gunung dubbs, nah gunung dubbs itu dimana kami aja gak tahu. Cari di GPS kok gak ada, nyari info sana-sini akhirnya nemu, letaknya di dalam komplek pertamina jalan minyak. Oke, kami sudah menemukan petunjuk pertama. Kira-kira kurang lebih sebulan yang lalu, kami pun berkelana mencari gunung dubbs. Begitu ketemu, kok rumah-rumah dengan hutan yang masih terjaga aja yang tampak. Sedang gua nya sendiri tidak terlihat tanda-tandanya, muter sana-sini akhirnya bertemulah kami dengan pos security. Bertanyalah si ayah pada security setempat, dan lagi-lagi dikasih jawaban ngambang. Kalau gua sih belum pernah dengar, kalau yang masuk acara tukul arwana sih ada..namanya pancur. Tapi sebaiknya jangan kesana pak, hati-hati kalau memang pengen kesana karena banyak kejadian tidak mengenakkan di daerah tersebut, kalau kejadian harus dibuangnya jauh-jauh (hmmm, apanya yang dibuang ya?). Baiklah, kami akan hati-hati…dimana letaknya pak? Disana…terus aja, tunjuk security tersebut tanpa mau memberi arah lebih detail…disana itu dimana.

Hadeuh, terus terang kami gak tahu apa dimaksud bapak tersebut dengan masuk acara tukul? Memang acara tukul acara apaan sih? Tapi dari nadanya sih, kayaknya tempatnya angker sampai si bapak tersebut memberi peringatan dan tidak mau memberi arah secara detail. Yah, terus terang saya jadi gak berminat lagi kalau urusannya dengan yang seram-seram, mending nyari yang indah-indah deh…hehe.

Si ayah sih malah tambah penasaran, dan sebel liat istrinya yang penakut mundur teratur… jadi gak berminat mencari gua jepang yang awalnya justru isunya saya yang nyebar..hehe. Mungkin kalau tidak ada krucil sih saya berani maju, tapi mengingat bawa duo krucil …mending mundur teratur aja deh, kok kayaknya tempatnya tersembunyi dan terkesan disembunyikan gitu yang pastinya ada maksud. Mungkin memang angker, jadi sebaiknya gak usah aja deh…(alasan penakut…wkwkwk).

Krucil sih seperti biasa antusias, ayo ayah…bunda kita cari gua nya. Hadeuh anak-anak, kali ini percaya deh sama bunda…mending gak usah deh, kita nyari yang indah-indah aja ya…hehe. Dan kami pun pulang. Tapi ternyata petualangan belum berakhir. Si ayah yang masih penasaran, mencari-cari info sendiri. Dan suatu sore, tiba-tiba pulang telat. Begitu sampai rumah, si ayah cerita…sudah nemu gua yang dicari dan jembatan tuanya. Tempatnya di hutan…dan cerita ditutup dengan kata-kata, gak usahlah kesana. Laa, si ayah aja tiba-tiba ngomong gitu…what happen aya naon taiye…Case closed? Gak juga, cerita masih berlanjut kok…suer…hehe…

Dan percakapan tentang gua pun terhapus dengan sendiri di little house on the praire kami. Tapi, kamis sore kemaren ketika Balikpapan tiba-tiba tampak lengang ditinggal sebagian warganya berlong weekend dan kami akan ke sebuah rumah sakit tapi ternyata dokter-dokternya pun tidak berpraktik. Kami jadi kebingungan, kemana lagi ya kita? Tahu-tahu krucil melihat pelangi didekat tempat parikir dan minta di foto bersama pelangi (tumben-tumbenan kan minta difoto). Setelah difoto, mereka pun merebut HP bundanya pengen melihat hasil foto bersama pelangi, eh terlihat oleh mereka foto ayah bundanya di muara badak..dan terjadilah ” bumi gonjang- ganjing “, duo krucil ngambek karena gak diajak…dasar bocah-bocah petualang, gak mau terlewat satu pun serial petualangan. Dan memang sengaja tidak dimasukkan di blog ini, karena memang itu hanya jalan-jalan ayah bundanya dan memang sejak punya duo krucil jadi terasa hambar kalau jalan cuma berduaan. Itulah sebabnya gak masuk blog, dan bahkan krucil pun tidak tahu.

Mereka minta ke muara badak saat itu juga…hadeuh bocah..bocah. Ntar deh kapan-kapan kita ke sana. Sekarang kita jalan-jalan aja, oke? Karena ada yang ngambek itulah, akhirnya kami jalan gak tentu arah. Yo wes, kita lewat gua jepang aja…kata si ayah akhirnya. Tapi cuma lewat loh ya, gak menjelajah. Begitu sampai di areal hutan, si ayah melambat, menunjukkan jalan setapak ditengah hutan itulah menuju jembatan tua. Ada beberapa jalan kecil yang terlihat di kerimbunan pepohonan. Sedang gua nya sendiri tepat dipinggir jalan yang sudah beberapa kali bolak-balik kami lalui saat mencari gunung dubbs. Guanya kecil dan pintunya tertutup rapat, dan tertutup oleh rerimbunan pohon dan semak sehingga kalau gak pelan-pelan dan jeli, ya memang gak terlihat. Oalah, itu toh tempatnya…gua jepang checklist sudah didatangi eh dilalui…jembatannya si ayah gak mau menunjukkan karena letaknya ditengah hutan itu dengan hawa-hawa dingin gimana gitu…katanya…gak usah aja katanya.

Okelah, yang penting kami akhirnya jadi tahu dimana areal letak gua jepang dan jembatan tuanya. Dan krucil begitu sudah melihat gua jepang, jadi lupa ngambeknya…hehe. Have a nice long weekend everyone :)





Mengenang Sejarah Melalui Meriam Jepang

20 10 2012


Hari diawali dengan hujan yang tampaknya bakal awet seharian. Bungsu sekolah seperti biasa, sedang sulung mulai merengek-rengek pada ayahnya..”abang bosen dirumah, pengen jalan-jalan”. Maklum, si ayah memang baru pulang tadi malam.

Menjelang siang, cuaca mulai berubah drastis. Hujan mendadak berhenti, dan matahari bersinar cerah ceria (saking panasnya). Baiklah kalau begitu, saatnya jalan-jalan. Tapi kemana lagi? Rasa-rasanya kok semua tempat di Balikpapan sudah kami dikunjungi. Tanya dulu ke mbah gugel (google), dan dijawab ada satu tempat yang kayaknya krucil bakalan senang dan belum kami datangi, yaitu Meriam Jepang.

Menurut mbah gugel sih, letak meriam jepang ini di daerah yang bernama gunung bugis, sebagian menyebutnya juga dengan nama gunung meriam di balikpapan barat. Nah loh, karena semua daerah di balikpapan bernama gunung-gunungan dan juga kami bukan penduduk asli sini, agak bingung juga kalau petunjuknya hanya berdasarkan nama daerah gunung-gunungan begini ini. Di mana sih gunung bugis itu ? Saatnya buka GPS…eh GPS pun bingung, apalagi kami hehe. Akhirnya daripada bengang bengong gak jelas tujuan gini, ayah telp temannya yang asli sini. Setelah dapat petunjuk yang cukup dimengerti, kami pun mengarahkan kendaraan ke ujung balikpapan, kebun sayur terusss sampe hampir mentok, belok kanan. Nah disini bertanya lagi sama penduduk setempat, dan ditunjukkan arah yang dimaksud.

Nanjak terus, dari ketinggian kami bisa melihat laut yang terbentang dan kapal-kapal besar dikejauhan. Indah sih, sayang karena cuaca panas banget, membuat saya jadi malas ngambil foto. Jalannya menanjak dan kecil, serta kanan kiri cukup padat dengan pemukiman. Setelah dua kali lagi bertanya, kemudian sampailah kami di meriam jepang ini. Tempatnya agak tersembunyi sehingga kalau belum pernah kesini memang harus banyak bertanya dulu.

Meriam Jepangnya sendiri tampak cukup terpelihara. Letaknya di areal PDAM yang di pagar dan ada pengumuman besar bertuliskan dilarang masuk selain petugas. Namun karena penduduk sekitar bilang boleh saja masuk, ya kami masuk. Dan yang paling antusias siapa lagi kalau bukan sulung saya yang suka banget nih segala hal yang berhubungan dengan sejarah dan begini ini…peninggalan-peninggalan bersejarah.





Pulau Tukung, Tanah Lotnya Balikpapan

6 10 2012


Jika anda pernah ke Balikpapan, kemungkinan besar anda tahu dimana letak pulau ini. Pulau ini adalah pulau kecil yang letaknya tidak jauh dari tepi pantai di daerah melawai. Jika anda makan-makan di daerah melawai, pasti pemandangan yang tersaji di depan mata ya pulau tukung ini.

Seringnya pulau tukung ini dikelilingi oleh air laut, jarang sekali saya melihat pulau ini tidak dikelilingi air (atau mungkin sayanya aja yang jarang lewat tempat ini sehingga jarang melihat pulau tukung tidak dikelilingi air). Karena duo krucil saya penggemar pantai, dan karena kami sedang males nyari pantai yang jauh-jauh, jadi rencana awalnya ya hanya main-main di pantai batu-batu banua patra. Rupanya saat melalui daerah ini krucil saya melihat air laut sedang surut yang membuat mereka histeris meliat pulau tukung tidak dikelilingi air (saya sih dengarnya sayup-sayup karena ketiduran dimobil hehe), jadi mereka membangunkan saya supaya membantu mereka merayu si ayah agar bisa berkelana di pulau tukung.

Dengan masih antara sadar dan tidak, saya sih he eh aja. Dan disinilah kami akhirnya, di pulau tukung. Mumpung air laut surut nih, jadi kami bisa berkelana di pulau yang seringnya hanya bisa dinikmati dari kejauhan. Ternyata tidak hanya kami yang pengen menikmati pulau ini, banyak anak muda yang juga beramai-ramai berjalan di tepi pantai ke arah pulau tukung. Dulu sih ada rencana pemkot untuk mendirikan semacam jembatan penghubung daratan dengan pulau ini yang konon katanya jika dibuat seperti tanah lot nya bali, lumayan bisa nambah-nambah turis untuk berkunjung. Tapi entah kenapa, sampai sekarang tidak pernah terealisasi.

Pulau ini banyak batu-batu gedenya loh, batu-batu karang kehitaman yang berlumut karena keseringan terendam air laut. Ya mirip-mirip tanah lot lah…bagus juga sih, sayang pemandangan ke daratannya agak kurang bagus karena tepian pantainya kurang tertata…mungkin kalo dihijaukan bagus juga hasilnya. Foto-foto wajib kayaknya buat semua pengunjung pulau ini, saat saya sedang mengabadikan gambar duo krucil saya tiba-tiba datang sepasang anak muda yang dari tadi saya liat sibuk foto-foto di pulau ini. Mereka meminjam si bungsu saya untuk di foto bersama mereka, gak cukup sekali tapi dua kali. Duile,saya sama si ayah langsung takjub…OMG, masih kecil aja sudah ada yang ngefans sampai minta foto bersama…gimana kalau besar nanti? hehe…

Setelah puas mengeksplore pulau ini, duo krucil saya langsung heboh bermain pasir…hadeuh, dasar anak pantai, senang banget deh kalau berurusan dengan pantai, kelomang dan pasir. Krucil happy, kami pun senang…have a nice weekend everybody :D








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 599 other followers