Sesak-Sesakan di Pawai Budaya

24 02 2014

Bungsu saya belakangan ini punya lagu favorite yang selalu dinyanyikannya kalau ayah sedang kerja di hari minggu, lagu tersebut adalah “pada hari minggu ayah pergi bekerja, ayah duduk samping pak supir yang sedang bekerja…dst” hehe. Untungnya weekend ini ayah ngejobnya dari hari Sabtu sehingga Minggu siang sudah pulang ke rumah.

Sabtu saat ayah ngejob banyak hal yang terjadi dan semuanya berurusan dengan si sulung. Sabtu pagi dia ikut Olimpiade Sains mewakili sekolahnya (sebagai emak, bangga juga punya anak yang super cuek urusan belajar eh ternyata diam-diam…), eh sorenya pas mau ke mesjid …jatuh dari sepeda, pulang-pulang diantar tetangga dengan muka berlumuran darah ternyata jidatnya bocor… alamakjang…Alhasil mukanya benjut sana sini disertai hiasan 5 jahitan dijidat yang berhasil ditorehkan dengan manisnya oleh dokter.

Begitu sampai rumah yang pertama dicari ayah ya si sulung ini. Walau muka benjat benjut, rupanya jiwa petualangnya dan rasa ingin tahunya masih aja berkobar. Disuruh tidur siang malah ngerayu ayahnya yang baru pulang agar mau mengantarnya melihat pawai budaya dalam rangka HUT Balikpapan. Ini karena saat pulang dari Rumah Sakit, dia tanpa sengaja melihat ada sebuah mobil yang sedang dihias. Rupanya rasa sakit tak bisa mengalahkan rasa penasarannya …hehe. Mungkin karena merasa bersalah, saat sulung dijahit ayah tidak bisa menemaninya di Rumah Sakit, keinginan sulung pun dikabulkan ayah walau ayah sendiri juga lelah karena baru sampai rumah.

Jadilah hasilnya bisa ditebak, kami desak-desakan, sesak-sesakan dan panas-panasan nongkrong dipinggir jalan dihiasi dengan tampang ngantuk ayah dan muka benjut abang. Siang bolong, nongkrong dipinggir jalan nungguin pawai sejam lebih tapi belum lewat-lewat juga tapi krucils masih sabar menanti, jadinya lucu juga..hehe. Ini mengingatkan pada masa kecil saya saat nunggu pawai lewat. Dulu sih cuma itu hiburan satu-satunya dikala mall belum ada, saluran TV juga cuma satu-satunya yaitu TVRI. Laaa sekarang jadi terasa lucu karena saat banyak hiburan yang bisa didapat eh krucils masih ngikutin jejak emaknya jaman dahulu kala….nongkrongin pawai ditengah terik mentari dengan semangat membara. Krucils saya memang beda :D Banyak hal sederhana yang mungkin bagi sebagian orang sudah gak penting atau gak menarik tapi bagi mereka sangat amat menarik. Di saat teman-teman sebayanya asyik main gadget atau sejuk-sejukan main di mall, krucils saya malah suka banget ke museum atau ke pasar malam, atau ya seperti ini…nongkrongin pawai walau sinar mentari sedang terik-teriknya dan walau harus sesak-sesakan dikerumununan banyak orang.

Pawainya sendiri tidak terkordinasi dengan baik. Banyak kendaraan yang bukan peserta pawai yang masih bisa menerobos jalur pawai menyebabkan kami yang nonton jadi merasa terganggu. Malah rombongan pawai jadi terputus-putus disela oleh kendaraan-kendaraan lain. Tapi walau apapun itu….krucils happy banget, sampai pawai habis pun masih belum mau beranjak dari situ, takut masih ada yang tertinggal dan malah meminta ayah menyusul pawai…wahaha…

Jangan takut….tahun depan kita nongkrongin pawai lagi….hehe…





Berburu Bekantan di Teluk Balikpapan

3 02 2014


Setahun yang lalu tanpa sengaja nemu blog tentang pengalaman traveller yang mengikuti tour menyusuri Teluk Balikpapan yang konon merasakan “the real borneo” itu. Dengan semangat membara nyari info sana-sini tentang tour yang diikuti traveller tersebut akhirnya nemu blog ini http://landing-balikpapanbay.blogspot.com/2012/08/paket-wisata-pendidikan-dan-kunjungan.html

Dan iler saya pun langsung ngeces….mau banget yang paket seharian. Tapi kalau cuma berempat rasanya sayang, kan perahunya muat 9-10 orang. Kayaknya perlu nyari teman jalan nih, selain bisa rame-rame juga yang penting ongkosnya jadi bisa dibagi-bagi (nah itu dia inti utamanya, nyari yang lebih hemat hehe). Setelah menawarkan ke beberapa orang tapi tidak mendapat tanggapan positif, selain itu tahun lalu juga sudah kebanyakan berkelana jadi urusan Teluk Balikpapan inipun terlupakan.

Hingga suatu hari saya bertemu tanpa sengaja dengan teman sesama blogger yang sama-sama punya dua krucils dan sama-sama suka jalan. Proposal pun ditawarkan, dia setuju…yippie akhirnya dapat juga teman jalan :D Setelah beberapa kali tertunda, akhirnya dipastikan hari Minggu awal February kami akan berpetualang bareng. Sayangnya saat itu hanya tersedia paket sore hari, yang khusus melihat bekantan tok. Paket-paket yang lain konon katanya full booked hingga 3 minggu kedepan.

Baiklah kita coba paket yang ada aja, menyusuri teluk melihat bekantan. Setelah beberapa hari Whatsapp-an dan SMS-an…hari Minggu pun tiba. Lucunya karena sudah lama banget enggak berkelana, krucils saya sudah gak sabaran pengen berkelana….subuh-subuh sudah pada melek padahal menyusuri teluknya baru sore nanti hehe. Biasanya kalau ayah ke laut pada bete, hari itu seharian malah lupa sama ayah….tiap saat cuma ngomong, kok lama banget sih jalannya bunda…hehehe…

20140203-030557.jpg

Sorenya dijemput mbak Diah (tengkyu mbak, maklum saya supir spesialis jalan datar hehe). Menggunakan kendaraan mbak Diah kami pun mengarah ke Kariangau, di depan komplek Graha Indah dijemput kordinator Balikpapan Bay (mbak Ana) yang mengarahkan kendaraan. Di Mangrove Center mobil parkir…baru ngeh ternyata komplek ini letaknya ditepi hutan mangrove dan ada Mangrove Center yang merupakan program swadaya masyarakat setempat. Hmmm…keren juga…memberdayakan masyarakat setempat untuk menjaga alam yang otomatis juga memberi manfaat bagi masyarakat itu sendiri.

Isi buku tamu, ternyata katanya tamu-tamunya banyak turis mancanegara…rupanya wisata ini lebih ngetop diluar negeri kayaknya dibanding didalam negeri sendiri. Dan kata mbak Ana, kami kecepatan datangnya…harusnya lebih sore lagi, bekantannya lebih banyak lagi yang keluar. Sebelum naik, semua penumpang dipakaikan life vest. Setelah semua pakai, naik perahu dan….berangkat…yippie…

Kemudian perahu menyusuri teluk….keren banget, suasananya mengingatkan saya pada film Anaconda dan film-film dokumenter hutan Amazone. Keren banget nget nget nget deh….atau sayanya aja yang norak, tapi bagi saya keren banget titik gak pake koma hahaha. Seruuuu…krucils-krucils yang awalnya anteng karena belum saling mengenal langsung bereaksi, pada berdiri semua asik jepret sana, jepret sini, saling tepuk pundak untuk saling memberitahukan jika melihat objek yang menarik…hehe. Dan yang lebih seru dan bikin was-was plus deg-deg seer adalah ternyata didaerah tersebut masih ada buayanya dan lumayan ganas…

Karena kami memulai petualangan ini terlalu cepat, jadi bekantannya masih sedikit yang baru keluar. Katanya sih bekantan makin banyak keluar mencari makan menjelang malam, maghrib-maghrib gitu deh yang banyak. Walau begitu kami tetap senang bisa melihat berbagai satwa yang hidup damai diteluk ini, ada kepiting bakau, ada burung, ada biawak yang kata saya mirip buaya tapi kata krucils saya mirip anaconda, dan tentunya ada bekantan yang bela-belain susuri teluk demi melihatnya. Sayangnya karena bekantan-bekantan ini diatas pohon yang tinggi dan kamera saya lensa standar, jadi gak bisa nangkap sosoknya.

Tapi secara keseluruhan kami puas, terutama krucils saya yang begitu sampai rumah langsung telp ayahnya sambil cerita tentang pengalaman mereka hari itu diakhiri dengan kata-kata, kurang lama petualangannya….haha. Tenang aja, kita akan rencanakan petualangan-petualangan lain yang pastinya lebih seru lagi…bukan begitu mbak Diah? hehe :D





Berjemur di Pulau Pribadi

3 02 2014


Haiyah….judulnya belagu banget ya…kayak orang kaya raya dengan harta yang melipir-lipir sampai bisa punya pulau pribadi….hahaha, eh tapi tolong diaminin ya siapa tahu suatu saat bisa punya pulau pribadi beneran, aamiin…*mulai ngimpi* hehehe. Maksud judul diatas bukan pulau pribadi beneran tapi berasa begitu tuh petualangan kami kali ini, serasa punya pulau pribadi padahal mah…. :D

Sudah lama banget gak jalan, jadi gatal juga nih. Begitu liat hari Jumat ada tanggal merah…aha…kami harus jalan pokoknya, entah kemanapun itu….yang penting jalan. Dari Kamis mulai melancarkan rayuan ke ayah supaya kita bisa melipir-lipir kemana gitu (yang diincar sih Prevab Mentoko atau Loksado). Si ayah cuma bilang kita liat nanti, soalnya ini sudah nyiapin barang (tanda-tanda akan ngejob). Dan benar saja, kamis sore sudah ada pemberitahuan…dilarang keras keluar kota, akhir minggu ini mau ada job…hiks hiks…batal lagi deh jalannya.

Akhirnya diputuskan Jumat itu kami berkelana ke Tanjung Harapan (Tanah Merah)-Samboja aja deh. Jadilah pagi-pagi mulai berangkat dari rumah berbekal beberapa botol minuman dan sekotak nugget yang belakangan ini jadi makanan favorite krucil. Sampai di Tanjung Harapan, krucil langsung ngajak ketengah, yang berupa gundukan pasir putih yang membentuk pulau kecil. Berhubung dipulau tersebut hanya ada beberapa pohon yang mengering, jadi kami bermain dan beraktivitas dibawah pohon tersebut yang nyaris tidak melindungi kami dari terik mentari. Benar-benar gosong….sudah mirip ikan asin…hehe…

Walau semakin siang pantai semakin ramai oleh pengunjung, namun tidak ada satupun pengunjung yang rela dan ikhlas kulitnya dibakar matahari seperti kami, jadi satu-satunya yang ada di “pulau” itu ya hanya kami berempat. Berasa di pulau pribadi …walau sebenarnya mirip orang yang terdampar dipulau….hahaha…seruuu. Krucils nyari kelomang, bikin istana pasir, menggali-gali, ngelukis diatas pasir sementara ayah sudah ngorok dengan tenangnya di bawah pohon.

Tengah hari bekal-bekal mulai habis dan krucils mulai minta makan, nah loh….tumben-tumbenan nih bocah-bocah merasa lapar (salah satu keuntungan diajak bejemur seharian meningkatkan nafsu makan hehe), akhirnya kami keluar dulu cari makanan. Selesai makan ikan bakar, kembali lagi masuk pantai dan kembali ke “pulau”. Sayangnya karena sudah sempat kami tinggalkan, pulau ini mulai ramai oleh pengunjung yang mulai ke tengah karena matahari yang mulai bersahabat.

Namun lama kelamaan air aut mulai naik dan orang-orang mulai kembali kepinggir hingga hanya kami yang kembali tersisa di “pulau” tersebut. Sekarang pulau tersebut mulai terlihat sebagai pulau benaran karena mulai dikelilingi oleh air laut yang meninggi. Lama juga kami di pulau ini, mulai dari main asinan, main kucing tikus, main perang-perangan dan kemudian baru ngeh….ya ampun, air mulai meninggi saatnya kembali ke daratan dipinggir. Mulailah secara bertahap keluar pulau, pertama abang jalan sambil dirangkul ayah. Kemudian adek digendong dipundak ayah. Terakhir si bunda yang awalnya jalan sendiri, tapi ditengah jalan kok kayak ada yang merambat-rambat dikaki…langsung jerit-jerit minta gendong….dan akhirnya digendong ayah ketepian sambil disaksikan beberapa ibu dipinggir yang ketawa-ketawa yang mungkin mikir “idih badan segede itu digendong, kalah sama anak” wkwkwkwk….

Walau sudah meninggalkan “pulau” dan badan mulai basah tapi krucils rupanya masih betah di pantai. Akhirnya malah bener-bener nyelup di air karena baju sudah terlanjur basah, mereka langsung guling-guling di air dan pasir. Ketika matahari akhirnya condong, kami pun mengajak krucils pulang walau mereka masih betah disitu. Hasil berjemur seharian, semua gosong dan bau keringat hahaha





Memberi Makan Rusa di Penangkaran Rusa

27 12 2013


Berkelana bersama dengan anggota team komplit memang menyenangkan, terlebih sudah lama sekali kami tidak berkelana jauh seperti ini lagi…kangen juga, sampai ayah berucap “kangen pengen berkelana seperti dulu lagi waktu ke Bali” (waktu itu kami menyetir sendiri kendaraan sewaan dari Surabaya ke Bali). Memang berkelana jauh menyetir sendiri rasanya lebih menyenangkan bagi kami dibanding kemana-mana naik pesawat. Naik kendaraan yang di supiri sendiri jadi jauh lebih bebas, hendak berhenti dimana dan kapanpun diinginkan terserah. Ngeliat sesuatu yang baru, bisa berhenti untuk memperhatikannya…tidur di kendaraan, makan dipinggir jalan, bercerita ini itu, wah pokoknya lebih seru aja….bagi kami loh.

Setelah krucils puas bermain-main di tepian Sungai Kandilo dan kami tidak menemukan Museum Sandurangas, akhirnya kami memutuskan berjalan pulang. Sepanjang jalan banyak yang bisa dilihat. Nemu tulisan Doyam Seriam yang menurut jelajah dunia maya adalah air terjun terindah di Paser, sempat mencoba menjajal…tapi ternyata jalannya “ya begitulah”…harus pakai si bu’ung kayaknya kalau mau kesini. Akhirnya diputuskan nanti aja kapan-kapan kembali kesini menggunakan bu’ung, jeep kesayangan ayah.

Berhenti makan di Simpang Pait, nyari-nyari sate payau (rusa) yang konon ada disini eh malah nemu sate ayam…ya sudahlah, bungkusin sate ayam untuk bekal krucils di jalan. Sedang kami makan ikan bakar patin yang maknyus sayangnya sambalnya kurang nendang aja ( main bola kali pake nendang hehe ).

Memasuki Waru, mulai terlihat deretan penjual sawo disepanjang jalan. Sempat mikir-mikir beli enggak ya? Karena penggemar sawo hanya bunda, jadi males juga belinya. Dan akhirnya terlihatlah penangkaran rusanya…yippie… si bungsu sampai bela-belain gak tidur demi kesini, padahal matanya sudah mulai berat tuh.

Beberapa tahun lalu kami pernah kesini, dulu ada patung rusa di depannya persis dipinggir jalan, di jalan masuk penangkaran rusa ini. Namun sekarang patungnya sudah tidak nampak lagi. Terusss masuk, kemudian bertemu gerbang pos security. Sama security disuruh langsung masuk aja, dalam hati sudah girang banget…yippie gak perlu bayar lagi, gratis lagi….sebagai backpacker demen banget nih tempat gratisan seperti ini….hehe :D (eh ternyata girangnya sebentar aja karena pas pulang, ditagih bayar 10 ribu untuk ongkos parkir katanya).

Parkir, jalan sedikit menuju tempat penangkaran rusanya. Si ayah sudah mulai sibuk nyabut-nyabut rumput sepanjang jalan, tahu nantinya krucils bakal heboh memberi makan rusa, dari awal sudah mempersiapkan bawa rumput hahaha. Di tempat penangkaran rusa tampak beberapa orang, lumayan banyak pengunjung juga nih hari ini, dulu waktu pertama kali kesini hanya kami berempat aja yang ada jadi serasa punya ranch pribadi hehe.

Disini krucils heboh banget, bungsu sibuk memberi makan rusa…sampai nungging-nungging segala karena kejauhan rusanya. Sementara itu sulung asik dengan kameranya, pinternya dia umpan rusanya dengan rumput begitu rusanya mendekat…jepret, difoto. Alhasil diantara kamera-kamera yang dibawa, hanya kamera miliknya yang hasil foto rusanya keren banget hehe…

Bungsu betah banget disini, gak mau beranjak sedikitpun dari situ. Sesekali teriak ke ayahnya minta cariin rumput lagi kalau rumput ditangannya sudah habis dimakan rusa. Walau sulung juga betah, tapi karena sudah terlanjur janjian dengan teman-temannya mau sholat di mesjid, sekitar jam 3-an mulai ngajak adeknya pulang. “Tenang aja bang, dari sini ke ferry tuh hanya setengah jam”, kata ayah.

Setelah satu jam lebih disini dan pengunjung pun mulai tambah ramai, kami pun memutuskan untuk pulang. Kali ini lancar jaya, gak ada antrian sama sekali di Penajam. Sampai, bayar tiket, langsung disuruh masuk ferry. Nunggu kapal penuh sebentar, ferry pun jalan. Sejam kemudian sudah sampai di Kariangau, nah disini lumayan lama nunggu kapal bersandar karena tempat bersandarnya cuma ada satu, jadi kapal-kapal harus menunggu giliran dulu untuk bersandar. Wrap up…penjelajahan pun berakhir menyenangkan :D





Bermain di Tepi Sungai Kandilo

26 12 2013


Bangun keesokan paginya gak seperti biasanya kami agak kesiangan yaitu jam 7 pagi, padahal kalau sedang berkelana biasanya subuh mata otomatis melek sendiri. Ini bisa dimaklumi karena kami kelelahan kurang tidur, sehari sebelumnya begadang nungguin ayah pulang dari Natuna ditambah baru istirahat dihotel tengah malam akibatnya ya bangun kesiangan tak terelakkan lagi :)

Mandi, langsung turun ke Cafe Jangkar untuk sarapan. Kemudian dapat telp dari ortu yang minta beliin ikan asin bulu ayam, yang katanya khasnya Tanah Grogot. Selesai sarapan, saat berniat mencari pesanan di pasar…eh menemukan ban mobil bocor, ya ampun kok gak sadar ya tadi malam. Jadilah bongkar-bongkar ban dulu, sementara ayah dan sulung sibuk ngurus ban…bunda bertanya arah pada resepsionis tentang Museum Sandurangas, museum kerajaan Paser (yang sempat bunda cari di websitenya pemerintah Paser saat menunggu antrian ferry).

Awalnya resepsionis terlihat kaget dengan pertanyaan si bunda, mungkin baru kali ini dia bertemu dengan orang yang tujuannya ke Tanah Grogot untuk berwisata …sangat aneh dan tidak lazim mungkin sehingga dia pun terkejut hehehe. Walau awalnya dia agak kaget dan bingung, kemudian dia bertanya pada beberapa temannya yang juga pegawai hotel. Eh mereka balik bertanya, Museum atau Hotel bu? Museum mas, masa sedang di hotel nanyain hotel lain…hehe.

Kemudian si mbak resepsionis memberi petunjuk, nanti dari hotel ini ibu ke kiri dulu, baru ke kanan…terus melalui jembatan besi, ketemu tugu belok kiri.
Saya : “Kearah mana mbak maksudnya, keluar kota atau arah ke kota?” (Pertanyaan ngambang yang agak saya sesali, harusnya nanya ke arah Simpang Kuaro atau ke arah Sungai Kandilo)
Resepsionis : “arah luar kota bu”
Saya : “jauh gak mbak?”
Resepsionis : ” lumayan jauh, sekitar 15 menit”

Dan karena merasa sudah memiliki bayangan tentang “tugu” yang resepsionis sempat singgung tersebut, si bunda pun sok iye dan sok yakin tahu arah Meseum Sandurangas. Malam saat menuju Tanah Grogot ini memang sempat ngeliat beberapa tugu tidak jauh dari kota, mungkin itu yang dimaksud. Jadilah setelah urusan ban beres, mampir ke pasar dulu nyari pesanan ortu, kemudian ngajak krucils bermain di taman bermain di sepanjang tepian Sungai Kandilo. Hampir semua kantor pemerintahan di Tanah Grogot dicat berwarna ungu, bahkan trotoar pun berwarna ungu dan putih, mobil-mobil dinas juga ungu.

Di tepian Sungai Kandilo disediakan berbagai mainan untuk anak-anak, ada sliding, ayunan, jungkat-jungkit, dan sebagainya. Walau panas menyengat karena matahari bersinar cerah (alhamdulilah selama berkelana cuaca bersahabat), krucils betah banget bermain disini. Diajak pergi pada gak mau, masih asik main. Cukup lama juga kami menghabiskan waktu disini menemani krucils yang asik menikmati taman bermain gratisan ini. Ketika akhirnya kami memutuskan kembali ke hotel untuk check out aja karena kan petunjuk resepsionis arah Museum Sandurangas keluar kota, jadi ya ke museum sekalian pulang aja.

Berjalan ke arah pulang, selama di jalan jelalatan nyari tugu dan jalan ke arah kiri, katanya sih 5km saja dari kota. Tapi sudah hampir sampai Simpang Kuaro, belum juga ketemu museum yang dimaksud. Tugu sih nemu beberapa kali, tapi gak ada jalan ke arah kiri…piye sih? Walah kalau gini sih kayaknya bukan kearah sini deh yang dimaksud, mencurigakan. Ayah cuma ketawa-ketawa ngakak sambil ngejek si bunda “bunda tuh kalau urusan arah jalan pasti aja gak jelas, nyasar mulu”…hahaha…memang kalau urusan nyari arah si bunda bukan jagonya, biasanya itu urusan ayah. Tapi karena tadi ayah sibuk ngurus ban, terpaksa bunda yang nyari arah dan parahnya salah ngasih pertanyaan pula ditambah sok yakin….hahaha :D

Yah, karena sudah sampai Simpang Kuaro males lagi balik arah karena bungsu request mampir ke peternakan rusa (Penangkaran Rusa di daerah Waru) dan sulung juga request untuk sampai rumah sebelum maghrib karena sudah janjian sama geng sepedanya di komplek untuk sholat maghrib di mesjid. Kalau harus balik arah ke Tanah Grogot bisa-bisa kesorean sampai daerah Waru, takutnya Penangkaran Rusanya sudah tutup. Jadi Museum Sandurangasnya lain kali aja lagi, yang penting krucils sudah puas dan senang bisa bermain di tepian Sungai Kandilo.





Petualangan di Penghujung Tahun

26 12 2013


Tahu bahwa anak istrinya suka berkelana ditambah akhir tahun ini krucils bakal libur sekolah yang lumayan panjang, ayah sejak sebulan lalu menyuruh kami liburan …ke Bandung kek, ke Jogja kek, ke Bali, Derawan…terserah. Sana pergi liburan kalian katanya tiap kali telpon dari seberang lautan. Tapi tiap kali pula ditolak si bunda, maklum walau petualang tapi si bunda kan penakut sebenarnya. Melihat cuaca akhir-akhir ini ngeri aja kalau membayangkan harus terbang ditengah cuaca seperti itu, selain itu apa enaknya berkelana kalau pada akhirnya hanya mendekam dihotel karena hujan :) Walau krucils sudah gatal pengen berkelana, ngajak “jalan yuk bunda” tapi bunda putuskan liburan akhir tahun ini kita dirumah aja.

Setelah hampir sebulan di Natuna, tepat di hari ultahnya jam 1 subuh akhirnya ayah pulang. Krucils yang sudah bela-belain begadang untuk bikin kejutan untuk ayah tapi akhirnya ketiduran juga dan malah terkejut sendiri karena pas bangun yang mau dikasih kejutan ternyata sudah ngorok sambil meluk mereka hehe. Esok paginya setelah menghilang bersama krucils, yang pamitnya sih ke bengkel, eh pulang-pulang jam 11 siang …ayah menyuruh bunda bersiap-siap. “Let’s get lost”, katanya.

Rupanya ayah kasian sama anak istrinya, kelamaan ngetem di rumah…jadi begitu pulang langsung ngajak berkelana. Kemana kita yah? “Kemana aja, yang penting anak-anak senang”…kalau krucils sih diajak berkelana kemanapun senang-senang aja hehe.

Setelah sholat dzuhur, kendaraan pun diarahkan ke pelabuhan ferry Kariangau. Begitu sampai pelabuhan…wuidih, antriannya panjang. Beberapa kendaraan malah mulai memutar arah. Kalau kami sih tetap sabar menanti, namanya juga mau berkelana…ya harus sabar, kalau gak sabaran ya gak jadi berkelana dong…hehe. Untung punya bocah yang berjiwa petualang, nunggu lama pun gak rewel (mereka main, ngambil foto ala fotographer pro, makan di dalam mobil, baring-baring, memperhatikan proses bongkar muat ferry), banyak hal yang menarik perhatian mereka. 3 jam ngantri, gak maju-maju….ketika akhirnya maju beli tiket nunggu di parkiran. Baru menjelang maghrib kami akhirnya bisa masuk ferry dan maghrib akhirnya touchdown di Penajam…yippie…

Di Lawe-Lawe istirahat sholat dulu, lanjut jalan lagi. Di daerah pasar Penajam berhenti lagi untuk makan dan menambah perbekalan yang mulai menipis karena sudah dihabiskan selama menunggu giliran menyeberang. Penajam, Waru, Babulu, terlalui. Ketika memasuki Long Ikis laju kendaraan mulai terhambat, jalan mulai rusak parah. Kemudian Long Kali, hingga akhirnya sampai juga di simpang Kuaro. Kalau sudah sampai simpang Kuaro artinya sudah dekat dengan tujuan karena hari sudah hampir tengah malam, tujuan utama yaitu mencari hotel di Tanah Grogot, Ibukota Kabupaten Paser.

Dari simpang Kuaro hanya sekitar 30 km ke Tanah Grogot. Sekitar 5 km sebelum memasuki Tanah Grogot, kami pun langsung berdecak kagum karena disambut dengan telaga luas yang bermandikan cahaya lampu. Namanya Telaga Ungu dan karena kami sampai daerah ini menjelang tengah malam, melihatnya bermandikan cahaya dikegelapan jadi indah banget. Sayang krucils sudah terlelap disini setelah sepanjang jalan sibuk ngoceh, mau berhenti untuk mengabadikannya di kamera juga jadi susah karena kaki bunda dijadikan bantal oleh krucils.

Sampai di Tanah Grogot langsung mengarahkan kendaraan ke hotel yang beberapa tahun lalu pernah kami inapi, check in…masing-masing menggendong krucils…beraaattt. Gak kerasa krucils sudah besar sekarang, dulu sih masih sanggup gendong kemana-mana, sekarang gendong ke lift aja setengah mati hehe. Masuk kamar…tidur. Ah lelah, istirahat dulu setelah perjalanan panjang. Walau lelah tapi senang melihat krucils menikmati perjalanan, bergembira melihat hal-hal baru. Besok pengelanaan masih berlanjut…





Menggenggam Pesawat di Taman Nomad

14 04 2013

20130415-072530.jpg

Sulung saya sejak balita kelihatan sebagai orang yang cermat, dia suka sekali memperhatikan detail segala sesuatu yang dilihatnya terutama hal-hal yang berhubungan dengan barang-barang berteknologi seperti pesawat, kapal, mobil, atau bahkan robot. Segala detail-detail yang diperhatikannya selalu ditanyakannya, ini untuk apa, pasangnya dimana, bagaimana cara kerjanya, kenapa begitu, dsb. Karena minatnya yang besar itulah, kami berusaha memenuhi keingintahuannya dengan mendatangi segala sesuatu yang menarik minatnya untuk bisa dipelajarinya, ya siapa tahu dengan begitu dia bisa jadi peneliti atau bahkan penemu…aamiin.

Sejak melihat bunderan pesawat (baca posting sebelumnya) dan melihat ada pesawat parkir ditengah taman, saya sudah bisa membaca yang jelas terlihat di mata dan wajah sulung saya (mata berbinar, senyum lebar) bahwa dia pengen berhenti di situ, pengen melihat dari dekat pesawat nomad TNI AL. Oke deh, nanti kita berhenti disitu setelah kita ke pantai ya bang…

Setelah batal berenang dan mencari Patrick si starfish di pantai, kami pun kembali mengarahkan kendaraan ke bunderan pesawat (nama populer Taman Nomad ini). Begitu kendaraan berhenti, sulung saya langsung pengen berlari ke pesawat…hadeuh. Setibanya di Taman Nomad ini, secara ajaib dia minta di foto dan bahkan mau diarahkan posenya. Biasanya sulung saya ini paling susah difoto, kalau difoto kepalanya melengos sana-sini…males banget belum lagi sambil ngomel, “bunda nih ya, foto-foto terus”…hehe :D

Kecuali terhadap hal-hal yang menarik minatnya, baru deh mau di foto bahkan dipanas terik…salah satunya ya foto di taman Nomad ini. Setelah difoto dengan pose menggenggam pesawat, dia pun mendekati pesawat yang dipasang tinggi diatas sebuah tiang sehingga yang bisa terpegang olehnya setelah memanjat hanyalah rodanya. Puas menelaah pesawat latih ini, dia pun memberi laporan ke ayah bundanya…itu pesawat beneran loh bunda..hehe. Iya bang, ini pesawat beneran yang sudah tidak terpakai lagi. Si sulung pun nyengir bahagia…puas banget petualangan kali ini komplit ya bang, dari hutan, pantai dan melihat dari dekat pesawat latih TNI.





Mencari Patrick di Tanjung Bara

14 04 2013


Tahu Patrick kan? Itu tuh sohib kentalnya Spongebob yang terinspirasi dari seekor starfish…iya, Patrick itu starfish alias bintang laut. Dulu…long time ago, dahulu kala waktu saya dan suami masih tinggal di Bontang, kadang kala kami mengajak sulung kami mencari starfish di sebuah pantai dikawasan tertutup di kota Sangatta, nama pantai itu adalah Tanjung Bara.

Nah, karena jarang-jarang banget kan nemu banyak starfish di sebuah pantai seperti pantai di Tanjung Bara ini, pantai ini meninggalkan bekas mendalam bagi kami. Mumpung kami sedang berada di TNK yang artinya sudah dekat dengan Sangatta (kurang lebih 30 menit dari TNK)…hayu kita lanjutkan petualangan di bulan April ini, kepalang tanggung. Jadilah setelah adventure @ the jungle di TNK, kami memutuskan lanjut ke Sangatta, saatnya berburu starfish di Tanjung Bara…yeaayyy…

Sangatta sudah berkembang dibanding terakhir kali kami kesini 6 tahun lampau, yang membuat kami agak pangling, bahkan jalan menuju Tanjung Bara pun berubah…hehe. Dulu untuk menuju Tanjung Bara kami harus ke jalan menuju Bengalon dulu, baru ke arah kanan…masuk portal…tukar KTP dengan kartu pas…terusss…sampai Tanjung Bara. Namun kali ini, begitu ketemu portal kami disuruh jalan ke arah kanan…kearah Bukit Pelangi (yang artinya muter lagi, karena Bukit Pelangi ini sudah terlalui sebelumnya) baru di bunderan pesawat belok kiri, demikian petunjuk security pada kami.

Nah loh, bunderan pesawat itu dimana ? Baru dengar soalnya, dulu sih gak ada daerah yang bernama bunderan pesawat…hadeuh…Daripada bingung, ikutin aja deh petunjuk security, setelah Bukit Pelangi terus aja…eh ternyata di depan muncul deh simpangan berbentuk bunder yang ditengah-tengahnya ada pesawat dan di salah satu pojok jalan banyak penjual makanan kaki lima plus tempat parkir kendaraan…oalah, ini toh namanya bunderan pesawat hihihi…baru tahu…Senyum langsung tersimpul lebar diwajah sulung saya, kebaca dengan jelas nih…pasti tertarik pengen berhenti disitu, pengen meneliti pesawat ini.. pulang nanti aja ya bang sekarang kita berburu starfish dulu deh..

Setelah menemukan bunderan pesawat ini, kami pun belok kiri sesuai petunjuk security. Belok kiri nemu portal lagi, tapi tenang aja…bilang aja ke penjaganya mau ke Tanjung Bara, dibukain deh. Jalan lagi…gak berapa lama nemu portal lagi, nah kalau portal yang ini jelas-jelas didepannya tertulis harus ada ID Card atau kartu pass. Disini KTP harus ditukar kartu pass ke aquatic, setelah dapat kartu pass baru deh dibukain dan boleh lewat. Kenapa kok ribet banget ke Tanjung Bara? Hal ini dikarenakan letaknya yang berada dalam lingkungan KPC (Kaltim Prima Coal), jadi ya wajar-wajar aja kalau pengamanannya berlapis seperti itu.

Memasuki kawasan Tanjung Bara banyak ditemukan monyet, dan ada pengumuman bertuliskan do not feed the monkey, jangan memberi makan monyet, tanyaken-apa? ya supaya monyetnya hidup alami, gak terbiasa makan dengan cara mudah…pemberian atau belas kasihan manusia…

Kawasan ini memang berada di wilayah hutan bakau sehingga gak cuma monyet yang bisa dijumpai disini, gak jauh dari situ ada papan yang bertuliskan CAUTION, kemungkinan ada buaya lewat jalan ini ! Serem? Itu belum seberapa, di dekat pantainya sendiri ada pengumuman lagi yang bertuliskan hati-hati loh daerah sini ada jellyfish (ubur-ubur), stingfish (ikan pari), stonefish (ikan kerapu batu) selain crocodile (buaya)…sekarang silahkan pingsan dengan sukses deh, inilah pantai yang penuh mara bahaya…hehe… :D

Pengumuman-pengumuman tersebut sudah ada sejak dahulu kala, cuma bedanya kali ini kami perhatikan benar-benar karena ada pengumuman kecil tentang kejadian yang terjadi 25 Maret lalu saat seorang anak yang sedang berenang tersengat oleh sesuatu yang diperkirakan sebagai ubur-ubur kotak (box jellyfish) yang berujung pada kematian. Ditambah lagi suasana pantai yang lebih lengang dari biasanya, pantai yang biasanya ramai dengan anak-anak berenang namun kali ini kami jumpai dalam kondisi ditutup (khusus akses menuju air) disertai tulisan huruf kapital AWAS UBUR-UBUR. Nah, ini sih serius banget artinya…

Tahu kan betapa berbahayanya ubur-ubur kotak? Kalau gak tahu seberapa berbahayanya ubur-ubur jenis ini silahkan cari di mbah google deh. Kalau saya sih gak mau berurusan dengan ubur-ubur kotak karena ubur-ubur jenis ini berbahaya sekali (akibat terlalu sering nonton National Geographic Channel), belum lagi stone fish yang durinya beracun…hadeuh mending jauh-jauh dari pantai deh kalau gini. Setahu saya sih ubur-ubur kotak ini seringnya berada di wilayah perairan Australia, belum pernah saya mendengar ubur-ubur jenis ini berada di perairan Indonesia apalagi di Kalimantan…this is something new. Kadang-kadang di beberapa pantai kami menjumpai ubur-ubur, namun jenis yang “agak jinak” alias gak begitu berbahaya, paling gatal-gatal aja. Dan dulunya di Tanjung Bara ini ubur-uburnya juga sering dijadikan mainan anak-anak karena ya gak berbahaya… itu sebabnya adalah sesuatu yang baru bagi kami menemukan pantai ditutup karena ubur-ubur berbahaya. Ternyata di sebuah pengumuman memperkuat dugaan saya bahwa ubur-ubur kotak sesuatu yang baru di Indonesia apalagi di Kalimantan.

Jadilah impian mencari Patrick si starfish terpaksa tidak diwujudkan dan baju renang krucil tidak jadi terpakai. Akhirnya kami hanya melihat dari batu-batu dan sebuah jembatan saja sekelompok ikan tampak berenang dibawah. Menikmati pemandangannya saja, yang membuat bungsu saya berkata dengan nada sedih “adek gak senang gak jadi berenang”…lebih baik gak berenang deh dek daripada kena jellyfish yang satu ini. Sekarang kita cari tempat lain yang seru dan aman aja yuks…





Petualangan di Hutan Kalimantan (Taman Nasional Kutai, Sangkima)

13 04 2013


Petualangan di bulan April ini tidak pernah direncanakan, semua serba dadakan. Si ayah yang sudah sebulan lebih di Laut Jawa, setibanya di rumah tiba-tiba berkata…kita ngacir yuuukk. Mendapat tawaran begitu dari sang ayah setelah sebulan mendekam dirumah saja membuat duo krucil petualang saya langsung antusias..dengan membuka peta dunia kesayangannya, mereka mengajak kami untuk ke Tanah Grogot. Hadeuh..

Setelah diskusi yang cukup alot dimalam hari sebelum petualangan dimulai, akhirnya diputuskan kami ke Sangatta. “Petualangan apapun yang pernah dilakukan oleh abang, adek harus mengalaminya juga”, ucap si ayah. Nah, bungsu kami yang lahir dan bertumbuh kembang di kota yang jaraknya ratusan kilometer dari tempat abangnya bertumbuh belum sekalipun melihat bagaimana sih kota Sangatta itu, dan petualangan apa sih yang bisa dilakukan disana.

Setelah keputusan yang telah bulat, krucils dan ayah pun terlelap…tinggal si bunda nih yang ditugasi mempersiapkan bekal petualangan ; baju, susu, cemilan krucils, dsb. Esok subuh, setelah sholat subuh…krucils yang antusias langsung mandi dan bersiap-siap. Semua barang sudah masuk mobil…Bismillahirahmanirrahim, berangkaaat!

Balikpapan – Samarinda ditempuh dalam waktu 3 jam. Menyontek istilah perlombaan F1, krucils pun menyebut rumah kakek neneknya di Samarinda (pertengahan Balikpapan – Bontang) sebagai Pit Stop. Perhentian di Pit Stop kurang lebih 1 jam. Dilanjutkan Samarinda – Bontang 3 jam, Bontang – Taman Nasional Kutai (TNK) 1 jam. Lama? Iya memang. Capek ? Belum kerasa hehe :D

Biaya masuk TNK ini cukup murah meriah, kayaknya belum mengalami kenaikan sejak si sulung usia 1 tahun saat pertama kali berpetualang kesini, sampai sekarang punya bungsu yang berusia 4 tahun, masih tetap sama…
Rp 1500,- / orang. Kamera Rp 3000,- total 9 rb perak.

Lantas apa sih yang bisa diliat atau dilakukan di TNK sampai kami bela-belain menghabiskan waktu berjam-jam untuk kesini, penasarankan? Yah, sebenarnya ini hanya hutan biasa, seperti halnya Taman Nasional lainnya…ya hutan, yang diliat ya hutan…berbagai jenis tumbuhan dan hewan kalau beruntung. Dulu waktu kami mengajak sulung kami kesini pertama kalinya, kira-kira 6 tahun lampau…kami bertemu dengan kera eh monyet (apa ya bedanya?) serta ular dahan. Konon kabarnya di sini anda masih bisa melihat berbagai jenis monyet dan rusa (jika beruntung). Yah, kalaupun gak beruntung…kami merasa cukup puas dengan memberi pengertian pada krucils kami bahwa hutan adalah penopang kehidupan, jika hutan di rusak apalagi dibabat…akibatnya yang rugi ya manusia sendiri, contoh sederhana adalah banjir.

Dan yang ngebet banget paling pengen diperlihatkan pada krucils (khususnya si bungsu sih, kalau untuk sulung untuk merefresh ingatannya saja) oleh ayahnya adalah pohon ulin raksasa berada ditengah-tengah TNK ini, yang konon saking besarnya harus sepuluh orang dewasa yang saling berpegangan tangan untuk memeluk pohon ini. Kami sendiri sih belum pernah nyoba memeluknya, cukup dikagumi saja…andai semua pohon dibiarkan bertumbuh…ya segede inilah hasilnya. Wow keyen..

Begitu memasuki hutan yang treknya dibuat dari kayu ulin ini, si bungsu awalnya sering berucap “adek takut yah..”. Tapi takut karena belum terbiasa, tak kenal maka tak sayang..setelah beberapa lama, eh malah paling semangat..hehe. Panjang trek kurang lebih 1 km, turun naik yang lumayan juga nih membakar kalori. Sementara sulung kami antusias banget meperhatikan sekeliling..jepret sana, jepret sini. Mulai terlihat jika sulung kami ini pecinta alam :)

Setelah puas jeprat jepret, liat ini itu, tanya ini itu…kami pun melangkahkan kaki kembali ke areal parkir. Kami memutuskan petualangan kami hanya sampai ulin besar walau trek sebenarnya masih panjang, masih banyak yang bisa dilalui. Masih ada jembatan sling (jembatan dari satu utas tali), rumah pohon, pemandian 7 putri, dsb. Tapi untuk anak seusia mereka cukup sampai situ dululah. Walau lelah, mereka happy…sekarang petualangan masih akan berlanjut, waktunya ngumpulin starfish…yippie…





Lamin Etam Ambors

5 01 2013

20130105-041732.jpg

Sudah seminggu ini mertua berkunjung ke little house on the praire kami dan belum sempat ngajak kemana-mana karena seperti biasa, ayah sibuk mencari nafkah (bahasanya gak kuat deh hehe). Untungnya walau si ayah sibuk, tengah malam sudah pulang sehingga sabtu ini meskipun badan masih lemes dan ngantuk akibat pulang dari laut, masih ada waktu untuk ngajak jalan-jalan mbah dan eyang. Tapi kemana ya? ke pantai? bosen ah…

Saatnya mencari lamin etam ambors yang kayaknya belakangan ini lumayan ngetop namanya dikalangan warga balikpapan. Walau kami sendiri belum tahu letaknya dimana, tapi katanya sih di km 28 masuk ke daerah kaveleri. Baiklah…berangkaaat, saatnya penjelajahan di awal tahun 2013 dimulai. Masuk wilayah kaveleri ini ternyata masih hijau royo-royo juga, masih asri. Ikutin jalannya yang agak rusak… terus sampai menemukan petunjuk jalan lamin etam ambors. Nah masuk wilayah lamin ini jalannya berubah jadi jalan tanah.

Biaya parkir mobil 5rb rupiah. Dari tempat parkir, jalan kaki sedikit menuju gerbang yang dipagari seng. Di loket masuk tertera tarif masuk taman wisata ini, yaitu 10rb untuk dewasa dan 5rb untuk anak-anak. Tiket masuk ini sudah termasuk gratis berenang dan terapi ikan. Di dalam taman wisata ada arena atv, berkuda, memancing, outbond, sepeda air (bebek-bebekan yang dikayuh dengan kaki) dikolam, dan ada beberapa jenis binatang seperti owa-owa, ular, burung-burung, dan rusa. Kalau menurut saya sih mirip dengan kebun raya samarinda bentuknya.

Untuk mencoba berbagai jenis permainan tersebut harus membayar lagi tiap wahana, harganya berkisar 10-30rb per wahana. ATV? bosen karena krucil sudah punya ATV di rumah. Sepeda air? males, panas euy. Memancing ? lebih males lagi, masih capek begadang tadi malam karena ayah pulang malam. Berenang? kayaknya lebih seru berenang di kolam renang komplek deh…lebih luas hehe. Jadi yang kami coba ya hanya terapi ikan. Lumayan, cukup membayar 10rb bisa nyobain terapi yang sedang ngetrend…kaki dikelilingi ikan kecil-kecil yang memakan kulit-kulit mati di daerah kaki. Geli, kayak kesetrum kata sulung saya yang betah banget nih kakinya dicium-cium ikan hehe. Si bungsu sih ogah, cuma kena airnya doang sudah jerit-jerit geli…la ikannya aja belum nongol dek, kok sudah geli hehe…

Setelah itu krucil bermain bersama rusa, cukup lama juga mereka dan mbah nya bermain bersama rusa. Mbahnya ngambil rumput-rumput, mereka yang memberi makan rusa…gak ada bosennya kalau gak di paksa pulang, masih betah tuh ngasih makan rusa. Ok krucil, kita pulang. Next week kan kita mau berpetualang yang lebih seru. See you on next adventure :)








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 599 other followers