LCCT – KL Sentral – Bukit Bintang

13 02 2012

Sebagai orang yang belum pengalaman tentang tempat tujuan, apalagi ini pengalaman pertama keluar negri, kami gak mau dong tersesat-sesat seperti kebiasaan kami kalo sedang jalan-jalan. Nah, karenanya penting dong tahu, setidaknya punya gambaranlah tentang tempat tujuan kami, Kuala Lumpur. Itu sebabnya, browsing wajib dong…supaya mengenal medan, tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi, event budaya (kalau ada), transportasi, peta, dan biaya apa saja yang harus disiapkan.

Biasanya untuk urusan survey beginian, tugas si ayah tuh. Tugas saya kan ngompor-ngomporin doang..hehe. Tapi seperti sudah saya sebut sebelumnya, dia agak kurang sreg dengan tujuan penjelajahan kami kali ini, sehingga dia jadi ogah dan males nyari-nyari info beginian. Malah awalnya, dia berniat tidak ikutan loh…katanya, kalian aja yang jalan-jalan, ayah cari uang aja. Duuh, gak banget kalo jalan-jalan gak komplit gitu…bukan team advanture blog namanya kalo kurang satu. Gak seru…

Akibatnya, tugas mencari info terpaksa dipikul saya. Saat sering browsing, surfing, googling tentang KL, saya sering banget baca tentang LCCT, KLIA…halah, apaan sih itu. Kalo KLIA sih bisa ditebak, Kuala Lumpur Internasional Airport…nah kalo LCCT tuh apaan??? kok ya gak mudeng saya…hehe. Dan kenapa sering banget muncul pertanyaan naik apa dari LCCT ke KLIA. Setelah tahu LCCT itu singkatan dari Low Cost Carrier Terminal, kemudian saya pun makin gak ngeh…kenapa terminalnya bisa berjauhan dari International Airportnya, emang kenapa berjauhan…apa emang sejauh itu? atau…ahhhh…au ah, kita lihat saja nanti keadaan disana.

Setibanya pesawat di KL, ternyata begitu mendarat kita harus berjalan “lumayan” untuk menuju ke bagian imigrasi. Lumayan ini masih tidak terlalu melelahkan, biasa aja. Tapi yang bikin tidak biasa adalah antrian mengular naga panjangnya di imigrasi, ampun deh…hampir semaput saya. Mau ke kamar kecil antri, imigrasi lebih-lebih lagi ngantrinya. Selepas dari imigrasi, jalan lagi ke tuntutan bagasi…haha, ya you can claim your bagage atau nuntut bagasi disini. Disini headache mulai mendera hebat…wah dari jam 10 pagi, sampe jam 4 sore perut belum diisi-isi nih, kayaknya cacing-cacing ikutan nuntut nih. Maklum, demi menghemat dan mendapat tiket super murah, saya gak beli meal di pesawat, no meal, no bagasi, hanya beli seat, makanya murah…hehe..

Nah, mendekati pintu keluar…rame tuh suara-suara dari arah kiri. Setelah ditengok, oalah…berbagai bus (bas kalo kata orang sini) ditawarkan. Oia, sebelum deretan penjual tiket bis, ada sebuah ruang kecil tempat info tourism didekatnya. Nah, buru-buru sajalah anda mengambil semua map (peta), dan semua hal yg berhubungan tourism disini. Mau nanya-nanya juga boleh, gratis. Kemudian saya beli tiket skybus tujuan KL Sentral seharga RM 9 perorang untuk dewasa, dan RM 3 untuk anak-anak… Tapi sakit kepala dan perut tak tertahan lagi, kami pun makan disini. Ibu saya bersikeras makanan di KL mahal semua, kecuali di McD. Padahal semua sumber yang lumayan saya percaya mengatakan, harga makan dan minum sama dengan di Indonesia kok…kurang lebih lah..

Ya kalo standardnya restaurant atau tempat gaul turis, ya mungkin mahal. Tapi kalo kelas backpack macam kami sih, pasti nyari yang murah. Dan benar saja, saat makan harganya antara RM 7.90 – RM 10, itu sudah kelas bandara, ya kurang lebihlah dengan di Balikpapan. Saya yakin diluar bandara, pasti lebih murah lagi. Terlebih ternyata McD sini tidak ada nasi, padahal nasi mah wajib bagi kami. Saat mengantri di McD itulah tiba-tiba mata saya melihat ada deretan foto nasi dari restaurant diseberang McD..aha, ini dia yang dicari hehe. Setelah kenyang dengan nasi lemak, dan rice chicken serta teh tarik panas…semua plong. Kepala saya mendadak ringan lagi, krucil lebih semangat lagi pecicilannya. Nah kalo perut kenyang, ngejar bus pun hayo aja nih…semangat!

Di bus station, kami hampir salah naik…karena ternyata bis menuju KL Sentral gak cuma skybus, tapi macam-macam…hihi, kirain seperti di Soetta, hanya damri tok. Budaya antri rupanya tidak ada saat di bus station, disini rebut-rebutan naik aja, siapa cepat dan kuat nyikut kanan kiri, dia dapat…hehe. Jadilah, begitu bis merah terlihat dari kejauhan, orang-orang yang awalnya tertib ngantri mulai merangsek maju. Saya pun tersikut kanan kiri, ya ampyun baru sadar ternyata badan saya mungil dibanding turis mancanegara…hahaha…

Nah, kalau sudah naik bis…sudah bisa duduk tenang dan manis. Perjalanan berlangsung kira-kira 1 jam dan bis pun berhenti di semacam terowongan kecil. Karena saya orangnya suka sok tewu, ketika melihat banyak rombongan orang menuju ke eskalator ke atas, saya pun mengambil kesimpulan semena-mena, pasti monorailnya diatas tuh. Soalnya cerita tentang dari bis ke monorail ini belum saya temukan di internet…hehe..jadi aja sok tewunya muncul.

Ealah, setiba diatas…ada sebuah papan petunjuk kecil, menunjuk kebawah (tempat sebelumnya, ketika turun dari bis tadi) yang bertuliskan KL monorail. Menambah kekesalan yang lain, saat ditanya pada orang setempat…iya, monorail emang dibawah. Rupanya begitu turun bis, harusnya kami menyeberang jalan…terus ikutin jalan, kemudian menyeberang lagi, ada tulisannya monorail. Atau daripada bingung, tanya-tanya aja deh sama orang setempat. Jangan khawatir dikibulin seperti yang sering terjadi di Indonesia pada orang desa yang baru ke kota. Orang-orang disini baik, mau menunjukkan arah secara detail.

Awalnya ibu saya pengen naik taksi, tapi kata orang setempat..wah bukit bintang jauh, teksi mahal. Dan memang, taxi dari KL Sentral sekitar RM 25 saat kami tanya, coba bandingkan dengan naik monorail, saya hanya perlu keluar uang RM 10.70, sepuluh ringgit tujuh puluh sen, untuk semua orang (4 orang dewasa, 2 anak). Si bungsu gak dihitung karena anak dibawah 5tahun gratis. Lumayan hemat kan, selisihnya kan bisa dipake buat makan nasi briyani plus teh tarik..hehe..

Setelah itu kami naik monorail yang bersih dan lapang, pengalaman pertama nih..seru juga, terutama buat duo krucil, mereka semakin senang. Berhenti di Bukit Bintang, di terminal 6, atau kalo dihitung dari tempat berangkat merupakan perhentian ke 5. Cepat, gak bau, bersih, murah lagi..penting nih buat backpackeran seperti kami. Kemudian berhenti di bukit bintang…sudah sampe? Belum, dari monorail turun kebawah lalu berjalan gak begitu jauh. Banyak papan petunjuk di sekitar sini dan banyak polis dan security di daerah ini, dan lebih banyak lagi turis. Hotel kami tepat diatas sebuah mall…dibintang walk. Hotel ini bukanlah jenis hotel yang akan kami pilih andai saya sendiri yang pilih, tapi karena orang tua saya mempercayakan urusan hotel ke adik saya, jadilah hotel ini yang dipilih. Untuk hotel akan saya bahas khusus nanti.

Bintang walk? Kesan pertama saya…rame. Disini pusatnya turis, kalo kata orang-orang sih Orchad Roadnya Singapore, Legiannya Bali..Berbagai jenis orang bisa dijumpai disini, dari putih, kuning, coklat, coklat gosong (seperti kami), hitam, keling…wah ruame. Dan pusatnya belanja serta kongkow, ada banyak tempat belanja, cafe, money changer, dan lain-lain…Sekarang saatnya beristirahat…ahh lelah…

PS : jika menuju KLIA bisa menggunakan shuttle bus atau Taxi.

About these ads

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 599 other followers

%d bloggers like this: