Si Bu’ung

3 12 2009

Bu’ung dalam bahasa sunda artinya Bandel. Blog ini tidaklah lengkap bila belum bercerita tentang sahabat berpetualang kami yang terbaik, the best one, yang selalu setia menemani dan mengantar kemanapun kami pergi. Mobil kami yang terbuat dari besi, bukan “kaleng” menurut istilah suami saya terhadap bahan-bahan mobil keluaran terbaru, yang begitu kena senggol dikit langsung bonyok, diberi nama Bu’ung oleh suami saya, yang artinya bandel dalam segala kondisi, maksudnya dalam berbagai kondisi jalan di gas…langsung tembus. Mau jalan off road berlumpur, jalan mulus, jalan kerikil, hajar terus…no problemo…itu mah cetek (kata mobil saya andai dia bisa ngomong).

Tidak heran bila mobil tua produk jaman pra sejarah…hehehe..mobil Taft keluaran tahun 80-an ini setia menemani kami seusia pernikahan kami lebih dari 5 tahun, menemani kami dalam suka duka, susah senang, panas maupun hujan, turut melihat perkembangan anak-anak kami dari lahir dan hingga sekarang. Setia menemani kami mengantar anak-anak ke dokter bila sakit, ke sekolah, kerja, dan terutama sekali…adventure. Menempuh kilometer demi kilometer di usianya yang senja menemani kami ber-adventure ria.Walaupun mobil ini sudah tua, memerlukan perawatan extra, yang kadang-kadang berat di ongkos untuk biaya salon (tuannya aja jarang ke salon…hihihi), dan karena saking tua nya, susah sekali mencari onderdil bila hendak diganti sehingga kerap kali kanibal (istilah tukang bengkel untuk mengganti onderdil yang aus dengan onderdil mobil jenis lain yang bisa masuk).

Dulu awalnya saya sering bête karena mobil kerap menghabiskan budget yang tidak sedikit tiap bulannya. Sehingga menurut saya lebih baik beli mobil keluaran terbaru aja deh, paling-paling cicilan bulanannya tidak semahal perawatan mobil tua. Tapi melihat kecintaan suami dan anak-anak kami terhadap mobil ini, membuat karang di hati saya lama-lama terkikis jua. Terlebih setelah mobil dipermak oleh suami saya hingga lebih cool, lama-lama saya jadi ikutan jatuh cinta. Terlebih melihat kegembiraan anak-anak bermain di belakang yang sedikit lapang, yang disulap jadi ruang bermain karena dipenuhi beberapa boneka dan beberapa mainan anak.

Walau mobil tua, jalannya tidak secepat mobil keluaran terbaru, namun soal tenaga…tidak kalah dari mobil lain. Dengan tenaga 2500 cc, irit solar, membuat perjalanan ala backpacker kami lebih irit lagi. Biasanya cukup mengisi 100rb, bisa muter-muter deh sepuasnya keluar masuk hutan…irit banget yah J . Walaupun sudah beberapa kali saya tabrakan, namun si Bu’ung tetap setia mengantar kami melakukan petualangan-petualangan menjelajah Kalimantan, menemani kami ketika melakukan petualangan off road ke Derawan di Berau, melewati jalan penuh lubang ke Sangatta, melalui hutan karet ke Bontang, Samarinda, Balikpapan, Panajam Paser Utara, Kalsel, dan kota-kota lainnya. Dan karena jasanya tersebut pada keluarga kami, saya berminat untuk memberi penghormatan dengan menulis cerita khusus tentang mobil kami dalam blog saya ini, karena tak akan ada blog ini, tak akan ada  petualangan-petualangan kami tanpa bantuan sobat kami tercinta, si Bu’ung yang setia menemani setiap perjalanan-perjalanan kami. Inilah foto-foto si Bu’ung dalam berbagai petualangan kami….

Bu’ung yang mengenaskan setelah saya ajak ngebut dan akhirnya menabrak gerbang komplek perumahan, namun masih diajak berpetualang…

Di balik pohon

Di kapal ferry

Ketika Bu’ung ikutan camping

Bu’ung…new look…with my handsome husband

Melaui jembatan

Dan banyak foto-foto lainnya, yang entah tersimpan di folder mana. Heran deh, padahal baru-baru ini saya liat. Tapi cukuplah gambaran tentang Bu’ung…yang setia mengantar kemanapun kami pergi, yang baru-baru ini terluka lagi karena tanpa sengaja saya setir menabrak conopy rumah.





Nabrak Lagi…Nabrak Lagi…

3 12 2009

Ow…ow… I did again ! Sebagai supir serep keluarga, dan amateur…saya pagi ini mengalami kecelakaan kecil lagi. Mantap…tap…tap. Dan untunglah tidak ada yang terluka, cuma hati saya yang terluka…oh no, i did again…hihihi :(

Saya memang didaulat sebagai supir cadangan buat keluarga kecil kami, yang namanya supir serep…ya tentunya kepake hanya saat-saat supir utama tidak ada ditempat alias sedang kerja. Dan karena jarang kepake, jadinya keahliannya tidak terasah…halah pake alasan, padahal mah emang dasar gak jago aja…:p

Hal ini ditambah lagi karena saya dilarang keras keluar komplek perumahan, oleh suami saya, yang ntah karena terlalu cinta pada anak istrinya, atau khawatir mobilnya kesayangannya terluka, atau mungkin juga karena emang meragukan kemampuan saya dalam mengemudi. Pada akhirnya ya saya jagoan banget ngebut-ngebut…cuma yaa dilingkungan perumahan saya aja…hehe. Security aja tahu saya suka ngebut, bahkan menghancurkan gerbang komplek saking jagonya ngebut, dan hal tersebut berbuah pada kerusakan parah pada mobil sehingga menyebabkan mobil terpaksa di infus dulu beberapa waktu di rumah sakit para mobil. Setelah itu dimasukan salon buat rebonding, dan jadilah selama beberapa waktu kami berhenti berpetualang, karena mobil off road tua kesayangan sedang sakit.

Kali ini korbannya adalah canopy rumah saya yang mungil. Cerita dimulai ketika saya akan mengantar anak pertama saya sekolah. Dan karena emang gak mahir, mundur…mundur…braakkk!!!! Apaan tuh, ternyata tiang canopy ikut terseret oleh mobil. Dan herannya, saya bukannya berhenti dulu kalo sudah tahu menabrak sesuatu…tapi malah nge gas…panic habis, otak buntu..dan ow..ow…i did again. Canopy rusak parah, mobil beset. Untung cuma beset, walaupun sedih juga ngeliat nasibnya yang mengenaskan, baru masuk salon sudah cantik…malah rusak lagi.

Yang pertama saya lakukan…ngebut antar abang kesekolah…ciiittt….ngerem sebentar di depan sekolah, dan segera pulang. Telp tukang canopy, telp suami…panic…Dan setelah mendapat respon menenangkan dari suami tercinta yang cuma tertawa mendengar cerita saya, duh si bunda…Saya pun bisa berpikir jernih…hihihi…lucu juga kalo di foto-foto terus masukin blog kali yee…yuks dek, kita foto-foto dulu langsung dari TKP. Dan inilah hasilnya, sementara menunggu tukang canopy datang memperbaiki canopy yang bengkok…saya upload foto dan posting cerita ini, langsung dari tempat kejadian..

Tiangku…oh bengkoknya dikau..

Pertolongan sementara pada kecelakaan…i do my best sementara nunggu profesional per canopy an datang memperbaiki…

Miring sana…miring sini…semoga hari ini cuaca cerah, sehingga tidak memperparah kondisi canopyku…amien

Kata tukang canopy, that’s oke for a moment mbak…ntar sore saya perbaiki…halah…nunggu sore, ane was-was nih takyut ambruk

Bemper atau sayap sih ini namanya? beset euy…padahal baru di rebonding…baru dicat ulang…hiks..hiks. Yang sabar ya mobilku…nasibmu sungguh malang sahabat berpetualangku…





Paiton (Java Power)

2 12 2009

Ini adalah foto kenangan ketika kami melakukan tour Surabaya – Bali beberapa waktu yang lalu, yang karena kesibukan, Big M (Malas), jaringan internet yang jelek, dan sebagainya, hingga baru pada saat inilah sempat saya up load.

Sebenarnya Paiton alias Java power alias pembangkit listrik Jawa-Bali ini lebih enak dipandang saat malam hari, karena efek dari ratusan bahkan ribuan lampu yang meneranginya sehingga menghasilkan efek yang lebih keren. Namun karena saat kami jalan malam hari saya sudah kelelahan, menyebabkan saya malas mengambil foto-foto Paiton. Dan baru saat kami melaluinya lagi dalam perjalanan pulang, saya menyempatkan diri mengambil beberapa foto dari dalam mobil, dan inilah hasilnya….

Diambil dari atas mobil yang sedang berjalan….hasilnya….fotonya juga berjalan hehehe

Paiton…yang hidupnya bergantung pada batu bara…

Dilihat saat pagi hari…biasa aja yah, seperti pabrik-pabrik pada umumnya. Tapi bila dilihat malam hari? kereeeennnn…sepuluh jempol…wkwkwk

Paiton…Java Power, disinilah Listrik Jawa – Bali dikelola

Java Power





Jembatan Mahulu

1 12 2009

Jembatan Mahulu  yang melintang diatas sungai Mahakam…tongkang batu bara melintas dibawahnya

Struktur Jembatan dari dekat

Jembatan Mahulu

Matahari sore di sela-sela jembatan

Tongkang batu bara yang melintas sungai Mahakam…diambil dari atas Jembatan Mahulu

Deretan Kapal dibawah jembatan yang merupakan tempat pembuatan kapal





CAMPING DI PANTAI MANGGAR

8 11 2009

Picture 975

Terakhir kami berpetualang, kurang lebih sebulan yang lalu, saat melakukan tour Surabaya – Bali. Sebulan adalah waktu yang cukup lama vakum bagi kami yang emang suka berpetualang. Sebenarnya, sejak suami saya kerja di Muara badak, jarang sekali ada waktu untuk bisa melakukan perjalanan-perjalanan, berpetualang keluar masuk hutan ataupun pantai. Namun baru-baru ini, seorang psikolog anak telah membuka pikiran saya, bahwa sesempit apapun waktu yang kami miliki, waktu yang dapat kami habiskan bersama suami saya, dapat dimanfaatkan untuk kembali ke alam, seperti yang sering kami lakukan dulu. Jadi, sejak beberapa hari yang lalu, saya sudah merencanakan petualangan kali ini.

Saya merencanakan camping, sayang banget kalo tenda yang kami miliki Picture 974sampe bulukan terlantar dirumah saja. Dan tempat camping favorite adalah di Tanjung Harapan Samboja, yang emang sangat mendukung sebagai tempat camping ; sepi, banyak pohon, banyak kerang dan tenang. Namun Tanjung Harapan berada kira-kira 60km dari pusat kota Balikpapan. Untuk menuju tempat tersebut membutuhkan minimal 1,5jam dari kediaman kami. Yang artinya butuh 3 jam pp, belum lagi bila dihitung telat bangun, berhenti dijalan buat makan, dsb. Jadi, dengan persetujuan suami, saya putuskan untuk mengajak anak-anak ke Pantai Manggar, yang kalo jalan amat sangat lambatpun hanya ditempuh dalam waktu kurang dari 1 jam.

Picture 949Pantai Manggar terletak di jalan Mulawarman, Balikpapan. Yang letaknya kurang lebih 10km saja dari Pusat kota. Tidak terlalu jauh, malah pantai Manggar merupakan pantai terdekat dari pusat kota. Hal inilah yang menyebabkan Manggar selalu ramai oleh pengunjung, tempat rekreasi favorite warga Balikpapan. Kami sebenarnya tidak terlalu suka keramaian, apalagi untuk tempat camping…mana asik crowded. Tapi gak apalah…yang penting bisa camping…hehehe.

Walau sudah diniatkan bangun subuh, tapi mata baru benar-benar terbuka jam 7 pagi…yaaa kesiangan deh, peralatan perang belum disiapkan nih. Berbagi tugas dengan suami, tapi tetap saja saya yang harus menyiapkan semua perbekalan seluruhnya, susu, dot, pampers, baju ganti, handuk, cemilan, kasur kecil, tenda, makanan, minuman, mainan, dan tetek bengek lainnya. Dan finally, seluruhnya masuk mobil, anak-anak sdh mandi dan makan, ayah bunda sdh siap…yuks kita jalan. Jam 8 lewat kami berangkat dari rumah, karena ayah bunda belum sarapan…mampir dulu di bubur Pontianak, sarapan andalan kami karena dekat dengan rumah…hehehe.

Jam 8.30…berangkat. Sip..sip…hari ini kita camping sampe sore…hihihi, Picture 950camping hanya sampe sore, karena ayah harus kembali ke Badak malam nanti. Semua sudah rinci saya rencanakan, dipantai abang dan adek bisa berenang di laut, bisa main pasir – sudah bawa peralatan main pasir segala juga-, ayah dan anak-anak bisa main bola –bawa bola juga loh-, bunda bisa foto-foto buat masukin blog –hehehe…J-, kalo capek bisa tidur di tenda -ada bantal n kasur kecil-, kalo lapar bisa makan-bawa makanan juga-…wuihhh pokoknya complete deh, never done this before. Saya bukan orang yang senang merencanakan sesuatu, hidup saya selalu mengalir begitu saja, tanpa pernah berencana ini itu, bahkan petualangan-petualangan kami selalu mengalir begitu saja, terjadi begitu saja, tanpa rencana. Jika pengen ke suatu tempat, kesalah kami berjalan…tanpa perencanaan…hehe, maka petualangan kali ini adalah sebuah keajaiban karena saya merencanakan dengan detail.

Picture 964Tiba di pantai, satu hal yang paling mengusik saya adalah…cuaca. Langit mendung dari arah laut…hiks…hiks, nape sih tiap mo camping cuaca gak pernah mendukung, sedih deh. Dulu ketika pertama kali beli tenda dan diuji coba di Tanjung Harapan demikian pula, cuaca mendung dan malahan mendadak hujan. Kali ini juga, dari arah laut, terdengar gluduk…guluduk, petir…ihhh takyut deh eike. Pembaca setia blog saya pasti tahu, betapa takutnya saya pada petir. Malahan mungkin saya termasuk phobia sama petir, takyuuutttt…

Begitu tiba di pantai, yang pertama kami lakukan adalah mencari pantai Picture 968terjauh dari keramaian, kami berbelok ke arah kiri, mencari tempat yang paling sepi. Dan walaupun tidak benar-benar sepi, akhirnya kami menemukan tempat yang pas. Segera kami sibuk-sibuk membesihkan pantai dari batu-batu, kerang dan sampah yang kira-kira dapat merusak dan mengganggu proses pendirian tenda. Seperti yang sudah-sudah, yang paling sibuk siapa lagi kalo bukan si petualang cilik. Sibuk ngerecokin, sibuk ribut, sibuk merintah dan sok sibuk lainnya…hehehe.

Daaaaannnn….cihuuuyyyy, tenda berdiri. Masukan kasur, bantal, makanan dulu. Dan tenda akhirnya benar-benar siap di huni. Saya sempat berharap, cuaca membaik, sehingga saya tidak perlu melarikan diri ke dalam mobil lagi…hehehe. Dan ketika tenda berdiri, tiba-tiba…loh kok, malah semakin ramai nih lokasi pilihan kami? Beberapa mobil terlihat memarkir mobil di dekat mobil kami. Dan seorang bapak-bapak, dengan tidak mau kalah mengeluarkan pula tendanya dari dalam mobil serta bersiap-siap mendirikan tenda tidak jauh dari tenda kami berdiri. Duuuhhh…gak mau kalah nih yeeee….

Ketika sedang asik memperhatikan bapak tersebut mendirikan tenda,camping manggar2 dikejauhan gluduk-gluduk tetap terdengar, namun anehnya kok semakin banyak orang yang nyebur ke laut…gak takut petir kali yeee? Dan baru saja menikmati tenda, looohhh…kok anginnya kencang banget. Busyet deh, tuh anginnya kencang banget…sampe tenda kami terbang bagai layang-layang…wakakakkkakakk…Setelah berusaha mempertahankan tenda tetap ditempat dgn sia-sia, akhirnya diputuskan tenda harus segera dibongkar, agar tidak merusak tenda. Dan demikianlah akhirnya, tenda segera dibongkar ditengah terpaan angin puting beliung, kalo angin puting beliung britama sih enak dpt mobil..la ini malah merusak rencana camping kami…huuuu…gagal deh rencana weekend yang sdh saya rancang dgn detail…hiks…hiks.

camping manggar1Dan setelah berbenah segala peralatan yang ada, semua dijejalkan dalam mobil tanpa usaha untuk dibenahi terlebih dahulu, upaya penyelamatan diri dulu di tengah angin kencang. Sebenarnya saya yakin, angin dan mendung yang ada hanya numpang lewat, pasti sebentar saja berlalu. Dan memperkuat dugaan saya, semakin banyak saja pengunjung berdatangan ke Manggar, tanpa peduli angin kencang, mendung dan gerimis yang menerpa. Namun sayangnya, mood suami dan anak-anak saya sdh sirna beserta sirnanya tenda kami – tenda sdh dirobohkan, reds- sehingga tidak seorangpun yang berminat untuk terus bertahan di pantai, walaupun tanpa tenda sebenarnya kan toh masih bisa melakukan hal lain. Dan benar saja, sesaat kemudian, ketika mobil mulai beranjak meninggalkan Manggar…langit perlahan sedikit bercahaya, walaupun gerimis tetap turun.

Having fun kids? Sedikit sih, hanya sempat bersenang-senang mendirikan tenda. Tidak puas sebenarnya, terlebih buat si bunda, yang sdh bersusah payah merancang liburan kali ini, yang sdh susah payah menyiapkan semuanya…hiks…hiks…sebeeeellll. Bagaimanapun, kami tetap manusia biasa, tdk bisa melawan alam, tidak bisa memprediksi mood alam…Yo wes, laen kali kita camping lagi ya anak-anak. Walau liburan gagal, tapi tujuan utama tetap berhasil…target sebenarnya adalah kembali menyatukan kami dengan alam, hal yang  lebih dari setahun ini sudah jarang dapat kami lakukan, dan mengakrabkan keluarga kami kembali, yang karena kesibukan sang ayah jarang memiliki kesempatan untuk bercengkrama dengan anak-anaknya. Dan juga sebagai bahan tulisan buat blog saya ini juga…hahaha…I love you full…hahaha…





ALL ABOUT HOTEL (TOUR SURABAYA-BALI)

2 11 2009

Kayaknya yang paling sering di search orang adalah foto tempat wisata dan tentunya tarif hotel. Penting dong tahu tarif hotel sebelum memulai perjalanan agar bisa memperkirakan budget yang harus disiapkan untuk dihabiskan hehehe. Walaupun saya jarang banget membahas budget-budget, ternyata budget justru yang paling di cari pembaca blog, jadi agar blog saya ini semakin laris manis bak kacang goreng, gak ada salahnya saya mengikuti jejak para pendahulu saya sesepuh blogger jalan-jalan yang selalu detail menyertakan budget yang dikeluarkan.

Dalam sebuah perjalanan, biasanya budget yang paling besar dikeluarkan adalah untuk transportasi…ticket pesawat tu yang paling jadi beban, menohok para backpacker, memaksa para petualang mengerem keinginan untuk terus jalan-jalan. Dan yang kedua, apalagi kalo bukan penginapan. Masalah makan sebenarnya juga penting, tapi untuk masalah makan masih bisa diakalin lah ya, kalo gak dikadalin or buayain sekalian…hehehe. Sedangkan transportasi, tariff gak bisa nego, demikian juga hotel. So sebagai penggemar jalan-jalan, kita harus cermat memilih hotel yang pas di kantong supaya gak bikin jebol dompet :) yuks kita bahas tentang hotel-hotel yang saya datangin…yuks mareee…

SURABAYA

Picture 812Di Surabaya, saya menginap disebuah hotel tua ditengah kota yang hiruk pikuk di jalan Darmo Surabaya. Hotel ini adalah rekomendasi seorang teman, dan juga Lonely Planet. Lonely Planet emang andalan yang tepat buat para pecinta jalan-jalan dan petualang, selain tentunya blog saya ini…qqqqqq…:)

Bila dilihat dari depan, hotel ini emang bukanlah hotel yang waahhh…hotel ini malah walaaaahhhh….agak-agak mengecewakan dari segi penampakan. Tapi seperti kata pepatah, don’t judge a book by its cover, that’s right…hal ini berlaku untuk semua hal, yaaa manusia…juga bisa berlaku pada hotel…hehehe. Agak memprihatinkan, tapi dalamnya kan belum tentu, so lets check it out….ayo kita lihat dalamnya. Lobynya cukup bagus, begitu sampe dalam ada meja resepsionist, dan sofa merah keluaran index (halah…sok tewu) dipojokan. Disebelah meja resepsionist ada tangga ke atas, tempat beberapa kamar berderet-deret. Tampaknya ada bangunan baru, kamar-kamar baru di bangunan baru tersebut yang terlihat sedikit modern, walopun saya belum pernah melihat kamar di bangunan baru tersebut. Kayaknya sih disinilah kamar-kamar VIP berada…tarifnya paling mahal yaitu 175rb.

Kemudian ada lorong yang tepat menghadap jalan Darmo, dan disepanjang lorong tersebut berderet-deretlah kamar. Yaaa disinilah saya mendapat kamar, kamar exsclusive kalo gak salah, tarifnya 150rb/ malam + sarapan pagi jam 8.Di depan setiap kamar ada kursi-kursi tua dari jati, atau enath dari kayu apa yang dari penampilannya kayaknya dibuat jaman dinasti sebelum saya lahir, masa colonial dulu kalii yaaa. Tiap kamar juga memiliki model pintu antic, jadul habis. Tapi that’s oke sih…Di dalam kamar ada dua tempat tidur single dan lemari, meja rias, gantungan handuk serta tv dan ac tua, serta kamar mandi didalam. Tapi buat para petualang sangat amat cukup, bagi saya sih terutama.  Untuk sebuah hotel yang terletak di jantung kota, dgn harga demikian…saya kira cukup murah dan bagus.

Sekarang kita membahas tentang menu sarapan, hari pertama kami tidak makan di hotel, karena kami sudah beredar sebelum kantin hotel buka. Sarapannya cukup sederhana, yaitu sepiring nasi pecel + telur, dan segelas teh manis hangat. Setiap penghuni sudah dijatah dalam piring-piring yang disediakan begitu kita duduk, jadi seperti warung makan…hehehe…

BALI

Di Bali saya dan keluarga tercinta saya menginap di dua hotel. Mari kita bahas masing-masing.

Hotel Orange – Legian

Hotel ini letaknya di jalan legian, satu blok dari kuta. Gak terlalu jauh buat Picture 283anda yang ingin menikmati pantai kuta yang terkenal tersebut, bisa berjalan kaki atau juga dgn menyewa mobil / motor. Banyak jalan-jalan kecil yang tembus ke kuta buat anda yang suka menikmati jalan kaki, apalagi banyak hal yang bisa diliat sambil berjalan kaki, bisa window shoping, atau juga cari jodoh bule…halah…

Hotel orange terletak di tepi jalan besar, sehingga mudah terlihat…apalgi di seberangnya ada pasar Sukowati kalo gak salah nama pasar tersebut. Tempat berbagai toko-toko kecil menjual pakaian khas bali, sarung-sarung bali dan oleh-oleh khas lainnya. Hotelnya cukup besar, lega rasanya…didalamnya juga menarik. Untuk mempersingkat, saya langsung membahas tentang kamarnya saja.

Didalam kamar ada tempat tidur big size, tv, ac kamar mandi didalam dengan shower without air panas. Kamarnya cukup luas, mungkin karena pengaruh minimalnya perabot dalam kamar. Tarifnya permalam 250 rb + sarapan pagi ( entah apa sarapan paginya karena kami jarang sekali makan pagi di hotel). Menurut saya hotel ini cukup bagus, walo sepi…tapi bagus. Apalagi di dekat meja resepsionist banyak brosur dan peta Bali…cihuyy…menambah koleksi…hehe…

Hotel Sakura – Denpasar

Picture 675

Hotel ini kami temukan tidak sengaja, ditengah kelelahan yang mendera akibat nyasar-nyasar melulu, bertemulah kami pada sebuah papan petunjuk hotel yang kecil. Ciiiittt…rem langsung mendecit, yuk kita liat aja hotelnya seperti apa.

Begitu tiba di jalan kecil yang kalo gak salah jalan Kartini, dan memarkir mobil. Tampaklah dua patung besar pesumo sebelah kiri dan kanan tangga menuju ke lobby hotel. Dengan pencahyaan yang ada dimalam yang gelap, agak menakutkan buat saya. Lobbynya sederhana tapi manis sekali diliat. Yuk kita intip kamarnya. Kamar dengan tarif 250 rb/malam tersebut, sangat amat bagus menurut saya. Dengan kamar mandi didalam, bath tub+shower dan air panas, tv, ac dan tempat tidur big size dengan bed cover khas Bali. Terlebih di hotel ini juga tersedia kolam renang…top markotop, rancak banar kalo kata orang padang.

Sarapan pagi dikirim ke kamar yang terdiri secangkir teh, secangkir kopi, roti bakar dan dua butir telor rebus. Buat yang biasa sarapan nasi, mungkin tidak mengenyangkan, tapi bagi saya sudah cukup…apalagi rasa roti bakarnya enak. Untuk sebuah hotel kecil, hotel sakura saya rekomendasikan…apalagi staff hotelnya ramah dan informative.

Hotel Rosali – Situbondo

Picture 801Nah, hotel ini nyaris terlupakan untuk saya ceritakan, karena hotel ini hanya persinggahan beberapa jam saja buat kami, hanya tempat untuk meluruskan punggung setelah perjalanan panjang kami yang cukup melelahkan. Kami sampai di hotel ini jam 10 malam kalo gak salah, dan segera cabut di waktu subuh untuk melanjutkan perjalanan pulang.

Hotel ini terletak dijalan besar utama Bali – Surabaya, atau sebaliknya. hotelnya cukup luas, dengan banyak kamar. Tarif permalam cukup murah 150rb yang ac dan 80rb tanpa ac.Karena ketika itu kami sdg flu berat, dan sangat kelelahan dan mengantuk, kami memutuskan mengambil kamar tanpa ac, dgn tarif 80rb/malam + sarapan pagi serta kamar mandi didalam. Kamar ac dan non ac tidak berbda, yang membedakan hanya tambahan ac saja. Isinya sama, 2 Tempat tidur single yang kami satukan, tv, kamar mandi dan sebuah lemari serta kaca rias. Parkirnya sangat luas, dan teras kamar menghadap taman yang sangat luas yang ketika itu sangat amat berangin sehingga semalam suntuk saya berpikir sedang ada badai, karena bunyi angin yang berderu. Mungkin hal ini dikarenakan letak situbondo yang dekat dengan pantai.

Sarapan pagi, lagi-lagi saya tidak tahu karena seperti yang sudah-sudah kami sudah dijalanan lagi sebelum hidangan sarapan tersedia. Untuk sebuah hotel persinggahan, hotel ini very recomended…murah dan luas.





Wisata Kuliner di Denpasar – Bali

1 11 2009

Terinspirasi blog seorang teman, saya berpikir mungkin lebih baik posting cerita secara bertahap…sedikit demi sedikit, tp detail dan tentunya lebih banyak foto yg bisa di share ke public. Dan semenjak terakhir kali saya post cerita, internet dirumah ngadat, dan baru sekarang kondisinya agak membaik…makanya baru sekarang ini pula saya berkesempatan meneruskan cerita. Ok my pren…let’s try…

Seperti cerita yg sdh diposting sebelumnya, TOUR SURABAYA – BALI, baru-baru ini saya dan keluarga berlibur ke Bali. Suatu ketika, disore hari yang cerah, terdamparlah kami di Denpasar…disuatu lapangan entah lapangan apa namanya, yg letaknya dekat dgn kantor walikota. Lapangan ini tampaknya digunakan oleh warganya untuk berolahraga (ketika itu tampak anak-anak muda sdg berskate board ria) dan tempat santai…ya mirip-mirip Gasibu lah kalo di Bandung.

Beruntungnya di dekat lapangan tersebut, didepan sebuah pura dan tampaknya sebuah perpustakaan umum (kalo gak salah), sdg berlangsung bazar makanan. Karena ketika itu berdekatan dgn galungan dan kuningan, tampaknya bazar ini diselenggarakan berkenaan dgn hal tersebut. Dan beruntungnya lagi, di sekitar tempat tersebut banyak sekali bangunan khas Bali, tempat yang pas untuk foto-foto…tanda sudah pernah ke Bali…hehehe ( padahal jaman skrg banyak juga bangunan khas Bali diluar Bali…hehehe).

Setelah berfoto-foto, apalagi yang dicari kalo gak makanan…di bazar tersebut, yang paling banyak di pamerkan adalah buah-buahan…halah, ngapain juga kami beli buah-buahan, semua juga ada di mall…wakakakkk. Masa jauh-jauh ke Bali gak cari makanan Bali.

Dan berkelanalah kami disepanjang jalan tempat diselenggarakan bazar tersebut. yang pertama-tama menarik perhatian saya adalah sate lilit. sate lilit ikanBerbeda dgn sate pada umumnya, sate ini dililitkan pada semacam bambu..bukan lidi. dan terbuat dari ikan…yuks maree kita coba. Dalam satu porsi sate, ada lontong dan sate 5buah tusuk, dan diujungnya dikasih cabe yg diulek sedikit. Rasanya? Maknyuss….enak…enak…enak…ringan, tapi cukup menyenangkan buat lidah saya…hehehe.

Sementara itu suami saya membeli sate kukul. Sate apaan lagi tuuh?? sate ini di buat dari siput, atau bekicot, atau keong (sama gak yah? au ah). Penampakannya sih mirip sate ayam pada umumnya, ditusuk dgn lidi dan dikasih kuah kacang. Rasanya? Hummm, kalo menurut saya sih seperti ampel hati, kenyal-kenyal tanpa rasa (kalo gak dicocol dikuah kacangnya). Kalo dimakan dgn kuah kacangnya…ya berasa sate…hehehe, berasa kuah kacang :) tapi enak juga…

Dan ada juga yg jual sate babi, babi guling, kerupuk kulit babi…so…selesailah petualangan kuliner kami begitu melihat kepala babi. Mendadak tidak bernafsu lagi, so buat muslim saya sarankan sebaiknya bertanya dulu sebelum terlanjur…Tapi buat non muslim, disini surganya. Terutama sekali saat hari galungan dan kuningan…dimana-mana saya liat penjual sate bertebaran, tapi sate yang dijual adalah sate babi.

Setelah menonton sebentar latihan tari di perpustakaan tersebut (kalo gak salah sih itu perpustakaan), tiba-tiba mata saya tertumbuk pada ibu-ibu penjual makanan. Di dalam kotak kaca didepannya, saya lihat berjajar gorengan ; tahu, tempe dan lumpiya. Saya bukan jenis yang suka gorengan, namun yang membuat saya tertarik adalah banyak sekali orang membeli makanan tersebut, yang oleh si ibu tersebut, gorengan yang ada dipotong kecil-kecil, ditaruh dibungkus daun yang berbentuk corong, kemudian disiram kauh bumbu, kemudian diatasnya dipotong cabe rawit kecil-kecil (tergantung selera). Nama makanan ini adalah lumpiyang. Harganya juga murah meriah, 2 rb. Jadi gak ada salahnya saya coba.

Kuah bumbunya menurut saya mirip sekali dgn kuah bumbu penjual tahu gejrot jalanan di Samarinda. Rasa makanan ini juga mirip-mirip tahu gejrot, bedanya bila tahu gejrot isinya full tahu goreng, kalo Lumpiyang isinya ada tahu, tempe dan lumpiya tentunya. Tapi isi ini bisa disesuaikan dgn selera anda, bila anda ingin isinya hanya tahu tok juga boleh. sebenarnya makanan khas Bali ada banyak, ada ayam betutu, dsb. Sayangnya kesempatan kami untuk mencoba makanan baru selalu bentrok dgn selera anak kami, yang sukanya cuma KFC…hehehe. Jadi jangan lewatkan kesempatan wisata kuliner dimana pun anda berada sebelum memiliki anak hehehe.





DUA BOCAH PETUALANG

21 10 2009

Suatu ketika, di sebuah hotel di Bali, saya mendengar percakapan anak pertama saya (ALVARO, 4th) dengan si adek (ALESSANDRA, 1th). Percakapan tersebut mereka lakukan di kamar mandi hotel, lebih tepatnya di bath tub. Inilah petikan percakapn tersebut :

Abang : ” dek, kita ini hebat ya. kita petualang-petualang hebat ya dek “

Adek   : ” aaaa ( terjemahan : iya) sambil angguk-angguk”

hehe…percakapan sederhana tersebut merupakan penegasan kesadaran mereka sebagai anak-anak petualang. Yang hebatnya, mereka tidak pernah sekalipun mabuk dalam perjalanan-perjalanan panjang kami berpetualang, kecuali saat-saat kondisi badan sdg drop seperti ketika sdg flu.

Dan inilah foto-foto mereka dalam petualangan-petualangan kami di Bali. Untuk kalian sayangku, bunda persembahkan halaman ini…Love you so much…muaaaaahhhhhh…Next time kita berpetualang yang lebih seru lagi ya sayang..





TOUR SURABAYA – BALI

19 10 2009

Kira-kira sebulan yang lalu, anak saya libur sekolah jelang idul fitri yang panjang banget. Liburnya sekitar 3 minggu..wow, sebenarnya saat yg tepat untuk jalan-jalan. Namun sayangnya, suami saya tidak bisa ambil libur atau off sama sekali, karena tidak ada orang yg bisa stand by di kantor. Jadinya libur panjang hanya di habiskan di rumah kakek nenek di samarinda, sesekali ke mall…hiks..hiks. Setelah libur panjang berakhir, time to back home…my little house on the praire, ke rumah kecil kami di Balikpapan.

Di antar suami tercinta, di mobil selama perjalanan…tiba-tiba suami saya berkata (ceile…berkata..hehehe) : “ bun, coba liat di tas ayah. Ada tiket tuh ke Surabaya, sdh ayah beli untuk tgl 9 oct”. Bunda ( alias saya ) : “ kemana yah Surabaya? “ . Ayah : “ jalan-jalan aja, ntar dari sana kan bisa lanjut ke mana kek, mau ke bromo juga dekat, atau ke bandung naik kereta…kan abang (Alvaro, anak pertama saya) belum pernah naik kereta…supaya dia tahu”. Bunda : “ cihuy….jalan-jalan lagi. Berpetualang lagi…thengkyu honey bunny yellow polka…”

Dan tgl 9 oct pun tiba….setelah persiapan perlengkapan anak2 satu koper besar penuh, botol dot-dot dan susu di tas lain, dan satu ransel khusus pakaian ganti n pampers buat ganti dijalan, dan setelah telp satpam rumah untuk titip rumah, dan taxi pun datang menjemput….cihuuuuyyyyy…bismilahirohmanirrohim…..ya Allah lindungilah kami diperjalanan. Inilah perjalanan pertama kami bersama anak2 yg sdh komplit, setelah long-long time sudah tidak keluar pulau lagi (setelah dihitung2 perjalanan terakhir kami keluar pulau ketika anak pertama kami msh berusia 1,5 thn, berarti sekitar 2,5 thn yang lalu).

abang di pesawatSebenarnya petualangan kami kali ini lebih didedikasikan untuk anak-anak kami. Sebagai penambah pengetahuan mereka, terutama buat si abang, yang lupa tentang pengalamannya naik pesawat dulu ketika dia masih kecil. Jadinya deh kami bersedia agak-agak ndeso demi si abang. Sebelum naik pesawat…hayuuu foto-foto dulu dgn pesawat anak-anak…jepret…jepret…hehehehe. Dan singkat cerita…sampailah kami di Surabaya. Oh ya, kami naik pesawat sore, lebih tepatnya menjelang magrib, jam 17.30…jadi sampe di Surabaya sdh malam. Gak ada yg bisa diliat, kecuali lampu-lampu, keramean orang di bandara. Untunglah teman suami saya menjemput…jadi gak perlu ribet or repot lagi celangak celinguk nyari taxi.

Sesuai petunjuk dari Lonely Planet, dan mengikuti referensi dari seorang teman sesama blogger yg sama-sama doyan petualangan dan jalan-jalan juga, tujuan utama kami begitu tiba di Surabaya adalah sebuah hotel. Yang katanya sih di pusat kota, dekat ke zoo (kebun binatang, yang merupakan request si abang sejak beberapa bulan lalu sejak nonton sebuah acara yg katanya sih kebun binatang Surabaya bagus), dekat dgn mana-mana deh. Setelah muter-muter…oalah…kok hotelnya memprihatinkan gitu ya? Penampakan dari luar…memprihatinkan. Sdhlah, cari hotel yg lebih layak aja kata temen suami saya. Are you sure about this? Tanya suami saya? Menurut petunjuk buku primbon para petualang,  yg saya kutip “ some rooms surprisingly good”…nah loh. Masa iya, buku sekelas Lonely Planet nipu? saya beli buku ini aja seharga tiket pesawat. En masa iya sih, teman saya sesama blogger boong? Dan saya pun dengan gaya yakin mengangguk…yes I’m sure…

Hotel tersebut ternyata benar-benar terletak ditengah kota, pusat segalanya. Mo ke Tunjungan Plaza dekat, mo ke zoo dekat, mo kemana-mana emang dekat, terletak di jalan urip sumiharjo ato lebih dikenal dgn jalan darmo. Hotelnya kayaknya sih, bangunannya peninggalan jaman belanda kali ya…sdh tua, perabotnya juga tua, antik…tapi ya cukuplah. Kalo saya sih, gak masalah, no problem at all menurut saya sih. Tarif kamar terbagi 3, standard, exclusive dan VIP kalo gak salah. Dan harganya terjangkau banget, yg standard cumin kipas angin saya gak tahu tarifnya. Yang exclusive pake Ac 150 rb, yg VIP 175rb…murah kan? Sebenarnya saya meminta dan memohon kamar VIP, tapi ternyata VIP penuh semua dan penghuninya katanya sih long stay..kali bule2 yg sering saya liat nongkrong di cafenya itu. Kamar exclusive letaknya di lantai dua, dengan pemandangan langdung ke jalan darmo yg padat dan rame. Dan seperti saya bilang sebelumnya, perabotnya sdh tua, ac nya bahkan entah ac jaman kapan…hidupinnya gak pake remote men…dan gede banget…hehehe. Tapi karena dasarnya kami petualang backpacker, jadi hotelnya hotel budget juga gak masalah…lah wong hotel cuman buat naroh tas en tidur dikala malam doang.

Malam, kami lgsg tepar dgn sukses…tidur dgn lelap. Keesokan paginya, eng ing eng…jam 5 kami kelayapan di pasar dekat hotel, dapat sate dipinggir jalan yang murmer…cumin 5 rb. Oalah, dimana sih di Balikpapan ada sate 5 rb???? Setelah itu, karena anak-anak kami belum pernah naik becak…yuks mareee naik becak ke zoo. Dari hotel ke zoo naik becak, awalnya di kasih harga 20 rb, tapi mungkin keliatan kami turisnya…sampe di zoo malah dia minta 30rb. Yo wes, gpp…tp foto-foto dulu diatas becak…yuk Ndeso banget gak seh??? Hehehe

SURABAYA ZOO

surabaya zoo

Sampe di zoo masih jam 6.30 pagi, karena terlalu exciting…kami jalan2nya kepagian..hehehe. setelah nunggu setengah jam, jam 7 loket pun di buka. Harganya cukup murmer…10 rb/org. jadi total cuma 20 rb, karena anak2 dibawah 5 tahun tdk dihitung. Petugas-petugas di zoo masih nyapu-nyapu, kami orang pertama yg masuk. Kebayang gak seh? Muter-muter zoo lumayan gempor juga, belom lagi, masing-masing menggendong anak…capek deh.tapi ya terbayarlah semua, anak-anak hepi…karena mereka pada dasarnya emang suka binatang. Setelah request si abang untuk muter satu kali lagi, baru kami bisa melangkah keluar zoo dgn tenang tanpa perlu dengar rengekan lagi…hehehe.

Nah, setelah itu kemana nih? Arah ke hotel mana nih? Tanya polisi dulu ahhhh…dan setetlah dapat petunjuk polisi, naik angkot ke arah yg benar, sekarang istirahat dulu anak-anak. Di KFC dekat hotel, saya dan suami berembuk…akhirnya diputuskan, hari itu juga kami ke Bali…la wong tujuan ke Surabaya, liat zoo sdh terpenuhi. Yuk, cepat berkemas-kemas kembali ke hotel. Setelah rental mobil dgn harga pren karena emg punya pren…sore itu juga sekitar jam 4, kami berangkat dari Surabaya menuju bali dgn mobil rental. Bali…wait for us…

Menurut teman suami saya, ke bali sekitar 12 jam. Menurut GPS, 7 porong-sidoarjojam…menurut perkiraan kami 14 jam. En here we go…dari Surabaya-sidoarjo…ampun deh, maceeettt banget terutama di porong, di daerah lumpur lapindo itu. Ruparanya lumpur lapindo sekarang disulap jadi tempat wisata, banyak yg ingin melihat lumpur. Yang saya liat sih dari dalam mobil, beberapa toko di sepanjang jalan porong jadi hancur, ditinggalkan begitu saja, mengingatkan saya pada kota2 hantu ala film-film cowboy…sementara lumpurnya sih tdk bisa keliatan dari jalan, karena terhalang oleh tanggul yang sangat tinggi.

Setelah itu Pasuruan, Probolinggo  (lagi-lagi disini kami makan KFC), Situbondo, Banyuwangi dan eng ing eng…pelabuhan Ketapang. Awalnya saya bilang ke suami saya, kalo ngantuk + capek, kita berenti dipertengahan aja dan cari hotel, kira-kira kalo menurut teman suami saya sekitar daerah yg namanya pasir putih situbondo, yg memang banyak penginapan-penginapan tepi pantai. Tapi ternyata suami saya punya pertimbangan lain, menurutnya dia gak ngantuk, capek sih capek, tapi kalo berenti dulu untuk nginap berarti capeknya dua kali…jadi lanjut langsung, biar begitu tiba di hotel di bali bisa langsung tidur pulas. Oke deh kalo gitu pertimbangannya, kita lanjut.

Kondisi Jalan dari Surabaya – Bali kondisinya bagus, hanya ganjalan dikit adalah jalan sedikit keriting. Tapi gak ada masalah sih, not bad…malah good untuk ukuran sebuah jalan. Yang mengerikan adalah truk-truk besar dan bis-bis besar yang melaju tanpa peduli dgn yang lain…jalan Cuma pas-pasan buat dua kendaraan, ngebut….hiiiyyy atut…kalo mobil sendiri sih gak masalah, lah ini pake mobil teman, kalo kenapa-kenapa kan kami yang disalahkan. Kami sempat melewati pesawat ruang angkasa…hehehe, karena terang banget oleh lampu-lampu yg sangat amat banyak. Apakah itu ? Itu bukan pesawat ruang angkasa, cuma mirip…itu sebenarnya adalah Paiton, alias Java Power, alias pembangkit listrik Jawa – Bali, yang keren banget diliat dikala malam. kalo siang? hmmm….mirip seperti pabrik pada umumnya aja, maka supaya mendapat efek dramatis dan membuat khayalan anda terbang tinggi, lebih baik pilih jalan malam hari melewati Paiton…hehehe.

Kami sampe di ketapang sekitar jam 3 malam, dan tdk seperti di Balikpapan yg kapal ferrynya cuman satu sehingga harus antri. Di ketapang, kapal ferrynya berderet2…banyak, ada 3 atau 4 sekali berangkat, jadi gak ada antrian mobil, setiap ada mobil datang…lgsg bisa berangkat. TOP ! Harga tiket kapal ferry dari ketapang – gilimanuk cukup murah, sekitar 95 rb. Karena malam, lagi-lagi gak ada apa2 yang bisa diliat dijalan dan dikapal, dan karena anak2 sdg tidur, kami cuman dalam mobil.

Awalnya sih biasa aja, seperti kapal ferry yg biasa kami naikin, tapi kok makin lama makin goyang yah…liat tuh truk didepan, geol kiri kanan ngikutin gerakan kapal yg oleng kiri kanan kena gempuran ombak. Ya Allah, nyali saya lgsg jiper…ampun deh, masa iya terbalik ditengah jalan, belom juga liat Bali. Mana saya gak bisa berenang, sdh tengah malam gini lagi, kalo ada apa2 pertolongan bisa telat sampe. Pokoknya semua bayangan buruk lgsg berkelebat di benak saya…dan saya lgsg berdoa, mulut komat kamit merapal doa. Dan…saya pun mabuk. Memalukan! Baru kali ini saya mabuk, setelah hidup sebagai petualang sekian puluh tahun.

Dan setelah menghitung menit2 jam yg terasa berabad-abad (yg katanya sih 30 menit aja dari ketapang-gilimanuk), akhirnya…finally, merapat juga ferry di Gilimanuk…welcome to bali my child…cihuyyyyy…akhirnya saya bisa liat Bali juga…hehehe. Bali adalah salah satu obsesi saya sejak SMP, dulu waktu SMP aja study tour ke Bali…ortu saya melarang saya ikut, alasannya…kalo ke Bali, kita sekeluarga! Setelah menunggu berpuluh2 tahun, dan setiap saya berniat ke Bali, selalu ibu saya mewanti-wanti saya…kalo ke Bali, kita sekeluarga! Bahkan setelah saya berkeluarga…ibu saya selalu bilang, ke Bali kita rame-rame sekeluarga besar. Nah loh, mana bisa cocokin jadwal off suami saya- adek saya, dan jadwal yg lain. Makanya lebih baik tanpa rencana, jadi gak ada yg bisa menghalangi….hehehehe…

sawahDan inilah saya, di Bali !!! finally, bisa juga terwujud melihat Bali tanpa harus nunggu2 jadwal yg tdk pasti, rencana besar ibu saya mengumpulkan keluarga besar liburan bareng di Bali. Lagi-lagi, karena kami sampe hari masih gelap…tidak ada yg bisa diliat. Dari Gilimanuk ke denpasar menurut penduduk setempat 3 jam. Sepanjang jalan terlihat sawah-sawah, rumah-rumah bali. Dan akhirnya sampe juga di bali. Karena bingung mo nginap dimana, akhirnya saya mengandalkan info teman saya lagi sesama blogger. Ke legian aja katanya…oke deh. Setelah membaca peta Loney Planet, dan GPS Google….dan tetap bingung dan nyasar, akhirnya kami berpuluh-puluh kali berhenti untuk bertanya kepada penduduk setempat. Sampe akhirnya saya bertemu dgn seorang bapak, yg ngasih petunjuk sederhana tapi mumpuni. Katanya lampu merah ke empat, yg ada pompa bensin sebelah kanan belok kanan…setelah itu terus aja. Dan….thanx GOD, inilah dia legian….jalan kecil yg sepanjang jalan penuh dgn butik-butik dan hotel-hotel, dan bule dimana-mana.

KUTA – BALI

kuta bali

Hotel referensi teman saya yg katanya Cuma 100 rb, ternyata sdh jadi 350 rb….bagus sih bagus, tapi kalo kami seminggu, hitungannya jadi berapa tuh??? Setelah nanya-nanya hotel sekitarnya, dan akhirnya bertemulah kami pada sebuah hotel yg pas di kantong…Hotel Orange, 250 rb pake ac. Oke deh check in, taruh barang….saatnya kita jalan-jalan. Hari pertama sampe di hotel, kami hanya jalan-jalan disekitar hotel, ke kuta mengejar sunset tapi gagal karena kelamaan dijalan yg macet karena ternyata semua orang mengejar sunset juga ke kuta. Sorenya sempat juga wisata kuliner di denpasar, niatnya sih Cuma cari makanan sebentar setelah itu berenang dipantai. Eh ternyata oh ternyata….jalan di bali rumit, membingungkan…selalu nyasar walopun GPS selalu diaktifkan, peta dibentang lebar, bertanya sana sini sama penduduk setempat. Terdamparlah kami di jalan entah apaan, yg jelas ada lapangan besar yg tampaknya seperti Gasibu kalo dibandung, di depan kantor walikota. Dan sedang ada acara expo, jadi banyak makanan murmer…yg pertama saya coba, sate lilit dari ikan. Tidak seperti sate umumnya yg pake lidi, sate ini ditusuk pake bamboo, dan tidak disiram bumbu kacang, hanya di kasih ulekan cabe sedikit diujung. Tapi setelah masuk mulut??? Mantap? Enak bangeeeet, sampe saya nambah satu porsi lagi. Harganya juga murah, kalo gak salah 5 rb.

Suami saya memesan sate kukul, apaan tuh sate kukul? Ternyata sate yg dibuat dari siput…hiiiyyyy. Setelah saya coba, rasanya kaya ampela hati ayam, kenyal-kenyal gak ada rasa. Nah sate ini disiram pake kuah kacang seperti sate ayam biasa. Rasanya juga enak. Namun sebaiknya muslim hati-hati memilih sate, lebih aman bertanya, karena ada juga yg jual sate babi. Selain itu saya juga mencoba makanan yg paling banyak dijual di lapangan itu, katanya sih namanya lumpiyang. Isinya? Lumpia yg dipotong-potong dan tahu goring, kemudian disiram kuah bumbu. Rasanya mirip-mirip tahu gejrot di samarinda gitu deh. Malamnya suami saya akhirnya memutuskan rental sepeda motor 50rb/hari. Malamnya kami jalan-jalan pake skoter, nyari baju anak-anak, tp ternyata semua mati lampu…oalah ternyata sama aja yah, mati lampu juga. Karena sepanjang jalan legian mati lampu, kami memutuskan makan di kuta. Saya mencoba makan ayam betutu…rasanya??? Kok ya mirip-mirip opor ayam aja yah?

KINTAMANI – BALI

kintamani

Pagi-pagi sekali, kami berusaha membangunkan anak-anak mengejar sunrise…tp ternyata kesiangan juga bangunnya. Jadilah kami bermain-main pasir aja di kuta,foto-foto di monument bom bali, yg kayaknya sdg ada peringatan korban bom bali, cari baju anak…dan langdung check out. Tujuan selanjutnya…kintamani. Kirain kintamani jauh banget, jadi rencananya nginap di kintamanai aja hari itu, eh gak tahunya dekat…sekitar 2 jam, 3-4 jam kalo ditambah muter-muter nyasarnya…hehehe.

Untuk sampe ke kintamani, kami harus ke Gianyar dulu, baru ke Bangli…dan lanjut ke puncak…nanjak terus. Saya paling suka desa Bangli, desa di ketinggian yg sejuk dan adem udaranya, juga adem di hati…ceile. Entah kenapa saya langsung jatuh cinta sama Bangli, suasana pedesaannya begitu terasa, pura-pura tersebar dimana-mana, dan karena kami kesana menjelang Galungan dan kuningan, semua penduduk sedang membuat semacam umbul-umbul dari janur. Dimana-mana sepanjang jalan berdiri janur, bukan karena banyak yg nikah…hehehe. Selain itu, desanya rapi dan bersih banget.

Setelah menanjak terus, sampailah di Kintamani. Bayar tiket masuk murah banget, kalo gak salah sih 2 rb. Kintamani? Wuiiihhh keren, sejuk karena berada di ketinggian. Bentuk wisatanya sih mirip-mirip puncak atau berastagi gitu deh, cuman memandang dari atas ketinggian dgn hawa sejuk dan dingin berangin. Yang diliat yang gunung dan danau batur. Banyak penjual buah-buahan juga.

Bagus sih bagus, tapi gak kuku deh ama pedagang asongan. Mau foto-foto dikerubungi pedagang, dipaksa beli ini itu. Kalo nawarin aja sih biasa, ini sdh ditolak dgn halus…masih ngeyel, ditolak kasar…tetap ngeyel…akhirnya kami mengalah, kami lgsg cabut…turun menuju danau batur. Turunannya terjal…hiyyy, empot-empotan deh dada…takyuuttt. Suami saya bertanya ditengah turunan terjal, mau foto-foto disini bunda? Saya lgsg menjawab tanpa pikir panjang…noooooo…

Sampe di danau, pemandangan top markotop, dingin, anginnya kencang DANAU BATURbanget. Dan Cuma ada kami dan sepasang turis yg sepuh. Dan…ini dia, pedagang asongannya lebih ganas dari yg diatas. Sedikit sih, tapi lebih ngeyel, sampe suami saya marah-marah…masa gak mau beli dipaksa beli ?? Rupanya pedagang disini bergiliran, dan karena itu membuat mereka jadi memaksa begitu…ampun deeehhh. Sebenarnya dari sini ada penyebrangan ke pulau yg katanya banyak mayat yg tdk dikubur tapi tdk bau. Kesana? Ngajak anak-anak…gak minat deh….maybe next time kalo mereka sdh pada gede…hehehehe.

Sebenarnya dari kintamani ke pura besakih dekat pisan, dan masih cukup waktu untuk muter lagi. Tapi karena saya sdh tepar oleh flu, saya langsung mengajak suami en anak-anak pulang, cari hotel dulu terutama. Dari kintamani sekitar jam 4 sore, turun terus menuju by pass Gianyar (dan lagi-lagi nyasar dulu), sempat mampir di Bali zoo n marine park, tp sayangnya sdh tutup. Lanjut masuk denpasar, tapi lagi-lagi nyasar entah dimana, sama sekali tdk familiar dgn jalan yg biasa kami lalui, setelah bertanya pada polisi hotel terdekat, dan tetap nyasar. Dan karena suami saya tidak mau di daerah legian lagi, juga karena setelah muter-muter tidak nemu hotel di denpasar (padahal kalo kami sdg nyasar dan tidak berniat cari hotel, hotel banyak kami ketemukan. Persis seperti barang, kalo dicari susahnya minta ampun, gak dicari malah nongol-nongol), saya pun menyarankan ke seminyak. Karena ketika kami nyasar pernah ke seminyak, saya liat di seminyak hotel berderet. Dan menuju seminyak, lagi-lagi nyasar, dan sialnya begitu sampe…ternyata hotelnya TOP range semua, alias mahal-mahal. Yang termurah 200 dollar…oh noooo…akhirnya kkami minta arah pulang ke denpasar lagi sama security hotel setempat. Setelah dapat petunjuk, lagi-lagi kami nyasar, badan sdh tumbang karena flu, capek , pegel…hotel belum nemu, bahkan arah pun kehilangan…hiks sedihnya. Dan akhirnya kami menemukan papan arah kecil yg menunjukkan sebuah hotel. Begitu tiba…wuiiihhh, patung depan hotel seram banget, dua pesumo gede. Seremlah dengan pencahayaan yg ada. Tapi ternyata hotelnya??? Not bad, malah bagus menurut saya. Ada bath tub air panas dingin, ac, bahkan kolam renang. Harganya juga murah 250 rb. Nama hotelnya, hotel sakura.

Dan tahukah anda? Jam berapa kami akhirnya bisa berbaring di ranjang hotel? Jam 22.30…hahaha. bayangin aja, dari kintamani jam 4 sore, berapa jam tuh nyasarnya. Top markotop untuk membuat badan saya meriang…hehehe. Alhamdulillah, anak-anak saya hepi selalu…tidak rewel, Cuma si bunda yg tepar dgn sukses.

BALI  SAFARI AND MARINE PARK – GIANYAR

BARONG LOBBY BALI SAFARI

Karena hari sebelumnya kami telat sampe di Bali zoo, sdh jam 5 sore, bertepatan dgn tutupnya Bali zoo, yang membuat anak pertama kami menangis-nangis. Maka tujuan utama kami hari ini adalah Bali zoo n marine park di by pass Gianyar yg kebetulan kami liat hari sebelumnya. Setelah bertanya dgn resepsionis hotel, setelah mempelajari peta lonely planet, peta Bali yg didapat dari tourism, dan mengaktifkan lagi-lagi GPS, dan juga mendapat peta buatan resepsionis…berangkat…

Loh…loh, yah…ini kemana? Kok dari tadi muter-muter disini sini aja. Oalah, ternyata nyasar lagi hihihi…rupanya petualangan kami kali ini full of nyasar. Sebenarnya jika anda tahu jalan, dari satu tempat wisata ke tempat wisata lain gak jauh-jauh amat. Kalo berdasarkan hitung-hitungan jam sih Cuma 1,5 -3 jam. Semua tempat juga bisa didatangin dalam satu hari kalo menurut saya sih…tapi lamanya itu karena nyasar-nyasar itu yg gak kuku. Capeknya, capek nyasar aja…hehehe…tp gpp, jadinya malah tahu…nemu tempat oke secara gak sengaja.

Setelah muter-muter, akhirnya bertemu juga jalan yg sirotol mustakim…jalan yg lurus dan benar…cihuuuyyy. Kami kira Bali zoo kayak taman safari gitu, masuk pake mobil. Ternyata eh ternyata, mobil harus diparkir diluar. Oh mungkin kelilingnya pake mobil dari bali zoo yg semua dari kaca…pikir kami kemudian. Begitu masuk lobby Bali zoo, isinya buleee melulu. Cuma kami satu-satunya turis local…serasa jadi turis mancanegara juga jadinya hihihi. Di lobby kita kudu check in di resepsionis…membayar yang harus di bayar….hehehe. Untuk bisa masuk, kita harus membayar 85 rb/ orang. Dan karena anak diatas satu tahun sdh bayar penuh, jadi total yg dibayar ya 85 x 3 orang = 255 rb. Coba bandingkan dgn Surabaya zoo yg Cuma bayar 10 rb/orang. Cukup mahal sih untuk sebuah zoo, tapi kalo mengutip istilah orang malaisya….berbaloi lah, panteslah bayar mahal.

Tidak seperti zoo lain yg bau, kotor dan panas. Di Bali zoo kita gak akan mencium bau, tempatnya bersih dan rapi juga adem karena dimana-mana disemprot dengan air, sehingga terasa sejuk. Pertama-tama setelah bayar, kami dikasih tiket yg berupa gelang. Begitu masuk, gelang di cap kayak di mall kalo mau bayar barang gitu, pake sinar laser…barcodenya. Begitu pula barcode gelangnya. Setelah itu, antri lagi…ada beberapa jalur antrian. Kali ini antri naik mobil yg full of glasses, alias kaca semua, kiri kanan, depan belakang dan atas. Nah, mobil inilah yg kami kira mengantar kami keliling zoo, tapi ternyata mobil ini hanya mengantar kami ke Terminal Bali. Sebuah aula luas, seperti di terminal-terminal bandara.

Untuk sampe di Bali terminal, kita melewati hutan alami…dimana para bule langsung dgn khusyuk foto-foto. Apaan coba yg di foto? Hutan yg isinya pohon en semak-semak gitu aja…hehehe. Ternyata benar, jika kita mau mengelola dgn baik, bahkan hutan biasa pun menarik perhatian turis. Dan sampailah kami di Bali terminal, gak sampe 2 menit juga…bentar banget emang. Di bali terminal, kami kemudian menuju Barong Lobby, yg disambut dgn gamelan Bali, kemudian disebelah kanannya banyak akuarium berisi ikan. Kemudian ada tempat panther yg sdg tidur, buaya, dan binatang-binatang lainnya. Ohya, dari Bali terminal kita berjalan kaki berkeliling. Ada mengendarai camel, kalo gak salah bayar 30 rb/ orang, namun request anak kami mengendarai gajah. Ternyata mengendarai gajah dipatok harga 200rb/ orang…mantap..tap..tap!!

kakatua bali safariAda berfoto dgn binatang dan sebagainya. Yg unik adalah pertunjukan-pertunjukan yg diadakan oleh Bali zoo, seperti pertunjukan orang hutan dan burung-burung dgn audience. seorang bule yang tinggi besar berniat baik menawarkan pundaknya untuk menggendong si adek, setelah melihat si ayah sudah menggendong si abang dipundak untuk menonton sebuah pertunjukan burung dan monyet.Kemudian jam 12 tepat ada pertunjukan gajah di kampong gajah, keren. Semuanya menurut saya Cool…sebenarnya ini hanya kebun binatang yg dikelola dgn baik, sehingga membuat nyaman pengunjung, dgn memperhatikan segi artistic, sehingga keren, bersih, rapi dan nyaman. Disini anda bebas mau sampe kapan pun, bahkan jika anda bertahan sampe tutup pun gak masalah, karena setiap saat selalu tersedia kendaraan dari Bali terminal yg membawa anda kembali ke lobby. Selain itu juga banyak café-café buat anda, dan water park buat anak-anak, juga toko-toko souvenir. Setelah puas dgn pertunjukan gajah, si ayah dapat kalung dari teresa si gajah,  dan membeli souvenir, mau naik gajah…tapi setelah dipikir-pikir, sayang uangnya hihihi dasar pelit, maka kami pulang deh. Tujuan selanjutnya masih banyak, kali ini…pengen tahu gimana sih sanur. Yuks anak-anak, kita ke pantai…

SANUR – BALI

sanur bali

Pantai sanur merupakan salah satu yg familiar saya dengar. Membuat saya ingin tahu, gimana sih sanur itu. Kata reseposionis hotel sih, sanur lebih friendly buat anak-anak disbanding kuta. Bisa berenang-renang, karena lebih dangkal dan ombaknya kecil. Oke deh…tujuan selanjutnya Sanur.

Dari by pass, menuju sanur dekat banget. Gak sampe sejengkal juga dari perempatan yg ada…untuk masuk kita cukup membayar, kalo gak salah 2 rb. Parkir mobil…dan welcome to sanur beach. Kalo menurut hasil pengamatan saya sih, sanur ya mirip-mirip dgn tanjung bara di sangatta. Pantainya ya gitu deh, dangkal…dipinggirnya di turap, atau disemen, agak kotor oleh sampah…entah apaan, mungkin tanaman laut. Kami sebentar saja di sini, selain anak-anak sedang tidur, juga banyak tujuan lain yg mau dituju. Yang penting kan, kalo ada yg nanya…sdh ke sanur? Sudah…hehehe….yg penting ngobrolnya nyambung wakakakkkk….

NUSA DUA – BALI

nusa dua bali

Seperti halnya sanur, nusa dua juga cukup terkenal. Dan karena terkenal membuat saya penasaran, mengajak suami saya ke nusa dua. Setelah perjalanan yg lumayan, tapi gak bikin capek…sampailah kami di nusa dua. Ada tulisan Nusa Dua…hamper saja dgn noraknya kami berfoto-foto. Jalannya mirip jalan bandara, keren…rapi….pokoke bagus deh. Jempol. Setelah masuk…loh…loh…rupanya itu resort yg maha luas…hihihi.

Keluar dari sana, kami bertanya pada security penjaga pintu keluar. Nusa dua, yg katanya ada parasailing, dsb dimana sih? Setelah di guide si bapak kea rah yg merupakan kawasan wisata bahari, tempat berbagai olahraga bahari berada, sampailah kami ditempat yg dituju. Ada parasailing, jet sky, banana boat, dan perahu-perahu berlantaikan kaca yg dapat membawa turis ke pulau penyu, tanjung benoa. Harga awal yg ditawarkan 600-700rb/ perahu. Kemudian turun jadi 350rb. Dan karena saya sdg gak berminat, karena selain msh banyak tempat yg msh pengen saya liat, sedangkan untuk menuju pulau penyu sekitar 1 – 2 jam pp yg menyita waktu, juga saya sdg pelit-pelitnya. Sdh puas ngeliat ikan dan penyu di derawan, males banget harus buang uang lagi untuk liat penyu lagi…hehehe. Maka kami pun meluncur lagi…kali ini, Jimbaran – Bali.

JIMBARAN – BALI

jimbaran

Dari nusa dua, ke jimbaran arahnya berlawanan. Mari anak-anak, kita melawan arah. Setelah mengisi kenyang perut di KFC yg berada di perempatan, kami menuju jimbaran. Sampai di Jimbaran, ternyata banyak rumah makan tepi pantai dgn masakan sea food…oalah nak, rugi kita makan di KFC, tahu gitu makan disini aja. Sekalian nunggu sunset.

Rumah makan yg ada di pantai jimbaran kayaknya emang diperuntukkan untuk turis-turis yg menunggu sunset. Karena ketika kami dating, mereka baru bersiap-siap menyediakan tempat-tempat duduk di tepi pantai, langsung menghadap matahari yg memang sdh agak condong walo masih terasa menyengat.

Pantainya sama dengan pantai lain. Sebelah kanan terlihat pesawat-pesawat jimbaranyg terbang dan mendarat, sebelah kiri tebing. Kata suami saya, jimbaran tempat yg romantis. Memang kalo makan disini saat sunset dan malam akan menimbulkan kesan romantis, dan mendukung hal tersebut, wisatawan-wisatawan yg ada di jimbaran umumnya berpasangan…ooohhh so sweet…keren sih nunggu sunset sambil dinner disini. Tapi saya masih punya misi lain nih, jadi dengan sangat terpaksa batal bergala dinner ama suami en anak-anak tercinta di sini. Uluwatu msh menunggu my pren…hihihi…

ULUWATU – BALI

sunset di uluwatu

Uluwatu pasti sudah pada tahu dong? Saya sih sering dengar- dengar, karenanya penting dong di datangin. Dari jimbaran bali, sebenarnya matahari sudah condong banget, tapi gak ada salahnya disempatin ke uluwatu. Lokasi Uluwatu dekat dgn Nusa dua dan Jimbaran, sebenarnya lebih dekat dgn Jimbaran. Dari Jimbaran, naik terus ke atas…dan sampailah diujung, yang namanya Uluwatu. Beberapa orang menyarankan kami untuk mampir ke café dreamland, yang katanya cool habis. Mau sih mau, kalo sempat waktunya kebetulan searah dengan Uluwatu. Tapi kami mengejar sunset di Uluwatu. Masuk ke Uluwatu saya lupa lagi berapa parkirnya, kemudian dari tempat parkir masuk ke lingkungan pura, membayar 3rb/ orang dan dipakaikan kain sarung plus ikat pinggang bali. Karena saya memakai celana pendek, saya dipakaikan sarung warna ungu dengan ikat pinggang kuning, kemudian suami saya hanya di pakaikan ikat pinggang kuning, karena celananya sdh tergolong sopan.

uluwatuMemasuki lingkungan pure, yg dominant terlihat adalah…monyet. Uuu aaaa….monyet dimana-mana, dan hati-hati dengan barang bawaan anda, karena monyetnya tergolong ganas en jail. Kamera seorang wisatawan dirampas…dan seperti bisa ditebak, susah banget mengambil kembali barang yang sdh dirampas monyet, ngejarnya aja susah…apalagi merebutnya…busyet deh.

Purenya terletak persis di ujung tebing, dengan pemandangan ke bawah empasan ombak laut ke tebing-tebing tinggi, dan menghadap matahari yg sudah semakin condong…keren banget. Dan kami ditawarin menonton pertunjukan tari barong, dengan harga 50 rb / orang. Sayangnya jam pertunjukannya not child friendly, jam 6 – 7 malam. Sebenarnya saya tertarik banget untuk menonton pertunjukan tersebut, karena saya penyuka budaya, apalagi tempat pertunjukan diadakan di atas tebing dengan pemandangan laut di bawah plus sunset backgroundnya…keren banget bo’. Sayangnya karena hari tersebut kami sudah berkeliling berbagai tempat, anak-anak saatnya untuk istirahat…hiks…terpaksalah kami cukup menikmati sunset saja.

Menunggu sunset ternyata lama juga, dan karena semua turis tampaknya juga mengejar sunset, alhasil Uluwatu penuh banget…full of turis. Hampir setiap jengkal berisi turis yang mencari-cari tempat berfoto yang paling oke. Jadinya wajar aja kalo satu tempat favorite harus antri dulu untuk berfoto-foto. Orang bule sangat menghargai kalo ada yg sdg berfoto ria, mereka biasanya menunda langkah mereka untuk melewati tempat dimana ada orang sdg berfoto ria, jika mereka ingin berfoto ditempat tersebut juga, mereka rela menanti dgn sabar.

Sunset di Uluwatu keren banget, garis horizon terlihat dengan jelas, sayangnya ketika itu sdg ada sedikit awan sehingga sunset tidak begitu sempurna terlihat. Tapi yang jelas kami sudah puas…sudah melihat keindahan alam yang tiada tara…keren.

Dari Uluwatu, kami langsung memutuskan saatnya beristirahat di hotel. Nah…ini dia kendalanya, cari jalan pulang gak nemu lagi…rutinitas di bali, nyasar deui…nyasar deui…hehehe. Orang di hotel sebelumnya sdh mewanti-wanti, kalo nanti gak nemu jalan pulang, telp aja…nanti dipandu atau gak di jemput. Setelah nyasar kesana kemari, kami telp hotel…loh, kok gak diangkat? Untunglah ada pos polisi, kami pun dibuatkan peta untuk jalan pulang…cihuy…akhirnya nemu juga jalan pulang…hehehe.

Sesampai di hotel, rutinitas anak-anak yang paling mereka sukai adalah mandi di bath tub. Secapek apapun, kegiatan mereka seharian penuh begitu di hotel, mereka langsung berebut masuk bath tub. Dan setelah ditinggal berdua di bath tub, saya dan si ayah mendengar percakapan anak-anak kami, Abang : “ dek sini abang sabunin. Dek, kita ini hebat ya…kita petualang-petualang hebat ya dek”. Adek : “ aaaa haaa ( kurang lebih terjemahannya iya bang)” hehehe. Saya dan suami langsung ketawa…hehehe….

TANAH LOT – BALI

tanah lot

Sebenarnya kami berniat tinggal sehari lagi di Bali melihat upacara galungan dan kuningan, tapi ternyata oh ternyata…kakek nenek telp-telp terus, mewajibkan cucu-cucunya segera balik. Akhirnya pagi hari sekali kami memutuskan hari itu juga check out dari hotel, dan balik ke surabaya.

Sebelum balik, karena sebelum-sebelumnya saya gak sempat shoping en belanja belanji padahal butik-butik berderet memajang baju-baju keren di sepanjang legian, saya gak mau rugi dong. Masa iya sdh sejauh ini gak bawa apapun khas bali ? Mampir dulu yah di pasar badung… tapi dasar sial, karena hari itu sdg galungan…pasar sepi, hampir semua tutup, hanya satu dua yg buka. Tapi gak mengapa…kebetulan didepan pasar ada pure, saya bisa sekalian ngeliat dong tata cara adat orang bali saat hari raya mereka.

Hampir semua orang berpakaian putih khas bali, membawa sesajen pergi ke pure untuk membuat persembahan dan sembahyang. Setelah itu sebagian pergi ke pasar untuk belanja dan makan. Persembahan mereka isinya macam-macam, ada yg ditambah uang, ada rokok, dsb. Tapi intinya tetap sama, yaitu semacam janur dan kembang-kembang dan sebuah apa yah namanya, seusatu yg panjang kayak lidi yg dibakar.

Setelah belanja seadanya, kami melanjutkan perjalanan ke tanah lot. Kebetulan perjalanan pulang dari denpasar ke gilimanuk searah dengan jalan ke tanah lot. Mungkin karena sudah kesiangan, kami tiba tepat jam 12 jam berakhirnya sembahyang, tanah lot tidak terlalu rame lagi oleh upacara-upacara. Malah cenderung sepi, hanya turis-turis yang terlambat datang yang ada…hehehe. Bayar tiket masuk saya lupa lagi, mungkin 2rb, atau juga 20 rb…hehe…

turis cilik di tanah lotDisepanjang jalan menuju tanah lot banyak sekali penjual souvenir Bali. Tanah lot sdh sangat amat terkenal, gak afdol rasanya ke bali kalo gak ke tanah lot. Sebuah pura yg terletak di tengah laut…yang kala itu sdg surut. Dengan deburan ombak yang menghempas pantai…keren. Kami tidak berlama-lama di tanah lot, panas banget di tenagh hari bolong gitu. Setelah berfoto-foto, maka kami pun mengarahkan kendaraan ke Gilimanuk.

Gilimanuk – Bali

Dari denpasar – Gilimanuk dan sebaliknya saya lupa menjelaskan, lamanya sekitar 3 jam, dari tanah lot sekitar 107 km. Gak jauh sebenarnya, Cuma padat. Karena saat datang kami ngeri akan ombak gilimanuk yg kami pikir mungkin karena angin malam yang kencang yang menyebabkan ombak demikian mengerikan. Maka kami berniat mengejar waktu agar tidak sampe kemalaman lagi menyebrang.

Sebenarnya jika kita jalan mengikuti arah-arah di Bali, muter-muter aja, dari Gianyar jika terus bisa terus juga ke Gilimanuk. Kintamani teruskan ke singoraja tembus juga ke Gilimanuk, mengelilingi pulau Bali menyusuri tepian pantai. Jadi tidak heran jika sepanjang perjalanan menuju Gilimanuk, kita juga akan menemukan pantai-pantai yang tidak kalah kerennya namun lebih sepi.

Sepanjang perjalanan yg terutama terlihat adalah sawah, rumah bali dan tentu saja…pantai. Selama di bali kami jarang bertemu dgn mesjid, namun jika menyusuri jalan kea rah Gilimanuk dari denpasar…terdapat beberapa mesjid di pinggir jalan tempat kami sejenak bersyukur pada Allah SWT diberi kesempatan menikmati karya agung Nya….alhamdulillah.

Sampai di Gilimanuk…horey, masih sore. Dengan harapan yang besar ombak tidak terlalu ganas lagi seperti saat kami dating dulu. Setelah masuk kapal ferry yang tersedia, dengan pede kami naik ke lantai atas…dan ferry pun jalan. Dan yiha, kembali kapal oleng ke kiri kanan..saya pun langsung pucat pasi lagi, segala doa dirapal, segala dosa terbayang…ampun ya Allah. Segala keceriaan pun menghilang dari wajah saya, suami saya menggenggam erat tangan saya. Dan lucunya, anak pertama saya, Alvaro, justru berbahagia. Dia langsung teriak-teriak…yiha…mirip naik corousel ya yah…ya bunda?? Setiap kapal miring ke kiri atau kanan, dia langsung senang…asiiikkk…hehehe dasar anak-anak. Si adek tidak mau kalah…ikuta berbahagia gak tahu ayah bundanya was-was dan mabuk wakakakkk…dasar bocah-bocah petualang anak-anakku.

Kali ini kami berhenti untuk makan begitu tiba di ketapang. Setelah itu suami saya ngantuk berats, semua sdh terkena flu, tepar sehingga diputuskan nyari hotel yang ada. Akhirnya kami bertemu sebuah hotel di tepi jalan di situbondo, namanya hotel Rosali. Tempatnya bagus dan luas dan yang terpenting murah banget, hanya 80 rb. Memang kami memilih kamar tanpa ac, karena semua sdg flu dan tdk enak badan selain itu juga hotel hanya untuk tempat tidur semalam saja. Memang benar, begitu check in…semua langsung tidur pulas, tdk bangun-bangun lagi sampe subuh saatnya langsung berangkat lagi.

Karena malam sebelumnya kami tidur nyenyak di hotel, pagi rasanya Perjalanan pulang ke surabayasegalanya kembali segar. Siap untuk berpetualang kembali. Perjalanan sama seperti saat berangkat, namun bedanya kali ini kami bisa melihat jalan karena start pagi. Seperti halnya dimana-mana, kami jarang sekali memanfaatkan fasilitas breakfast di hotel, karena biasanya kami sdh cabut sebelum jam breakfast. Sebenarnya untuk hitungan backpacker rugi juga sih, karena breakfast dihotel berarti bisa menghemat ongkos makan hehehe. Tapi gak rugi juga kalo menurut kami, karena umumnya hotel menyediakan breakfast jam 8 pagi, antara subuh- jam 8, banyak tempat yang bisa dikunjungi dan dilihat.

Perjalanan ke Surabaya kami sempatkan (lagi-lagi) ke taman safari di Pandaan pasuruan. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, petualangan ini memang kami dedikasikan untuk anak-anak kami. Anak-anak kami penggemar binatang sejati, karena itu setiap ada kesempatan si ayah dan saya berusaha mampir ke tempat-tempat khusus anak-anak. Tiket masuk ke Pandaan zoo adalah 40rb/org dewasa, dan 35 rb/ anak-anak, sehingga totalnya 115rb.

Dengan menggunakan mobil sendiri, kami berkeliling zoo melihat berbagai binatang yang dilepas bebas begitu saja. Sehingga kita bisa melihat dari dekat berbagai binatang yang mendekat ke kaca mobil. Seru…dengar jerit-jerit anak-anak ketika ada binatang yang mendekat ke kaca mobil. Si ayah sebagai supir dan sibunda sebagai fotographer, tukang foto…demi anak-anak, si ayah dan bunda relalah bercapek-capek….hehehe

SURABAYA

Kembali ke Surabaya. Suami saya berniat mencari hotel lain, semua peta dibentang, GPS kembali di aktifkan ( seperti kata sebuah mobil dalam film CARS, “I have GPS never need a map again”), tapi ternyata percuma. Kami bingung…la dimana iki toh yah? Untunglah setelah memeras otak, kami bertemu kembali jalan darmo. Sudah aja yah, kita nginap di hotel dulu lagi…drpd nyasar-nyasar, capek-capek cari hotel lagi, capek dijalan…yo wes yang ada aja. Oke deh babe…dan kami pun nginap lagi di hotel yang sama ketika datang pertama kali ke Surabaya. Kali ini tetap tdk mendapat kamar VIP, tapi dikasih kamar dgn fasilitas bath tub…ya lumayanlah…hehehe. Kali ini kamarnya menurut saya pribadi sedikit aneh sih, sering ada ketukan di pintu namun begitu di buka kosong melompong…lorong kosong sama sekali, gak ada orang. Dan ini lumayan sering terjadi, mengingatkan saya pada sebuah buku petualangan lima sekawan yg waktu saya kecil dulu suka saya baca, yang judulnya “wisma dorodokdokdok”…hehehe. Karena sering ada ketukan dipintu, setelah dibuka gak ada orang…kadang saya cuek aja kalo ada ketukan dipintu yang ternyata adalah kiriman pesanan saya dari café hotel…hihihi…

Malamnya kami sempatkan ke Tunjungan Plaza, mencari makan dan terutama mencari pakaian ganti karena pakaian kami kotor semua…hehehe. Karena areal tunjungan yang sangat luas, membuat kami pusing keliling-keliling sehingga diputuskan hanya beli di counter lea (oalah, padahal counter lea juga ada dimana-mana…hehehe), yang kebetulan ada Baby Lea, sdgkan di Kalimantan kami belum menemukan produk lea untuk anak-anak dan baby. Dan membeli seragam request anak…sponge Bob square pants…wakakakkk, si ayah dipaksa memakai baju sponge bob juga, dan karena ini request anak tercinta supaya kompak, mau gak mau dgn kepala plontos dan wajah sangar si ayah memakainya juga…hihihi.

Keesokannya sebenarnya kami persiapkan khusus berburu tiket dan istirahat total. Walo sdh browsing di internet, tiket tetap gak nemu yang murmer, semua tiket mahal…ampyun deh. Walo mahal, mau gak mau harus dibeli juga, masa gak pulang-pulang? Dan setelah beli tiket, kami mengembalikan mobil rentalan teman sekaligus membayar tagihan hihihi..lagi-lagi kami nyasar…hihi, cerita lama. Pulang dari rumah teman, suami saya berniat memperkenalkan kereta api pada anak-anak kami, jadilah kami pergi ke station sepanjang naik KRL tujuan station gubeng…hihi. Dan karena KRL ternyata baru jam 7 malam dating, kami jadinya naik kereta ekonomi sambil tdk lupa foto-foto…hihihi, kampungan gak seeehhh??? Gak apa-apalah demi anak. Dan malamnya semua dihotel, tepar bebas…istirahat total. Sebenarnya saya berniat belanja belanji, shopa shopi…tapi semua tepar, masa iya pergi sendiri mana asik…

Akhirnya baru keesokan pagi dengan sedikit memaksa dan ngambek, saya berhasil memaksa kembali ke Tunjungan..hihihi, habis sebel banget…masa dari legian sampe Surabaya gak sempat-sempat shoping padahal toko-toko berderet…hiks. Walopun saya bukan jenis yang hobi shoping, tapi kesempatan yang ada gak boleh dilewatkan coz di Kalimantan susah bgt nemu barang bagus hehehe. Kami pergi naik bis, karena lagi-lagi memperkenalkan rasa naik bis ke anak kami…hehehe.

dalam kapal selamDan au..au…rupanya kami salah perhitungan, yang kepikiran ketika itu adalah pergi secepatnya ke mall, belanja sebentar dan beli request anak lagi yang kali ini minta baju Patrick, langsung cabut ke bandara karena pesawat jam 14.00. dan karenanya kami dating kepagian, mall belum buka pak, kata security…hihihi, masa iya nungguin depan mall, emang penjaga mall. Setelah putar otak, yuks mare kenapa gak mampir di monument kapal selam. Naik taxi 17 rb dari mall, sampailah kami di monument kapal selam. Bayar tiket masuk 5rb/ orang. Yah Cuma muter-muter dalam kapal selam yang ada, tapi harus dua kali bolak-balik karena pertanyaan anak pertama kami yang gak ada habisnya en exciting banget dgn hal-hal seperti itu. Tapi gak apa-apalah, adem didalam karena pake ac, dibanding diluar yang panasnya minta ampun pdhal baru jam 9 pagi.

Dan setelah puas di kapal selam naik becak ke Tunjungan, yaaaa karena terlalu lama di kapal selam, waktu mepet nih buat belanja. Terpaksalah hanya beli baju Patrick…dan segera kembali ke hotel untuk segera menuju bandara. Dari jalan darmo menuju bandara juanda naik blue bird sekitar 100 rb rupiah, lumayan mahal karena letaknya agak diluarkota, lebih tepatnya di sidoarjo.

Di bandara kami pun ngetem di executive lounge juanda yang makannya bertumpuk-tumpuk, lumayan komplet dibanding executive lounge sepinggan. Buat anda petualang yang memiliki kartu kredit, manfaatkanlah executive lounge, karena buat pemegang kartu kredit gratis..tis..tis, dgn syarat anda berangkat (ada tiket pesawatnya, bukan pengantar)…lumayan kan menghemat ongkos makan hihihi…apalagi fasilitasnya oke punya, dibanding harus menunggu di tempat tunggu biasa. Minimal tempat duduknya lebih empuklah…hehehe…Dan singkat cerita, sampailah kami di bandara sepinggan. Dan semua terkapar dengan sukses dikamar, tidur pulas sampe pagi…have a nice dream kids, next time kita berpetualang yang lebih seru lagi…





BERENANG DI KOMPLEK…BALIKPAPAN-KALTIM

7 08 2009

sudah lama sejak terakhir kali berpetualang ke loksado, kami tidak berpetualang lagi. mobil kami masuk salon, di rebonding dulu selama sebulan ini, sehingga walopun suami saya baru-baru ini off, kami tetap tidak bisa kemana-mana…hiks…menyedihkan, mana baru pada sembuh dari sakit.

namun karena sudah lama saya tidak mengisis blog ini, padahal seorg blogger harus continue mengisi blognya, maka untuk memenuhi syarat sebagai blogger saya akan bercerita tentang kolam renang komplek saya..wakakakkk…dari pada saya tidak bercerita sama sekali, hayuuu…mau gak diceritain?? yaaa…ini cerita ttg berenang di kolam renang yang ada di perumahan kami. sebenarnya kolamnya bukanlah jenis waterboom, ato semacamnya, hanya kolam renang biasa aja..yang terbagi untuk bayi, remaja dan dewasa, atau mungkin juga sebenarnya pembagiannya berdasarkan kemahiran berenang. yang jelas kolamnya ada tiga, dangkal sekali, lumayan dan dalam.

nah, biasanya kolam ini dipakai oleh warga komplek, yang paling sering sih digunakan oleh sekolah-sekolah diperumahan untuk pelajaran berenang murid-muridnya, termasuk anak saya. sering juga warga luar komplek menggunakan kolam ini untuk bersenang-senang…hehehe. karena itu tarifnya dibedakan berdasarkan kewargaan, warga komplek membayar cukup 10 ribu sedang luar komplek 12 ribu. kasian bener yaaa bedanya cuman 2 ribu rupiah..hiks…pdhal kolam ini salah satu fasilitas komplek.

kadang-kadang, kalo kami sedang have no idea mo kemana, kami juga bermain air di kolam renang ini. bahkan kalo dirumah sdg mati air, kami numpang mandi ke toilet kolam renang, gratis..tis..tis…hehehe. itulah gunanya fasilitas umum, dimanfaatkan sebesar-besarnya demi kemaslahatan hidup orang banyak…wakakakkkk. dan itulah cerita sekilas tentang kolam renang di tamansari bukit mutiara – wika, balikpapan.